
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Setelah jam kerja usai, seperti biasanya Adrian bersiap-siap untuk menemui Ayunda di ruangannya. Adrian meraih jas yang tadi terletak di atas meja, lalu melangkahkan kakinya menuju ke luar ruangan. Dia berjalan menyusuri lorong di sekitar ruangannya dengan pesona yang selalu berhasil mencuri perhatian setiap orang yang melihatnya. Bahkan sampai di depan ruangan Ayunda pun, setiap sorot mata tak ingin melepaskan pandangannya dari Adrian.
Adrian terus menunggu Ayunda yang sedang berpamitan pada seluruh karyawan di divisi program acara. Beberapa karyawan memberikan kenang-kenangan padanya, bahkan sebuah kenang-kenangan dari seseorang berinisial A pun dia dapatkan. Meskipun masih penasaran dengan orang tersebut, Ayunda hanya bisa pasrah karena belum ada petunjuk tentang orang dengan inisial A tersebut.
Setelah selesai berpamitan, Ayunda berjalan menghampiri sang kakak yang sudah lama menunggunya. "Ayo, Kak" ajaknya pada sang kakak sambil tersenyum manis. Adrian pun berjalan mengikuti langkah Ayunda, mereka berjalan beriringan menuju lift.
*
"Puft, sejak kapan Kakak suka dengan warna pink?" tanya Ayunda saat melihat kertas sticky note di dalam saku jas yang dikenakan oleh Adrian.
Ting.
Pintu lift terbuka lebar di basement, Adrian berjalan ke luar dari lift mendahului Ayunda.
"Kak, tunggu!" seru Ayunda sambil berjalan dengan langkah lebar, karena Adrian belum juga memberikan penjelasan tentang kertas sticky note itu. Ayunda terus mengejar Adrian, sampai ke tempat mobil sang kakak di parkir. "Kenapa Kakak meninggalkanku?" tanya Ayunda, saat sudah berada di dalam mobil.
Adrian hanya menoleh sekilas, lalu menjalankan mobilnya. "Jangan membahas masalah ini!" seru Adrian yang masih fokus mengeluarkan mobilnya dari barisan parkir.
Ayunda mengkerutkan keningnya, "apa Kakak takut ada yang mengetahuinya?" ledeknya pada sang kakak.
Adrian merogoh sakunya, meraih kertas sticky note itu. "Ini bukan punyaku!" ucap sang kakak dengan kesal sambil melempar kertas itu ke atas dadhboard.
Ayunda mencondongkan tubuhnya meraih kertas di atas dashboard, lalu melihat catatan yang di tulis pada kertas itu. "Cepat!" ucap Ayunda saat membaca tulisan di kertas berwarna pink itu. "Ini maksudnya apa, Kak?" tanya Ayunda dengan tersenyum menggoda.
"Itu catatan dari Ferdo. Tadi dia minta dibuatkan segelas jeruk hangat, karena suaranya parau."
Ayunda hanya membalas sang kakak dengan anggukan, namun perhatiannya tiba-tiba terfokus pada tulisan tangan itu. Kenapa tulisannya mirip dengan seseorang yang berinisial A, ya? batin Ayunda. Lalu dia meraih kertas yang tadi diberikan oleh seseorang dari inisial A. "Hmm, tulisannya terlihat mirip, begitu juga kertasnya", Ayunda bergumam.
"Ada apa?" tanya Adrian.
"Coba Kakak lihat ini!" pintanya pada sang kakak sambil menyodorkan dua lembar kertas sticky note.
"Bagaimana aku melihatnya, Yunda. Aku sedang menyetir!" seru Adrian tanpa menoleh ke arah Ayunda.
__ADS_1
"O, maaf, Kak. Kakak lihat nanti saja", ujar Ayunda sambil menyimpan kembali ke dua kertas di tangannya.
***
Adrian dan Ayunda sudah berada di basement apartemen. Mereka berjalan ke luar dari mobil menuju lift.
Ting.
Pintu lift terbuka, Adrian dan Ayunda masuk ke dalam lift, lalu Ayunda menekan dua tanda panah yang saling bertemu, dan nomor lantai yang ingin di tuju.
"Eh, tunggu!" teriak seorang wanita yang berlari saat lift akan tertutup. "Maaf", ucapnya ramah, ketika berhasil masuk ke dalam lift.
"Ya, gak apa-apa", balas Ayunda sambil tersenyum. "Lantai berapa, Kak?" tanya Ayunda.
