
Pagi ini Alfian buru-buru ke kantor, karena dia bangun kesiangan akibat ulah siera yang memaksa Alfian pindah kamar.
"Siera, tolong jaga Zahra sebentar saja. Setengah jam lagi pengasuhnya datang." Alfian menitipkan Zahra meskipun putrinya itu tidak akan mau tinggal bersama dengan Siera. Namun berhubung Zahra masih tidur Alfian pun mengambil kesempatan itu untuk pergi ke kantor.
"Oke, kau tenanglah. Aku akan menjaganya dengan baik", sahut Seira dengan tersenyum.
Alfian berpamitan, lalu melangkahkan kakinya keluar dari apartemen miliknya.
Baru saja Alfian keluar terdengar suara Zahra dari dalam kamarnya. "Papa... Papa", rengeknya saat tidak melihat keberadaan Alfian.
Siera pun masuk ke dalam kamar Zahra. "Ada apa anak manja?"
"Papa mana?" tanyanya dengan gugup saat melihat wajah jutek Siera.
"Dia bukan papamu. Papamu sudah tiada, aku bisa membawamu ke sana, karena kuburan papa dan mamamu itu berdampingan."
Zahra menangis histeris, dia mengira Siera mengatakan bahwa Alfian sudah tiada. "Papa.. Papa", teriaknya dengan suara yang keras.
Siera mulai stres mendengar suara tangisan keras Zahra. Niat awalnya membuat Zahra percaya dengan ucapannya, namun berakhir berantakan. Dia dibuat pusing dengan tangisan Zahra.
"Sudah diamlah!" bentak Siera yang membuat Zahra tiba-tiba.diam. "Nah gitu dong."
Namun sesaat setelah diam, Zahra kembali menangis bahkan lebih keras lagi.
"Kemana sih pengasuhnya ini. Lama banget datangnya." Siera berjalan mondar-mandir sambil menggerutu. "Sudah diamlah.Zahra!" bentak Siera pada Zahra, namun Zahra masih terus menangis.
Siera masuk ke dalam kamar, agar tidak mendengar lagi suara tangisan Zahra. "Emm, akhirnya bisa tenang.sedikit", ucapnya bergumam saat hanya mendengar sayup suara Zahra.
Setelah beberapa saat, akhirnya suara tangisan Zahra.sudah tidak terdengar lagi. Siera pun keluar dari dalam kamar, mengira bahwa sang pengasuh sudah datang.
"Apa yang kau lakukan pada putriku?" sergah Alfian sembari menggendong Zahra. "Jika saja tidak ada berkasku yang tertinggal, mungkin Zahra sudah pergi keluar seorang diri."
Dengan mulut yang menganga Siera melambaikan kedua telapak tangannya yang mengatakan bukan dia pelakunya. "Dia terus mencarimu. Aku sudah membujuknya sedari tadi, tapi dia gak mau."
Alfian mengabaikan ucapan Seira. Dia langsung membawa Zahra pergi dari hadapan Seira.
Tak berselang lama Seira mengetuk-ngetuk pintu kamar Alfian.
"Alfian.. Alfian. Tolong buka pintu. Aku mau bicara." Suara tidak ramah Siera terdengar dari luar pintu kamar Zahra. Sebelumnya Alfian memang sengaja mengunci pintu kamar Zahra, agar Siera tidak bebas masuk ke dalam.
__ADS_1
Alfian yang mulai terganggu dengan suara desakan Seira terpaksa membuka pintu. Dia khawatir Zahra akan terbangun, karena mendengar suara teriakan Seira.
"Apa lagi yang mau kau katakan?" Alfian menatap tajam ke arah Seira.
"Jangan galak gitu dong. Sebentar lagi kita akan menikah. Jadi kau tidak boleh memperlakukanku seperti ini."
"Aku sudah menolaknya!" tegas Alfian.
"Kau tidak punya pilihan untuk menolak!"
"Kata siapa?" Alfian kembali menatap tajam Seira. "Ini hidupku sendiri, jadi aku yang harus menentukannya, bukan orang lain."
Seketika Siera terkesiap, seakan tak mampu untuk membantah ucapan Alfian. Lalu dia memutuskan untuk menghubungi sang kakek.
Hari ini adalah hari pertama Ayunda bekerja di perusahaan cabang tempatnya bekerja sebagai perwakilan perusahaan. Dia pun membagikan ilmu dan pandangan atas rumah produksi yang baru saja di buka itu.
