
Alfian sedang menatap nanar keluar kaca mobil.
Cit.
Terpaksa Alfian menghentikan laju kendaraannya, karena hampir saja dia menabrak seekor kucing yang melintas dihadapannya..
"Apa kucingnya ketabrak, ya?" Alfian memastikan dengan turun dari mobil. Namun tiba-tiba kucing berwarna orange itu keluar dari kolong mobilnya. "Syukurlah tidak kenapa-napa." Alfian menghela nafas lega. Lalu dia masuk kembali ke dalam mobil.
"Papa lihat apa?" tanya bibir mungil Zahra.
"Owh, bukan apa-apa."
Zahra kembali menyandarkan tubuhnya saat merasa puas dengan jawaban Alfian.
Ayunda baru saja memarkirkan kendaraan yang dibawanya di halaman rumah.
"Siapa yang datang?" ucap Adrian pada putranya yang sedang belajar berjalan di teras rumah. Azzam yang sedang di ajak bicara merespon dengan menoleh ke arah Ayunda.
"Azzam gantengnya tante", panggil Ayunda saat keluar dari dalam mobil. "Ayo, sini sama tante." Ayunda menjulurkan kedua tangannya, meminta sang keponakan berjalan kearahnya. Baru saja Azzam berjalan dua langkah menuju dirinya sang keponakan sudah berbalik kembali menghadap Adrian.
"Emm, apa karna tante belum mandi ya?"
"Iya, nih tante kebiasaan mau gendong Azzam tapi belom mandi", sahut Adrian mewakili sang anak.
"Oke deh Azzam, tante mandi dulu ya. Tunggu tante ya sayang."
Tak butuh waktu yang lama Ayunda sudah menyelesaikan ritual mandinya. Dia pun berjalan menuju ruang tamu mencari keberadaan Azzam, namun matanya terkesiap kala melihat Dafa sedang duduk seorang diri di sofa sembari menatapnya dengan tersenyum.
"Udah siapkan?" tanya Dafa.
Ayunda membalas dengan tersenyum. "Maaf aku tidak bisa pergi denganmu, Daf", sahutnya.
"Lho, kenapa ay?" tanya Dafa dengan sedikit kecewa.
"Karena aku tak mau memberi harapan palsu padamu!"
Dafa terperangah kala mendengar penuturan Ayunda. Bertahun-tahun lamanya dia menanti Ayunda membuka hati padanya, namun dia masih harus menelan rasa kecewa.
"Apa kau tidak mau mencobanya dulu?" tawar Dafa, barangkali masih ada sedikit harapan.
__ADS_1
"Sekali lagi aku minta maaf, Daf. Aku tidak mau menyakiti orang sebaikmu."
"Tapi kau sudah menyakiti hatiku, ay. Apakah kebersamaan kita selama ini tidak ada artinya bagimu?"
Ayunda terdiam sesaat. Dia merasa bersalah karena sikapnya telah membuat Dafa salah mengartikannya.
"Justru karena itu Dafa. Aku tidak mau kedekatan kita membuatmu salah paham, karena selama ini aku hanya menganggapmu sebagai sahabat terbaikku, tidak lebih."
Dafa tertunduk dengan wajah memerah. Nafasnya pun seakan tak beraturan saat menahan emosinya. "Aku kira kau berbeda dengan wanita lainnya. Tidak sombong dan berhati lembut. Ternyata aku salah selama ini." Dafa mendongak menatap Ayunda. "Kau tidak lebih baik dari Sherly... Permisi!"
Dafa bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya berjalan keluar dari rumah Ayunda.
"Daf... Dafa... Tolong kendalikan emosimu." Ayunda berusaha mengejar Dafa, namun dia tidak berhasil mencegahnya untuk pergi.
"Dafa...!" teriak Ayunda. Namun Dafa sudah melajukan kendaraannya meninggalkan halaman rumah Ayunda.
Adrian datang menghampiri Ayunda. "Ayo, kita ke dalam. Kakak mau bicara sebentar."
Ayunda membalikkan badannya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah mengikuti langkah sang kakak.
"Duduklah dulu."
Ayunda pun mengikuti arahan sang kakak. Dia langsung duduk di sofa.
"Kakak tidak tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya pada Dafa. Tapi kakak tahu bahwa Dafa adalah pria yang baik. Kakak sangat bersyukur karena selama di luar negeri ada Dafa yang menemanimu. Bahkan dia juga yang melindungimu dari tembakan waktu itu. Kakak harap kau tidak melupakan hal itu."
