
Di London
Dua orang pria yang selalu menguntit Ayunda sedang melaporkan hasil kerjanya pada sang bos.
"Maaf pak, para pengawal itu masih terus menjaganya", ujar salah seorang pria pada seseorang yang telah membayar mereka.
"Dasar tidak becus, sampai berbulan-bulan tapi tidak ada hasil sama sekali!' suara teriakan dari seberang telepon memekakkan pendengaran pria yang sedang menempelkan ponsel ditelinganya.
Tut. Tut.
Pria itu memandang ponselnya yang tiba-tiba saja diputus oleh sang bos. "Habislah kita si bos marah besar." ujarnya.
"Trus, kita mau gimana lagi?" sahut temannya sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Aku tidak tahu!" sahutnya sambil menaikkan kedua bahunya.
Dor. Dor.
Suara letusan senjata yang ditembakkan ke sembarang arah membuat para penguntit itu tersentak kaget. Mereka melihat para mahasiswa yang sedang berlarian dengan ketakutan.
Dor. Dor.
Suara letusan senjata kembali terdengar.
"Apa yang terjadi?" tanya pria itu pada temannya, namun teman pria itu tidak menjawab. Dengan kesal dia membalikkan badannya, seketika mulutnya ternganga saat melihat temannya tergeletak di tanah dengan berlumuran darah.
"Oh, no", ucapnya saat mengetahui temannya terkena peluru nyasar. Dengan cepat dia mengecek denyut nadi temannya itu.
Di tempat kejadian yang sama Dafa dan Ayunda langsung di bawa masuk ke dalam mobil oleh para pengawal yang sebelumnya disiapkan oleh Dafa khusus untuk mengawal Ayunda.
"Siapa mereka?" tanya Ayunda sambil menatap ke arah Dafa.
"Sebelumnya aku minta maaf, Ay. Karena telah mengirimkan pengawal untuk menjagamu tanpa memberitahu terlebih dahulu."
"Maksudnya selama ini aku di kawal?"
Dafa menganggukkan kepalanya. "Iya. Sejak pertama kali kita bertemu di kota ini dan kau mengatakan ada orang yang telah mengikutimu. Esoknya aku langsung meminta pengawalku menjagamu."
Ayunda terdiam sesaat, dia merasa tersentuh akan tindakan yang dilakukan oleh Dafa. "Terimakasih." ucapnya dengan tulus.
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Ayunda membuang jauh pandangannya ke luar kaca jendela mobil. Apa aku harus membuka hatiku untuk Dafa, batin Ayunda.
Sedangkan Dafa terus memikirkan desakan sang papa yang memintanya tetap menikahi Sherly, karena terikat akan hutang budi pada keluarga Sherly. Di saat perusahaan papanya Dafa sedang mengalami masalah keuangan hingga hampir bangkrut, hanya kakeknya Sherly yang mau memberikan bantuan.
Saat ini keluarga Sherly yang sedang mengalami masalah keuangan, namun keluarga Sherly tidak meminta balasan yang sama pada keluarga Dafa. Mereka hanya meminta agar pernikahan antara Sherly dan Dafa segera dilangsungkan. Dafa lebih memilih membatalkan pertunangannya dengan Sherly dan meminta sang papa membalas hutang itu dengan memberikan sejumlah uang yang dibutuhkan keluarga Sherly, karena dia tidak ingin membina rumah tangga tanpa dasar cinta.
__ADS_1
***
Di rumah sakit
Setelah 1 jam lamanya Alfian menunggu di luar ruang operasi, akhirnya sang dokter keluar juga.
"Selamat, anak anda perempuan", ujar sang dokter sambil menjulurkan tangannya.
"Terimakasih, dok", sahut Alfian dengan girang sambil menjulurkan tangannya hingga mereka bersalaman. "Apa boleh saya melihatnya?" tanya Alfian dengan tersenyum bahagia.
"Karena lahirnya prematur, saat ini anak anda sedang di inkubator."
Alfian menautkan kedua alisnya. "Dia baik-baik saja kan, dok?"
"Jangan kuatir bayinya sehat kok. Hanya saja karena dia lahir sebelum 37 minggu jadi perlu kita masukkan ke inkubator."
"O, oke dok. Jika itu yang terbaik", sahut Alfian.
Alfian langsung menghubungi sang kakek dan papa Siska secara bergantian. Dia telah menyampaikan kabar baik itu, meskipun dia tidak mengetahui keadaan Siska.
Lalu dia berjalan melangkahkan kakinya untuk melihat bayi mungil dalam inkubator.
***
Adrian masih sibuk membahas acara pernikahannya bersama Winda yang akan berlangsung bulan depan tanpa memperhatikan raut wajah Winda yang sedari tadi murung.
