
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Ferdo berjalan ke luar ruangannya dengan langkah terburu-buru, setelah dia baru saja selesai menghubungi seseorang yang menjadi orang kepercayaannya. Langkahnya terhenti saat berada tepat di depan pintu ruangan Adrian. Dia langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu, untuk mendiskusikan sesuatu yang menurutnya sangat penting. Ferdo langsung berjalan menghampiri meja Adrian dan menyampaikan tujuannya tanpa mukadimah. Dia meminta bantuan pada Adrian, untuk melakukan sesuatu padanya.
"Setidaknya Kau duduklah, dulu", pinta Adrian yang sedikit kesal akan sikap terburu-buru Ferdo.
"Tidak perlu! Aku hanya ingin ini segera dikerjakan", sahut Ferdo yang terlihat sangat gelisah.
"Kau tenanglah, aku pasti akan membantumu. Tapi tidak dengan terburu-buru seperti ini", ucap Adrian dengan tegas, saat menghampiri Ferdo yang masih berdiri di tempatnya semula.
Lalu Adrian mengajak Ferdo ke luar dari ruangannya, untuk menenangkan diri di suatu tempat. Mereka pun berjalan bersama menyusuri lorong kantor. Saat berada di lorong kantor, Ferdo dan Adrian melihat Winda yang berjalan dengan terburu-buru untuk menghampiri Ferdo. Hampir saja kakinya terpelecok, karena high heels yang digunakannya.
"Winda!" seru mereka bersamaan sambil memegang tangannya. "Hampir saja", ucap Ferdo dengan nafas terengah-engah.
Winda mendongak ke arah Ferdo dan Adrian bergantian. Senyumnya mengembang, karena dua orang pria memperhatikannya sekaligus.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Ferdo dengan rasa khawatir, yang memudarkan senyum di wajah Winda. Pertanyaan itu sebenarnya ingin di dengarnya dari mulut Adrian, namun Adrian hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata.
Winda menggeleng, "aku tidak apa-apa", jawabnya dengan senyum dipaksakan.
"O, oke kalau gitu", ucap Adrian dengan melepas langsung pegangannya, yang membuat Winda semakin bersedih.
Winda langsung menepis pikirannya tentang Adrian. Dia tidak ingin terlalu berharap pada pria yang pernah menolaknya itu. "Ferdo, aku butuh tanda tanganmu", ucapnya yang mencoba mengalihkan perhatiannya, untuk menutupi perasaannya saat ini.
"Apa itu sangat penting?" tanya Ferdo sambil menatap Winda.
"Hmm, sebenarnya masih bisa di tunggu sampai besok", sahut Winda yang terlihat berfikir. "O, ya Fer..."
"Oke, berikan saja pada Tya. Kami buru-buru", ucap Ferdo yang langsung melangkahkan kakinya, tanpa mendengarkan ucapan Winda selanjutnya.
"Huft, pada hal aku kan cuma mau bertanya, apa benar minggu depan acara pertunangannya? Itu saja kok", ucap Winda sambil menggerutu.
__ADS_1
***
Hari seakan berlalu dengan sangat singkat, hingga sampai pada hari yang tidak pernah diinginkan oleh Ferdo pun tiba. Bahkan dia masih ingat dengan jelas ekspresi wajah Ayunda, saat mengatakan yang sebenarnya tentang penolakan sang kakek pada dirinya. Sejak saat itu, Ayunda mulai berubah.
Hari ini adalah hari pertungan Ferdo dengan Siska. Semua persiapan telah di atur oleh Siska dan keluarganya. Siska sedang berada di dalam kamarnya bersama make up artis pilihannya. Bahkan baju yang dikenakannya telah di rancang khusus oleh designer terkenal.
"Sempurna!" ucap Siska dengan bangga saat berdiri di depan kaca yang memantulkan dirinya.
Di ruangan yang berbeda Ferdo terlihat sangat gelisah, dia berjalan mondar-mandir seperti seorang yang menunggu di luar ruang operasi.
"Tenanglah!" sergah Adrian, yang sangat kesal dengan kepanikan Ferdo.
"Kau bisa tenang, karena bukan Kau yang akan bertunangan!" balas Ferdo dengan emosi.
"Maaf", ucap Adrian sambil berjalan menghampiri Ferdo. "Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin Kau tenang sebentar, supaya tidak ada rencana kita yang gagal", tuturnya menenangkan Ferdo.
Ferdo menganggukkan kepalanya, lalu berdiri di depan cermin sambil memperhatikan penampilannya saat ini. "Semoga semua berjalan sesuai rencana kita", ucapnya dengan menyeringai.
Tok... tok.
"Ini aku, tantemu", jawab seseorang dari balik pintu.
Ceklek.
