Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Sebuah bukti


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸


"Hoamm... kenapa pagi cepat sekali datangnya. Aku masih ngantuk." Ayunda merentangkan tangannya ke sisi kanan dan kiri lalu menutup mulutnya yang terbuka lebar karena menguap.


Tok... tok.


"Yunda... Yunda... ayo bangun, nak", seru sang bunda dari balik pintu kamar Ayunda.


"Ya, bun", balas Ayunda dengan sedikit berteriak lalu bangkit dari tempat tidur.


Ceklek.


"Hem,,, apa semalam kamu bergadang, nak? Kenapa telat sekali bangunnya?" Sang bunda bertanya dengan tatapan curiga.


"Eh, bukan bun. Mungkin karena tadi malam Yunda mimpi sangat indah." Ayunda membalas pertanyaan sang bunda dengan cengiran kuda menunjukkan deretan gigi rapinya.


"Pasti mimpi berduaan sama si Alfian, tuh!" seru Adrian yang baru saja melewati pintu kamar Ayunda. "Jangan-jangan mimpi sedang ... " Adrian sengaja menggantung ucapannya menggoda sang adik.


"Kakak sok tahu, huh!" Sergah Ayunda, sedangkan sang bunda hanya tersenyum simpul melihat perdebatan lucu pagi itu.


"Ya, jelas dong, kakak lahir lebih dulu dari kamu. Ya, pasti lebih tahu banyak hal!" sahut Adrian saat berhenti sejenak tepat di belakang sang bunda. "Tapi kakak mau minta tolong, nih. Itu ngomongnya jangan kencang-kencang. Gak sadar ya, aroma nafas naga kamu sudah menyebar ke mana-mana! Gosok gigi dulu, gih!" Ledek Adrian sambil menutup hidungnya.


"Bunda... " rengek Ayunda dengan wajah cemberut.


Sang bunda hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kejahilan Adrian pada sang adik. "Sudah... sudah... Yunda kamu mandi dulu, biar aromanya gak menyebar ke mana-mana", sang bunda menimpali dengan tersenyum meledek, sambil berlalu menuju dapur meninggalkan Ayunda yang masih cemberut.


"Ah, ternyata bunda juga sama. Apa tidak ada lagi yang sayang sama Yunda? Hiks... hiks... " Ayunda berpura-pura menangis sambil menutup pintu kamarnya.


"Ada Yunda...!" teriak Adrian dari luar kamar Ayunda yang sempat mendengar ucapan Ayunda. "Alfian!" lanjutnya kembali dengan suara lantang. Ayunda yang belum beranjak dari depan pintu kamarnya dibuat terperangah, sesaat kemudian seulas senyum menghiasi wajah imutnya. Ayunda yang merasakan wajahnya merona, langsung menepuk pelan kedua pipinya.


"Aish, kenapa aku jadi rindu kak Alfian ya", ucapnya sambil beranjak menuju kamar mandi dan bergegas menyelesaikan ritual mandinya.

__ADS_1


***


Ting... tong.


Suara bel membuat Alfian berlari kecil menghampiri pintu, tanpa melihat melalui interkom.


Ceklek.


Alfian memandang dengan wajah tak senang, saat melihat seorang wanita yang dia kenal sedang berdiri di hadapannya sambil tersenyum padanya.


"Kenapa kemari?" tanya Alfian tanpa menyapanya terlebih dahulu.


"Ya, kenapa? Aku adalah tunanganmu dan sebentar lagi kita akan menikah. Jadi aku bisa datang kapan saja ke tempat tinggalmu, kan?"


Alfian tidak membalas ucapan Siska. Dia hanya menatap kesal wanita yang memang sudah menjadi tunangannya itu melangkah masuk ke dalam apartemen miliknya meskipun dia belum mempersilakannya masuk.


"Ehm, sayang", panggil Siska dengan nada manja, membuat Alfian bergidik ngeri. "Sayang... " Siska mengulangi panggilannya, karena Alfian tetap acuh padanya. "Baiklah sayang, aku hanya mau mengingatkan bahwa kurang dari dua minggu lagi kita akan menikah. Jadi kita harus mempersiapkannya dengan baik. Kakek sudah mengingatkanku kemaren." Siska tersenyum seakan membayangkan sang kakek yang sudah tidak sabar melihat mereka menikah.


"Ya, gak bisa gitu dong sayang! Kakek cukup merestui hubungan kita, jadi kita bisa melakukan pernikahan dengan bahagia."


"Bahagia... ? Huh, apa Kau yakin kita akan bahagia?" Pertanyaan mengintimidasi dan tatapan tajam dari Alfian membuat Siska sedikit gugup.


