Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Penampilan Aneh Winda


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Mentari bersinar memberi kehangatan bagi yang ingin menyapanya, seakan melupakan derasnya guyuran hujan tadi malam. Pagi ini begitu cerah, namun Ayunda masih berdiam diri di dalam kamarnya, karena tidak ada kuliah di pagi hari. Dia akan ke kampus pukul 2 siang nanti untuk mengikuti hanya satu mata kuliah.


Ayunda terus menatap ponsel di tangannya seperti sedang mencari sesuatu. Setelah kejadian tadi malam, saat Ayunda saling bertukar obrolan melalui ponsel dengan sang bu de, Ayunda kembali riang.


Bu Arsih kembali menghubunginya, setelah beberapa menit mereka saling memutuskan sambungan telepon. Bu Arsih ingin membuat satu kesepakatan dengan Ayunda. Dia berjanji akan memberitahukan keberadaan sang ayah, dengan syarat Ayunda membujuk sang kakak untuk mencarikan Salsa pekerjaan. Tanpa berfikir panjang Ayunda menyetujui permintaan sang bu de. Kerinduannya pada sang ayah, membuatnya menyetujui apa pun itu, asalkan bertemu dengan sang ayah.


Tok... tok.


Suara ketukan pintu memaksa Ayunda menghentikan jari jemarinya yang sedari tadi mengotak atik ponselnya.


"Yunda... kamu sudah bangun, Nak?" suara sang bunda dari balik pintu yang sedang memanggil Ayunda. "Ayo, kita sarapan dulu." Sang bunda berusaha membujuk Ayunda, karena sang bunda mengira bahwa Ayunda masih marah pada Adrian.


Ayunda tak mau membuat sang bunda menunggu lama. Dia bangkit dari tempat tidur, lalu melangkah menuju pintu kamarnya.


Ceklek.


"Ya, Bunda", balas Ayunda dengan tersenyum saat pintu terbuka lebar. "Maaf, sudah membuat Bunda menunggu lama." Ayunda masih tersenyum sambil melangkah, lalu memeluk sang bunda. "Pagi, Bundaku sayang", ucapnya dengan bahagia, namun sang bunda membalas pelukan Ayunda dengan mengernyitkan keningnya.


"Ini beneran putri bunda, kan?" tanya sang bunda dengan mengerjap saat pelukan mereka terlepas.


Ayunda mencondongkan bibirnya berpura-pura cemberut. "Kenapa Bunda bertanya seperti itu? Apa Bunda punya putri yang lain?" tanya Ayunda.


Sang bunda pun tersenyum. "Hem, bunda tadi hanya mau memastikan saja, dan ternyata benar ini putri bunda satu-satunya!" seru sang bunda sambil mengusap lembut pipi Ayunda. "Yunda... apa kita akan berdiri di sini terus?" tanya sang bunda dengan senyum meledek.


"Hahaha... Ayo kita sarapan", ajak Ayunda, lalu dia menggandeng tangan sang bunda, berjalan menuju meja makan.


"Pagi Kak Adrian", sapa Ayunda dengan tersenyum ramah. Adrian hampir saja tersedak mendengar ucapan selamat pagi dari Ayunda.


"Ehm, pagi Yunda", balas Adrian dengan tersenyum kaku.


"Apa Kakak hari ini bekerja?" tanya Ayunda sambil menarik salah satu kursi, lalu duduk dengan tersenyum. "Wah, kelihatannya enak banget nih, Bun", ucapnya sebelum mendengar jawaban sang kakak.


Adrian menelan makanan yang baru saja di kunyahnya. "Ya, kakak hari ini masuk kerja. Emangnya kenapa dek?" tanya Adrian sambil meraih gelas kopi miliknya, lalu dia menyeruput setengah gelas kopi yang ada di dalamnya.

__ADS_1


"Ehm, apa di kantor Kakak ada lowongan?" tanya Ayunda sedikit ragu, karena Ayunda sudah mencari di situs resmi perusahaan tempat sang kakak bekerja, namun dia tidak menemukan adanya lowongan di perusahaan itu.


"Lowongan buat siapa Yunda?" tanya sang kakak saat baru saja mengusap bibirnya.


"Untuk wanita Kak", balas Ayunda.


"Iya, maksud kakak namanya. Apa dia sahabatmu?" tanya Adrian sambil menoleh ke arah Ayunda.


"Mungkin dia akan jadi sahabatku", ucap Ayunda membuat sang kakak dan bunda yang juga ikut mendengarkan mengernyitkan keningnya. "Kakak juga kenal kok. Namanya Salsa, saudara jauh kita itu", ucapnya dengan mengunyah roti di mulutnya.


"Apa dia yang memintanya?" tanya Adrian yang merasa ada yang aneh.


