
Berita kematian Siska terdengar oleh papanya yang sedang di penjara. Dia pun mengacak rambutnya dengan frustasi seaolah tak memiliki harapan hidup lagi. Ada dendam yang membara di hatinya tatkala mengetahui penyebab kematian Siska adalah kecemburuan Dhany pada Siska.
"Alfian... Kau akan menerima akibat dari perbuatanmu sendiri!" ujar papanya Siska sembari meremas nasi dihadapannya.
Di tempat berbeda tampak keluarga dan para kerabat yang baru saja pulang dari tempat pemakanan Siska dan Dhany.
"Mama... mana... Pa", ucap mulut mungil.Zahra yang belum jelas saat berbicara.
Alfian mengusap lembut wajah Zahra. "Mama sudah lebih dulu ketemu sama Allah", sahut Alfian, namun Zahra belum paham dengan perkataan Alfian.
Alfian membawa Zahra meninggalkan tempat peristirahatan terakhir mamanya.
Di parkiran mobil mereka bertemu dengan Ayunda. "Turut berdukacita ya, kak. Semoga husnul khatimah serta diterima segala amal ibadahnya oleh Allah."
"Amin... Terikasih Yunda", sahut Alfian. "Kami permisi dulu." Alfian kembali menggandeng Zahra berjalan melewati Ayunda.
Ayunda menatap nanar punggung Alfian yang berjalan menjauhinya. "Selamat tinggal, kak", ucap Ayunda dengan lirih. Lalu dia pun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat pemakaman itu.
Esoknya Ayunda sudah berada di bandara Internasional sembari menunggu jadwal keberangkatannya. Entah apa yang sudah dikatakan oleh Adrian pada kedua orang tua mereka, hingga sang ayah dan bunda memberikan izin pada Ayunda untuk bekerja dan menetap di luar negeri.
"Kenapa nak?" tanya sang bunda saat melihat wajah sendu Ayunda.
"Tidak kenapa-napa, bun", sahut Ayunda sembari menjauhkan wajahnya agar sang bunda tidak melihat air mata yang mulai membasahi sudut matanya.
"Kamu menangis?" Sang bunda menarik Ayunda agar wajah Ayunda mengarah padanya.
"Tidak, bun. Ini kelilipan", ucapnya berbohong.
Lalu terdengar suara operator bandara yang meminta penumpang menuju London agar segera menuju ke pesawat.
"Ayo, bun", ajak Ayunda pada sang bunda seraya menarik tangannya. Kali ini sang bunda ingin ikut dengan Ayunda untuk melihat langsung keadaan tempat tinggal Ayunda di London. Sang bunda berencana akan tinggal seminggu di kota London sembari menikmati keindahan kota itu.
Saat ini Ayunda masih menggandeng tangan sang bunda dan berjalan bersama menuju pesawat.
__ADS_1
Di apartemen Alfian.
Alfian menatap nanar langit senja yang menemani kesepiannya karena rindu pada sesorang. Sebenarnya kesempatan untuk melepas rindu pada orang tersebut sudah di depan mata, namun Alfian tak ingin menyakiti hati Zahra saat melihatnya sangat akrab dengan wanita yang bukan mamanya.
Saat ini Alfian sedang memikirkan cara agar Zahra dapat menerima Ayunda, wanita yang selalu dirindukannya itu.
"Papa...", ucap mulut mungil Zahra yang berhasil membuyarkan lamunannya.
"Ya, sayang", sahut Alfian seraya berjongkok dihadapan Zahra.
Mulut mungil Zahra mulai mengoceh, namun ucapannya itu sulit sekali di mengerti oleh Alfian.
"Zahra mau mandi?" tanya Alfian memastikan bahwa dia tak salah mengartikan.
"Ya, papa."
Alfian pun merasa bahagia karena ini pertama kali dia menebak perkataan Zahra tanpa harus bertamya berulang kali. "Ayo, sayang", ajak Alfian seraya menggandeng tangan Zahra masuk ke dalam kamar mandi.
Hari-hari Alfian masih terus disibukkan oleh pekerjaan kantor dan mengurus Zahra, putri Siska itu. Meskipun sangat melelahkan, namun Alfian tetlihat enjoy saat melakukannya, hingga tanpa terasa dia berhasil membesarkannya seorang diri.
Perusahaan tempat Ayunda bekerja telah membuka cabang di negaranya sendiri. Ayunda pun bahagia mendengar hal itu. Dia adalah orang yang pettama sekali mengajukan diri untuk mutasi kerja.
