
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
"Kau!" tunjuk Ayunda saat melihat wanita di hadapannya.
Wanita itu kaget saat melihat Ayunda, dia langsung berlari dengan buru-buru, menjauhi Ayunda dan Adrian yang masih mematung.
Ayunda tersadar bahwa wanita yang baru saja di tabraknya itu adalah wanita yang bernama Jenny. "Kak, bukankah itu wanita yang pernah minta tolong di basement?" Ayunda bertanya tanpa memalingkan wajahnya, tatapannya tak lepas dari wanita bernama Jenny, yang hampir tak terlihat lagi.
"Lihatlah, pasti dia telah melakukan sesuatu yang salah. Kenapa dia harus lari saat melihat kita", seru Adrian sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Ayunda hanya membalas sang kakak dengan anggukan.
"Ayo, kita masuk ke mobil", ajaknya pada Ayunda.
Lalu mereka bergegas meninggalkan parkiran butik, tak ingin membahas masalah wanita bernama Jenny itu.
\=\=\=
Pagi yang cerah mengiringi derap langkah setiap pasang kaki, yang tak berhenti saling bersautan, menandakan adanya kesibukan baru dan melupakan segala penat di hari kemarin.
Adrian dan Ayunda pun tak ingin ketinggalan dengan hiruk pikuk yang memberi semangat baru di pagi ini. Hari ini juga adalah hari spesial bagi sang bunda, karena bertambahnya satu tahun usia bunda tercinta mereka. Namun mereka telah sepakat untuk menunda memberikan ucapan bahkan surprise bagi sang bunda.
Pada hal sang bunda sudah memberi isyarat, dengan terhidangnya sarapan pagi special di meja makan. Adrian dan Ayunda menikmati sarapan mereka dengan lahap, tanpa menoleh ke arah sang bunda yang selalu mengembangkan senyumnya.
Mungkin mereka lupa, batin sang bunda.
Sang bunda terus tersenyum sampai Adrian dan Ayunda berangkat ke kantor. Namun apa yang di harapkannya, tak kunjung di dapat.
"Maafkan kami bunda", ucap Adrian dan Ayunda bersamaan, saat mereka sudah berada di luar dan pintu apartemen tertutup sempurna.
***
"Pagi, Kak Winda", sapa Ayunda saat mereka berjalan beriringan dengan Winda.
"Pagi, Ay", balas Winda dengan tersenyum.
Ayunda pun ikut tersenyum, lalu menyikut lengan sang kakak. Adrian kaget, lalu menatapnya sambil menaik turunkan alisnya, seolah meminta penjelasan. Ayunda langsung menunjuk Winda dengan ekor matanya. Adrian pun paham dengan maksud sang adik.
"Pagi", ucap Adrian tiba-tiba, mengalihkan perhatian Winda padanya.
"Pa- pagi", balas Winda dengan gagap. Tumben nyapa, batin Winda.
__ADS_1
Ayunda berjalan dengan menggandeng Winda, dia meninggalkan sang kakak berjalan di belakangnya.
Gawat, sepertinya Yunda sangat akrab dengannya, batin Adrian.
Mereka terus berjalan beriringan menuju ruangan masing-masing. Ayunda tiba lebih dulu di ruangannya, lalu dia pun berpamitan pada sang kakak dan Winda. Setelah itu, Adrian dan Winda berjalan beriringan dengan rasa canggung.
"Hem... aku ke sana, ya", ucap Winda saat mereka berada di sudut lorong.
Adrian pun membalas dengan berdehem, sambil melirik Winda sekilas. Winda dapat menangkap lirikan mata Adrian, walau hanya sebentar. Mereka pun berpisah, saling menjauh menuju ruangan masing-masing.
Winda melangkahkan kakinya sambil melamun.
"Hei!" panggil Siska sambil menepuk pundak Winda.
"O, hai", balas Winda.
Siska mengernyitkan keningnya, "ada apa?", tanya Siska.
"O, bukan apa-apa", balas Winda tanpa menoleh ke arah Siska.
Siska memegang ke dua lengan Winda, lalu memutar badan Winda, sehingga posisi mereka saling berpandangan. "Kau tak bisa membohongiku, ayo katakan!" pinta Siska dengan
menatap serius Winda.
"Huft, aku bingung", sahut Winda sambil menarik nafas berat. "Kita ngomong di ruanganku aja ya", pinta Winda sambil menepis genggaman Siska.
Lalu mereka berjalan menuju ruangan Winda.
***
"Ferdo", panggil Adrian pada Ferdo, namun Ferdo mengabaikannya. Dia tetap fokus memandang laptop di hadapannya.
