Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Keberangkatan Ayunda


__ADS_3

Mentari pagi seakan berpacu dengan awan gelap yang ingin mendahuluinya. Hanya dalam waktu sekelebat, rintik hujan sudah turun membasahi bumi.


Pagi ini Ayunda sedang mengemasi pakaiannya sambil menatap ke luar kaca jendela yang mulai berembun.


"Kenapa tiba-tiba hujan", ucapnya sedikit kesal. Dia pun menutup koper yang sudah penuh dengan barang pribadinya, lalu mendorongnya ke luar kamar.


Adrian menatap Ayunda yang sedang berjalan membawa koper. " Kenapa manyun dek?", tanya sang kakak. "Ini masih pagi, lo." Sang kakak mengingatkan sambil mengoles selai kacang pada selembar roti ditangannya.


"Di luar hujan, kak."


Adrian melirik Yunda sekilas "Iya, tahu. Trus hubungannya apa?"ucap Adrian sambil memasukkan setengah roti ke dalam mulutnya.


Ayunda tidak langsung merespon ucapan sang kakak. Dia melanjutkan langkahnya dan duduk di salah satu kursi. Tangannya meraih gelas di atas meja dan mengisinya dengan teh hangat dari dalam teko. "Heh, hari ini Yunda mulai melangkah untuk mrenggapai mimpi, tapi cuaca seperti gak mendukung." sesalnya sambil menyesap teh dari gelas ditangannya.


Adrian menelan sisa roti dalam mulutnya. "Jangan salah, bisa saja ini adalah hujan yang membawa berkah", sahut Adrian sambil menjulurkan tangannya meraih kentang goreng dihadapan Ayunda.


Ayunda menepis tangan sang kakak. "Itu punya Yunda, kak."


"Bagi dikit, aja. Pelit amat, sih." Tangan Adrian seakan tak sejalan dengan ucapannya.


"Dikit apanya?" seru Ayunda saat melihat sang kakak hanya menyisakan setengah kentang goreng miliknya.


"Ada apa?" tanya sang ayah saat baru saja keluar dari dalam kamar bersama sang bunda.


Sebelumnya mereka sudah berada di meja makan, untuk menikmati sarapan. Namun sang bunda memaksa suaminya itu kembali ke kamar. Dia ingin meminta pendapat atas sesuatu yang berhibungan dengan keberangkatan Ayunda yang hanya boleh diketahui oleh bunda dan suaminya itu.


"Ayah dan bunda dari mana?" tanya Ayunda dengan menyelipkan senyum nakalnya.


"Hus, mau tau aja urusan orang tua", ujar sang ayah sambil mengedipkan mata.


Sang bunda menggeleng sambil menatap sang suami dan putri cantiknya itu. "Yunda..." panggil sang bunda, hingga mengalihkan netra Ayunda melihat ke arah sang bunda.


"Ya, bun", sahut Ayunda yang masih penasaran dengan apa yang telah dilakukan oleh ayah dan bundanya.


Sang bunda berdehem sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dia bawa saat ke luar dari dalam kamar. "Bunda hanya bisa berikan ini", ujar sang bunda sambil meletakkan sebuah kotak perhiasan di tangan Ayunda.


Ayunda beringsut mundur sambil mendorong sopan tangan sang bunda. "Jangan, bun", tolaknya.

__ADS_1


"Kenapa, nak?"


"Yunda masih punya tabungan sendiri. Lebih baik ini bunda simpan saja." ucap Ayunda tersenyum. Dia sangat paham dengan keinginan sang bunda, jika sudah mengeluarkan perhiasan miliknya.


Sang bunda pun menggeleng. "Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, coba lihatlah dulu", pinta sang bunda dengan meletakkan kembali kotak perhiasan di tangan Ayunda. Netranya menyiratkan ada rasa khawatir pada putrinya itu.


Ayunda langsung membuka kotak perhiasan itu. Alis matanya pun saling berpaut saat melihat sebuah surat yang terlipat rapi ada didalamnya. "Surat apa ini, bun?" tanyanya sambil membuka lipatan surat. "Bunda..." rengeknya saat baru saja membaca judul surat yang di tulis oleh sang bunda itu. Lalu dia berlari menghamburkan dirinya dalam pelukan sang bunda.


"Esok adalah hari pertama bunda tidak bersama Yunda." Suara parau sang bunda bagai menggelitik hati Ayunda.


Ayunda mendongak menatap wajah sendu sang bunda. Dengan mata yang memerah sang bunda mengusap lembut wajah Ayunda "Jaga diri baik-baik, nak." Air mata sang bunda jatuh berderai, memilukan hati Ayunda. Tapi ini adalah sebuah keputusan dalam menggapai mimpinya.


"Yunda pasti akan sangat merindukan ayah, bunda dan kak Adrian", ujar Ayunda. Air matanya pun jatuh dengan bebas hingga raungan tangis Ayunda memenuhi ruang makan itu.