Wanita itu langsung membuka pintu, saat Ferdo mengizinkannya masuk. "Bagaimana, Nak. Apa Kau sudah siap?" tanya Mery ibunya Winda.
"Ya, tante", balasnya sambil memeluk Mery.
"Kalau begitu, ayo!" ajaknya dengan menggandeng tangan Ferdo. "Jika mamamu masih hidup, dia pasti sangat bahagia melihat putranya bertunangan saat ini", tuturnya dengan lembut, yang membuat Ferdo menghentikan langkahnya.
Ferdo tersentak saat mendengarkan penuturan tantenya itu. Dia kembali mengingat kejadian 12 tahun lalu, di saat dia kehilangan ke dua orang tuanya. Air mata Ferdo pun jatuh dengan bebas membasahi pipinya.
"Jangan sedih lagi, Nak! Mereka sudah tenang di surgaNya", ucap Mery menenangkan Ferdo. "Maafkan tante yang sudah membuatmu mengingat mereka kembali", tuturnya dengan wajah memelas sambil mengusap lembut air mata Ferdo.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Tante", sahut Ferdo dengan senyum dipaksakan.
"Kalau tersenyum seperti ini, Kau sangat tampan, Nak", ucap Mery dengan tersenyum lebar. "Ayo, kita ke bawah", ajak Mery dengan lembut, yang kembali menggandeng tangan Ferdo. "Kau juga harus mendampinginya, kan!" ujarnya dengan melirik Adrian yang diam saat menyaksikan interaksi Mery dan Ferdo.
"Iya, Tante", balas Adrian dengan tersenyum kecut.
*
Mereka pun berjalan bersama menuruni anak tangga, menuju tempat pesta pertunangan diadakan. Semua mata memandang kagum akan ketampanan Ferdo, wajahnya yang berkharisma memberikan daya tarik tersendiri bagi kaum hawa, meskipun dia akan segera bertunangan. Sesaat setelah Ferdo turun, Siska juga menuruni anak tangga dengan anggun. Gaun berwarna peach yang membalut tubuhnya mengalihkan perhatian setiap para tamu padanya.
"Lihat calon tunanganmu", ucap Mery dengan menyikut lengan Ferdo, namun perhatiannya hanya tertuju pada orang suruhannya yang tak kunjung nongol. Dia telah meminta orang itu mengacaukan pesta sebelum acara pertunangan di mulai.
"Hai sayang", sapa Siska, yang membuat Ferdo spontan menoleh ke arahnya. Manik mata mereka saling bertemu, namun dengan cepat Ferdo mengalihkan pandangannya. "Apa Kau tidak ingin memujiku hari ini?" tanya Siska dengan tersenyum bahagia.
Ferdo mengacuhkan pertanyaan Siska, dia menggeser sedikit tubuhnya, untuk mendekati Adrian. "Mana mereka? Kenapa mereka belum memulainya?" bisik Ferdo yang sudah tidak sabar pesta itu segera berakhir.
"Adrian... Ferdo membisikkan apa?" tanya Siska dengan mengerucutkan bibirnya.
"Oh, itu... dia tadi hanya memuji kecantikanmu" ucapnya dengan asal. Ferdo pun langsung melotot tajam ke arahnya.
"Terima kasih, sayang. Tapi Kau bisa mengatakannya langsung", ucapnya dengan manja.
"Maaf, aku tidak tahu mau jawab apa kalau di tanya tiba-tiba", bisiknya pada Ferdo, namun tidak menyurutkan kemarahan Ferdo.
Pembawa acara telah mengalihkan perhatian semua orang, semua mata tertuju padanya yang sedang menjadi MC di acara pertunangan Ferdo dan Siska. Dia meminta Ferdo dan Siska berdiri berdampingan, karena acara penyematan cincin akan segera di mulai. Siska terlihat lebih agresif, dengan buru-buru dia meraih tangan Ferdo yang masih mematung di tempatnya semula.
"Jangan buru-buru nona manis!" seru MC yang membuat Siska tersipu malu, lebih tepatnya malu-maluin.
Ferdo terpaksa melangkahkan kakinya menuju tempat yang telah di sediakan oleh EO. Dia berdiri di sisi sebelah kanan Siska, sambil mengedarkan pandangannya. Jangankan Adrian, orang suruhannya juga tidak terlihat sama sekali. "Ada apa ini?" gumamnya dengan wajah kesal.
"Hem, kenapa?" tanya Siska yang mendengar Ferdo bergumam. "Apa ada acara yang tidak sesuai keinginanmu?" tanya Siska kembali.
"Bukan apa-apa", balas Ferdo datar.
__ADS_1
Sekarang Kau boleh angkuh, lihatlah nanti setelah kita menjadi suami istri, batin Siska.
To be continue...