
Ayunda melangkah masuk ke dalam apartemen milik Alfian. Malam ini Ayunda dan sang suami harus menginap di apartemen, karena tiket bulan madu mereka di tunda sementara.
"Apa honey kecewa saat pernikahan kita tidak seindah yang honey bayangkan?" tanya Alfian.
Ayunda menoleh ke arah Alfian. "Mungkin ada sedikit rasa kecewa", jawabnya lirih. "Tapi aku tidak akan menyalahkan keadaan. Semua sudah di atur oleh Allah."
Alfian menatap sang istri dengan tersenyum. "Berarti honey akan tetap menjalankan tugas sebagai seorang istri yang baik."
"Iya, Ten- " Ayunda menggantung ucapannya. Dia merasa ada maksud tersembunyi dari perkataan ambigu sang suami.
"Tadi honey mau ngomong apa? Lanjutkan dong", pinta Alfian dengan tidak sabar.
"Iya, kita lanjut besok aja ya, honey. Aku sangat lelah", ucapnya seakan menolak keinginan sang suami secara halus.
Alfian menatap Ayunda dengan wajah lesu. "Ya, sudah ayo kita istirahat", pasrahnya.
Alfian melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya yang diikuti oleh Ayunda. Mereka pun berjalan masuk saat Alfian baru saja membuka lebar pintu.
"Koper kamu letak di walk-in closet saja dulu. Setelah santai, baru kamu beresin", ujar Alfian.
"Oke, honey", jawab Ayunda. Lalu dia keluar dari walk-in closet dengan membawa handuk. "Kalau begitu aku mandi lebih dulu", ucap Ayunda yang membuat Alfian salah mengartikan ucapannya.
"Hem, jangan lama-lama."
Ayunda tersenyum seraya masuk ke dalam kamar mandi.
Alfian menjatuhkan bobot tubuhnya di ranjang king size miliknya. Kepalanya bertopang satu tangan sembari menatap nanar langit-langit kamarnya yang beberapa hari lalu di cat kembali.
Sesaat kemudian ponselnya berdering. Alfian melepaskan topangan tangannya, lalu dia mengulurkan tangan meraih ponsel yang ada di atas nakas.
"Kakek", ucapnya saat melihat nama kontak di layar ponselnya. Alfian bergegas menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan telepon itu.
"Assalamuaikum, Kek", sahut Alfian sambil duduk dan menyandarkan tubuhnya di tempat tidur.
"Waalaikumsalam..." balas sang Kakek dari seberang telepon. "Kalian di mana sekarang?" tanyanya kemudian.
"Di apartemen Alfian, Kek. Emangnya kenapa Kakek menanyakan itu?"
"Tadi Kakek bicara sama mertua laki-lakimu. Kakek minta pada mertuamu, supaya kalian tetap tinggal di apartemenmu, meskipun saat ini keluarga Ayunda sedang dalam masalah. Kakek juga sudah meyakinkan mertuamu, bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan."
__ADS_1
"Owh, pantas tadi Ayah mertua meminta Yunda pergi ke rumah Alfian."
"Berarti mertuamu orang yang tepat janji. Kalau begitu besok Kakek akan minta orang suruhan Kakek pergi mensurvey keadaan restoran orang tua cucu menantu."
"Terimakasih, Kakek mau peduli."
"Itu tidak seberapa dibandingkan kejujuran dan ketulusan yang ditunjukkan oleh keluarga cucu menantu."
"Apapun alasan Kakek melakukannya, Alfian akan tetap berterimakasih", balas Alfian seraya melirik sang istri yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan menggulung handuk dikepalanya. Kapan dia berganti baju, tanya Alfian di dalam batinnya.
"Oke. Kalau begitu Kakek tidak akan mengganggu kalian. Assalamualaikum..." ucap sang Kakek yang menyadari fokus Alfian sudah tidak lagi padanya.
"Waalaikumsalam Kek", sahut Alfian sembari menutup sambungan telepon.
"Telepon dari siapa honey?" tanya Ayunda saat sedang mencari sesuatu.
Alfian meletakkan ponselnya di atas nakas. "Dari Kakek", jawabnya seraya bangkit dari atas tempat tidur dan berjalan menghampiri Ayunda. "Kamu cari apa?"
"Hairdryer. Apa honey punya?"
