Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Dhany pelaku penembakan


__ADS_3

Langit senja sudah kembali keperaduannya. Namun Reina masih duduk di kursi meeting dengan wajah lesu sambil mencatat semua informasi penting dari perbincangan dua orang pria yang sedang membicarakan bisnis mereka.


"Now, we have a deal?" tanya Mr. Dean yang baru saja menutup laptop dihadapannya.


"Agreed", ucap Alfian sambil menjulurkan tangannya.


Mr. Dean pun mengulurkan tangannya. "We will having a good contract", ujarnya saat mereka bersalaman.


Akhirnya selesai juga, batin Reina. Rasa kantuk yang sedari tadi ditahan sungguh menyiksanya, karena dia belum terbiasa duduk berjam-jam sambil membahas sesuatu yang dia tidak pahami.


"Please, let me take you Mr. Dean", ujar Alfian sambil tersenyum menatap kliennya itu.


Mr. Dean membalas dengan tersenyum ke arah Alfian. "Thank you. Please, go first."


Sepeninggal Alfian, Mr. Dean dan asisten Mr. Dean, Reina langsung mengemasi peralatan kantor yang baru saja selesai digunakan untuk keperluan meeting. Dia pun bergegas menelepon OB untuk segera merapikan meja meeting. Lalu dia duduk kembali di posisinya semula, sambil menunggu sang OB datang. Entah kenapa dia mulai merasakan hawa dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri. Sorot matanya menyusuri setiap sudut ruang meeting dengan debaran jantung yang memburu.


"Aaa", teriaknya saat sang OB baru saja membuka pintu.


"Kenapa bu?" tanya sang OB sambil menghampiri Reina.


"Bukan apa-apa", ujarnya berbohong sambil beranjak meninggalkan sang OB. Baru saja Reina menutup pintu, dia mendengar ada sesuatu yang jatuh di dalam ruang meeting. Reina semakin mempercepat langkahnya hingga dia pun tiba di meja kerjanya. Tanpa memperhatikan ke sekeliling, dia meraih tas jinjingnya sambil melangkah dengan terburu-buru menuju pintu lift.


"Apa dia tidak melihatku?" tanya Alfian yang sedari tadi memperhatikan Reina berjalan terburu-buru.


***


Malam berganti pagi seakan sekelebat bayangan. Baru saja membaringkan tubuh sudah harus membangunkannya kembali.


Pagi ini Alfian dan sang kakek datang ke rumah sakit dengan terburu-buru, setelah menerima panggilan telepon dari pak Benny, papanya Siska.


"Bagaimana keadaannya?" tanya sang kakek saat baru saja berdiri di dekat pak Benny. Alfian pun mengikuti sang kakek dengan berdiri di sampingnya.


"Siska koma!" seru pak Benny.


"Apa!" sahut sang kakek dan Alfian bersamaan. "Kok bisa?" tanya Alfian. Rasanya hal itu tidak mungkin terjadi, karena kemaren dia masih dalam keadaan baik-baik saja saat berbincang dengannya.

__ADS_1


"Dia mengalami stress berat. Akibatnya sayatan bekas operasi kembali berdarah. Jadi dia tidak sadarkan diri sampai sekarang", ucap pak Benny lirih.


"Apa karena perkataan kakek kemaren?" tebak Alfian. Sang kakek menatap Alfian seakan tidak ingin dijadikan kambing hitam.


"Ya, itu semua karena kakek Santoso. Jika saja bapak tidak mengatakan hal yang menyakitkan hati Siska, dia pasti tidak akan stress dan koma seperti sekarang!"


"Jangan memutarbalikkan fakta!" seru sang kakek sambil menahan emosinya. "Apa yang sudah kau perbuat, maka bersiap juga untuk menerima resikonya."


Pak Benny mengernyitkan keningnya. "Memangnya apa yang sudah aku perbuat?" tanyanya tanpa merasa bersalah.


"Apa pak Benny sudah yakin tidak melakukan apa-apa?" Sang kakek bertanya seolah menjebak.


Pak Benny terdiam sesaat. Apa yang sudah diketahui orang tua ini, batinnya. "Aku memang tidak melakukan apapun", sahutnya mengulangi perkataannya dan berusaha tetap tenang.


"Baiklah, biar aku saja yang katakan", ucap sang kakek sambil duduk di kursi tunggu di bantu sang pengawal.


"Pertama, aku ingin bertanya satu hal", ujar sang kakek menjeda ucapannya. "Apa yang sudah kau lakukan pada mamanya Winda?" tanya sang kakek yang membuat pak Herman dan Alfian tersentak kaget. Alfian langsung menoleh ke arah sang kakek seolah meminta penjelesan lebih.


