
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Ferdo duduk bersama Ayunda di bangku taman hiburan, masih dengan menggenggam tangan Ayunda.
"Aku pernah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku hanya akan pergi ke tempat ini bersama dengan orang yang aku sayangi", ucap Ferdo yang membuat Ayunda terkesiap.
Ferdo memandang Ayunda dengan tersenyum. "Aku pernah pergi bersama ke dua orang tuaku, karena mereka sangat aku sayangi. Saat ini aku ke taman ini bersama dengan seorang wanita..." Ferdo berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari Ayunda. Manik mata mereka bertemu, seakan saling mengungkapkan sesuatu.
Ayunda mengalihkan pandangannya saat merasakan degupan jantungnya yang semakin tidak beraturan. "Kak, ayo kita pulang saja" ajak Ayunda menutupi rasa gugupnya.
"Aku harap wanita itu memiliki perasaan yang sama denganku", ucap Ferdo masih belum melepaskan tatapannya dari Ayunda.
Memangnya dia sudah mengatakan perasaannya? Dari tadi cuma ngomongnya orang yang aku sayangi. Ayunda menggerutu di dalam batinnya.
Ferdo masih menatap Ayunda, seakan menunggu jawaban. Pada hal Ferdo tidak menanyakan apa pun, bahkan tidak sedang menyatakan perasaan.
"Kak, ini sudah terlalu sore. Sebaiknya kita pulang." Ayunda masih berusaha menghindar dari tatapan Ferdo.
"Aku menyukaimu, apakah Kau mau jadi pacarku?" tanya Ferdo, yang tak sabar menunggu Ayunda, karena tak peka dengan ucapannya.
Ayunda menatap Ferdo dengan serius untuk memberi jeda, agar dapat menenangkan hatinya yang sedang berkecamuk. Dia berusaha santai, namun hatinya sedang berlonjak kegirangan.
"Maaf, Kak- " ujar Ayunda menggantung ucapannya. Ferdo langsung tertunduk lesu, karena cintanya yang tak berbalas.
"Maaf, Kak... aku belum menyelesaikan ucapanku, lho", tutur Ayunda. Ferdo kembali mendongak saat mendegar ucapan Ayunda. Ayunda menatap serius wajah Ferdo yang menunggu ucapannya. "Maaf, Kak... aku tak dapat menolak cinta Kakak." Ayunda melanjutkan ucapannya membuat Ferdo bahagia, dan spontan memeluk Ayunda.
"Eh, maaf, maaf, aku khilaf", ucapnya masih dengan tersenyum bahagia. Ayunda pun merasakan hal yang sama. Dia tersenyum bahagia menatap pacar barunya. Sebenarnya bukan hanya pacar baru, tapi memang dia baru pertama kali pacaran.
***
Siska masih menunggu kepulangan Ferdo. Sudah berpuluh kali dia menghubungi Ferdo menggunakan ponsel Winda, namun Ferdo tidak mengangkat teleponnya. Seolah Ferdo tahu, bahwa yang meneleponnya bukanlah Winda.
"Kenapa Kau masih memegang ponselku?" tanya Winda yang tetap kesal dengan sikap egois sang sepupu.
__ADS_1
Siska membalas dengan menatap tak suka pada Winda. "Cih, aku hanya meminjamnya bukan mencurinya!" Siska berdecak kesal. "Lagi pula ponselku lebih bagus dari ini", sinisnya dengan menyombongkan diri.
"Kalau gitu, gunakan ponselmu sendiri", balas Winda dengan merampas ponselnya dari tangan Siska yang membuat Siska tersentak kaget.
"Kau sendiri tahu, kalau ponselku kehabisan daya, dan aku lupa membawa charger", ucapnya dengan merengut.
"Ya, tapi ponselku bukanlah ponsel mahal! Jadi Kau tak akan cocok memakai ponsel seperti ini. Aku takut kau akan alergi", ledek Winda sambil meninggalkan Siska yang termangu. "Jangan lupa tutup pintunya!" teriak Winda dari balik pintu kamarnya, yang memberi isyarat agar sepupunya itu segera pulang.
Siska terdiam beberapa saat. "Pintu... Maksudnya?" ucap Siska yang masih memikirkan ucapan Winda.
"Apa Kau mengusirku?" Siska membalas dengan berteriak saat sadar apa maksud perkataan Winda, namun tak ada balasan dari Winda.
Siska pun berjalan ke luar dengan wajah kesal, meninggalkan apartement Winda tanpa berpamitan padanya.
