Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Peresmian Restoran Bunda


__ADS_3

Happy reading...


Winda dan Tya masih tertawa bahagia, saat Tony datang menghampiri mereka.


"Permisi, bu Winda", ucap Tony sopan yang mengalihkan perhatian Winda padanya.


"Oh, kamu sudah datang", sahut Winda masih dengan sisa tawanya. Lalu dia meraih tas jinjingnya yang ada di atas meja kerja Tya.


Saat ini manik mata Tya tidak bisa lepas dari pria tampan dihadapannya. Jika saja aku tidak akan menikah, maka dia adalah pilihan utamaku, batin Tya.


"Tya... Tya.." panggil Winda sambil melambaikan tangannya di wajah Tya.


"Oh, iya", sahut Tya yang baru saja sadar dari lamunannya.


Ckckck


"Dasar, gak bisa tahan kalau lihat cowok cakep. Sadar Tya... sadar... Ingat calon suamimu", ujar Winda yang membuat Tony tersenyum.


"Lha, dia tersenyum. Terenyuh hati dedek, bang", seru Tya dengan rasa kagum pada Tony.


"Ayo, kita pergi. Kalau kau terus di sini, dia pasti mimisan. Lebih baik kita pergi sekarang, sebelum dia mulai menggila", ujar Winda sambil melangkahkan kaki meninggalkan Tya dengan tingkah konyolnya. Tony pun mengikutinya dari belakang sambil berpamitan pada Tya.


"Jangan pergi, bang!" teriak Tya dengan penuh dramatis. Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi. Lalu Tya meraih ponsel yang ada di atas meja kerjanya Matanya terbeliak saat melihat nama calon suaminya di layar ponselnya. Mati aku... Apa dia tahu apa yang baru saja kulakukan, batin Tya. Lalu Tya menggeser tombol hijau di ponselnya dengan sedikit ragu.


***


Di sebuah tempat yang ramai akan pengunjung sedang diselenggarakan acara yang sangat meriah. Di sinilah Adrian bersama dengan keluarganya berkumpul untuk merayakan ulang tahun sang bunda, yakni di restoran yang akan diberikan oleh Adrian sebagai hadiah kepada sang bunda. Restoran itu sudah diberi papan nama yang bertuliskan Restoran Bundo.


Para tamu bertepuk tangan saat sang bunda memotong pita yang mengikat di pintu masuk restoran. Lalu sang bunda melanjutkab dengan memotong nasi tumpeng, sebagai perayaan ulang tahun sekaligus peresmian restoran milik sang bunda.


Raut wajah bahagia terlihat sangat jelas saat para tamu dipersilakan masuk untuk menikmati hidangan yang sudah tersaji rapi di buffet dan diberi nama sesuai nama makanannya.


"Ayo, jangan sungkan", ucap sang bunda yang sibuk melayani para tamu, meskipun Adrian memintanya untuk tetap duduk. Namun sang bunda ingin mendengar langsung penilaian orang atas masakannya.


"Bagaimana masakannya, pak?" tanya sang bunda pada seorang bapak yang duduk bersama karyawannya, terlihat dari seragam yang mereka kenakan tertera nama toko tempat mereka bekerja.


"Enak, bu", sahut sang bapak yang disepakati bersama melalui anggukan oleh para karyawannya. Bunda Adrian pun tersenyum bahagia saat orang-orang mengapresiasi masakannya.


"Saya paling suka sama rendangnya, bu", sahut seseorang yang duduk di belakang si bapak.


"Bagus kalau kalian suka", sahut sang bunda dengan mengembangkan senyumannya. "Ayo, di tambah", tutur bunda Adrian.


"Terimakasih, bu", sahut beberapa orang di hadapan bunda Adrian.


Bunda Adrian masih berdiri di posisinya sambil melihat para tamu yang sudah menambah makanan di piringnya. Dengan raut wajah bahagia dia tak berhenti memandang, hingga Adrian datang menghampirinya.

__ADS_1


"Sudah cukup, bun", tutur Adrian mengingatkan sang bunda. "Ayo, kita duduk", ajak Adrian sambil menggayutkan tangannya. Sang bunda pun mengikuti langkah Adrian.


Tiba-tiba netra Adrian tertuju pada seseorang yang baru saja masuk, lalu dia teringat akan sesuatu. Aku lupa mengundangnya, batin Adrian.


Winda terus berjalan masuk yang diiringi Tony dibelakangnya. Saat netranya melihat Adrian dan keluarga sedang duduk bersama, bahkan Conny juga ada di sana. Dia langsung menghampiri mereka meskipun debaran jantungnya terasa semakin memburu. Rasa kesal dan cemburu yang menyatu membuat Winda ingin melahap Adrian saat ini juga.


"Selamat ya, tante", ucap Winda yang berusaha menyembunyikan kemarahannya pada Adrian. Lalu dia memeluk sang bunda. Saat pelukannya sudah terlepas Winda langsung memberikan sebuah kado yang dia beli saat diperjalanan menuju restoran."Ini kado buat tante", ucapnya dengan tersenyum.


"Terimakasih, nak", sahut sang bunda dengan mengelus lembut pipi Winda.


"Ini dari saya, bu", ucap Tony sambil menyerahkan kado yang juga dia beli di tempat yang sama dengan Winda.