"Ada apa?" tanya Adrian.
"Uhm, bukan apa-apa", sahut Winda dengan ragu, karena sebenarnya dia ingin menceritakannya pada Adrian. Namun untuk menjaga perasaan calon adir iparnya, dia lebih memilih untuk bungkam.
"Katakan! Karena aku tahu kau tidak pandai berbohong." ujar Adrian sambil menatap lekat Winda.
Winda masih tetap saja mengelak. "Iya, sayang. Tidak ada apa-apa", sahutnya berbohong.
Raut wajah Adrian mulai berubah, saat mendengar penuturan sang kekasih. "Mau berapa banyak kebohongan lagi?" tanyanya dengan tatapan tajam yang membuat Winda tersentak.
Apa maksudnya? Apa dia mengetahui semuanya? Batin Winda.
"Ayo, katakan!" seru Adrian. "Apa aku yang akan mengatakannya?"
Winda pun mulai panik, karena suara Adrian mulai meninggi yang artinya Adrian tidak sedang bergurau.
"Ada apa, nak?" tanya sang bunda saat mendengar suara keras Adrian. Dia menduga telah terjadi pertengkaran antara keduanya. "Tolong diselesaikan baik-baik. Jangan emosi dulu", tutur sang bunda mengingatkan mereka.
Adrian mendengus kasar. "Bagaimana tidak marah, bun. Kalau kita selalu dibohongi!"
__ADS_1
"Masalah apa?" tanya sang bunda.
"Bunda ingat masalah 1 M?" tanya Adrian yang coba mengingatkan sang bunda.
"Iya bunda ingat."
"Masalah itu selesai berkat Winda. Tapi dia sudah berbohong, bun."
"Apa Winda telah mencurinya?" tebak sang bunda.
"Bukan, bun. Tapi dia sudah menjual semua properti peninggalan kedua orang tuanya." ujar Adrian yang membuat sang bunda tersentak kaget.
"Kenapa kau melakukan itu, nak?" tanya sang bunda dengan lembut pada Winda.
"Bunda, sebelumnya Winda minta maaf, karena tidak memberitahukan hal ini", ujarnya dengan wajah penuh penyesalan. "Tapi semua properti itu sudah diwariskan ke Winda. Jadi Winda berhak menjual semuanya, karena bagi Winda tidak ada yang lebih berharga dari keluarga. Ayah, bunda, Adrian dan Ayunda adalah keluarga bagi Winda saat ini."
Sang bunda terharu mendengar penuturan Winda. "Ya kamu benar, nak. Kami adalah keluargamu sekarang..." Namun perhatian bunda tiba-tiba terusik sebelum sang bunda menyelesaikan ucapannya, saat mendengar berita mancanegara yang sedang memberitakan kejadian penembakan yang terjadi di kampus di kota London.
"Itu kan kampus tempat Yunda kuliah", ujar sang bunda dengan panik. "Coba hubungi Yunda, nak", pinta sang bunda pada Adrian. Adrian yang mendengarkan ucapan sang bunda, buru-buru meraih ponsel yang ada di saku celananya. Kemudian dia menyalakan ponsel untuk mencari kontak Ayunda. Setelah ketemu Adrian langsung menekan tombol hijau pada ponselnya.
"Bagaimana, nak. Di angkat telepomnya?" tanya sang bunda dengan rasa khawatir.
"Belum bun", sahut Adrian yang tak kalah paniknya dengan sang bunda.
Sang ayah yang baru saja datang dari arah dapur, berlari memastikan berita yang dia dengar dari para karyawan yang sedang membicarakannya.
"Bagaimana, nak? Apa Yunda kita baik-baik saja?" tanya sang ayah dengan nafas yang memburu.
Baru saja Adrian akan menjawab sang ayah, sambungan telepon terhubung.
"Halo, Yunda... Yunda..." Adrian berulang kali memanggil nama Ayunda untuk memastikan Ayunda yang telah mengangkat teleponnya.
"Ya, kak. Ini Yunda!" seru Ayunda.
"Kamu tidak apa-apa kan?"
"Alhamdulillah, Yunda selamat kak", sahut Ayunda yang paham dengan kepanikan sang kakak.
"Syukur Alhamdullilah. Kalau begitu kamu hati-hati di sana ya, dek."
Setelah Ayunda menyahut ucapan Adrian dan memberi salam, mereka saling memutus sambungan telepon.
"Yunda tidak apa-apa, ayah, bunda", ucap Adrian saat baru saja memutus sambungan telepon.
"Syukur Alhamdullilah", sahut sang ayah dan bunda hampir bersamaan sambil menengadah.
__ADS_1