Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Rencana Kuliah Ayunda


__ADS_3

Ayunda mengangguk pelan. "Ya, kak. Sebenarnya Yunda akan memberitahukan hal ini setelah restoran bunda mulai stabil. Tapi keburu kakak tahu, jadi Yunda mohon sama kakak. Tolong jangan beritahu ayah dan bunda dulu, ya. Yunda janji akan bilang ke ayah dan bunda tapi tidak sekarang." Ayunda mengatupkan tangannya dan terus memohon.


"Tidak bisa, Yunda", tolak Adrian. Lalu Adrian melangkahkan kakinya, hendak berjalan ke luar. Namun Ayunda menahannya dengan menarik tangan sang kakak.


"Lepaskan...", Adrian membuka paksa pegangan tangan Ayunda. "Besok kakak akan memberitahu hal ini pada orang tua kita." ucap Adrian. Lalu dia melanjutkan langkahnya berjalan ke luar kamar Ayunda.


Ayunda berdecak kesal, karena sang kakak tidak bisa di ajak kompromi. Dia langsung menutup pintu kamarnya. "Bagaimana ini", gumamnya dengan gusar sambil naik ke atas tempat tidur. "Ayah dan bunda pasti marah besar." Ayunda terus bergumam sambil memikirkan sesuatu.


Tanpa terasa satu jam pun berlalu, namun matanya belum juga terpejam. Dia membolak balikkan badannya dengan perasaan gusar, tapi rasa kantuk seakan tidak mau menghampirinya. Lalu tangannya meraih ponsel yang ada di atas nakas. "Sudah jam dua belas", gumamnya.


Jarinya lanjut menscroll layar ponselnya. Entah kenapa dia masih memikirkan perkataan Alfian. Dai buka chatingan lamanya bersama dengan Alfian, lalu kembali dia baca. Tanpa aba-aba bulir-bulir kristal sudah jatuh dengan bebas membasahi pipinya. Ayunda mengusap wajahnya, meletakkan kembali ponselnya, lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


***


Di kota Paris


Siska tak hentinya mengulam senyum. Dia terus mengingat kejadian tadi pagi, saat dia tidak ingin makan kudapan buatan sang bibi. Alfian yang terus memaksanya membuat Siska melontarkan perkataan yang menohok padanya. Dia meminta Alfian tidak perlu berbohong dengan pura-pura peduli padanya. Tapi siapa sangka Alfian malah berbuat di luar dugaan Siska. Dia menghubungi Ayunda dan mengatakan bahwa hubungan mereka sudah berakhir saat itu juga.


Siska berlonjak kegirangan. Dia merasa kehamilannya ini telah membawa keberuntungan baginya. Kebahagiaan yang dirasakannya saat ini lebih dari kasih sayang yang diberikan oleh sang papa padanya.


Ceklek.


Pintu kamar di buka, Siska pun mengalihkan pandangannya ke pintu masih dengan sisa senyuman diwajahnya. Siska merapikan posisi duduknya sambil menyunggingkan senyuman pada Alfian. Alfian datang membawa segelas susu di atas nampan.


Oh, no... Ini terlalu manis, batinnya.


"Ayo, minumlah", pinta Alfian dengan menyodorkan segelas susu pada Siska.


Siska terkesiap, netranya tak henti memandang wajah tampan Alfian. Lalu dia meraih gelas dari tangan Alfian.


"Terimakasih sayang", ucap Siska dengan tersenyum bahagia. Walau hanya segelas susu, namun nikmatnya tiada tara bagi Siska.


Alfian hanya mengangguk pelan. Lalu mengambil gelas kosong di tangan Siska. "Ayo, tidurlah", ucap Alfian sambil meletakkan nampan di atas nakas. Lalu menarik selimut menutupi tubuh Siska saat dia sudah berbaring.


Siska menarik tangan Alfian. "Sekali lagi, terimakasih ya sayang." binar mata Siska seakan tak ingin meredup.


Alfian menepuk pelan punggung tangan Siska. "Sudah jangan bicara lagi." Alfian beranjak sambil membawa nampan ditangannya.


Kini binar mata Siska mulai redup saat melihat Alfian pergi tanpa membalas perkataan sayang darinya. "Kenapa kau masih belum bisa mencintaiku?" gumam Siska dengan kesal. Semua perlakuan manis Alfian padanya seakan sia-sia, tanpa ada rasa cinta.


"Apa aku harus melenyapkannya." Siska bergumam sambil memikirkan rencana jahat.


***


Pagi sudah menyapa, namun Ayunda masih diam dengan iler yang sudah membasahi bantal guling dalam pelukannya.

__ADS_1


Tok... Tok...


"Yunda... Yunda..."


Suara ketukan pintu dan namanya yang sedang di panggil seakan terdengar samar di telinga Ayunda. Lalu dia membalikkan badannya.


Bugh.


"Aww...", ringis Ayunda yang baru saja terjatuh dari tempat tidur.


"Yunda... Kamu kenapa, nak?" tanya sang bunda yang mulai khawatir saat mendengar suara Ayunda sedang kesakitan.


"Gak apa-apa, bun", teriak Ayunda. Lalu dia bangkit dan berjalan menghampiri pintu.


