
Di kantor Santoso Station.
Alfian berjalan mondar mandir dengan perasaan uring-uringan. Bukan karena kekhawatirannya telah meninggalkan Siska di Paris. Bahkan bisa dikatakan dia sama sekali tidak peduli tentang itu.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Alfian.
"Maaf, pak. Apa ada tugas yang harus saya kerjakan?" tanya Reina yang memberanikan diri saat melihat jam digital di ponselnya sudah menunjukkan pukul 7 malam.
"O, apa kau mau pulang?" tanya Alfian yang masih memperhatikan keselamatan karyawannya dan melupakan sejenak masalah yang sedang dialaminya.
"I, iya pak", sahut Reina ragu.
"Oke, kau boleh pulang sekarang."
Reina menghela nafas lega. "Baik pak", sahutnya sambil berpamitan pada Alfian. Diraihnya tas jinjing yang sedari tadi berada di atas meja kerjanya. Dengan terburu-buru dia melangkahkan kakinya di lorong sunyi kantor menuju pintu lift.
Brakk.
Reina yang kurang berhati-hati telah menabrak seseorang yang akan membelokkan langkahnya.
"Reina sayang", ucap Asep, orang yang telah Reina tabrak.
Tanpa menghiraukan ucapan Asep, Reina meraih tas jinjing yang sempat terjatuh, . Lalu dia kembali melangkah dengan cepat agar terhindar dari sosok yang menurut Reina lebih menyeramkan dari yang sebelumnya dia takuti.
***
Di tempat yang berbeda yakni di dalam kamar Adrian, suara tawa Adrian mengisi ruang sunyi kamarnya.
"Oke, sampai jumpa besok, ya", ucap Adrian mengakhiri sambungan teleponnya bersama dengan Winda.
Sudah satu jam lamanya dia berbincang dengan Winda yang diselingi senda gurau. Masalahnya pun seakan terlupakan saat kebersamaannya dengan sang kekasih. Adrian baru menyadari bahwa hubungannya dengan Winda selama ini sedikit merenggang. Karena itu da ingin menebusnya dengan menemani sang kekasih seharian, sesuai dengan keinginannya.
Baru beberapa menit Adrian meletakkan ponsel di atas nakas. Suara dering ponselnya membuat Adrian kembali meraih ponselnya.
"Ini nomor siapa?" Adrian bergumam sambil mengernyit.
"Halo", ucap Adrian saat menggeser tombol hijauvdengan sedikit ragu. Dia pun waspada barangkali penelpon itu adalah penipu yang berkedok saudara untuk meminta uang.
"Assalamualaikum, kak", sahut suara Ayunda dari seberang telepon.
"Waalaikumsalam... Yunda!" teriak Adrian memastikan.
"Iya, ini Yunda kak."
"Bagaimana kabarmu, dek?" tanya Adrian dengan rasa rindu yang dalam
"Alhamdullilah, baik kak. Kakak sendiri gimana?"
__ADS_1
"Alhamdullilah, kakak juga baik. Apa ada kendala selama di sana?" tanya Adrian dengan rasa kuatir sambil naik ke tempat tidur dan duduk bersandar di tempat tidur.
Ayunda terdiam beberapa saat.
"Dek... Yunda... Apa kau masih mendengarku?" tanya Adrian yang mengira signalnya buruk.
"Alhamdullilah, semua baik-baik saja, kak", sahut Ayunda masih dari seberang telepon namun sedikit berbohong.
"Syukurlah kalau begitu."
"Bagaimana kabar Ayah dan bunda, kak? Tadi Yunda sempat menghubungi mereka, tapi tidak di angkat."
"Alhamdullilah, ayah dan bunda dalam keadaan sehat walafiat. Mungkin karena nomor Yunda sedikit asing, tapi nanti kakak beritahu ayah, bunda."
Ayunda terkekeh. "Iya, Yunda paham kak. Salam sama ayah dan bunda ya, kak. Assalamualaikun."
"Waalaikumsalam."
Ayunda dan Adrian saling memutus sambungan telepon. Rindunya pada Ayunda, akhirnya terobati saat mendengar suaranya. Adrian meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, lalu menarik selimut sebatas dadanya.
***
Di apartemen Alfian.
Winda yang baru mengetahui kembalinya Alfian setelah Tony mengatakan, langsung mengunjungi apartemen Alfian.
"Apa kau masih menganggap kita ini saudara?" tanya Winda dengan kesal, lalu berjalan masuk ke dalam apartemen Alfian.
