
Happy reading...
Seseorang berdiri menanti di depan pintu lift untuk menjalankan sebuah perintah dari sang atasan.
Ting.
Pintu lift terbuka lebar. "Malam pak", sapa Tony saat melihat Alfian melangkah ke luar dari dalam lift.
"Malam", balas Alfian singkat. Lalu Alfian berjalan menuju apartemennya yang diikuti oleh Tony sambil menarik travel bag yang sedari tadi di bawanya.
Siska yang berada tepat di belakang Alfian berjalan santai sambil membusungkan dadanya. Namun Alfian dan Tony mengabaikannya. Mereka berjalan sambil berbincang tanpa menoleh ke arah Siska.
"Hei, ini aku istrinya", ucap Siska berbisik dengan menunjuk dirinya sendiri.
Saat tidak ada yang mempedulikan dirinya, Siska dengan langkah cepat, berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Alfian. "Hai", sapanya dengan tersenyum bergantian pada Alfian dan Tony.
Tony dan Alfian menatap Siska dengan muka cengo. Orang ini kenapa? batin Alfian.
Lalu Alfian menoleh kembali ke arah Tony. Dia melanjutkan ucapannya yang sempat terputus karena ulah Siska. Sedangkan Siska beringsut mundur dengan mendengus kesal di dalam batinnya. Dia ingin protes karena keberadaannya seakan tidak dianggap, namun dia tidak tahu kepada siapa dia akan mengatakannya. Akhirnya Siska memilih diam.
"Oke, sudah mengerti?" tanya Alfian pada Tony. Dia tidak ingin pekerjaannya tertunda selama kepergiannya ke rumah sang mertua, yang sebenarnya dia lakukan dengan terpaksa.
"Paham, Pak", balas Tony dengan mengangguk cepat.
"Selama saya pergi, kamu tinggal di apartemen saya saja", ujar Alfian.
Tony langsung memajukan telapak tangannya. "Maaf saya tidak bisa pak", tuturnya menolak.
"Ini perintah!" seru Alfian yang membuat Tony tidak dapat berucap. Tony harus melakukan semua perintah sang atasan, jadi dia tidak bisa menolak untuk tinggal di apartemen Alfian.
"Baik, Pak", jawab Tony tegas.
"Oke, bawa barang-barangmu maauk", pinta Alfian dengan memerintahkan Tony.
"Siap, Pak", jawabnya dengan sigap, lalu bergerak membawa travel bag yang sudah dia persiapkan atas suruhan Alfian melalui sambungan telepon.
Sedari tadi Siska hanya menjadi kambing congek yang setia mendengar percakapan mereka. Saat pintu apartemen Alfian berhasil di buka, dia langsung melongos masuk menuju pintu kamar yang pertama kali di lihat olehnya.
"Kau mau kemana?" tanya Alfian saat melihat tangan Siska memegang handle pintu kamarnya.
"Ke kamarlah", jawab Siska kesal.
"Itu bukan kamarmu!" seru Alfian.
"Ya, aku tahu. Tapi kita kan...."
__ADS_1
"Sudah aku katakan itu bukan kamarmu!" seru Alfian seolah mengetahui bahwa Siska akan mengatakan status hubungan mereka saat ini.
Siska yang terdiam beberapa saat di depan pintu kamar Alfian, akhirnya dia melepaskan pegangannya. Dengan kesal dia berjalan mencari kamar yang lain.
"Ya, itu kamarmu", seru Alfian, setelah Siska menemukan kamar yang tepat. Lalu Alfian berbalik menoleh ke arah Tony.
"Untuk sementara Tony tidur di ruang tamu", ucap Alfian yang sama sekali tidak dibantah oleh Tony.
"Saya tinggal dulu", ucap Alfian saat Tony baru saja meletakkan travel bagnya di samping sofa.
"Baik Pak", sahut Tony sopan.
"O, ya... Kamar mandi ada di sana", tunjuk Alfian pada satu ruangan yang ada di sebelah pantry. Lalu dia masuk ke dalam kamar.
***
Di tempat lain yakni di rumah keluarga Ayunda terdengar gelak tawa yang memenuhi ruang tamu mereka. Suasana hangat dan penuh kegembiraan di dalam rumah, mengurangi rasa penat setelah hampir seharian mereka berada di luar rumah.
"Ayah jangan mengatakannya lagi, Yunda malu", ucap Ayunda pada sang Ayah yang terus saja meledeknya. Kisah lucu masa kecil Ayunda yang diceritakan kembali oleh sang ayah membuat seluruh keluarga tertawa terbahak-bahak.
Sang ayah menatap bahagia ke arah Ayunda. "Sekarang putri kecil ayah sudah dewasa", ucapnya masih dengan guratan senyum di wajahnya. "Tapi, mungkin sebentar lagi akan meninggalkan ayah" ucapnya lirih.
"Yunda tidak akan meninggalkan ayah. Yunda akan selalu bersama ayah", sahut Ayunda sambil menghamburkan dirinya memeluk sang ayah.
Suasana haru karena bahagia kini bercampur rasa sedih. Sang ayah tahu bahwa suatu saat nanti anak-anaknya akan membangun keluarganya masing-masing.
"Kenapa?" tanya Ayunda.