"Tujuh", balasnya ramah.
Ayunda langsung menekan tombol angka tujuh.
"Terima kasih", balas wanita itu ramah. "Aku Conny. Kamu siapa?" tanyanya pada Ayunda.
"Hai", sapa Adrian, yang di balas dengan senyuman oleh Conny. Tak ada lagi pembicaraan setelah itu, mereka saling diam dan tak banyak bicara.
Ting.
"Kami duluan ya, Kak Conny", ujar Ayunda saat pintu lift terbuka lebar.
"Ya, Ay", sahutnya dengan tersenyum lebar pada Ayunda dan Adrian.
"Pria itu sangat pendiam!" Conny bergumam saat pintu lift tertutup kembali.
***
Ferdo masih berada di ruangannya. Tya sang sekretaris yang biasanya sudah pulang kantor, terpaksa harus pulang lebih lama hari ini. Dia harus menunggu, barang kali ada intruksi dari si bos yang harus dikerjakannya.
Lebih dari sepuluh kali, Tya melirik jam yang melingkar di tangannya dengan sangat gelisah. Ini pertama kali atasannya itu marah-marah tak jelas. Berbagai cara sudah di lakukannya, namun dia tak berhasil menyurutkan amarah sang atasan.
"Tya!" teriak Ferdo masih dengan suara paraunya.
__ADS_1
Tya terlonjak kaget, dia langsung berdiri dan berjalan dengan terburu-buru, masuk ke ruangan Ferdo. "Ya, Pak!" sahut Tya.
"Segera susun kembali berkas ini, setelah itu Kau boleh pulang!" seru Ferdo sambil meraih jasnya yang tergantung disandaran kursi. "Aku pulang dulu", ucapya sambil berjalan ke luar ruangannya, meninggalkan Tya.
Saat Ferdo berjalan menuju lift, Siska dan Winda berjalan berlawanan arah.
"Kau baru pulang?" tanya Winda pada Ferdo.
"Heem." Ferdo hanya membalas dengan berdehem, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift, yang diikuti oleh Winda dan Siska.
Siska merasa senang, karena dia mempunyai kesempatan untuk mendekati Ferdo. "Hai, Fer", sapanya dengan senyum menggoda, namun Ferdo tak membalas, apalagi meliriknya.
Siska mengumpat di dalam hatinya. Sombong sekali Kau, Fer. Lihatlah aku akan membuatmu mengemis di hadapanku! batin Siska.
Sikap Ferdo yang dingin pada Siska, disebabkan oleh perlakukan Siska pada Ayunda. Dia yang selalu melihat keseharian Ayunda di kantor melalui layar monitor cctv, tak sengaja melihat tindakan kasar Siska pada Ayunda.
"Fer, aku mau ke bandara. Katanya Om Benny baru tiba dari Paris", ucap Winda.
"Iya, Fer. Papa minta di jemput ke bandara", ucapnya dengan nada lembut.
"Ya, sudah silakan kalian jemput Om Benny!" seru Ferdo, lalu dia melangkahkan kakinya ke luar lift, saat pintu lift sudah terbuka lebar di basement.
"Ferdo!" teriak Winda memanggilnya, namun Ferdo terus melangkah mengabaikan Winda. Dia berjalan menuju mobilnya di parkir, dan bergegas masuk ke dalam mobil. Ferdo langsung melajukan kendaraannya, tanpa mendengarkan apa yang hendak dikatakan oleh Winda padanya.
*
"Siska, Kamu jangan ambil hati sikap Ferdo ya. Hari ini dia sangat sibuk, semua karyawan habis di semprotnya. Pada hal mereka tidak melakukan kesalahan besar, hanya salah sedikit dalam pengetikan", tutur Winda menjelaskan.
"Ya, tidak apa-apa, Win. Lagi pula papaku bukan saudara dekat Ferdo, jadi dia tidak akan peduli", ucap Siska dengan wajah sendu.
"Bu- bukan begitu. Aku yakin Ferdo tidak pernah berfikir seperti itu!" seru Winda membela Ferdo.
Siska tertunduk lesu, dia terus diam saat baru masuk ke dalam mobil Winda.
"Kamu jangan sedih, ya. Aku akan menanyakan hal ini pada Ferdo", tuturnya dengan lembut pada Siska. Lalu Winda menjalankan kendaraannya meninggalkan basement.
To be continue...
__ADS_1