Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Sebatas Rekan Bisnis


__ADS_3

Ayunda bersiap menuju kantor polisi memenuhi surat panggilan yang sudah dia terima.


"Bismillah...", ucapnya saat baru saja melangkah masuk ke dalam kantor polisi. Netranya tanpa sengaja menatap seorang pria botak penuh tato di bawa masuk dengan di.borgol. Seketika hati Ayunda berdebar membayangkan sesuatu yang buruk yang akan terjadi pada dirinya.


"Astaghfirullah...", ucapnya sesaat kemudian sambil mengelus dadanya saat dia memikirkan hal buruk terjadi padanya. Lalu dia melanjutkan langkahnya, berjalan ke bagian kriminal, sesuai petunjuk di dalam surat.


"Permisi bu. Saya mau memenuhi panggilan surat ini", ujarnya sembari menyodorkan amplop ditangannya.


Wanita dihadapan Ayunda menerima dan membaca surat yang dia terima dari Ayunda. "Oh, ini di bagian sana", tunjuknya menggunakan jari. "Nanti dari sini belok kiri. Ruangan kedua di pojok kiri. Ibu masuk saja, nanti berikan surat ini pada pak polisi yang duduk di meja pertama", ucapnya menerangkan.


Ayunda pun berpamitan, dia berjalan menuju ruangan yang baru saja diberi petunjuk oleh wanita itu.


Tok. Tok.


"Permisi pak, saya mau memenuhi panggilan sesuai surat ini." Ayunda menyodorkan surat ditangannya yang langsung diterima oleh pak polisi yang duduk di meja pertama itu.


"Oh, ini dengan ibu Ayunda sendiri?"


"Iya, saya sendiri pak."


"Ditunggu sebentar ya, bu. Bapak sedang ada tamu", ujar pak polisi itu dengan ramah.


"Baik, pak", balas Ayunda dengan tersenyum ramah.


Masih bisa tersenyum ibu ini, batin pak polisi.


 


Setelah setengah jam lamanya Ayunda menunggu, akhirnya pak polisi meminta Ayunda untuk masuk ke dalam ruangan.


Ayunda yang awalnya takut, akhirnya mulai percaya diri, saat melihat sikap pak polisi yang ramah bahkan tidak menuding dirinya sesuai isi surat. Hampir 2 jam lamanya Ayunda berada di dalam ruangan itu. Meskipun pak polisi mencecarnya dengan banyak pertanyaan, namun Ayunda bisa menjawabnya dengan tenang, walaupun menggunakan lie detector.


"Terimakasih bu Ayunda sudah mau datang dan memberi keterangan."


"Ya, sama-sama pak. Apa saya sudah boleh pulang pak?"


"Ya, silakan bu. Kami akan memberitahu ibu perkembangan selanjutnya."


"Baik pak. Kalau begitu saya pamit." Ayunda melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Lalu dia melangkah keluar dari ruangan yang ada dibagian luarnya.


Setelah berada di luar ruangan itu. Netra Ayunda menangkap sosok wanita yang dia kenal. "Itu Salsa", ucapnya bergumam. "Apa dia sedang menjenguk ayahnya?"

__ADS_1


Ayunda mempercepat langkahnya mengejar sosok wanita yang mirip Salsa itu. "Salsa!" teriak Ayunda memanggilnya. Namun wanita itu tidak menoleh sama sekali.


"Sal..."


Cit.


Seseorang terpaksa menekan pedal rem mobil dengan mendadak. Jika tidak dia akan menabrak Ayunda.


"Maaf... Maaf", ucap Ayunda saat menyadari kesalahannya.


Pria pengemudi mobil itu menurunkan kaca mobilnya. "Kalau jalan lihat-lihat dong, bu! Kalau ketabrak kan saya yang repot!" sergahnya yang membuat Ayunda semakin merasa bersalah.


"Iya, pak. Sekali lagi saya minta maaf."


"Oke, lain kali hati-hati", sahutnya sembari menutup kembali kaca mobilnya. Lalu dia melajukan kendaraannya, meninggalkan Ayunda yang masih berdiri diposisinya.


"Di mana Salsa?" Ayunda menatap ke seberang jalan dengan berdecak kesal. Dia tidak lagi menemukan keberadaan Salsa. Lalu dia membalikkan badannya dan berjalan menuju parkiran.