"Pa,,,pasti dong sayang. Asal kita saling mencintai", balas Siska dengan tersenyum kaku.


"Tidak ada kata bahagia untuk sesuatu yang dipaksakan!" sergah Alfian. "Maaf, tidak baik pria dan wanita hanya berdua saja, tinggal terlalu lama di dalam satu ruangan. Lebih baik kamu pulang."


Alfian kembali menatap tajam Siska serta memberi isyarat dengan menunjuk pintu melalui sorot matanya. Siska pun takut dan memutuskan untuk meninggalkan apartemen Alfian. Dia memdengus kasar saat pintu apartemen Alfian tertutup sempurna.


"Apa aku telpon kakek saja, ya?" Siska bergumam sambil memikirkan sebuah rencana.


"Hai Siska", sapa Winda sambil meletakkan sesuatu dalam tas jinjingnya dan berjalan melewati Siska.


Siska tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Winda. "Oh, hai. Mau kemana? Sepertinya kamu buru-buru." Siska berbicara sedikit berteriak, namun Winda berlalu meninggalkannya tanpa membalas ucapannya.

__ADS_1


"Cih, dasar! Jika saja kau bukan sepupuku, maka aku sudah membalasmu", cibir Siska. "Buat apa aku mikirin yang gak penting! Lebih baik telpon kakek saja. Ini semua demi masa depanku." Siska terus berbicara sambil meraih ponsel dari dalam tasnya, dan mencoba menghubungi sang kakek.


***


Di tempat lain dengan suasana yang sedikit menegangkan saat sebuah putusan akan di bacakan oleh sang Hakim. Adrian, sang bunda dan Ayunda saling menggenggam tangan dengan erat. Mereka menanti dengan cemas, karena tidak dapat menampilkan bukti yang menunjukkan bahwa sang ayah bukanlah pelaku penabrak.


Setelah menunggu beberapa menit, putusan akhir pun akan dibacakan, yang terdengar hanyalah sayup hembusan nafas di keheningan ruangan sidang. Bahkan keringat yang sedari tadi bercucuran seakan menggambarkan ketegangan pada wajah sang ayah yang akan dijatuhi hukuman. Namun disela pembacaan putusan, seseorang masuk ke dalam ruang sidang dengan langkah gontai menghampiri sang hakim dan mencoba memberikan sanggahan.


"Maaf pak Hakim. Saya terlambat membawa bukti", ucapnya dengan sedikit berteriak, sehingga semua mata tertuju padanya.


"Winda... Kak Winda", ucap Adrian dan Ayunda hampir bersamaan. Mereka pun menatap Winda dengan tatapan penuh pertanyaan.


Setelah mendapat izin dari pak petugas, Winda melangkah ke depan. "Ini pak Hakim. Silahkan didengarkan isi rekamannya." Winda menujulurkan tangannya, menyerahkan sebuah usb dengan tersenyum pada sang Hakim. Lalu dia berbalik dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang kekasih.


Setelah melihat wajah sang kekasih, Winda berjalan menghampiri sang kekasih, lalu duduk di sebelahnya. "Bagaimana kau bisa memiliki bukti?" tanya Adrian dengan raut wajah bingung saat Winda baru saia menempelkan bokongnya di kursi.


"Ya, bagaimana bisa kak?" Ayunda menimpali dengan nada berbisik.


"Nanti aku ceritakan. Sekarang kita dengarkan sama-sama isi rekamannya." Winda membalas dengan tersenyum Adrian dan Ayunda yang masih menatapnya. Mereka pun mengangguk bersamaan. Suara rekaman dari usb yang telah diberikan oleh Winda di dengarkan dengan seksama oleh semua yang hadir dalam ruang sidang.


Setelah selesai mendengarkan rekaman, Hakim meminta jeda beberapa saat. Dia pun menunda putusannya dan akan menyampaikannya setelah berdiskusi.


Keluarga Adrian pun bernafas lega saat mendengarkan ucapan sang hakim. "Masih ada harapan", gumamnya. Dia melihat senyum di raut wajah sang ayah yang sedari tadi tegang. "Terima kasih, sayang", ucapnya pada Winda dengan mata berbinar.


"Sama-sama, sayang", balas Winda dengan tersenyum.


"Ehem... Bunda... kita jadi obat nyamuk", ucap Ayunda sambil menatap sang bunda. "Aww,,, " ringisnya saat mendapat cubitan dari sang kakak.


"Sudah... sudah... kita harus doakan supaya putusannya tidak memberatkan ayah kalian", balas sang bunda.


"Amin... ", ucap mereka hampir bersamaan.


😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2