"Ferdo!" Adrian memanggil dengan menaikkan nada suaranya, namun Ferdo tetap tak menoleh.
"ALFIAN!" panggil Adrian sekali lagi, membuat Ferdo kaget dan menatap Adrian dengan serius. Panggilan nama yang sudah lama tak pernah di dengarnya, kini kembali terdengar di telinganya.
Ferdo menutup layar laptop di hadapannya, lalu memandang tajam ke arah Adrian. "Kenapa Kau berteriak seperti itu?" tanyanya.
"Sedari tadi Kau mengabaikanku, apakah kita ini bukan sahabat lagi?" tanya Adrian.
"Cih, bukankah Kau juga sering mengabaikanku?" balas Ferdo bertanya.
Adrian melangkahkan kakinya semakin dekat dengan Ferdo, "kalau kita terus saling membalas, maka persahabatan ini akan tinggal nama saja", sahut Adrian.
__ADS_1
Ferdo pun diam tak dapat membalas ucapan Adrian. Dia memikirkan ucapan sahabatnya itu.
"Maaf, jika selama ini aku sering mengabaikanmu dan maafkan juga atas ucapanku barusan." Adrian menatap sahabatnya itu dengan menyesal. "Tapi aku yakin tak akan semudah itu membuat persahabatan kita hilang", ucap Adrian melanjutkan.
Ferdo tersenyum mendengar ucapan Adrian, dia senang dengan sikap Adrian, "memang Kau adalah sahabat terbaikku", seru Ferdo. "Aku juga sangat senang saat Kau memanggilku dengan namaku yang lama", ucap Ferdo melanjutkan.
Ferdo beranjak dari kursi kerjanya, lalu duduk di sofa sambil bersandar. "Nama itu adalah nama saat aku dalam kesusahan, saat tak ada satu pun yang memperdulikanku, kecuali Kau dan Ayunda."
Adrian pun berjalan menuju sofa, lalu duduk di sebelah Ferdo. "Kalau itu tidak terjadi padamu, mungkin saja kita tidak akan bertemu", seru Adrian.
Ferdo menoleh ke arah Adrian sambil tersenyum, "Kau benar", sahutnya sambil menepuk pundak Adrian. "O, ya, gimana dengan acara surprise ulang tahun bundamu? Apakah ada yang bisa aku bantu? tanya Ferdo dengan semangat.
"Tak perlu, semua sudah di siapkan oleh Ayunda."
"Oke, kalau begitu", balas Ferdo. "Apa Kau di gaji besar hanya untuk ngobrol?" tanya Ferdo sambil menaik turunkan alisnya.
"Eh, maaf Pak. Kalau begitu saya kembali bekerja, Pak." Adrian beranjak dari duduknya, lalu ke luar dari ruangan Ferdo setelah berpamitan.
***
"Reina, Kamu nanti malam jadi datang, kan?" tanya Ayunda saat telah menyantap habis makan siang di hadapannya.
"Pasti dong", sahut Reina.
Ayunda tersenyum simpul, "tapi mas Tony gak ikut di acara nanti malam", ujarnya sambil melihat reaksi Reina.
"Kenapa?" tanya Reina.
"Hmm... mungkin dia ada acara malam minggu bareng doi", jawab Ayunda dengan santai.
"Oo, begitu ya. Apa dia sudah punya pacar?" tanya Reina kembali.
"Wah, kalau itu aku kurang tahu. Kau bisa tanyakan langsung padanya. Kau sudah menyimpan nomor ponselnya, kan?" tanya Ayunda yang semakin menggoda Reina, pada hal Ayunda tahu kalau mas Tony belum punya pacar.
"Ma- mana mungkin aku bertanya seperti itu", balas Reina. "Tapi, karena Kau adalah sahabatku, harusnya Kau bisa membantuku menanyakannya", ucapnya melanjutkan.
"Hmm... boleh sih, tapi,,," ujar Ayunda menggantung ucapannya.
"Tapi apa?" tanya Reina penasaran.
"Kau harus membantuku mencari inisal A yang selalu memberikanku makanan", tutur Ayunda. "Kita hanya tinggal seminggu lagi magang di sini. Setelah itu kita akan kembali ke kampus, jadi tolong bantu aku, ya", pinta Ayunda sebagai balasan bantuan yang di minta Reina.
"Oke, deal", sahut Reina.
__ADS_1
Mereka pun saling berjabat tangan dan melemparkan senyum. Lalu beranjak dari tempat duduk mereka, dan kembali bekerja.
To be continue...