"Wah, kenapa kalian semua jadi repot", ujar sang bunda dengan rasa segan saat menerima kado dari Tony.


"Gak repot kok, bu", balas Tony sopan.


"Kalau begitu kalian makanlah dulu", pinta sang bunda sambil menunjuk ke arah buffet.


"Sebentar lagi, bu", balas Tony yang ingin duduk di dekat Ayunda. Rasanya dia kangen melihat senyum manis Ayunda. Sang bunda pun tidak ingin memaksa. Mereka duduk bersama di satu meja yang khusus buat keluarga Adrian.


"Hai, mas Tony", sapa Ayunda. "Apa kabar?" tanyanya sambil tersenyum menampilkan deretan gigi rapinya.


Tony yang mendapat sapaan dari Ayunda tidak langsung merespon. Dia masih diam sambil mengagumi kecantikan Ayunda yang sudah lama dirindukannya. Ayunda menatap Tony dengan raut wajah bingung, karena sedari tadi Tony hanya senyum-senyum sendiri tanpa mengucapkan sepata kata.


Cih, dasar pelakor, batinnya.


Adrian yang paham dengan maksud tatapan Winda, langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia meminta Tony berganti tempat dengannya.


"Hai, gimana kabarmu?" tanya Adrian saat dia sudah duduk di sebelah Winda.


"Kenapa baru tanya sekarang!" seru Winda dengan mencubit lengan Adrian.


"Aww... Tolong... Jangan...", ucap Adrian yang kesakitan. Jika saja Winda tidak jadi bahan tontonan para tamu, mungkin cubitannya akan bertahan lama di lengan Adrian.


"Maaf, aku sangat sibuk akhir-akhir ini", ucap Adrian dengan rasa bersalah.


"Ya, sampai lupa mengundangku, kan", balas Winda monohok. Perkataan Winda mampu menghujam tajam jantung Adrian.


"Apa?" pekik sang ayah dan bunda bersamaan.


Habislah aku, batin Adrian.


"Ehm, ayah dan bunda tenang dulu, ya", ucap Adrian gagap. "Sebenarnya..."


"Sebenarnya memang lupa! Iya, kan?" ujar sang bunda memotong ucapan Adrian.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, bun", sahut Adrian yang mencoba menjelaskan.


Namun sang bunda langsung menyentilnya. "Jangan cari alasan lagi", ucapnya.


Adrian pun pasrah menerima kemarahan sang bunda. Sedangkan Winda tersenyum penuh kemenangan. Hati gusarnya seketika berubah bahagia, saat dia tahu bahwa keluarga Adrian sangat peduli padanya.


Di balik kebahagiaan Winda, Conny merasa tidak senang. Awalnya dia mengira bahwa dia akan mendapatkan pria yang telah merebut ciuman pertamanya di masa kecil itu. Namun saat melihat kebahagiaan Winda bersama keluarga Adrian rasanya tidak mungkin untuk dia bisa memiliki Adrian.


Conny merasa keberadaannya di sini tidak lebih penting dari seorang investor. Dia pun memutuskan untuk beranjak dari tempat itu.


"Maaf pak, bu dan semuanya saya permisi pulang", ucapnya berpamitan.


Adrian langsung mengalihkan perhatiannya pada Conny. "Kenapa cepat sekali?" tanya Adrian.


"Masih ada urusan", sahutnya berbohong.


"Oo, oke kalau begitu", jawab Adrian yang membuat Conny terdiam sesaat. Lalu berpamitan pulang.


Conny berjalan dengan tatapan kosong. Kisah 13 tahun yang lalu kembali di putar dalam benaknya.


Flashback on


Conny yang masih berusia 9 tahun pergi ke sebuah desa bersama leluarganya. Mereka akan berkunjung ke rumah sang paman yang baru saja dikaruniai anak pertama setelah 5 tahun menanti.


Saat tiba di rumah sang paman. Mereka langsung melihat bayi mungil yang sedang di gendong istri pamannya.


"Ih, gemesnya", ucap sang mama dengan menowel pipi chubby sang bayi.


"Bikin saja lagi, ma", goda sang papa saat melihat wajah bahagia sang istri. "Aww...", ringis sang papa saat mendapat cubitan dari istrinya itu.


Conny kecil yang merasa bosan karena tidak ada teman untuk bermain, bahkan sang bayi pun tidak dapat di ajak bicara. Lalu dia pergi ke luar rumah tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.


"Wah, ada ayunan", ucapnya saat melihat beberapa permainan di tanah lapang yang tidak jauh dari rumah sang paman. Dia pun berlari dengan girang tanpa memperhatikan langkahnya. Tiba-tiba kakinya tersandung tas ransel seseorang, lalu dia mencoba menggapai baju seorang anak di depannya. Saat sang anak merasa ada yang menariknya refleks dia berbalik dan mereka pun terjatuh bersama.


"Ha,ha,ha..." Gelak tawa anak-anak yang lain membuat mereka malu, karena mereka bukan saja terjatuh tapi bibir mereka pun saling menempel.


Flashback off.


Conny memajukan kendaraannya sambil tersenyum getir.


Ada rasa yang tak sampai


Ada kisah yang belum di mulai


Suara pembawa radio mengisi keheningan di dalam mobil Conny. Dia terus melajukan kendaraannya membelah keramaian kota.

__ADS_1


__ADS_2