
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Di kampus Tri Karya
Ayunda duduk menyendiri di bangku taman kampus, sorot matanya memandang sendu para mahasiswa yang berlalu lalang di hadapannya. Kemudian dia mengerjapkan matanya merasakan terpaan angin sepoi-sepoi, yang sedikit memberikan ketenangan bagi jiwanya.
"Hai, Ay", sapa Reina yang membuat Ayunda kaget, lalu membuka matanya. "Kenapa Kau menyendiri?" tanya Reina sambil duduk di sebelah Ayunda. "Apa Kau sedang punya masalah? Ayo, ceritakan pada sahabatmu ini", tutur Reina melanjutkan ucapannya.
Ayunda hanya menoleh sekilas, lalu menghela nafas berat. "Kenapa Kau selalu mengira aku punya masalah? Aku di sini hanya ingin menghilangkan rasa suntuk setelah jam kuliah pak Diran!" elak Ayunda.
"Aku tahu Kau berbohong, karena Kau tidak seperti biasanya. Kau juga sering menyendiri, jadi aku pikir Kau mungkin sedang punya masalah." Reina membalas ucapan Ayunda sambil memegang ke dua tangan Ayunda. "Ayo, katakan apa masalahmu?" Reina terus berusaha membuat agar Ayunda terbuka padanya.
"Sudah aku katakan tidak ada masalah apa pun, REINA MAUDY ARASTYA!" Ayunda langsung beranjak dari bangku. "Ayo, kita ke kelas saja", ucapnya sambil menarik tangan Reina.
Reina terpaksa bangkit dari duduknya, lalu mengikuti langkah Ayunda.
"O, ya. Aku sudah mendaftarkan namamu untuk mengikuti lomba pembawa acara terbaik." ucap Reina dengan langkah sedikit terseret.
"Ah, syukurlah. Aku lupa kalau hari ini terakhir pendaftaran. Apa Kau juga ikut?" tanya Ayunda dengan tatapan serius.
Reina membalas tatapan Ayunda dengan sedikit gugup. "Ya, aku pasti ikut dong!"
"Bagaimana kalau kita berlatih bersama?" ajak Ayunda dengan penuh semangat.
Reina menganggukkan kepalanya. "Hem, itu ide yang bagus."
"Oke, hari ini jam 6 sore di tempatku!" ucap Ayunda dengan tegas, sambil menjulurkan tangannya ke depan. Reina pun menyambut uluran tangan Ayunda dengan senyum yang di paksakan.
"DEAL!" seru Ayunda dengan tersenyum lebar.
"Apa Kau sudah membuat konsepnya?" tanya Ayunda saat mereka berjalan beriringan menuju kelas. Reina menjawab dengan gelengan kepala. Ayunda terbeliak saat tahu sahabatnya belum punya konsep. "Sudah tinggal dua hari lagi. Bagaimana Kau akan berlatih nanti sore?" Ayunda mengernyitkan keningnya, menuntut jawaban dari Reina.
"Ehm, a- aku baru menyelesaikan satu paragraph. Tapi, Kau jangan khawatir, aku akan melanjutkannya setelah pulang kuliah", Reina beralasan untuk menghindari banyak pertanyaan dari Ayunda.
__ADS_1
"Oke, aku percaya padamu. Tapi jika Kau butuh bantuan, maka jangan segan-segan memintanya padaku." ucap Ayunda dengan serius.
"Baiklah, sahabatku", Reina tersenyum sambil melangkahkan kakinya dan merangkul Ayunda, pada hal hanya tinggal beberapa langkah lagi mereka tiba di depan pintu kelas.
"Ayunda!" panggil seseorang yang membuat Ayunda berbalik ke arah sumber suara.
Pria itu berlari kecil mendekati Ayunda. "Aku lihat namamu di mading, Kau juga ikut dalam perlombaan itu?" tanya Dafa teman sekelasnya itu sambil tersenyum bahagia.
Ayunda menganggukkan kepalanya, "ya", jawabnya singkat.
"Itu keren! Aku harap Kau bisa menang!" Dafa menunjukkan jari jempolnya dengan semangat, yang di balas dengan senyuman oleh Ayunda. Namun ada seseorang dari kejauhan menatap dengan rasa benci, saat Dafa dan Ayunda saling melempar senyum. Emosinya seakan semakin tersulut setelah melihat Dafa berjalan beriringan dengan Ayunda, saat melangkah masuk ke dalam kelas.
"Cih, dasar wanita j***ng! Semua pria dia goda! Aku akan menunjukkan wajah aslimu!" seringainya.
***
Setelah meeting penting dengan klien selesai, Ferdo langsung bergegas menuju ruangan Adrian.
Ceklek.
Tanpa mengetuk, Ferdo langsung membuka pintu ruangan Adrian. Dia yang adalah pemilik perusahaan Santoto Station selalu bebas membuka pintu ruangan bawahan yang sekaligus sahabatnya itu.
