Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Ingin Mencelakai


__ADS_3

Adrian tidak melepaskan pandangannya dari wanita yang baru saja bekerja di restoran sang Bunda.


Wanita itu mulai risih, karena pekerjaannya selalu diawasi. Dia pun memberanikan diri berjalan menghampiri Adrian.


"Maaf, Pak. Apakah saya terlihat seperti pencuri hingga harus diawasi seperti ini", kesalnya.


"Lakukan saja tugas Ibu dengan baik. Jangan hiraukan saya", jawab Adrian dengan tegas.


Wanita itu menarik tangan salah seorang pelayan yang kebetulan melalui mereka. "Mba, saya mau tanya."


"Iya, mau tanya apa Bu?"


"Kalau mbanya selalu dipelototin saat bekerja, apa mbanya merasa tenang?" tanya wanita itu dengan serius.


Sang pelayan menoleh ke arah Adrian. "Kalau saya sih senang, Bu. Walau sedikit grogi," jawab sang pelayan yang membuatnya semakin kesal.


"Sepertinya saya yang salah, Pak", desahnya. Lalu dia melanjutkan pekerjaannya, meskipun Adrian masih tetap menatapnya.


...---...


Di kantor Santoso Station tampak beberapa karyawan sibuk menyiapkan konsep acara pernikahan Alfian, pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


"Tetap semangat, ya", ujar Reina saat dia sedang menjalankan tugas mengawasi pekerja.


"Terimakasih, Bu Reina", sahut salah seoranng pekerja wanita, yang terdengar kurang tulus.


"Setelah ini selesai, semuanya boleh makan gratis di kantin. Karena sesuai dengan arahan Pak Theo, saya sudah menesan khusus makanan untuk semua karyawan yang terlibat."


"Bu Reina harusnya ngomong dari tadi, biar kerjanya tambah semangat", ucap Asep seraya mengedipkan matanya.


"Kalau begitu saya tinggal dulu. Jika perlu sesuatu langsung sampaikan pada saya", ujarnya.


"Oke, Bu Reina yang cantik", goda Asep dengan tersenyum. Di setiap kesempatan Asep akan selalu mengganggu Reina meskipun Tony sudah mengingatkannya.


"Kang Asep, ingat istri di rumah. Jangan sampai kang Asep menyesal kemudian."


"Emangnya apa yang sudah saya lakukan. Saya hanya mengatakan kalau Bu Reina itu cantik."


"Susan juga cantik, tapi kang Asep tidak pernah memujinya."

__ADS_1


"Owh, jadi cewek-cewek di kantor ini pada iri, karena kang Asep hanya memuji Reina", ucapnya.


Beberapa wanita yang ada di tempat itu menatap jengah Asep yang punya kepercayaan diri tinggi itu.


"Lebih baik kita kerjakan tugas masing-masing, dari pada ngurusin Asep."


"Iya, kamu benar. Aku tidak mau Tuan Santoso marah melihat pekerjaanku yang tidak beres," sahut rekan kerjanya yang masih sibuk menyusun souvenir.


Reina yang sudah menjauh dari Asep, akhirnya bernafas lega.


...---...


Waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa terasa esok adalah hari pernikahan Alfian dan Ayunda. Semua persiapan sudah hampir 100%, namun Alfian yang sedikit keras kepala itu masih saja melakukan survey ke gedung tempat pernikahan dilakukan yang berada di dalam kawasan kantor Santoso Station.


Setelah mendapat telepon dari sang Kakek dan menceramahinya dengan banyak wejangan, akhirnya Alfian tidak tahan lagi. Dia bergegas pulang bak seorang anak yang di suruh pulang oleh emaknya.


Di dalam mobil yang masih terparkir itu, Alfian membuka galery foto diponselnya. Hasil kamera benda pipih berlogo apel di makan sebagian itu sangat bening. Alfian pun puas dengan foto yang sudah diambilnya sendiri.


"Kirim ke my honey, pasti dia senang", ucap Alfian bermonolog. Lalu jari Alfian menekan tombol send. Setelah semua foto terkirim, Alfian melajukan kendaraannya menuju apartemen.


Di tengah perjalanan tiba-tiba Alfian mengalami bocor ban. "Kenapa bannya tiba-tiba bocor sih?" tanyanya berdecak kesal pada diri sendiri. Lalu dia bergegas keluar untuk mengecek ban mobil yang bocor.


...---...


