Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Penjelasan Ayunda


__ADS_3

Happy Reading ☺


🌸🌸🌸


Ayunda meraih kembali ponsel di dalam tas jinjingnya setelah menutup rapat pintu rumahnya dan bergegas menghubungi sang kakak dengan nafas yang tidak beraturan.


Ceklek.


Suara pintu di buka mengalihkan perhatian Ayunda yang baru saja menekan tombol hijau di ponselnya. Sang kakak yang sedang di nantinya muncul dari balik pintu di susul sang bunda dari belakang sang kakak.


"Kak Adrian... Bunda... " panggil Ayunda dengan berlari kecil sambil menghampiri mereka.


"Ada apa dengan adikku ini, hah? Kenapa wajahnya terlihat sedih?" Adrian bertanya sambil memeluk sang adik dan tersenyum meledek padanya.


Ayunda meronta saat berada di pelukan sang kakak, meminta Adrian melepaskan pelukannya. "Lepaskan, Kak. Yunda pengen di peluk bunda, bukan kakak", ucapnya dengan wajah cemberut.


"Kau sendiri yang berlari ke arah kakak."


"Itu karena kakak menghalangi jalan Yunda. Yunda berlari ke arah bunda, kok", balasnya masih dengan wajah cemberutnya.


"Ya, sudah. Peluk bunda sepuasnya", sahut Adrian dengan tersenyum sambil berlalu berjalan menuju sofa.


"Sini anak gadis bunda yang imut", ucap sang bunda dengan merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum menyambut Ayunda.


"Anak gadis bunda sepertinya kangen berat, nih! Padahal cuma gak bertemu beberapa jam saja", ucap sang bunda melanjutkan tanpa melepaskan pelukannya. Namun Ayunda tak membalas ucapan sang bunda, dia malah semakin mengeratkan pelukannya. "Hem, Yunda... kamu ada masalah apa, nak?" Sang bunda bertanya sambil mendorong perlahan tubuh Ayunda agar dapat melihat wajah sang anak. Adrian yang mendengarkan ucapan sang bunda pun spontan menoleh sambil menunggu jawaban dari sang adik.


Ayunda berfikir sejenak, seakan sedang menyusun sebuah cerita. "Bunda... ", lirihnya.


"Ya, ada apa putri cantik bunda?" tanya sang bunda dengan nada lembut dan tatapan yang penuh perhatian.


"Ehm,,, ", Ayunda kembali berfikir dan mengalihkan pandangannya untuk mencoba menyembunyikan rasa gugupnya. "Itu Bun... Kak Alfian... Dia sepertinya cemburu." Ayunda berbicara dengan cepat lalu memalingkan wajahnya.


"Puft... " Adrian menahan tawanya saat mendengar ucapan sang adik. "Aku pikir ada masalah besar, ternyata urusan cinta, heh!"

__ADS_1


"Kak Adrian... !"


"Sudah... jangan meledek adikmu", ucap sang bunda berusaha menghindari terjadinya pertengkaran kakak dan adik itu. "Yunda jangan dengarkan kakakmu. Coba kamu ceritakan sama bunda, kenapa Alfian bisa cemburu?"


"Cemburu doang, bun. Bukan putus kan!" Adrian kembali menimpali ucapan sang bunda.


"Adrian!" panggil sang bunda dengan menekan nada suaranya.


"Ya, maaf-maaf, bun... " balas Adrian dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu beranjak meninggalkan bunda dan adiknya.


Ayunda menatap sang bunda dengan tersenyum. "Kak Adrian ada benarnya juga, bun. Mungkin Yunda yang terlalu khawatir."


"Bener kan, bun!" Adrian tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya saat mendengar ucapan sang adik.


"Kamu itu, ya... masih saja ikut-ikutan urusan wanita!' ucap sang bunda sambil memberikan tatapan membunuh yang membuat Adrian kembali masuk ke kamar dan menutup rapat pintu kamarnya.


"Maaf, Bun!" seru Adrian dari dalam kamarnya.