"Sudah... Sudah. Ini bukan perpisahan untuk selamanya. Yunda kita ingin menggapai mimpinya. Jadi biarkan dia berangkat dengan hati ikhlas", ujar sang ayah.


Ayunda pun perlahan menghentikan suara tangisannya. Sedangkan sang bunda mengangguk pelan, lalu menarik paksa lengkungan sudut bibirnya. "Bunda juga akan merindukanmu, nak." ucap sang bunda sambil mengecup kening Ayunda dan mengusap lembut sisa air mata di pipi Ayunda.


Sang ayah dan Adrian datang menghampiri bunda dan Ayunda, lalu mereka saling memeluk dan saling melemparkan senyuman. Setelah pelukan itu mulai memberikan rasa gerah, bersama-sama mereka pun melepaskannya. Saat ini kehangatan kembali menyelimuti keluarga Ayunda.


Ayunda menerimanya dengan mata berbinar, tangannya bergerak cepat membuka kotak itu. "Wah ini bagus sekali", ujar Ayunda. Selembar handuk berwarna merah yang bertuliskan namanya telah membuat hati Ayunda kembali riang. "Terimakasih, kak. Yunda suka", tutur Ayunda saat menyentuh bordiran namanya.


"Baguslah kalau kau suka", sahut Adrian dengan tersenyum.


Ayah dan bunda pun ikut tersenyum saat melihat senyuman di wajah cantik Ayunda. Mereka bersiap-siap berangkat mengantar Ayunda ke bandara Internasional, karena waktu check in bersisa 1 jam lagi.


***


Di kantor Santoso Station.


Reina mendengus kasar saat tugas yang diberikan sang atasan padanya bertumpuk mengalahkan tingginya himalaya.


"Yang ini kemaren gimana, ya?" Reina bergumam mengingat banyak hal yang telah diajarkan oleh Tya, karena hari ini Tya sudah tidak lagi bekerja. Reina harus melakukan banyak pekerjaan dengan deadline hampir bersamaan.


"Darrr..."


"Eh, darrr... darrr..." sambut Reina dengan latah.

__ADS_1


"Kang Asep..." teriaknya kemudian dengan kesal saat melihat pengganggu yang sudah membuat dirinya berkata latah.


"Ya, Reina sayang", sahut Asep dengan tersenyum.


Reina bergidik saat mendengar penuturan Asep. "Jangan ganggu, atau aku lapor ke bu Winda", ancam Reina yang membuat nyali Asep ciut. Baru saja dia melihat Reina pujaan hatinya, namun dia harus meninggalkan Reina yang sedang memberinya tatapan membunuh.


"Bye, sayang", ucap Asep dengan memberi kiss bye.


Baru beberapa menit setelah kepergian Asep, Winda datang menghampirinya. "Hai Reina", sapa Winda.


"Ya, bu Winda. Ada yang bisa di bantu?" Reina bangkit dari tempat duduk sambil menyelipkan senyumannya.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini. Ada kesulitan?" Netra Winda mengerjap seakan tak percaya melihat tumpukan berkas di atas meja Reina.


"Ehm, masih ada sedikit bu", ucapnya jujur. Rasanya dia ingin menangis melihat semua pekerjaan yang selalu datang tanpa di undang.


"Yang mana?" tanya Winda dengan menghampiri Reina, hingga Winda dapat melihat jelas apa yang sudah berhasil dikerjakan olehnya. Namun Winda terkesiap saat melihat tabel kosong memenuhi layar komputer Reina.


"Jadi kau benar-benar belum paham?" Winda berdecak kesal saat melihat hasil kerja Reina. Baru saja dia akan memberikan tugas baru, namun darah yang mengaliri nadinya seakan mendidih.


Reina tertunduk malu, jari-jarinya saling meremas. "Maaf, bu."


Winda pun mendengus kasar. "Apa kau masih membutuhkan Tya di sini?" Winda memberikan penawaran, barangkali Tya dapat membantu Reina. Karena waktu 4 hari sepertinya tidak cukup untuk mentraining Reina.


"Ehm, apa itu tidak akan merepotkan bu Tya?" Reina gugup. Dia tidak ingin di nilai sebagai orang yang tidak kompoten.


"Kamu cuma perlu jawab, butuh atau tidak!" sahut Winda dengan tegas.


"Iya, bu." Reina mengangguk cepat. Dia mengira bahwa bu Winda akan marah dan menggantikan posisinya dengan orang lain.


"Oke, tunggu saja."


"Baik, bu. Terimakasih sebelumnya."


Winda membalas dengan berdehem, lalu melangkahkan kakinya menjauhi Reina yang masih berdiri di balik meja kerjanya.


"Ternyata bu Winda orang yang baiik", ucap Reina bergumam.

__ADS_1


__ADS_2