Ayunda terdiam sesaat. Pikirannya berkecamuk saat mendengar penuturan sang kakak. Dia pun mulai bimbang dengan perasaannya sendiri.
"Sebelumnya Yunda minta maaf kak. Mungkin Yunda terlihat sangat kejam karena tak membalas cintanya Dafa. Tapi apakah adil bagi Yunda dan Dafa, jika Yunda menerima cinta Dafa karena balas budi?"
Adrian terdiam sesaat memikirkan ucapan Ayunda, lalu dia menghela nafas. "Cobalah pikirkan lagi, barangkali Yunda tidak menyadari kalau sudah ada sedikit cinta untuk Dafa."
"Sudah bertahun-tahun lamanya Yunda mencoba membuka hati untuk Dafa, tapi hasilnya selalu sama. Yunda hanya bisa menganggap Dafa sebagai sahabat."
Adrian seakan kehabisan kata-kata mendengar ucapan Ayunda. Tiba-tiba sang istri datang menghampiri mereka.
"Azzam sudah tidur, ma?"
"Sudah pa. Tadi mama gak sengaja dengar perbincangan kalian, makanya datang kemari." sahut Winda sembari menempelkan bokongnya di sofa. "Apa mama boleh berpendapat pa?" tanyanya.
"Silakan, ma."
"Menurut mama cinta itu tidak boleh dipaksakan. Dia harus lahir dari hati yang tulus. Saat ini Yunda tidak meraskan cinta pada Dafa, dan kita memintanya belajar mencintai Dafa. Mama rasa Itu akan membuat Yunda tertekan jika nantinya dia tetap tidak merasakan cinta. Jadi biarkan dia bersama dengan orang yang dicintainya."
__ADS_1
Adrian mengernyitkan keningnya, menatap wajah sendu Ayunda. "Apa ada pria yang kau cintai?" tanya Adrian.
Ayunda memgangguk pelan. "Ada kak."
"Kakak bisa menebak siapa pria itu. Alfian kan?" tebaknya percaya diri. Dia tahu adiknya itu tak pernah melupakan cinta pertamanya.
"Kakak sudah tahu. Jadi Yunda tak perlu mengatakannya lagi."
"Maka kejarlah cintamu itu sayang", sahut Winda. Namun Adrian protes. Dia sudah tak ingin sang adik berhubungan lagi dengan Alfian mengingat semua kejadian yang selama ini menimpa sang adik disebabkan karena hubungannya dengan Alfian.
"Jangan suudzon, pa. Semua yang terjadi karena memang sudah di atur sama Allah."
"Tapi papa ingin Yunda mendapatkan pria yang terbaik."
"Terbaik menurut kita, belum tentu Allah kehendaki, pa. Please, kita gak perlu ikut campur terlalu dalam. Biarkan Yunda mengikuti kata hatinya sendiri."
Setelah itu tidak ada lagi perbincangan di antara mereka. Adrian dan Winda masuk ke dalam kamar, sedangkan Ayunda masih duduk beberapa saat lagi di sofa sembari merenungkan ucapan sang kakak ipar.
---
Di dalam sebuah kamar, terdengar senandung yang memenuhi ruangan itu. Entah kenapa Zahra sulit sekali tidur malam ini. Sudah berapa lagu Alfian nyanyikan, namun Zahra masih saja melek.
"Ayo, tidur sayang", bujuk Alfian, karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Ara kangen mama", ucap bibir mungilnya sembari memeluk guling.
"Besok kita ke tempat mama ya sayang. Papa janji."
"Tapi Ara maunya sekarang, pa!" rengeknya.
"Ini sudah malam Ara. Coba lihat keluar jendela." Alfian berjalan menuju jendela, membuka tirai dan menunjukkan keadaan di luar.
"Ara mau ketemu mama sekarang", rengeknya dengan menyembunyikan wajahnya dalam guling.
Alfian seakan kehabisan cara untuk membujuk putri kecilnya itu. Lalu dia teringat ada aplikasi di ponsel yang bisa membuat foto bergerak. Da pun mencobanya.
"Coba papa telpon mama ya." Alfian mengotak atik ponselnya, lalu menunjukkan sebuah video melalui aplikasi yang sempat dia unduh. "Coba lihat ini mama."
Awalnya Zahra masih merengek, lama kelamaan dia pun diam dan akhirnya dia mulai mencium ponsel Alfian, lalu memeluknya hingga akhirnya tertidur.
"Malam putri cantik papa." Alfian menarik selimut ke tubuh Zahra, menciumnya, lalu beranjak dari kamar itu.
"
__ADS_1