"Emangnya apa yang sudah aku lakukan?" tanyanya balik, namun nada suaramya mulai bergetar.


Pak Benny terkesiap, lidahnya seakan tercekal mendengar ucapan sang kakek. Pikirannya pun mulai berkecamuk akan banyak asumsi, hingga dia tak sanggup lagi berpikir dengan akal sehatnya. Belum ada satu ide pun yang berhasil dipikirkannya, tiba-tiba saja petugas yang berwajib datang menghampiri dia.


"Dengan pak Benny?" tanya pihak yang berwajib padanya, namun pak Benny berhasil kabur sebelum dia menjawab petugas itu.


"Ayo, kejar dia!" seru pimpinan petugas itu, saat anak buahnya sudah mendahuluinya mengejar pak Benny.


Alfian menatap ke arah sang kakek yang tega melakukan hal sekejam itu, di saat kondisi Siska butuh perhatian orang terdekatnya.


"Aku tahu kau paati marah, kan?" ujar sang kakek saat melihat ekspresi Alfian. "Tapi kau akan lebih marah lagi jika kau tahu siapa dalang pembunuhan kedua orang tuamu", ucap sang kakek yang berhasil merubah ekspresi Alfian.


"Siapa dalangnya kek. Ayo katakan!" desak Alfian dengan perasaan gusar.


"Kau tenanglah dulu. Sebentar lagi juga kau akan tahu", sahut sang kakek sambil bangkit dari tempat duduknya. Lalu berjalan menjauhi Alfian.


Alfian pun mengikuti langkah sang kakek dengan terburu-buru. "Jangan buat aku semakin penasaran, kek", ucapnya dengan berdecak kesal. Entah kenapa dia merasa kakeknya itu sedang mempermainkannya. "Ayolah kek. Katakan sekarang", bujuknya pada sang kakek, namun tak ada satu katapun yang terucap dari bibir sang kakek. Akhirnya dia menyerah, dia berjalan mendahului sang kakek seperti anak yang sedang merajuk.

__ADS_1


***


Media di London masih memberitakan pelaku penembakan di kampus yang cukup terkenal di kota itu.


"Dhany... Dhany... ", ucap Ayunda berulang kali mencoba mengingat nama itu. Namun tidak pernah sekalipun dia bertemu bahkan berkenalan dengan orang yang bernama Dhany di kampus.


"Mantan residivis", ucap Ayunda kemudian sambil terus mengingatnya. "Apa aku pernah melaporkannya?" gumamnya bertanya di dalam benaknya.


"Siapa, Ay?" tanya Dafa yang muncul tiba-tiba dari belakang Ayunda.


"Kau mengagetkanku", ujar Ayunda sambil mengelus dadanya.


"Maaf... Maaf... "


"Iya, santai aja. Aku cuma bercanda kok", sahut Ayunda sambil menutup laptop yang sempat dibukanya. "Tadi itu aku lagi mikirin pelaku penembakan yang bernama Dhany", ujar Ayunda sambil menatap ke arah Dafa.


Dafa membalas dengan menatap lekat manik mata indah Ayunda. Ingin rasanya dia selalu merasakan kedekatan mereka seperti saat ini. Ayunda pun mulai gelisah saat mendapat tatapan intim dari Dafa. Dia langsung membuang asal pandangannya.


Kenapa aku sulit sekali membuka hati untuk Dafa, batin Ayunda.


Dafa mulai berdehem untuk mengisi keheningan diantara mereka. "Jangan pikirkan lagi. Aku sudah tahu siapa Dhany", ujar Dafa yang membuat Ayunda kembali menoleh ke arah Dafa.


"Siapa Dhany?" tanyanya.


"Dia terlilit hutang sama rentenir dan tidak sanggup untuk membayarnya, makanya dia di penjara."


Ayunda menautkan kedua alisnya. "Jadi kenapa dia mengincarku?" tanya Ayunda yang masih penasaran.


"Dhany itu pacarnya Siska."


"Apa, pacar?" tanya Ayunda, namun Ayunda tidak ingin berspekulasi. "Katakan dengan jelas, langsung keintinya saja", seru Ayunda dengan sedikit kesal.


"Jangan marah nona cantik", ucap Dafa yang berhasil membuat Ayunda tersipu. "Jadi Siska sudah membayar semua hutang Dhany, makanya dia dibebaskan. Sebagai imbalannya Dhany melakukan sesuai permintaan Siska yakni... Dor...."


Ayunda terkesiap mendengar penuturan Dafa. Dia tak habis pikir kenapa Siska masih saja mengincarnya. Padahal Siska sudah menikah dengan Alfian, bahkan tak pernah sekalipun Ayunda menghubungi Alfian.

__ADS_1


__ADS_2