
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
"Apakah aku boleh ikut?" tanya seorang pria yang tiba-tiba datang dari belakang Ayunda.
"Dafa...!" teriak Ayunda dan Reina bersamaan. Lalu Ayunda mengedarkan pandangannya ke sekeliling, "Kau sendiri?" tanya Ayunda saat tidak melihat Sherly bersama dengan Dafa.
"Ya", balas Dafa singkat. Memangnya aku harus bareng sama siapa?" tanya Dafa yang sedikit kecewa, karena Ayunda bukannya menanyakan kabarnya.
"Hmm... itu...", ucap Ayunda dengan ragu.
"Barangkali Kau bersama dengan tunanganmu", ujar Reina memotong ucapan Ayunda, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ayunda.
Dafa tertunduk sesaat, lalu dia tersenyum pahit sambil memandang Reina. "Memangnya siapa tunanganku?" tanya Dafa dengan nada kesal.
Ayunda dan Reina terdiam sejenak, tak ada satu kata pun yang berhasil ke luar dari mulut mereka. Apa pertunangannya dengan Sherly batal? batin Ayunda bertanya-tanya.
"Maaf, aku membuat kalian cemas. Aku hanya ingin bergabung dengan kalian", ujarnya dengan tersenyum, mengalihkan perhatian Ayunda dan Rein!a0 agar mereka tidak menduga-duga sesuatu mengenai pertunangannya.
Ayunda menganggukkan kepalanya, "baiklah, Kau boleh ikut", balas Ayunda dengan tersenyum. Dafa sangat senang dengan ucapan Ayunda, dia langsung berjalan beriringan dengan Ayunda.
Perkenalkan ini mas Tony", tutur Reina yang memperkenalkan Tony sebagai teman dekatnya. Dafa pun mengulurkan tangannya saat berkenalan dengan Tony.
Kemudian mereka melanjutkan langkahnya, setelah perkenalan Tony dan Dafa. Reina merasa senang, karena dia punya kesempatan berduaan dengan Tony. Dia menggeser sedikit tubuhnya mendekat pada Tony, "mas, kita coba masakan Korea, ya", ucap Reina dengan tersenyum lebar. "Aku pengen makan kimchi, bulgogi dan kimbap", ujar Reina dengan girang.
Tony menganggukkan kepalanya. "Terserah Kamu saja", sahut Tony dengan tersenyum, namun tidak dengan dompet Tony.
Reina dan Tony berjalan di depan, menuntun Ayunda dan Dafa. Reina berjalan dengan riang, bak seorang artis yang menjadi sorotan setiap mata pengunjung di Mall. Pada hal sorot mata mereka hanya tertuju pada Tony sang bodyguard. Mereka memuji ketampanannya, bahkan mereka mengabaikan Reina yang ada di sampingnya.
__ADS_1
Berbeda dengan Ayunda dan Dafa, mereka berjalan tanpa bicara sepatah kata pun. Ayunda terus mengalihkan pandangannya ke sisi sebelah kiri, mengabaikan Dafa di sampingnya. Dafa berdehem, berusaha mengambil alih perhatian Ayunda, "Ay, bagaimana dengan laporan magangmu?" tanya Dafa memulai percakapan.
Ayunda pun terpaksa menoleh ke arah Dafa, "belum selesai", balasnya singkat.
"O...", sahut Dafa dengan membentuk mulutnya seperti huruf o.
"Ay, ayo cepetan!" desak Reina pada Ayunda. Ayunda pun semakin mempercepat langkah kakinya menghampiri Reina yang sudah terlebih dahulu berada di dalam restoran.
*
"Ay, Kamu pesan apa?" tanya Reina sambil memberikan buku menu padanya. Dan betapa kagetnya Ayunda saat membaca buku menu yang baru di terimanya dari Reina. Semua adalah makanan ala Korea. Ayunda tidak memperhatikan restoran apa yang sudah di pilih oleh Reina, saat dia melangkah masuk ke dalam restoran, karena tadi dia berusaha menghindari Dafa.
"Kenapa?" tanya Reina saat melihat kerutan di kening Ayunda.
"Apakah di sini hanya ada makanan Korea?" tanya Ayunda dengan ragu. "Aku tidak pernah makan, makanan seperti ini", ucapnya kemudian sambil memandang setiap menu yang ada di buku menu.
Reina memikirkan cara agar Ayunda tidak minta pindah tempat makan. "Ay, gimana kalau aku yang pesan makanan buat Kamu?" tanya Reina, yang di balas dengan tatapan ragu oleh Ayunda. "Kau tenanglah, pilihanku yang terbaik", ucap Reina meyakinkan Ayunda.
