Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Rindu Ayah


__ADS_3

Happy Reading 😊😊


🌸🌸🌸


Ayunda dan sang bunda tiba di kampung halaman mereka. Ole-ole yang sudah disediakan sang bunda dengan riang dibagikan pada tetangga, teman seprofesi saat mereka bekerja sebagai petani.


Setelah ole-ole dibagikan, mereka menuju sebuah rumah bercat hijau yang masih terawat itu. Rumah yang terpaksa mereka tinggalkan, karena perpisahan ke dua orang tua Ayunda. Rumah yang penuh kenangan itu, kini di huni oleh kerabat jauh dari sang ayah untuk tinggal di sana.


"Assalamualaikum... Bu Arsih." Sang bunda menyapa sambil mengetuk pintu rumahnya.


"Waalaikumsalam... " suara seorang wanita menjawab dari dalam rumah.


Ceklek.


"Eh, Bu Ratih..." Bu Arsih terbelalak saat melihat orang yang dikenalnya berdiri di hadapannya. "Ini pasti Yunda, kan. Subhanallah... Kamu cantik, Nak", puji Bu Arsih saat melihat Ayunda berdiri di belakang sang bunda.


"Iya, Bu. Tapi tolong jangan memuji seperti itu, Bu", balas Ayunda dengan tersenyum ramah.


"Kamu memang sangat cantik, Nak." Bu Arsih kembali tersenyum. "Oh, ya Adrian mana?" tanya bu Arsih dengan wajah bahagia sambil celingak celinguk mencari keberadaan Adrian. Bu Arsih merasa tidak sopan jika banyak bertanya saat tamunya masih di luar. "Ayo, masuk. Kita bicara di dalam saja", ajak bu Arsih saat pintu di buka lebar. Ayunda dan sang bunda melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti ibu Arsih dari belakang. Lalu bu Arsih mempersilahkan mereka duduk.


Air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk mata sang bunda, akhirnya jatuh dengan bebas saat sorot matanya menyusuri seluruh ruangan yang sudah tidak asing lagi baginya.


"Bunda... " panggil Ayunda lirih. Ayunda langsung menggenggam erat tangan sang bunda. "Jangan sedih, ya", tuturnya dengan tersenyum.


Sang bunda menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Bunda gak apa-apa." Sang bunda membalas dengan tersenyum getir. Lalu sorot matanya teralihkan pada sebuah foto yang terpajang di dinding ruang tamu.


"Bu Arsih... " panggilnya dengan ramah.


"Ya, Bu", balas bu Arsih singkat.


"Fotonya kenapa masih di pajang, Bu?" tanya sang bunda.


Bu Arsih tersenyum ke arah sang bunda. "Itu foto kenangan keluarga Bu Ratih, jadi aku tidak berhak untuk membuangnya. Lagi pula itu tidak mengganggu sama sekali", sahut Bu Arsih. "Tapi Adrian mana ya Bu? Dari tadi gak kelihatan." Bu Arsih kembali bertanya, karena tak sabar ingin melihat Adrian.

__ADS_1


"Masih di makam orang tua sahabatnya, Bu." Sang bunda membalas dengan senyum yang dipaksakan.


"Bunda... bajuku belum di setri- " ucapan seorang wanita muda dengan tiba-tiba, namun ucapannya terputus saat melihat sang bunda sedang bersama tamu yang tak di kenalnya.


"Eh... ini... Bu Ratih pasti ingat. Ini putri saya Salsa", ucap Bu Arsih yang hampir saja kehilangan muka, jika Salsa melanjutkan ucapannya yang tidak sopan.


"Oh, ini Salsa.. sudah gadis ya, Bu", balas Bu Ratih bundanya Ayunda.


"Iya, Bu. Sudah siap nikah juga", ujar Bu Arsih dengan tersipu malu.


Yang sudah siap nikah putrinya, tapi kenapa yang malu-malu bundanya ya? batin sang bunda.


"Oh, kalau sudah ada jodohnya, langsung nikah saja Bu. Dari pada nanti buat dosa", ujar sang bunda menasehati Bu Arsih.


"Nah, masalahnya itu Bu?" balas Bu Arsih membuat Bu Ratih mengernyitkan keningnya. "Jodohnya belum ada sampai sekarang", ucapnya melanjutkan.


"Assalamualaikum... "


"Waalaikumsalam... " balas mereka hampir bersamaan. Namun berbeda dengan Salsa. Lidahnya seakan tercekal saat melihat dua orang pria tampan datang ke rumahnya. Matanya hampir saja ke luar, bahkan mulutnya menganga seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Plakk!