Sepeninggal Ayunda, Salsa pun keluar dari tempat persembunyiannya. "Aku harap kau akan segera mendekam dipenjara selamanya", ucap Salsa dengan penuh dendam. Lalu dia memberhentikan taxi yang baru saja lewat.


 


Di apartemen Alfian. Dia sedang duduk menemani Zahra yang masih terlihat lemah itu sedang bermain boneka miliknya. Hampir 1 jam lamanya Alfian duduk sembari memperhatikan Zahra mengoceh seorang diri.


Tok. Tok.


Ceklek.


"Kenapa lama sekali hanya untuk membuka pintu?" Sang kakek melangkah masuk dengan mengoceh. "Sudah tahu kakekmu ini sudah tidak kuat lagi berdiri lama", ujarnya sembari duduk di sofa.


"Iya, maaf kek. Tadi Alfian lagi asyik bermain dengan Zahra."


"Zahra, anak Siska itu? Kenapa dia masih bersamamu, harusnya kau memberikannya pada neneknya?"


"Meskipun dia bukan anak kandung Alfian, tapi bukan berarti Alfian harus menyerahkannya pada neneknya. Sama seperti kakek yang merawat anak yang bukan anak kandung kakek sendiri."


Sang kakek terdiam sesaat, karena dia tak dapat membantah ucapan Alfian. "Oke, terserah kau. Jika ingin merawatnya."


"Terimakasih, kek", sahut Alfian.


"Kakek ke intinya saja, karena masih ada yang harus kakek selesaikan di perusahaan cabang."

__ADS_1


Alfian mengernyitkan keningnya menunggu ucapan sang kakek selanjutnya.


"Sebenarnya kakek mau menjodohkanmu dengan Siera, tapi kakek tidak mau pernikahanmu berakhir seperti yang sudah lewat. Jadi kakek akan menanyakan persetujuanmu terlebih dulu. Apa kau bersedia menikah dengan Siera?"


Alfian mendengus kasar. "Maaf kek. Alfian tetap tidak setuju."


"Oke, Siera apa kau sudah mendengarkannya?"


"Tapi, kek..."


"Sudah kakek katakan. Kakek tidak akan mau melakukan perjodohan, jika salah satu di antara kalian tidak setuju."


Siera tertunduk lesu, karena kedatangan sang kakek tidak memberikan arti apa pun baginya.


"Kalau begitu kakek mau langsung ke bandara, masih ada rapat dengan kantor cabang yang harus kakek hadiri."


"Baik kek", sahut Alfian. Sedangkan Siera hanya bisa berdecak kesal karena rencananya gagal sebelum di mulai.


Sepeninggal sang kakek, Alfian langsung menatap tajam ke arah Siera. "Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menyusahkan kakek?" ucapnya dengan wajah tak ramah.


"Aku hanya ingin menikah denganmu. Apa itu salah?"


"Salah, jika kau melakukannya hanya untuk memenuhi obsesimu untuk menikah dengan pria kaya."


Siera tersentak kaget saat mendengar penuturan Alfian. Sejak kapan dia mengetahui niatku itu?" batinnya.


"Jika tidak ada lagi yang mau kau bicarakan, maka aku akan meninggalkanmu. Kau masih ingat pintu keluarnya kan?" usir Alfian dengan cara halus.


Siera bangkit dari sofa sembari menghentakkan kakinya. Rencana yang baru saja dia susun ulang harus berakhir tanpa hasil. Dia langsung berjalan keluar apartemen Alfian.


---


Ayunda baru saja memarkirkan kendaraannya di halaman kantor tempatnya bekerja. Lalu dia keluar dari dalam mobil dan menguncinya.


"Sore bu Yunda", sapa Abian yang membuat Ayunda beringsut mundur.


"Bapak membuat saya kaget. Kenapa bapak muncul tiba-tiba, sih?"


"Maaf kalau saya membuat ibu kaget. Tapi saya sedang buru-buru. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada bu Yunda."


"Hal penting apa, pak?"

__ADS_1


"Bisa kita bicarakan ini di cafe sana?" tanya Abian dengan menunjuk sebuah cafe yang tidak jauh dari kantor Ayunda.


"Oke", sahut Ayunda singkat. Dia tak ingin Abian bolak balik mencarinya ke kantor. Cukuplah mereka bertemu hanya sebatas rekan bisnis saja.


__ADS_2