Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Kegelisahan Alfian


__ADS_3

Ceklek


Suara pintu di buka mengalihkan perhatian Tya dan Winda. Spontan mereka berdiri dan menghentikan kegiatan ghibah yang seakan tiada habisnya itu. Kemudian sang kakek muncul dari balik pintu yang diikuti oleh Siska dibelakangnya.


"Apa kalian di gaji hanya untuk bergosip?" ujar sang kakek dengan tatapan tajam.


Tatapan tajam yang berhasil membuat Tya dan Winda bergerak tidak karuan.


"Ti... tidak, Pak".


"Ti... tidak, Kek". Ucap mereka hampir bersamaan dengan nada bergetar dan mencoba meraih sesuatu agar terlihat sedang bekerja.


Apa suara kami terdengar sampai ke dalam ruangan Alfian, ya, batin Winda saat satu map berhasil diraihnya.


"Hmm, jangan pernah mengulanginya lagi!" seru sang kakek masih dengan tatapan tajamnya.


"Baik, Pak."


"Baik, Kek". Jawab Tya dan Winda bersamaan sambil menganggukkan kepalanya.


Lalu kakek memalingkan wajahnya dan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri kaku. Siska juga berjalan mengikutinya dari belakang sambil memberikan senyum penuh arti pada Winda. Winda hanya membalasnya dengan tatapan sinis tanpa bersuara. Sorot mata keduanya seakan tidak ingin melepaskan pandangannya sampai Siska benar-benar tidak terlihat lagi olehnya.


Setelah keduanya menjauh, Tya dan Winda langsung menghela nafas lega. Mereka bergidik ngeri saat membayangkan tatapan tajam sang kakek pada mereka.


"Hampir saja jantungku copot", seru Tya sambil mengelus cepat dadanya.


"Aku ke dalam dulu, ya", ujar Winda tanpa menunggu persetujuan dari Tya.


"Eh, tung... ", ucapan Tya menggantung saat tangan Winda sudah berhasil membuka pintu ruangan Alfian. Rasa ingin tahu Winda yang sedari tadi bergejolak, mengabaikan ucapan Tya bahkan dia siap menghadapi amarah Alfian sekalipun.


Tya hanya bisa pasrah membiarkannya masuk, saat mendengar suara sang atasan dari dalam ruangan.


"Aku tidak ingin di ganggu!" seru Alfian tanpa memandang pada orang yang telah membuka pintu ruangannya itu.


Winda tetap melangkah masuk, mengabaikan ucapan Alfian.


"Apakah perkataanku kurang jelas!" sergah Alfian saat mendengar suara hentakan yang berasal dari sepatu heels Winda.

__ADS_1


"Maaf... ", sahut Winda sambil maju beberapa langkah. "Aku tidak akan mengganggumu sekarang, tapi aku akan tetap menunggu sampai kau mau bercerita padaku." ujarnya.


Winda menunggu sesaat di posisinya berdiri, berharap Alfian akan membuka mulutnya mengucapkan sepatah kata padanya, namun usahanya itu sia-sia. Tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar dari mulut Alfian. Tidak ingin menambah kemarahan Alfian, Winda langsung membalikkan badannya, lalu melangkah berjalan ke luar ruangan Alfian tanpa berpamitan.


Alfian bergeming, seakan tidak pernah melihat keberadaan Winda. Dia masih saja duduk di kursi kebesarannya dengan raut wajah penuh emosi. Ucapan sang kakek dan Siska terus menari-nari dengan tiada henti di dalam pikirannya.


"Argghhh... " pekik Alfian dengan mengacak kasar rambutnya.


Setelah perasaannya mulai stabil, dia langsung menghubungi Tya untuk mengosongkan semua jadwalnya selama seminggu ke depan. Tanpa menunda-nunda Tya bergegas mengerjakannya dan mengatur ulang semua jadwal sang bos dengan teliti.


***


Di tempat berbeda, Ayunda sedang merapikan beberapa buku yang baru saja selesai dia baca.


"Umm, akhirnya selesai", Ayunda bergumam sambil merenggangkan jari-jarinya. "Semoga tidak banyak revisi nantinya", Ayunda masih bergumam sambil meraih tas ransel yang ada di atas meja, lalu dia berjalan dengan riang menuju pintu ke luar perpustakaan.


"Ay... ." seru seseorang dibelakangnya. Ayunda langsung menghentikan langkahnya, lalu memalingkan wajahnya mencari sumber suara. Dia melihat tepat pada seorang pria yang sedang tersenyum manis padanya.


"Daffa", serunya dengan bibir yang mengembang membentuk lengkungan indah.


"Apakah skripsimu sudah selesai?" tanya Daffa saat dia melihat tidak ada satu buku pun yang Ayunda pinjam dari perpustakaan.