Di tempat berbeda tampak seluruh keluarga Ayunda sedang tertawa riang, karena esok adalah hari pernikahan Ayunda.


Ayunda ikut tertawa bersama keluarganya, namun dalam benaknya dia sungguh tidak sabar ingin menjauh dari seluruh keluarganya, agar dia bisa melakukan panggilan video dengan Alfian.


Perbincangan hangat itu seakan tidak ingin berakhir, meskipun ada di antara mereka yang sudah beberapa kali membuka mulutnya dengan lebar. Ayunda pun melakukan hal yang sama, karena biasanya pengantin harus tidur lebih awal.


"Masih jam 8 malam, calon pengantin tidak perlu terburu-buru masuk kamar", ujar sang Bunda yang membuat batin Ayunda menangis.


Ayunda hanya bisa diam seraya mendengarkan obrolan para orang tua yang sesekali memberi nasehat padanya.


"Besan... kasihan Yunda kalau harus menahan kantuk. Nanti riasan wajahnya tidak bagus", ujar Ibunya Winda kala melihat wajah lesu Ayunda.


Sang Bunda terdiam sesaat. "Iya, sudah Yunda istirahat saja", ujar sang Binda seraya menatap Ayunda.


"Baik,.Bun", balas Ayunda dengan wajah lesu. Lalu dia beranjak dari posisinya duduk dan berjalan menuju kamar. Akhirnya aku bisa punya privasi, batin Ayunda.

__ADS_1


Setelah berada di dalam kamar, Ayunda langsung meraih ponselnya yang ada di atas meja rias. Matanya terbeliak kala melihat banyaknya peaan dan panggilan tidak tetjawab di layar ponselnya.


"Dafa menelponku, apa ingatannya sudah pulih?" tanya Ayunda di dalam pikirannya. Kemudian dia melihat nama kontal Abian di layar ponselnya. "Kenapa Pak Abian menelponku sampai 10 kali? Jangan-jangan dia belum move on", pikir Ayunda.


Ayunda meletakkan ponselnya kembali di atas meja, lalu dia berlari menuju kamar mandi untuk menyelesaikan hajatnya. Namun ponsel Ayunda berdering, Ayunda buru-buru keluar dari dalam kamar mandi, setelah dia menyelesaikan hajatnya.


"Abian", ucapnya saat melihat nama kontak yang sedang menghubunginya.


"Assalamualaikum, Pak," ucap Ayunda saat baru saja menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Waalaikumsalam, Bu Yunda. Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat. Walaupun besok saya akan datang di acara pernikahan Ibu", sahut Abian dari seberang telepon.


"Terimakasih, Pak. Tapi saya rasa tujuan Pak Abian menelepon saya bukan itu, kan?"


"Bu Yunda benar. Saya ingin memberitahu Ibu, sesuatu yang tidak sengaja saya dengar seminggu yang lalu", ujarnya dengan menghela nafas. "Maaf jika saya tidak langsung memberitahu hal ini pada Bu Yunda. Saat itu saya tidak begitu yakin siapa yang mereka bicarakan."


"Tolong katakan dengan jelas, apa yang ingin Pak Abian sampaikan!" pinta Ayunda yang tidak sabar mendengar Abian menyelesaikan ucapannya.


"Ada yang ingin mencelakai keluarga Bu Yunda", ucap Abian dengan cepat.


Ayunda terperangah saat mendengarnya. "Apa Pak Abian mendengar dengan jelas, kalau mereka menyebutkan keliuarga kami?"


"Sebelumnya saya tidak tahu jika yang mereka maksud adalah keluarga Bu Yunda, namun saat saya mengetahui mereka adalah keluarga yang memiliki dendam dengan keluarga Bu Yunda, makanya saya yakin yang mereka bicarakan adalah keluarga Bu Yunda."


Ayunda terdiam sesaat. "Apa Pak Abian tahu nama mereka?"


"Wanita paruh baya itu keluarga dekat Bu Ayunda dari kampung. Suaminya sedang berada di penjara."


"Bi Arsih", ucap Ayunda dengan mulut menganga.


"Mungkin itu adalah namanya", sahut Abian masih dari seberang telepon.


"Terimakasih Pak Abian sudah memberitahu hal ini", ujar Ayunda.


"Sama-sama, Bu. Saya harap tidak ada yang akan mendapat celaka di keluarga Bu Yunda", ucap Abian.


"Amin", balas Ayunda.


Lalu mereka mengakhiri sambungan telepon itu.

__ADS_1


__ADS_2