Alfian menautkan alisnya. Dia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Winda.
"Kenapa kau hanya memberitahukan Tony, kalau kau akan balik ke Indo." ucap Winda berdecak kesal.
"Aku tidak punya maksud apa-apa. Itu hanya kebetulan saja. Kebetulan aku butuh beberapa dokumen di tangan Tony."
Winda mengedarkan pandangannya. "Istrimu mana?"
Alfian menatap tajam ke arah Winda, seakan terusik dengan ucapan Winda.
"Dia kan istrimu, apa aku salah mengatakannya?"
Alfian berjalan menuju balkon menjauhi Winda yang tak berhenti mengikutinya. Alfian sungguh tak ingin membahas tentang Siska. Ada sedikit penyesalan yang tak dapat dia ulang kembali. Alfian berdiri di atas balkon, mata nanarnya menatap kilauan bintang yang menghiasi langit. Entah kenapa perasaannya sedikit kacau, saat mengingat kejadian tadi siang.
***
Di kota London.
Dafa dan Ayunda sedang sibuk membahas hari pertama mereka kuliah. Ternyata Dafa satu kelas dengan Ayunda. Entah itu sengaja atau cuma kebetulan Ayunda pun tidak tahu.
Setelah Dafa memutus pertunangannya dengan Sherly. Dafa mulai mengejar kembali cintanya. Dengan tidak sengaja dia telah mendengar kabar pernikahan Alfian. Hal itu membuat Dafa memiliki kepercayaan diri untuk merebut hati Ayunda.
__ADS_1
"Apa aku boleh meminjam flashdiakmu?" tanya Dafa saat dia lupa menaruh flashdisknya.
"Tunggu aku cari dulu", ujar Ayunda sambil merogoh tasnya. "Ini", ucap Ayunda saat tangannya berhasil meraih sebuah flashdisk, lalu memberikannya pada Dafa.
"Terimakasih." Dafa pun menerimanya dan langsung menghubungkannya pada laptop yang ada dihadapannya.
***
Mentari pagi menyeruak masuk menyilaukan mata Adrian yang terus mengerjap. Walaupun hari ini adalah hari minggu, dia tidak ingin bermalas-malasan. Dengan buru-buru Adrian berlari masuk ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan ritual mandinya.
Setelah berpakaian rapi, Adrian berjalan ke luar kamar menghampiri ayah dan bunda yang baru saja menyelesaikan sarapan paginya.
"Ayah, bunda. Kemaren Yunda telepon", ucapnya sambil duduk di salah satu kursi.
"Bagaimana kabar Yunda, nak?" tanya sang bunda yang masih tetap khawatir.
"Yunda baik-baik saja kok, bun. Dia juga sampaikan salam pada ayah dan bunda."
"Tapi kenapa dia tidak menghubungi ayah dan bunda?" tanya sang ayah dengan curiga.
"Coba ayah cek lagi, apa ada panggilan dari luar negeri", ucap Adrian yang menduga bahwa ayah dan bundanya tidak menyadari hal itu.
Sang ayah menscroll ponselnya. Dia terbelalak saat ada beberapa panggilan masuk dari nomor asing di ponselnya. "Jadi ini nomor Yunda?" tanya sang ayah memastikan.
Adrian menganggukkan kepalanya. "Iya, ayah."
Sang ayah pun menyimpan nomor Ayunda. Ayah dan bunda bersiap untuk berangkat ke restoran.
Tok. Tok.
Seseorang mengetuk pintu rumah keluarga Adrian. Sang ayah langsung berjalan menuju pintu, lalu membukakannya.
"Assalamualaikum, om."
"Waalaikumsalam", balas sang ayah.
"Adriannya ada, om?"
"Ada, lagi sarapan. Ayo, masuklah dulu." sang ayah menawarkan dengan sopan.
Conny pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Setelah mendapat izin dari orang tua Adrian, dia berjalan menuju ruang makan.
Adrian meletakkan kembali cangkir di tangannya, saat melihat Conny menatapnya dengan tersenyum manis.
"Hai Conny", sapa Adrian dengan sedikit canggung. "Ayo, kita ke ruang tamu saja", ajak Adrian untuk menghindari fitnah, karena saat ini mereka hanya tinggal berdua. Kedua orang tua Adrian telah berangkat ke restoran.
Conny menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa. "Pamanku bertanya mengenai penawarannya itu.Bagaimana? Apa kau sudah mempunyai jawabannya?"
Adrian terdiam sesaat, lidahnya seakan tercekal hingga tak mampu berucap.
__ADS_1