"Sebenarnya sudah selesai, tapi... " sahut Ayunda yang menggantung ucapannya. "Kita bicarakan di kantin saja, yuk." Ayunda mengajak Daffa berpindah tempat untuk mengobrol. Ayunda tidak ingin suara mereka membuat kebisingan, yang akan mengganggu mahasiswa yang sedang berada di perpustakaan terganggu.


"Ayuk", balas Daffa menyetujui ide Ayunda. Lalu mereka berjalan bersama menuju kantin kampus. Sepanjang melewati lorong kampus Daffa tidak mengalihkan pandangannya dari Ayunda. Suara indah Ayunda bagaikan alunan musik yang sangat indah dia dengar. Ayunda terus bercerita tanpa menyadari bahwa Daffa sama sekali tidak menyimak ucapannya.


Namun dari kejauhan ada sepasang mata yang menatap mereka dengan cemburu sambil mengepal erat kedua tangannya.


***


Di sebuah restoran yang sangat ramai akan pengunjung terlihat Winda celingak celinguk mencari tempat duduk. Semua pelayan sangat sibuk, sehingga mengabaikannya yang sudah berdiri sangat lama.


"Eh... eh... ", seruannya berulang kali diabaikan oleh setiap pelayan yang melewatinya. Bahkan sang resepsionis bagaikan memadu asmara dengan gagang telepon. Sejak Winda berdiri di posisinya, gagang telepon belum juga terlepas dari daun telinganya.


"Cih, dasar bucin." Winda berdecak kesal melihat sang resepsionis.


"Winda... ", seru seseorang yang memanggil namanya dengan begitu keras.

__ADS_1


Winda mengedarkan pandangannya mencari ke setiap sudut ruangan. Matanya berhenti pada seorang wanita yang sedang melambaikan tangannya padanya. Winda langsung membalas lambaiannya, lalu berjalan menghampiri wanita itu.


"Hai, Conny", sapa Winda sambil menarik salah satu kursi dan duduk dengan menghela nafas lega.


"Untung saja ada kamu. Jika tidak... " ucapan Winda terputus saat dia berpaling melihat pria yang ada di hadapan Conny. Sebelumnya dia mengira bahwa pria itu adalah pacar Conny, tidak di sangka pria itu adalah pacarnya sendiri.


"Ya, kamu beruntung. Karena rekan bisnisku hari ini adalah orang yang sangat kamu kenal", sahut Conny dengan tersenyum. "Jika saja bukan Adrian, aku tidak akan berani sharing meja denganmu", ucapnya sambil merapikan beberapa berkas.


"Jadi kalian... ", Winda bertanya dengan menunjuk Adrian dan Conny bergantian.


"Oh, kami... ", balas Conny singkat. "Kami sekarang adalah rekan bisnis", sambungnya.


"Oh...", sahut Winda dengan nada ragu. Lalu dia berpaling menatap ke arah Adrian yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara. Pasti dia masih marah, batinnya.


"Bu Conny", seru Adrian yang membuat Winda mendelik. "Sebelumnya saya minta maaf, karena saya masih ada keperluan lain, jadi saya tidak bisa menemani bu Conny makan siang hari ini. Tapi saya janji lain waktu akan saya traktir makan siang", ujarnya sambil meraih tas laptop yang sudah dia rapikan, lalu berpamitan pada Conny mengabaikan Winda yang sedari tadi menatapnya.


"Senang bekerja-sama dengan anda", ucap Adrian sambil mengulurkan tangannya.


Dengan terpaksa Conny pun menyambutnya. "Ya, sama-sama, Pak", balas Conny.canggung.


"Eh, tapi... " ucap Conny, namun Adrian sudah berjalan meninggalkan mereka berdua.


Winda dan Conny saling berpandangan, lidah mereka seakan kelu, pada hal ada segudang pertanyaan yang ingin mereka ungkapkan saat ini.


Akhirnya mereka memutuskan memesan makanan terlebih dahulu, karena mereka perlu energi sebelum membahas sesuatu yang berat.


Pelayanan memberikan buku menu pada mereka. Lalu mereka berseru mengatakan makanan yang sama pada sang pelayan. Tidak lama kemudian mereka pun memesan minuman yang sama, hingga akhirnya tawa mereka pun pecah membuat bingung sang pelayan.


"Silakan di tunggu, kalau tidak sabar menunggu cari tempat lain saja", ujar sang pelayan dengan nada kesal.


"Kayak dejavu", ucap Winda,


Conny pun mengangguk dengan cepat. "iya", sahutnya.


Mereka pun saling menatap sambil memikirkan suatu tempat yang tidak asing, setelah mengingatnya mereka langsung tertawa terbahak-bahak.


Sang pelayan yang masih mendengarkan percakapan mereka, berbalik dengan menatap kesal Winda dan Conny, namun mereka tidak memperdulikannya.

__ADS_1


__ADS_2