Setelah kurang dari sepuluh menit, makanan pesanan mereka telah siap di hidangkan di meja makan. Mereka sama-sama menikmati hidangan itu, sambil sesekali tertawa. Saat Ayunda dan Dafa bercengkrama, Ayunda mengulas senyum pada Dafa. Ayunda tidak tahu seseorang dari kejauhan, namun masih di restoran yang sama, sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya. Bahkan tidak ada satu pun kejadian yang lepas dari pandangannya.
*
"Bagaimana makanan Koreanya?" tanya Reina saat baru saja meletakkan gelasnya, setelah selesai meneguk segelas air mineral.
"Lumayan enak", balas Ayunda sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Reina tersenyum bahagia, karena Ayunda menyukai pilihannya. "Kalau aku mengajakmu lain kali. Apa Kau masih mau datang ke sini?" tanya Reina dengan mengedip-ngedipkan matanya.
"Eh, itu..."
__ADS_1
"Ay, aku harus pulang lebih dulu. Ibu sudah mencariku", tutur Dafa saat membaca pesan dari seseorang di ponselnya.
"Oo... kalau begitu kita bareng. Kami juga sudah selesai", sahut Ayunda yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Iya, Daf. Aku bayar ini dulu, ya", sahut Reina menimpali ucapan Ayunda. Dia pun berdiri dan hendak beranjak menuju kasir. Tony langsung meraih tangannya. Reina kaget saat Tony memegang tagannya, dalam batinnya, dia sangat kegirangan.
"Eh, maaf", ucap Tony sambil melepaskan pegangannya. "Biar aku yang bayar", tuturnya sambil buru-buru beranjak menuju kasir.
Reina merasa Tony sangat gentle, karena telah membayar makanan mereka. Ekor matanya tidak berhenti memandang ke arah Tony yang berjalan menuju kasir. Ayunda yang melihat tingkah sahabatnya itu langsung berdehem, "Ehem, sepertinya ada yang makin cinta, nih", ledek Ayunda pada Reina.
Reina hanya membalas Ayunda dengan tersenyum, lalu beranjak saat Tony sudah kembali dari kasir. Dia mengucapkan terima kasih pada Tony dengan tersenyum lebar. Tony hanya membalasnya dengan tersenyum, lalu mengajak mereka pulang. Dafa dan Ayunda pun ikut beranjak, mereka berjalan bersama menuju ke luar restoran.
Brukk...
Seseorang menabrak Dafa, namun tidak terlalu keras. Dafa langsung menatap tajam pria berkaca mata hitam itu. "Apa Kau tidak bisa melihat jalan selebar ini!" sergah Dafa saat dia hampir saja terjatuh kalau tidak di pegang Ayunda.
"Maaf", ucap pria itu sambil membuka kaca mata hitamnya.
"Pak Ferdo!", ucap Reina saat melihat jelas wajah Ferdo.
Ayunda langsung mendongak dan melepaskan pegangannya dari Dafa. "Kak Alfian", panggil Ayunda dengan tersenyum ramah.
Dafa merasa cemburu, karena Ayunda tiba-tiba melepas pegangannya dan tersenyum manis pada pria di hadapannya. "Ay, aku pulang duluan, ya", ujar Dafa mencoba mengalihkan perhatian Ayunda.
Ayunda menganggukkan kepalanya, "ya", balasnya singkat.
Dafa melangkahkan kakinya setelah berpamitan pada Ayunda dan Reina dengan perasaan kecewa. Siapa pria itu? Kenapa Ayunda bersikap manis padanya? batin Dafa yang terus bertanya-tanya. Dafa terus melangkahkan kakinya dengan kesal, dan tanpa dia sadari seseorang sudah memanggilnya berkali-kali.
"Dafa!" sergah seorang wanita yang berpakaian modis sambil berdiri di samping Dafa. "Kenapa Kau tidak menjawab, dari tadi aku memanggilmu", ucapnya dengan merajuk. "Ponselmu ke mana? Kenapa Kau tidak mengangkat telpon dariku?" tanyanya bertubi-tubi membuat Dafa semakin geram.
__ADS_1
Dafa terus berjalan mengabaikan wanita yang sudah menjadi tunangannya itu tak berhenti mengoceh. Dalam pikirannya saat ini hanya ada Ayunda dan pria yang telah menabraknya tadi. Namun tiba-tiba, Dafa berhenti melangkah saat sesuatu baru saja tepat mengenai kepalanya. Dia berbalik dan menatap tajam wanita yang dengan sengaja melempar tas jinjing ke arah Dafa.
To be continue...