
Alfian menatap haru dari luar kaca bayi mungil yang sedang menguap di dalam inkubator. Bayi mungil yang selama ini tidak pernah dia anggap kehadirannya.
"Subhanallah, putri kecilku yang cantik." Alfian menyentuh kaca luar seakan sedang menyentuh wajah mungil putri kecilnya. Bulir kristal jatuh dengan bebas membasahi pipi Alfian saat dia mengingat semua perlakuannya pada Siska. Namun seketika senyuman menghiasi wajah tampan Alfian saat melihat bibir mungil putrinya seakan mengecap sesuatu. "Haus ya, nak?" ucap Alfian dengan suara parau. "Sabar, ya. Nanti mik susu sama mama." Alfian menatap lekat putri kecilnya yang sesekali menggoyangkan kaki mungilnya.
Seakan tidak ada puasnya Alfian memandangi putri mungilnya itu. Jika saja sang mertua tidak menelpon menanyakan keadaan Siska, maka dia akan tetap berada di sana. Dengan langkah yang terburu-buru Alfian berjalan menuju ruangan Siska.
"Tidak!" teriak Siska dengan frustasi sambil memegang perutnya.
"Ada apa?" tanya Alfian saat baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Aww", ringisnya kemudian saat merasakan sakit dibagian sayatan bekas operasinya.
"Kenapa?" Alfian berjalan menghampiri Siska sambil menyentuh punggung tangannya dengan panik.
"Sakit... Sakit..." rintih Siska yang mulai bercucuran keringat.
Alfian buru-buru menekan tombol panic button. Dan tak berselang lama perawat datang.
"Ada apa?" tanya sang perawat sambil menghampiri Siska.
"Oh, tidak. Kenapa bisa berdarah!" seru sang perawat yang tak kalah panik. Lalu dia buru-buru memanggil dokter.
Alfian melihat ada noda darah di pakaian Siska tepat di bagian perut yang sedari tadi Siska pegang.
Tiba-tiba Dokter masuk dan langsung mengecek keadaan Siska. "Kenapa bisa separah ini?" ujar sang dokter dengan mata melotot.
"Saya kurang tau dok. Tapi sewaktu saya masuk keruangan ini dia berteriak sangat keras", sahut Alfian.
Tanpa menunda-nunda sang dokter meminta perawat membawanya kembali ke ruang operasi.
Alfian pun mengikuti saat Siska di bawa kembali keruangan operasi.
Di kantor Santoso Station.
Tersiar kabar bahwa bos mereka Alfian telah menikah dengan Siska. Mereka pun mulai bergosip tentang kehamilan Siska yang tak lain dan tak bukan adalah darah daging Alfian.
Reina berjalan melewati beberapa karyawan yang sedang bergosip.
"Apa kalian tidak punya pekerjaan lain?" tanya Reina yang terusik dengan perbincangan mereka.
__ADS_1
"Kau juga harus berhati-hati, karena telah mencelakai istri pak Alfian", ucap seorang wanita sambil berjalan dengan membubarkan diri sendiri. Kemudian diikuti oleh rekan lainnya.
Lidah Reina seakan kelu tak mampu menjawab perkataan rekan kerjanya itu. Dia diam beberapa saat ditempatnya berdiri sambil mengingat kembali apa yang sudah dia lalukan pada Siska. Lalu dia buru-buru berjalan menuju ruangan Winda.
***
Langit senja mulai berpamitan pada indahnya jingga, melepaskan lelah untuk kembali keperaduannya.
Adrian menjatuhkan dengan kasar bobot tubuhnya di sofa. Dia merasa sangat lelah mempersiapkan acara pernikahannya karena tidak menyewa EO khusus.
"Apa tidak lebih baik sewa EO seperti kata Winda, nak?" tanya sang bunda saat melihat wajah lelah Adrian.
"Ini bukan masalah dana atau yang lainnya, bun. Tapi Adrian sudah merencanakan konsep pernikahan Adrian jauh sebelum Adrian dekat dengan Winda."
Sang bunda tersenyum saat mendengar penuturan Adrian. "Baiklah, jika itu yang kau inginkan, nak", sahut sang bunda sambil berjalan menuju kamar.
Tak berselang lama setelah kepergian sang bunda, ponsel Adrian berbunyi.