Winda ke luar dari dalam kamar seperti pencuri. Di edarkannya pandangannya ke seluruh ruangan yang dapat di tangkap netranya, untuk mencari keberadaan Siska. Dia mulai melangkah ke luat kamar dan mencari ke semua ruangan, bahkan ke setiap sudut rumahnya. Dapat dipastikannya bahwa Siska sudah meninggalkan apartementnya.
"Ah, syukurlah. Dia sudah pergi,", ucap Winda dengan lega.
Drrttt... drrttt.
"Hallo, Fer. Ada apa?" Winda langsung menyahut tanpa harus menunggu lama. Lalu Ferdo membalasnya.
"Hah, sebanyak itu? Tapi aku sama sekali belum ada menghubungimu. Mungkin Siska, karena dia tadi menggunakan ponselku", balas Winda.
"Oh, aku beruntung kalau begitu, karena tadi ponselku di silent", sahut Ferdo dari seberang telepon.
"Oh", balas Winda. "Apa ada lagi yang ingin Kau tanyakan?" Winda dengan sengaja ingin segera memutus sambungan telepon, karena dia sedang menunggu panggilan telepon dari sang kekasih.
"Tidak ada lagi. Okelah kalau gitu... bye", sahut Ferdo. Lalu Winda memutus sambungan telepon setelah membalas ucapan Ferdo.
"Siska sangat merepotkan, kenapa dia tidak pernah berubah, sih", ucap Winda yang mulai gerah dengan sikap sang sepupu.
***
Ceklek.
__ADS_1
Ayunda dan Ferdo tiba di apartement. Mereka langsung berjalan menghampiri sang bunda dan Adrian yang sama-sama termenung.
"Assalamualaikum... " Ayunda mengucapkan salam saat baru saja duduk di sofa bersama sang bunda dan Adrian yang diikuti oleh Ferdo.
"Waalaikumsalam... " balas sang bunda saat lamunannya buyar. Adrian pun ikut menjawab salam Ayunda. "Wah, anak gadis bunda pulang dengan wajah yang bahagia. Bunda senang kalau Yunda seperti ini. Bunda pasti selalu kasi izin, jika nak Ferdo yang ngajak keluar Yunda", ujar sang bunda yang ikut bahagia.
"Eits, tapi tidak denganku", ucap Adrian saat Ferdo baru saja akan membalas ucapan sang bunda.
"Kenapa?" tanya mereka hampir bersamaan.
"Hahaha... aku di serang tiga sekaligus", seru Adrian sambil tertawa.
"Iya, kenapa nak?" tanya sang bunda yang sudah tak sabar ingin mengetahui alasannya.
"Bunda... " ucap Adrian memberi jeda ucapannya. "Ferdo sudah bertunangan", ucap Adrian dengan ragu yang membuat sang bunda terbelalak.
"Tidak bisa! Yunda tidak boleh jadi perebut tunangan orang lain", seru sang bunda dengan tiba-tiba, yang membuat Ferdo bersedih. Adrian yang tidak sengaja melakukannya, menyesal telah mengatakannya pada sang bunda.
"Tapi itu hanya tunangan Bun. Dan itu juga terjadi karena desakan kakeknya. Apalagi Siska juga masih berhubungan dengan pacarnya." Adrian mencoba menjelaskan pada sang bunda, namun sang bunda tak mau menerima penjelasannya.
"Aku akan membatalkan pertunanganku, Bun. Karena aku memang tidak menyukainya, aku hanya menyukai putri Bunda", tutur Ferdo yang mencoba mendapat kepercayaan sang bunda.
"Sama saja, jika pertunangan kalian batal, itu pasti karena Yunda. Bunda tidak mau Yunda jadi orang ketiga, perebut calon suami orang", balas sang bunda yang membuat Ferdo, Ayunda dan Adrian terkesiap. Mereka seakan kehabisan kata-kata saat akan menyahut ucapan sang bunda.
"Fer, ada yang ingin aku bicarakan padamu", ucap Adrian berbisik. "Untuk masalah bunda, biar nanti aku yang jelaskan pada bunda", ucapnya menenangkan Ferdo.
Ferdo pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah", jawabnya. Lalu dia mengikuti langkah Adrian, setelah pamit meninggalkan Ayunda dan sang bunda.
*
Adrian dan Ferdo berada di dalam kamar Adrian. Dengan tidak sabar Adrian menceritakan masalah yang sedang dia hadapi berkaitan dengan keadaan sang ayah. Ferdo terbelalak, saat baru saja mendengarkan penuturan Adrian. Jantungnya memacu dengan cepat, karena menahan emosi yang sudah lama mendendam.
"Bagaimana?" tanya Adrian dengan sedikit mendesak.
Ferdo bergeming, dalam pikirannya kembali melintas kenangan yang sudah hampir 13 tahun berlalu, namun tak pernah lekang dalam ingatannya.
__ADS_1