Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Kolaborasi Adrian dan Winda


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Adrian menarik nafas dalam, lalu mencoba menarik nada sebuah lagu dari seorang penyanyi tersohor. Namun ponselnya tiba-tiba berdering. Seorang pengantar makanan yang menelponnya, mengatakan bahwa dia sudah menunggu di lobi. Adrian yang merasa terselamatkan bergegas ingin pergi ke lobi.


"Tunggu dulu, Kak!" pinta Ayunda. "Biar mas Tony yang mengambilnya", seru Ayunda.


Dengan terpaksa Adrian membiarkan Tony yang mengurus semua makanan pesanannya. Lalu kembali meraih mic yang sudah di letakkannya, karena mendapat desakan dari Ayunda. Adrian berdehem sambil melirik sang bunda, sebelum mulai menarik suaranya.


lyric


Andai kau izinkan


Walau sekejap memandang


Kubuktikan kepadamu


Aku memiliki rasa


Cinta yang kupendam


Tak sempat aku nyatakan


Karena kau telah memilih


Menutup pintu hatimu


Izinkan aku membuktikan


Inilah kesungguhan rasa


Izinkan aku menyayangimu


Sayangku... Dengarkanlah isi hatiku


Cintaku... Dengarkanlah isi hatiku


Cinta yang kupendam


Tak sempat aku nyatakan


Karena kau telah memilih


Menutup pintu hatimu


Izinkan aku membuktikan


Inilah kesungguhan rasa


Izinkan aku menyayangimu

__ADS_1


Sayangku... Dengarkanlah isi hatiku


Cintaku... Dengarkanlah isi hatiku


Izinkan 'ku membuktikan


Kesungguhan cintaku


Bila cinta tak menyatukan…


Semua bertepuk tangan, saat kolaborasi yang hebat antara Adrian dan winda, terdengar asyik di telinga. Suara dan penghayatan lagu, seolah menggambarkan mereka yang saling mengungkapkan isi hati masing-masing.


"Sepertinya Bunda akan segera memiliki menantu", seru Ayunda pada sang bunda.


Winda yang mendengar ucapan Ayunda tertunduk malu sambil meletakkan kembali mic di tangannya. Lalu bergegas duduk di sebelah Ferdo.


Sang bunda yang melihat tingkah Winda pun tersenyum bahagia. "Wah, bagus kalau begitu", seru sang bunda.


"Bunda jangan dengarkan Yunda. Dia hanya bicara asal", ucap Adrian kesal.


"Apa Kakak yakin?" tanya Ayunda sambil melirik Adrian. Namun Adrian tak mengatakan apa pun. Dia berjalan menuju meja makan, mengalihkan rasa gugupnya dengan menyicip beberapa jajanan pasar.


"Ayo, nikmati makanan ini", seru Adrian.


"Tunggu dulu!" seru Reina. Suaranya mengalihkan perhatian semua orang padanya. "Sebelumnya aku minta maaf Pak Ferdo, aku tidak ada niat untuk berbuat lancang", tutur Reina yang mendapat tatapan dingin dari Ferdo. "Semua orang sudah bernyanyi, tapi Bapak belum", ucapnya membuat semua orang terbelalak.


"Wah, ternyata anak magang ini berani juga", seru Winda.


Adrian merasa itu ide yang sangat bagus. "Jangan kuatir Reina, Kau tidak salah", ujar Adrian. "Ayolah teman, Kau juga harus bernyanyi", seru Adrian sambil tersenyum penuh arti.


Ferdo menatap tajam Adrian, seakan berbicara menentang ucapannya. Dia pun mulai gusar, memikirkan cara untuk menolak permintaan Adrian.


"Ini, ambillah", ucap Adrian sambil menyodorkan mic pada Ferdo.


Ferdo mulai gugup, karena tak ada satu ide pun yang muncul dalam benaknya, agar dia bisa lolos dari desakan Adrian.


Drrtt... drrtt.


Ponsel Ferdo bergetar, membuatnya bernafas lega. Dengan cepat dia meraih ponsel di sakunya. Matanya terbelalak saat melihat nama yang muncul di layar ponselnya. Baru saja dia bernafas lega, tapi ada pengganggu lain yang selalu dihindarinya. Siska, batinnya meringis. Dengan terpaksa icon hijau di ponsel dalam genggamannya langsung di gesernya.


"Ha- halo", ucapnya menjawab sambungan telpon itu. Lalu dia meminta izin pada Adrian dan yang lainnya, untuk mengangkat telpon di luar ruangan. Setelah meminta izin, dengan buru-buru Ferdo berjalan ke luar ruangan.


Setidaknya aku tidak bernyanyi, batin Ferdo.


Adrian dan yang lainnya kecewa karena tak punya kesempatan mendengar suara emas Ferdo.


"Siapa sih yang nelpon? Gagal deh semua!" seru Reina kesal.