"Aku yang menawarkannya untuk datang ke mari, Kak. Bu de mengizinkannya asalkan Salsa datang ke mari untuk menetap bukan hanya sebagai tamu. Jadi Ayunda sarankan Salsa bekerja di sini", tutur Ayunda dengan santai.


"Emangnya dia mau melakukan pekerjaan apa saja?" tanya Adrian yang tahu bahwa Salsa hanyalah tamatan SMA.


"Ya, harus mau dong, Kak", balas Ayunda. "Btw pekerjaan apa yang mau Kakak tawarkan?" tanya Ayunda yang sudah tidak sabar ingin menghubungi bu de Arsih.


"Cleaning service. Kamu yakin dia mau?" tanya sang kakak kembali.


"Tu, kan. Dengar kata cleaning sercive saja kamu mulai ragu", ucap Adrian sedikit kesal. "Tanyakan dulu dia mau atau tidak. Kalau dia mau, suruh segera masukkan lamarannya, biar kakak yang atur supaya dia langsung bekerja." Adrian bangkit dari duduknya, lalu berpamitan pada sang bunda dan Ayunda.


Ayunda bergeming sambil memegang roti di tangannya.


"Ayo, makanannya dihabisin, Nak. Enggak baik makan sambil melamun", tutur sang bunda dengan lembut. "Lagian kamu aneh-aneh saja sih, Nak. Pakai nawarin pekerjaan segala ke orang lain", ucap sang bunda melanjutkan.


*


"Pagi Pak", sapa Tya sang sekretaris pada sang bos dengan ramah, yang langsung di balas oleh Ferdo. Senyum yang terus mengembang seakan mewakili perasaan rindunya pada sang bos, karena sehari kemaren dia bekerja tanpa Ferdo bosnya itu.


Ferdo berbalik saat baru saja akan membuka pintu ruangannya. "Tya", panggil Ferdo dengan ramah.


"Ya, Pak", balas Tya masih dengan tersenyum.


"Tolong kosongkan jadwalku hari ini, ya", pinta Ferdo pada sang sekretaris, lalu Ferdo masuk ke ruangannya sebelum mendengar balasan dari Tya.


"Siap Pak bos gantengku", ucap Tya dengan tersenyum, namun kata terakhir dia ucapkan sedikit pelan. Dia takut jika sang bos benar-benar mendengarnya.

__ADS_1


"Pagi Tya", sapa Winda dengan ramah.


"Pagi Bu Winda. Ibu makin cantik aja, nih", tutur Tya memuji penampilan Winda yang berbeda dari biasanya.


"Hem, terima kasih. Pak Ferdo ada?" tanya Winda mengalihkan pembahasan Tya.


"Ada, Bu", balas Tya masih dengan memperhatikan penampilan Winda.


"Oke, saya masuk ya", ucap Winda sambil melangkah menuju pintu ruangan Ferdo. Winda mengetuk pintu ruangan Ferdo. Lalu masuk ke dalam setelah mendengar Ferdo mempersilahkannya masuk.


Ceklek.


Winda membuka pintu, lalu berjalan menghampiri Ferdo.


"Pagi", sapanya dengan ramah.


Ferdo mendongak saat mendengar sapaan Winda. "Pagi", balasnya dengan terkesiap melihat penampilan Winda pagi ini. "Apa Kau akan menghadiri acara penting hari ini?" tanya Ferdo yang tak biasa melihat penampilan Winda seperti saat ini.


"Emangnya apa yang salah dengan penampilanku? Apa aku terlihat begitu mencolok, ya? Karena hampir semua karyawan menatap aneh padaku pagi ini", tutur Winda sambil duduk di hadapan Ferdo.


"Bukan mencolok, tapi... " Ferdo menggantung ucapannya sambil tersenyum meledek.


"Tapi apa?" tanya Winda penasaran.


Tok... tok.


"Masuk!" seru Ferdo dari dalam ruangannya.


Syukurlah ada yang datang, batin Ferdo. Dia tidak ingin mengatakan hal sebenarnya pada Winda.


Adrian masuk saat pintu terbuka lebar, lalu dia melangkahkan kakinya menghampiri Ferdo dan tidak memperhatikan wanita yang duduk di hadapan Ferdo saat ini.


"Ini aku bawakan berkas iklan PT Agung Gemilang", ucap Adrian sambil menyodorkan berkas di tangannya. Namun Ferdo tidak langsung meraih berkas dari tangan Adrian, dia terus menahan tawanya saat melihat Winda.


Merasa diabaikan Adrian melirik pada wanita dihadapan Ferdo. Matanya terbelalak saat melihat penampilan aneh Winda. Baju pemberian Adrian dipakai Winda ke kantor, pada hal baju itu hanya cocok digunakan saat berlibur. Adrian bergeming sambil menelan salivanya dengan susah payah.


Matilah aku! batinnya.

__ADS_1


__ADS_2