"Kamu harus meninggalkan ayah dan bunda. Saat kamu menikah nanti, kamu juga akan tinggal bersama suamimu", seru sang ayah "Karena kami ingin segera punya cucu", ucap sang ayah dengan keinginannya yang membuat Adrian tersedak. Buru-buru dia meletakkan gelas di tangannya yang masih menyisakan air.
"Pelan-pelan, nak", seru sang bunda mengingatkan Adrian.
"Tidak hanya Yunda, ayah. Anak sulung kita juga, dong", ucap sang bunda sambl menatap Adrian dengan tersenyum.
"Bunda benar", seru Ayunda dengan menunjukkan jari jempolnya. "Kakak kan lebih tua, harusnya kakak yang lebih dulu nikah", ucap Ayunda memberi bebannya kepada sang kakak.
Adrian yang mendapat tatapan penuh arti dari anggota keluarganya itu, merasa terpojok. Dengan berfikir keras dia mencari alasan untuk menghindar dari mereka.
Tok... Tok
"Ada tamu, Ayah... Bunda...", ucapnya girang. Dia merasa bahwa seseorang yang telah datang ke rumahnya saat ini telah menjadi penyelamatnya.
Dengan cepat Adrian bangkit dari tempat duduknya. "Sebentar Adrian buka", serunya sambil berjalan ke arah pintu.
Ceklek...
__ADS_1
"Assalamualaikum..." ucap seorang wanita dengan tersenyum manis pada Adrian.
Adrian hanya diam tanpa membalas ucapan salam dari wanita dihadapannya.
"Apa aku boleh masuk?" tanyanya saat Adrian masih menatapnya dengan wajah datar.
"Siapa, nak?" tanya sang bunda, yang sudah tidak sabar melihat tamu yang datang malam itu. "Ayo, suruh dia masuk", pinta sang bunda saat melihat Adrian masih berdiri di ambang pintu.
Adrian tidak bisa menghindar lagi. Dia juga tidak mungkin menutup pintu dan mengatakan orang itu salah alamat. Dengan sedikit rasa keberatan dia membawa wanita itu masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, tante... paman...", ucapnya sopan saat dia sudah dipersilakan masuk oleh Adrian.
"Winda...", seru sang bunda girang.
"Waalaikumsalam...", balas sang ayah.
Ayunda menatap Winda dengan tersenyum kaku. "Hai, kak Winda", sapanya singkat.
"Hai, Yunda", balasnya dengan tersenyum.
Lalu sang bunda meminta Winda untuk duduk bersama dengan mereka. "Ayah... Inilah calon menantu kita", ujar sang bunda dengan tidak sabar, padahal Winda baru saja duduk. Winda langsung membalas ucapan bunda Adrian dengan tersenyum kaku. Berbeda dengan Adrian yang hanya diam tanpa ekspresi.
Sang ayah tersenyum bahagia. "Wah, bagus kalau begitu. Jangan tunggu lama-lama, nak. Nanti di ambil orang", sahut sang ayah dengan menatap Adrian dan Winda bergantian.
"Sebenarnya Winda sudah siap, jika dilamar sekarang", sahut Winda dengan tersipu malu yang membuat Adrian kembali tersedak saat menyesap sisa air di gelasnya.
"Pufft... " Ayunda menahan tawanya saat melihat ekspresi grogi sang kakak. Berbeda dengan sang bunda yang hanya diam sambil menatap Adrian.
"Bagus kalau begitu", seru sang ayah dengan raut wajah bahagia. "Nah, Adrian tunggu apa lagi, calon pengantin wanitamu sudah siap tu", desak sang ayah pada putra sulungnya itu.
Adrian terdiam beberapa saat, dia tidak mau merusak rasa bahagia sang ayah saat ini.
"Ayah tenang saja, jika waktunya sudah tepat Adrian akan menikah", sahutnya.
Sang ayah dan yang lainnya menatap diam Adrian. Lalu sang ayah mencoba menyimpulkan ucapan Adrian.
"Oh, mantap", sahut sang ayah. "Adrian sudah mempersiapkannya, tinggal tunggu tanggal mainnya saja", ucap sang ayah dengan tertawa bahagia. Sang bunda dan yang lainnya pun ikut tertawa bahagia kecuali Adrian.
"Bagus anakku, kamu memang seorang pria sejati. Kamu sudah mempersiapkannya diam-diam", ujar sang ayah yang membuat Adrian semakin bingung, karena apa yang dia katakan bukanlah seperti yang dipikirkan oleh sang ayah. Namun Adrian sama sekali tidak meluruskan kesalahpahaman itu, dia bersikap seakan membenarkan ucapan sang ayah.
Hampir dua jam Winda bertamu di keluarga Adrian. Banyak hal yang sudah mereka bicarakan,, seakan Winda sudah menjadi menantu di keluarga itu, hingga tidak terasa malam pun hampir larut. Dengan sopan Winda meminta izin berpamitan pulang pada keluarga Adrian. Sang ayah yang merasa khawatir jika Winda harus pulang sendiri, dia pun meminta Adrian mengantarnya.
Adrian dengan senang hati mempersiapkan kendaraannya. Kegembiraan keluarganya saat bersama Winda telah mengubah sikapnya sedikit melunak terhadap Winda.
"Ayo...", ajaknya pada Winda.
__ADS_1
"Gak romantis", celetuk sang ayah.
Winda mengucapkan salam berpamitan pada keluarga Adrian dengan tersenyum. Lalu berjalan ke luar mengikuti langkah Adrian.