Dengan santai dan penuh percaya diri dia berdiri memberikan arahan di depan semua karyawan, hingga gestur tubuhnya menjadi daya tarik tersendiri bagi salah seorang investor muda yang turut hadir di sana. Abian, Investor muda itu tak ingin mengalihkan perhatiannya dari sosok wanita yang sudah mencuri perhatiannya itu.
"Sampai di sini. Ada yang ingin ditanyakan?" Ayunda mengakhiri ucapannya dengan membuka ruang bertanya.
Abian mengangkat tangannya.
Abian mulai berdehem. "Perkenalkan saya Abian Wijaya."
Ayunda tersentak kaget saat mendengar nama itu. "Maaf pak, tadi saya tidak mengenali anda", ucap Ayunda dengan rasa malu.
"Tidak apa-apa", sahut Abian dengan tersenyum ramah. "Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana status anda?"
Ayunda mengernyitkan keningnya. "Maksud bapak status saya di perusahaan ini?"
"Terserah, dimana saja boleh."
"Kalau di perusahaan saya sebagai wakil yang dipercayakan untuk memimpin beberapa orang. Setelah mereka sudah benar-benar paham, maka nantinya saya akan kembali ke kantor pusat."
Abian terdiam sesaat. "Status yang lain?"
Semua mata menatap ke arah Abian, yang membuat Abian sedikit canggung. Ayunda akhirnya paham arah pertanyaannya.
"Saya single pak", ucap Ayunda.
__ADS_1
"Nah, itu baru benar." Abian menatap Ayunda sembari tersenyum yang dibalas pula dengan senyuman oleh Ayuda. Sedangkan yang lain mulai berdehem, karena mereka merasa keberadaan mereka sudah tidak di anggap.
"Oke, ada pertanyaan lain?" Ayunda mengalihkan pandangannya. Lalu menunggu beberapa saat. "Jika tidak ada, silakan lanjutkan pekerjaan anda sekalian. Rapat ditutup."
Semua yang berada di ruang rapat bergegas meninggalkan tempat itu sembari tersenyum ke arah Abian saat melewatinya. Ayunda pun melakukan hal yang sama. Dia membawa semua peralatan miliknya dan berjalan keluar.
"Bu Ayunda, ada yang ingin saya bahas. Bisa kita atur pertemuan kita selanjutnya?"
"Sekarang saya free pak."
"Kalau sekarang saya masih ada urusan di kantor. Bagaimana kalau nanti malam kita bertemu?"
Ayunda tampak berfikir sejenak. Dia tidak ingin perusahaan kehilangan investor hanya karena sikapnya.
"Bagaimana kalau besok siang aja, pak?"
Abian terdiam saat mendengar pertanyaan Ayunda, tampak raut wajah kecewa atas tawaran dari Ayinda itu. "Kalau begitu nanti saya kabari lagi. Saya pamit pulang bu."
"Baik, pak", sahut Ayunda.
Lalu Abian melangkahkan kakinya meninggalkan Ayunda dengan rasa kecewa.
---
Di sebuah cafe dekat kampus Tri Dharma.
Alfian duduk di salah satu meja yang kosong sembari menunggu rekan bisnismya.
"Hai, pak di sebelah sini." Alfian melambaikan tangannya saat melihat rekan bisnisnya celingak celinguk mencarinya.
"Ayo, duduklah", pinta Alfian saat rekannya itu sudah berada di sisi meja.
Pria itu duduk sembari melihat ke seluruh ruangan. "Kenapa pak Alfian memilih cafe ini?"
"Maaf sebelumnya, jika pak Abian kurang berkenan dengan tempat ini. Tapi tempat ini mempunyai banyak kenangan bagi saya."
"Oo, dengan almarhumah istri bapak?", sahut Abian.
"Bukan. Tapi dengan cinta pertama saya", ucap Alfian yang membuat raut wajah Abian berubah seketika.
"Bapak percaya dengan cinta pandangan pertama?" tanya Abian yang mulai tertarik membahas tentang cinta.
__ADS_1
"Ini bukan masalah percaya atau tidak. Tapi saya tidak pernah mengalami hal seperti itu, jadi saya gak bisa komentar tentang itu."
Abian manggut-manggut. "Ya, sudahlah kalau begitu. Kita bahas bisnis saja", ucap Abian yang baru saja mengalami cinta pandangan pertama itu.