"Winda", ucapnya saat melihat layar ponselnya. Dia pun menggeser tombol hijau pada ponselnya.
"Assamualaikum..." ujar Winda dari seberang telepon.
"Waalaikumsalam", sahut Adrian.
Adrian terkekeh saat mendengar sebutan baru dari Winda.
"Kenapa tertawa? Itukan panggilan sayang", ujarnya berdecak kesal.
"Iya aku tahu. Tapi masih terasa asing ditelingaku", sahut Adrian.
"Mulai sekarang, tolong dibiasakan ya my hubby!" seru Winda dengan manja masih dari seberang telepon.
Adrian terpaksa menuruti kemauan sang calon istri agar tidak berbuntut panjang. Setelah Adrian menyetujui permintaannya barulah Winda menyampaikan tujuan sebenarnya dia menelpon Adrian.
***
Di London
Media sedang sibuk memberitakan penembakan yang baru saja terjadi di dekat kampus dimana Ayunda sedang berkuliah.
Pelaku penembakan telah di kepung dan dengan lantangnya dia menyebutkan sasaran yang ingin dia tuju.
__ADS_1
"Ayunda.. di mana kau?" teriaknya dengan keras sambil mengacungkan senjata.
Ayunda sedang menonton berita itu di kamar tidurnya. Dia pun tersentak kaget, saat namanya disebut. Sorot matanya tak lepas dari layar laptop yang ada dipangkuannya.
"Siapa dia?" Ayunda menyipitkan matanya sambil mencoba mengingat pria itu. "Aku tak pernah mengenalnya. Kenapa dia mengincarku." Ayunda bertanya-tanya di dalam hatinya dan mencoba mengingat barangkali dia pernah dengan tidak sengaja telah menyinggung seseorang dikampusnya, namun hasilnya tetap sama.
Ayunda menutup laptopnya, lalu bersiap untuk melakukan sholat hajat karena telah terhindar dari marabahaya.
***
Mentari pagi menyeruak masuk melalui celah jendela kamar Adrian. Silaunya mengusik mata Adrian yang mulai mengerjap, dia pun bangkit dari tempat tidur setelah kesadarannya mulai kembali, kemudian dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu Adrian abaikan karena suara guyuran air menghalangi pendengarannya.
Setelah 15 menit Adrian menyelesaikan ritual mandinya, suara ketukan pintu kembali terdengar.
Tok. Tok.
"Adrian... kamu sudah selesai mandinya, nak?" tanya sang bunda yang sebelumnya menduga bahwa Adrian sedang mandi.
"Iya, bun. Ini mau keluar!" seru Adrian sambil merapikan pakaiannya.
"Oke, nak. Bunda tunggu ya", sahut sang bunda dari balik pintu.
Setelah beberapa menit berlalu Adrian datang menghampiri kedua orangtuanya yang duduk di ruang makan dengan wajah serius.
"Ada apa, ayah, bunda?" tanya Adrian saat duduk di salah satu kursi makan.
"Ayah dan bunda sudah membicarakan hal ini dari kemaren malam", ujar sang ayah yang membuat Adrian mendengarkan dengan serius ucapan sang ayah.
Dihelaan nafas sang ayah, dia melanjutkan ucapannya. "Ayah dan bunda mau Yunda kita kembali ke Indo, nak!" ujamya.
"Apa karena berita penembakan itu, yah?" tebak Adrian.
"Ya, dan yang buat kami sangat kuatir, karena Yunda kita adalah sasarannya. Ayah dan bunda tak ingin Yunda kita pulang tinggal nama" ujar sang ayah dengan raut wajah kuatir. "Jadi ayah minta tolong kamu bicara baik-baik pada Yunda dan berikan pengertian padanya. Kami akan berbicara setelah dirimu."
Adrian terdiam sesaat, dia pun sebenarnya kuatir saat nama sang adik disebut sebagai sasaran yang ingin dia tembak.
"Apa yang ayah dan bunda katakan itu benar. Adrian akan coba bicara dengan Yunda dan semoga Yunda kita mengerti.
__ADS_1
"Ya, nak. Bunda takut akan ada penembak lainnya yang akan mengincar Yunda kita", ucap sang bunda yang sedari tadi menyimak perbincangan ayah dan anak itu.
"Baik, bun", sahut Adrian sambil meraih ponsel dari saku celananya untuk menghubungi sang adik.