Alfian memaksa Ayunda duduk. Lalu dia melepas handuk yang ada di kepala Ayunda. "Sini, biar aku keringkan", ujarnya dengan membolak balikkan rambut basah Ayunda menggunakan handuk.
"Kakek minta kita buat cicit yang imut dan manis."
Ayunda mendelik mendengar perkataan sang suami. "Jangan berbohong. Kakek gak mungkin ngomong seperti itu."
Alfian menghentikan tangannya, lalu menarik tubuh Ayunda hingga mereka saling berhadapan dan netra mereka saling menatap intens. "Apa hohey mau bertanya balik sama Kakek?" tantang Alfian.
"Jangan bercanda, honey. Mana mungkin aku menanyakan hal itu pada Kakek', jawabnya dengan rasa gugup sembari membuang wajahnya.
"Berarti kita harus memenuhi keinginan Kakek", ucap Alfian dengan menarik kembali wajah Ayunda.
Ayunda semakin gugup saat mendengar ucapan Alfian. Dia merasakan tatapan sang suami seolah akan menerkamnya saat itu juga.
Melihat reaksi menggemaskan sang istri, Alfian mulai menggodanya, dia membawa tubuhnya lebih dekat, hingga yang terdengar dengusan nafas keduanya. Degup jantung keduanya pun mulai berpacu dan sulit untuk dikendalikan. Darah Ayunda berdesir kala Alfian menyentuh lembut wajahnya.
"Apa kau gugup?" tanya Alfian untuk mengurangi rasa gugupnya sendiri.
"Sedikit."
__ADS_1
Alfian semakin maju, hingga tak ada lagi jarak di antara mereka.
Cup. Kecupan singkat Alfian membuat Ayunda menutup matanya dalam waktu yang cukup lama.
"Honey menunggu apa?" goda Alfian.
Ayunda buru-buru membuka matanya. Sesaat kemudian dia menutup wajahnya karena malu melihat sang suami sedang menatapnya dengan tersenyum meledek.
"Apa yang honey inginkan?" goda Alfian seraya menarik telapak tangan sang istri yang menutup wajahnya.
Ayunda buru-buru menjauhi sang suami. Dia berjalan dan naik ke atas tempat tidur. Menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Honey, apa kau sedang menggodaku?" tanya Alfian sembari berjalan menghampiri Ayunda yang sudah merasakan sesak di dalam balutan selimut.
Alfian menyingkap selimut tebal Ayunda. "Apa kau ingin membuatku menjadi duda di malam pertama kita?"
Ayunda tersipu malu mendengar kata di akhir kalimat yang diucapkan sang suami.
"Sepertinya kau benar-benar menggodaku", lanjut Alfian seraya naik ke atas tempat tidur.
Ayunda kembali menarik selimut, namun Alfian menahannya sebelum Ayunda berhasil menutupi seluruh tubuhnya.
Alfian membuat Ayunda dalam kungkungannya seraya berbisik. "Kau tidak bisa menghindar lagi, honey. Kita harus menyelesaikannya malam ini."
Ayunda terkesiap. Dia hanya bisa menatap sang suami semakin mendekatkan wajahnya. Dengan cepat Alfian memagut bibir ranum Ayunda.
"Kau belum mandi, honey", ucap Ayunda saat Alfian memberi ruang bagi Ayunda untuk menarik nafas.
"Tidak ada waktu untuk membicarakan hal itu, honey", jawab Alfian. Dengan cepat tangannya berhasil menyingkirkan helaian baju sang istri, Ayunda pun melakukan hal yang sama. Lalu dia melanjutkan aksinya ke tahap yang dinantinya, hingga Alfian berhasil membuat suara l******n lolos dari mulut Ayunda. Saat keduanya sudah berada di puncak akhirnya terjadi penyatuan.
Alfian membalikkan badannya dan berbaring tepat di samping Ayunda dengan nafas yang memburu. Setelah tenang dia pun memiringkan tubuhnya menatap tubuh polos sang istri.
"Apa yang honey lihat?" tanya Ayunda seraya menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Kenapa malu, honey. Aku sudah melihat semuanya."
"Sudah jangan bicara lagi. Pergilah mandi", usir Ayunda dari balik selimut.
Alfian pun beranjak dari tempat tidur dengan tersenyum bahagia. Akhirnya kau jadi milikku seutuhnya, ucapnya di dalam batin. Lalu dia berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1