***


"Hem... mantan bos? Kenapa bisa seakrab itu, bahkan sangat dekat? Kalau saja aku tidak sengaja lewat, barangkali aku tidak akan tahu selama ini dia punya teman pria yang lain." Alfian terus berfikir dan membayangkan wajah pria yang bersama Ayunda. "Apa aku telepon Yunda saja, minta penjelasan darinya." Alfian terus bergumam dan tak berhenti mondar-mandir, lalu dia memutuskan untuk meraih ponsel yang ada di dalam saku celananya. Baru saja Alfian akan menghubungi Ayunda, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Alfian menggeser icon berwarna hijau itu dengan terburu-buru.


Setelah beberapa menit menerima panggilan telepon dari seseorang, dia meletakkan ponselnya di atas nakas sambil membuang nafas berat. Sebuah berita yang membuatnya kembali gelisah hingga melupakan tujuan sebenarnya adalah menghubungi Ayunda. Alfian langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.


Cukup lama waktu yang di butuhkan Alfian berada di dalam kamar mandi, bahkan hampir saja dia tertidur setelah Alfian melupakan sejenak masalahnya. Dia keluar dari dalam kamar mandi sambil mengusap kasar rambut basahnya. Tanpa sengaja ekor matanya menangkap layar ponselnya yang baru saja meredup. Dia pun berjalan menghampiri nakas dan meraih ponsel di atasnya.


Seulas senyum terbit di wajah Alfian saat dia menyalakan ponselnya dan melihat nama penelpon yang baru saja menghubunginya. Lalu Alfian bergegas menghubungi kembali panggilan masuk itu.


Tut... tut.


"Hallo juga", balas Alfian dengan santai saat seseorang baru saja menyahut dari seberang telepon.


"Ehm, apa Kakak masih marah?" tanya Ayunda.

__ADS_1


Ya Ayundalah sang penelepon yang telah membuat Alfian tidak sabaran untuk menghubunginya kembali.


"Menurut kamu?" tanya Alfian dengan nada datar.


Ayunda terdiam sejenak, karena Alfian tidak memanggilnya dengan sebutan nama, bahkan dari nada suara Alfian terkesan dingin. Dia menduga Alfian pasti sangat marah padanya.


"Ehm, sebenarnya Yunda mau menjelaskan mengenai kejadian tadi siang, Kak", balas Ayunda dengan sedikit gugup dan membuang kasar nafasnya.


"Emangnya ada kejadian apa?" tanya Alfian yang masih berpura-pura.


"I- itu... tentang kak Reno. Dia hanya sebatas mantan bos Yunda saja, kak. Kami tidak punya hubungan apa pun. Jadi Kakak jangan salah paham ya." Ayunda menjawab dengan sedikit gugup.


"Ya, aku tahu. Kau sudah mengatakannya tadi", balas Alfian yang masih berpura-pura dingin.


"Oh, tapi kenapa tadi kakak langsung pergi?"


"Hem, tadi ada hal yang mendesak. Jadi buru-buru pergi." Alfian berdehem untuk menutupi rasa gugupnya karena telah berbohong.


"Yunda senang ternyata kak Alfian tidak marah. Yunda juga mau minta maaf karena tidak memberitahu alamat baru Yunda pada Kak Alfian. Sebenarnya Yunda akan memberitahukannya, tapi... kak Adrian yang melarang", balas Ayunda dengan mendesah.


"Oke, tidak apa-apa. Asalkan Yunda tidak keberatan kalau kakak datang berkunjung ke rumah."


"Kakak boleh datang kapan saja, kok", balas Ayunda dengan tersipu, namun Alfian mengetahuinya meskipun tidak melihatnya.


Alfian pun tersenyum saat mendengar jawaban dari Ayunda dari seberang telepon. Kemudian mereka saling melepas rindu dengan bercengkrama selama hampir satu jam lamanya, hingga sang bunda mengetuk pintu kamar Ayunda. Mereka pun saling mengakhiri sambungan telepon.


Ceklek.


"Yunda... kamu belum mandi, nak?" tanya sang bunda saat pintu baru saja di buka dengan lebar oleh Ayunda.


"Belum, bun", jawab Ayunda singkat dengan cengiran kuda.


"His, bau baget anak gadis bunda. Mandi, gih. Setelah itu langsung ke ruang makan ya", ucap sang bunda sambil menepuk pelan pipi Ayunda.

__ADS_1


"Siap bunda sayang." balas Ayunda sambil tersenyum sebelum sang bunda berlalu ke luar dari dalam kamarnya.


__ADS_2