"Setidaknya Kau sudah mendengar mas Tony bernyanyi", ujar Ayunda dengan tersenyum menggoda.


Reina merasa malu, karena Ayunda membicarakan hal itu di depan semua orang. "Iya, aku juga sudah mendengar suara kak Adrian. Tapi aku belum mendengar suara Pak Ferdo", seru Reina.

__ADS_1


"Haha..." Ayunda tertawa kecil. "Kau memang sangat berani sama bos besar!" seru Ayunda sambil mencubit gemas hidung Reina.


"Sudah... sudah. Ayo kita makan", ajak sang bunda pada mereka semua. Mereka berjalan mengikuti sang bunda menuju meja makan.


"Ini Bunda yang masak semua?" tanya Reina.


"Aww... " ringis Reina, karena Ayunda kembali mencubit hidungnya. "Apa Kau ingin membuat hidungku jadi mancung? Tapi bukan seperti itu caranya, Ay!" kesalnya.


"Habis, Kamu itu aneh. Kamu kan lihat, ini semua mas Tony yang bawa tadi", tutur Ayunda.


Reina tersenyum malu, lalu dia duduk di salah satu kursi yang kosong tanpa mengatakan apa pun lagi.


Ferdo sudah kembali dari luar, dia berjalan menghampiri mereka, setelah menerima telpon dari seseorang yang berpura-pura di angkatnya. Karena dia langsung menekan icon merah untuk memutus sambungan telpon, saat sudah berada di luar ruangan.


"Siapa yang nelpon?" tanya Adrian.


"O, bukan siapa-siapa", sahut Ferdo sambil duduk di salah satu kursi. Lalu dia terlonjak kaget saat Ayunda tiba-tiba duduk di sebelahnya.


"Ayo di makan!" seru Adrian, karena melihat sahabatnya itu belum menyentuh makanannya. Ferdo hanya membalasnya dengan berdehem.


Ferdo menjulurkan tangannya untuk meraih rendang di hadapannya, namun tangannya menggenggam tangan Ayunda yang juga memegang sendok di piring rendang.


Ferdo langsung melepas genggamannya, "Ma- maaf", ucap Ferdo gugup. "Silakan!" ujarnya kemudian.


Ayunda hanya tersenyum canggung, saat mengambil beberapa potong rendang, lalu dia mempersilakan Ferdo untuk mengambilnya.


Adrian yang tak sengaja melihat hal itu, langsung tersenyum simpul. Entah apa yang ada dalam benaknya, tapi dia ingin melakukan sesuatu untuk membantu sahabatnya itu.


Mereka semua sangat menikmati hidangan yang sudah disediakan, meskipun bukan masakan sang bunda. Ada keceriaan dan keakraban di meja makan, bahkan makanan yang begitu banyak hanya menyisakan sedikit.


Sang bunda terlihat sangat bahagia, karena tahun ini dia merayakan ulang tahun dengan ke dua anaknya. Bahkan di temani oleh sahabat dan rekan kerja ke dua anaknya.


Ferdo, Winda dan Reina bersiap untuk pulang, mereka berterima kasih atas jamuan makan yang sangat nikmat itu, lalu beranjak untuk pamit pulang. Sang bunda juga berterima kasih atas kehadiran mereka.


"Mas Tony, sampai jumpa lagi lain waktu", seru Reina, yang mendapat balasan senyuman manis dari Tony. Lalu dia berjalan ke luar menyusul Ferdo dan Winda yang sudah berjalan lebih dulu.


Ayunda hanya bisa menggeleng melihat kelakukan sahabatnya itu, sebelum menutup kembali pintu.


"Bunda, ayo buka kadonya dong", seru Ayunda saat melihat sang bunda akan membawa kadonya ke dalam kamar.


"Kamu ini ya, selalu saja suka dengan kado", tutur sang bunda. "Ayo, kita buka di kamar saja", ucapnya kemudian.


Mereka berjalan ke kamar sang bunda. Sang bunda mulai memilah kado yang akan di bukanya terlebih dahulu, saat sudah meletakknya di atas tempat tidur.


"Bun, buka kado Yunda dulu dong", pinta Ayunda.


Sang bunda mengikuti keinginan putrinya itu, dia langsung membuka paper bag berwarna pink itu dengan tersenyum. "Wah, ini gamis yang sangat cantik. Bunda belum pernah punya gamis sebagus ini", tutur sang bunda dengan mata berbinar.


Ayunda senang karena sang bunda menyukai kado pemberiannya. "Sekarang buka kado kak Adrian, Bun!" pinta Ayunda. Adrian yang tidak sengaja mendengar ucapan Ayunda saat lewat dari depan kamar sang bunda, langsung berbalik dan masuk ke kamar sang bunda.


Sang bunda meraih paper bag yang lebih kecil pemberian Adrian. Sebuah kotak di raihnya dari dalam paper bag. Dengan perlahan sang bunda membuka kotak itu.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2