Ceklek.


"Yunda, syukurlah kamu tidak kenapa-napa, nak." ucap sang bunda sambil memeluk Ayunda dengan rasa khawatir.


Setelah merasa tenang, sang bunda pun melepas pelukannya. "Kalau seperti ini kelakuanmu, bagaimana bisa bunda membiarkanmu belajar ke luar negeri."


Ayunda terkesiap saat mendengar ucapan sang bunda. "Kak Adrian sudah ngomongin masalah ..."


"Sudah", sahut sang bunda memotong ucapan Ayunda. "Ayo, mandilah dulu. Nanti kita bicarakan lagi", ucap sang bunda dengan membalikkan tubuh Ayunda, agar segera beranjak ke kamar mandi.


Setelah 15 menit berlalu, Ayunda ke luar dari kamarnya. Dia berjalan menghampiri keluarganya yang sudah menunggunya di meja makan.


"Coba jelaskan!" Suara tegas sang ayah memecah keheningan.


Ayunda menarik nafas dalam dan berusaha menelan salivanya. "Ayah, bunda dan kakakku yang sangat Yunda sayangi."


"Tak perlu ngomong sayang", sela Adrian menghentikan ucapan Ayunda.


"Jangan di potong!" Sang ayah memarahi sikap Adrian yang kurang sopan.


"Maaf, ayah."


Sang ayah berdehem. "Lanjut, nak", pintanya pada Ayunda.


"Baik, yah... Jadi di sana Yunda tidak hanya belajar. Inilah yang Yunda suka, selain diberikan beasiswa untuk lanjut kuliah, Yunda juga akan magang di salah satu perusahaan televisi terbesar di sana."


Sang ayah pun mulai tertarik. "Cukup bagus", ujar sang ayah yang disepakati oleh Adrian. Namun sang bunda tetap tidak setuju.


"Apa tidak ada yang seperti itu di sini, nak?" tanya sang bunda.


"Tidak ada, bun. Dan kesempatan ini hanya ada 1 kali. Jika Yunda menolaknya saat ini, maka Yunda tidak akan pernah mendapat undangan seperti ini lagi."

__ADS_1


Sang bunda berfikir sejenak. Hatinya masih saja risau, jika putri satu-satunya itu pergi jauh darinya. Tiba suara ponsel Adrian berbunyi.


"Sepertinya karyawan di restoran sudah menunggu kita, yah", ucap Adrian saat melihat nama di layar ponselnya.


Sang ayah diam sejenak, lalu menatap ke arah istrinya. "Bunda, lebih baik kita bicarakan ini nanti malam saja", pinta sang ayah. Sang bunda pun mengangguk setuju.


Kemudian mereka memutuskan untuk mengurus restoran terlebih dahulu, meskipun di hati sang bunda masih diliputi kegelisahan.


***


Di kantor Santoso Station.


Hari ini adalah hari pertama Reina melakukan pekerjaannya sebagai seorang sekretaris. Bahagia bercampur bingung karena dia belum mengerti tugas seorang sekretaris. Meskipun sudah berulang kali membaca informasi tentang sekretaris melalui internet, namun otak kecilnya seakan tidak mampu menerima semua itu.


Saat dalam keadaan hampir menyerah, entah bisikan dari mana yang memintanya untuk menscroll sampai ke bawah tugas sekretaris yang sedang dia baca. Jarinya berhenti pada sebuah kalimat. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Akhirnya Reina memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan sebagai sekretaris.


"Bagaimana... Sudah paham untuk tugas yang ini?" tanya Tya setelah 1 jam lamanya Tya menjelaskan sebagian dari tugasnya.


Reina mengangguk dengan ragu. "Uhm, apa bisa diulangi satu kali lagi, bu", pintanya dengan suara pelan.


Tya pun mendengus kasar, seakan mulutnya telah lelah berbicara 1 jam tanpa mendapatkan hasil. Ini masih pekerjaan yang mudah, bagaimana dengan...arrggghh. Batin Tya menjerit.


"Bu, Tya", Reina memanggil dengan ragu.


Tya berdehem sambil mengatur emosinya.


"Ehm, yang mana tadi?" tanya Tya dengan lembut.


"Yang ini, bu."


"Oh, yang ini ya. Oke, saya jelaskan kembali. Jika ada yang tidak mengerti langsung di tanya saja. Gak perlu nunggu saya selesai ngomong."


"Baik, bu", balas Reina dengan sopan.


"Reina... " teriak seorang pria saat menghampiri meja Tya.


"Kang Asep." Reina bergumam.


Tya menatap Asep dengan tajam. "Kenapa tidak pakai toa saja, biar sekalian dengar tuh orang di gedung sebelah", ucap Tya dengan kesal.


"Maaf bu Tya, Asep lagi temu kangen sama Reina."


"Jangan ganggu Reina, urus pekerjaanmu sendiri! Mau saya laporin ke istrimu", ancam Tya.


Asep beringsut mundur. Dia tak ingin menjadi santapan singa betina yang sedang mengamuk ini.

__ADS_1


"Daa... Reina", ucapnya dengan melemparkan senyum.


Reina bergidik. Tamatlah riwayatmu Reina, batinnya meringis.


__ADS_2