"Aku mau membicarakan kesepakatan kita tadi!" ucapnya to the point.
Adrian berdecak kesal, "hanya untuk itu, Kau sampai membuatku kaget!"
"Kau bilang itu hanya?" tanya Ferdo yang menekan kata hanya. "Apa Kau tahu, aku harus menahan malu, karena sikap konyolku tadi pagi!" ketusnya yang membuat Adrian mengernyitkan keningnya.
"Emangnya Kau melakukan apa?" tanya Adrian.
"Apa Kau lupa ingatan? Kau yang memintaku datang ke kampus Ayunda sepagi itu!"
"Iya, aku tahu. Tapi apanya yang konyol? Bukankah Kau menyukai Ayunda?" tanya Adrian membuat Ferdo terhenyak.
Kata-kata Adrian seakan menghujam tepat di jantungnya. Kenapa aku harus menjawab pertanyaannya? Aku kan bosnya! batin Ferdo.
__ADS_1
"Kenapa Kau diam?" Adrian semakin mengintimidasi Ferdo.
"Aku ini atasanmu! Tolong jaga bicaramu!" bentak Ferdo yang membuat Adrian tak bisa menyerang balik, lalu dia mengalihkan pandangannya pada layar laptop. Dia melanjutkan pekerjaannya seakan tidak terjadi obrolan antara dia dan Ferdo.
"Maaf, Pak. Aku sedang sibuk, kalau Bapak butuh sesuatu, Bapak bisa sampaikan pada sekretaris Bapak saja", ucap Adrian yang tak beralih dari layar laptop dihadapannya.
Ferdo melempar Adrian dengan selembar kertas yang baru saja di remukkannya menjadi sebuah bulatan seperti bola, yang tepat mengenai jidatnya.
"Terima kasih, Pak. Aku sadar, aku hanya bawahan." Adrian membalas dengan merendah, membuat Ferdo semakin kesal.
Ferdo beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri Adrian. "Eh, apa yang Kau lakukan! Jangan mendekat! Please, aku masih lajang! Oh, No!" teriak Adrian dengan menyilangkan ke dua tangannya.
"Dasar jomblo karatan!" ucap Ferdo dengan menyentil jidat Adrian.
"Aww... " ringis Adrian, karena sudah dua kali jidatnya menjadi sasaran Ferdo. "Apa Kau pikir, Kau lebih hebat karena sudah bertunangan?" tanya Adrian sambil mengelus jidatnya.
"Setidaknya aku bukan jomblo, lagi!" jawab Ferdo.
"Cih, seharusnya Kau mengejar cintamu. Ini malah bertunangan dengan wanita itu!" sembur Adrian yang membuat lidah Ferdo seakan kelu, tak dapat membalas ucapan Adrian.
Adrian yang melihat perubahan sikap Ferdo merasa bersalah. "Maaf, aku tidak bermaksud begitu", ucapnya dengan wajah memelas.
"Sudahlah! Kau terlalu banyak bicara. Segera minta Tony ke atas!" sergah Ferdo yang mencoba menutupi perasaannya. Semenjak Adrian tahu tentang perasaannya pada Ayunda, Adrian selalu berusaha membantunya, namun dengan sesuka hatinya.
Dengan terburu-buru Adrian menelpon Tony, lalu meminta Tony segera masuk ke ruangannya. Setelah Adrian memutus sambungan telpon, tak ada lagi obrolan di antara Ferdo dan Adrian. Mereka saling diam, sambil menunggu Tony datang.
Tok... tok.
"Masuk!" Adrian dengan tidak sabar meminta Tony segera masuk, untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
"Permisi, Pak", ucap Tony dengan sopan. Dia melangkahkan kakinya dengan ragu, karena melihat wajah Ferdo dan Adrian yang kurang bersahabat. "Ini rekaman yang saya dapatkan dari hasil penyadap suara Pak Ferdo."
Ferdo meraih sebuah usb, lalu meminta Adrian segera menyambungkannya ke laptop. Mereka pun saling diam, sambil mendengarkan rekaman.
"Kau meletakkan di mana penyadap suara ini? Kenapa suaranya selalu berisik?" tanya Adrian.
__ADS_1
"Aku meletakkannya di dalam tas Siska", sahut Ferdo santai, yang mendapat tatapan aneh dari Adrian dan Tony. "Kenapa?" tanya Ferdo bingung.
"Oh, bukan apa-apa", balas Adrian sambil menggeleng. "Kenapa tidak Kau masukkan ke dalam lipstiknya aja sekalian." Adrian bergumam, namun masih dapat di dengar oleh Ferdo. Adrian menatap Ferdo dengan cengiran kuda, dan kembali fokus mendengar rekaman.