"Aww... " ringisnya, saat Salsa menampar dirinya sendiri untuj memastikan dirinya tidak sedang bermimipi.


"Bunda... ini ole-olenya", seru Adrian saat membawa paper bag yang tertinggal di mobil.


Sang bunda bangkit dari duduknya. "Oh, iya. Bunda hampir lupa", ujarnya sambil menghampiri Adrian. "Terima kasih, Nak", ucapnya meraih paper bag di tangan Adrian dengan wajah sendu.


Oh... ini Adrian. Tampan sih, tapi sahabatnya lebih keren, batin bu Arsih.


"Kamu masih ingat Bu de Arsih, kan?" tanya sang bunda sambil menoleh ke arah Bu Arsih.


Adrian menganggukkan kepalanya. "Ya, Bun", balasnya singkat.

__ADS_1


"Nak Adrian", panggil Bu Arsih dengan senyum yang mengembang. "Kamu masih ingat Salsa, kan?" tanya Bu Arsih dengan semangat.


Adrian menganggukkan kepalanya. "Ya, Bu de", balasnya singkat saat duduk di kursi yang diikuti oleh Ferdo.


Bu Arsih meminta mereka untuk tinggal lebih lama, karena dia akan memasak untuk mereka. Namun Bu Ratih beralasan bahwa besok putranya akan kembali bekerja. Bu Arsih kecewa mendengar penuturan Bu Ratih. Rencananya untuk mendekatkan sang putri dengan Adrian gagal sebelum di mulai.


"Kalau begitu, apa aku bisa minta nomor ponselmu? Karena Salsa berencana akan mencari kerja di kota", ucap Bu Arsih yang berharap agar sang putri bisa lebih dekat dengan Adrian.


"Biar aku simpan nomor ponsel Ibu saja", seru Ayunda yang teringat sesuatu.


Bu Arsih langsung memberikan nomor ponselnya dan Salsa. Dia yakin jika Salsa dekat dengan Ayunda, itu memudahkan Salsa untuk dekat dengan Adrian.


"Terima kasih, Bu", ucap Ayunda dengan tersenyum ramah. Ayunda sangat bersemangat saat menyimpan nomor ponsel kerabat jauhnya itu, karena akan menghubunginya nanti untuk menanyakan kabar sang ayah. Rasa rindu pada sang ayah telah membuat Ayunda murung beberapa hari ini, namun dia tidak menceritakannya pada siapa pun.


Ferdo yang sedari tadi mengedarkan pandangannya, berhenti pada satu foto yang tidak asing baginya. Ferdo mengernyitkan keningnya, saat melihat Pria yang ada di dalam foto keluarga Adrian. Pria yang mengingatkannya pada kejadian 12 tahun lalu.


Itu foto keluarga Adrian, berarti pria paruh baya itu adalah ayahnya, batin Ferdo. Ferdo menoleh dengan gelisah ke arah Adrian. Dia tak menyangka, jika ayahnya Adrian berhubungan dengan kematian ke dua orang tuanya.


"Ayo!" ajak Adrian pada Ferdo saat bangkit dari kursi. Ferdo menatap Adrian sambil mengkerutkan keningnya, karena belum sepenuhnya sadar dari lamunannya.


"Apa Kau akan menetap di sini?" tanya Adrian yang membuat Ferdo langsung bangkit dari kursi, lalu berjalan mendahului Adrian tanpa mengatakan sepatah kata. "Dasar sahabatku yang aneh." Adrian bergumam namun masih dapat di dengar oleh Ferdo.


Mereka berjalan ke luar setelah berpamitan pada Bu Arsih dan Salsa. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil.


"Tunggu dulu!" seru bu Arsih sambil berlari kecil. "Ini bawalah. Suamiku yang sudah membuatnya." ucap bu Arsih saat memberikan dodol asli khas buatan desa itu.


"Terima kasih, Bu de", balas Ayunda. "Sampaikan salam Yunda pada pak de, ya", ucap Ayunda dengan tersenyum.


"Ya, Nak", balas Bu Arsih. Lalu kendaraan mereka bergerak meninggalkan halaman rumah.


*


Ferdo menatap ke luar kaca jendela mobil dengan wajah sendu. Dia terus memikirkan pria yang ada dalam foto keluarga Adrian. Ayunda juga sedang memikirkan sang ayah, dia sungguh tak sabar ingin mengetahui keberadaan sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2