Dia menjawab dengan mantap saat sang atasan memastikan keinginannya itu, karena konsekuensinya dia akan mendapat salary di bawah salary di London. Tanpa ragu Ayunda menyetujui hal itu.
Ayunda mulai membereskan beberapa pekerjaan yang masih harus diselesaikan. Meskipun akan ada pengganti dirinya yang bisa melakukannya, namun dia ingin bertanggung jawab tanpa membebani orang lain.
Ayunda meraih ponsel yang ada di atas meja, dia ingin segera menghubungi keluarganya. Namun tiba-tiba dia urungkan, karena ingin memberikan kejutan pada seluruh anggota keluarganya di Indonesia.
Bandara Inrernasional.
Ayunda melangkahkan kakinya dengan riang tatkala sudah tiba dinegaranya sendiri. "Sudah satu tahun, tapi kok kayak baru satu bulan aja", ucap Ayunda bergumam seraya menarik kopernya.
Saat menyusuri keramaian bandara, tiba-tiba netranya menangkap sosok yang dia kenal. "Alfian", ucapnya.
"Mba, panggil saya?" tanya orang asing yang mahir bahasa Indonesia itu.
__ADS_1
"Maaf, bukan pak", sahut Ayunda dengan terkekeh.
"It's oke", ucap sang bule dengan tersenyum, lalu dia melanjutkan langkahnya meninggalkan Ayunda yang masih berdiri diposisinya.
"Tajam banget pendengaran ini bule", ucap Ayunda bergumam. Lalu dia mengedarkan pandangannya mencari kembali sosok pria yang persis Alfian itu.
"Nah, itu dia", ucapnya seraya menyeret kopernya dan berjalan menuju Alfian. Namun tiba-tiba Ayunda menghentikan langkahnya. "Siapa wanita itu?" tanyanya dengan bergumam. Ayunda masih menatap dari posisinya berdiri Alfian dan wanita yang bersamanya itu sedang tertawa bahagia.
"Apa Alfian sudah menikah?" Ayunda terus menerus bertanya di dalam benaknya. "Ternyata dia mudah sekali melupakan cinta kami." Ayunda berbalik dan berjalan menjauhi Alfian.
Sesaat setelah Ayunda membalikkan badan, Alfian melihatnya. Dia menyipitkan matanya untuk memastikan bahwa wanita itu adalah Ayunda.
"Tunggu sebentar, ya", ucap Alfian pada wanita disebelahnya, lalu dia berlari mengejar Ayunda.
"Yunda!" teriak Alfian memanggil Ayunda, namun Ayunda tidak mendengar teriakannya. Dia terus melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.
Wanita yang bersama Alfian datang menghampirinya. "Dia itu siapa?" tanyanya seraya mendorong koper miliknya.
"Dia orang yang spesial bagiku", sahut Alfian yang membuat wanita dihadapannya tersentak kaget. Dia pikir selama ini wanita spesial bagi Alfian adalah Siska.
"Oo, begitu", ucap wanita itu dengan tersenyum canggung.
"Ayo, kita pulang", ajak Alfian sembari melangkah.
Wanita itu pun melangkahkan kakinya mengikuti langkah Alfian. Namun dalam benaknya dia masih saja penasaran dengan wanita yang dianggap spesial oleh Alfian. Nanti aku tanya sama kakek saja, batinnya.
Ayunda sudah tiba di halaman rumah orang tuanya. Dia melangkahkan kakinya perlahan seraya membuka pintu rumah. Diedarkannya pandangannya, namun dia tidak menemukan siapa pun di ruang tamu.
"Kemana mereka?" ucap Ayunda bergumam. Lalu dia terus melangkahkan kakinya menuju dapur. Dengan mengendap-endap Ayunda mencari keberadaan sang bunda. Namun dia tetap tidak menemukan seorang pun di sana.
"Apa mereka semua di restoran ya? Tapi kenapa mereka tidak mengunci pintu?" Ayunda duduk di salah satu kursi makan sembari berfikir.
Surprise... Teriak keluarga Ayunda tepat di belakangnya.
Ayunda berbalik dan menatap mereka dengan rasa haru, namun sorot mata Ayunda berhenti pada sang ayah. "Ayah kenapa?" tanya Ayunda saat melihat sang ayah memakai kursi roda.
"Ayahmu mengalami kecelakaan, nak", ujar sang bunda.
__ADS_1
Ayunda mendelik mendengar penuturan sang bunda. "Gimana ceritanya, bun? Kenapa juga tidak ada yang memberitahu, Yunda?" Ayunda langsung berjalan menghampiri sang ayah, lalu memeluknya erat. Air matanya pun jatuh dengan bebas membasahi bahu sang ayah.