Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Kembali Ke Kampus


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Pagi hari yang cerah, mengawali hari Ayunda untuk kembali ke kampus Tri Karya. Ayunda sudah siap dengan segala perlengkapan kuliahnya. Saat ini dia sedang melangkahkan kakinya menuju lift bersama sang kakak.


"Pagi, Ay", sapa Conny tetangga mereka di lantai tujuh.


"Pagi, Kak", balas Ayunda dengan tersenyum ramah pada Conny. "Kakak mau berangkat kerja?" tanya Ayunda masih dengan tersenyum.


"Ya, Ay. Kamu mau ke mana?" tanya Conny sambil melihat penampilan Ayunda yang berbeda dengan kemaren malam.


"Mau ke kampus, Kak", balas Ayunda sambil melirik sekilas ke arah Conny, karena tiba-tiba teringat sesuatu, lalu mencarinya di dalam sakunya.


"Oo, sudah semester berapa?" tanya Conny kembali, dengan menyibakkan rambutnya yang terurai ke belakang telinga dan sesekali melirik Adrian.


Ting.


"Semester enam, Kak", balas Ayunda saat lift terbuka lebar, lalu mereka sama-sama melangkahkan kaki ke luar dari lift. Conny melirik ke arah Adrian yang terus melangkah mengabaikan perbincangan mereka.


"Kak, Conny!" panggil Ayunda saat melihat Conny termangu saat memandang punggung Adrian. "Kakak kenapa?" tanya Ayunda penuh selidik.


"Eh, bukan apa-apa..." ucap Conny menjeda ucapannya. "Kakak Kamu orangnya pendiam, ya?" tanya Conny yang sangat penasaran dengan Adrian.


Ayunda tidak langsung menjawab pertanyaan Conny. Dia hanya menatapnya dengan tersenyum, "kak Adrian bukan orang yang pendiam, Kak. Mungkin karena kalian belum dekat saja", sahut Ayunda membela sang kakak.


"O, berarti aku harus lebih dekat lagi dengan kakakmu", ujar Conny dengan tersenyum simpul.


"Ayunda!" panggil Adrian dengan sedikit berteriak, karena telah menunggu lama Ayunda, yang tak kunjung masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Maaf, Kak. Kak Adrian sudah memanggilku, aku harus ke sana sekarang!" seru Ayunda sambil berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Conny yang masih mematung. Ayunda langsung masuk ke dalam mobil setelah membuka pintu. "Maaf, Kak Adrian. Aku keasyikan ngobrol sama kak Conny", ucap Ayunda saat sambil memasang safetybelt di badannya.


Adrian hanya berdehem saat mendengar ucapan Ayunda, lalu melajukan kendaraan meninggalkan parkiran. Sorot matanya melirik sekilas ke arah Conny yang masih mematung di samping sebuah mobil berwarna merah, yang tak berhenti memandang mobil yang mereka kendarai.


***


Kurang dari dua puluh menit, Adrian sudah menepikan kendaraannya di gerbang kampus Tri Karya. Ayunda berpamitan pada sang kakak, lalu turun dari mobil.


"Nanti di jemput sama Tony, ya", ujar Adrian saat Ayunda sudah ke luar dari mobil.


"Siap, Kak!" seru Ayunda dengan meletakkan telapak tangannya di dahi, seperti memberi hormat.


Adrian tersenyum saat melihat tingkah sang adik, lalu dia melambaikan tangannya sambil menginjal pedal gas, meninggalkan gerbang kampus Ayunda.


"Ayunda!" teriak Reina saat baru saja Ayunda berbalik dan akan melanglahkan kakinya. Ayunda terpaksa harus membalikkan kembali badannya, menghadap Reina. "Tunggu, aku!" pinta Reina sambil berlari kecil. Lalu menggandeng tangan Ayunda saat langkahnya sudah sejajar dengan Ayunda.


"Sepertinya Kau sangat bahagia pagi ini?" tanya Ayunda penuh selidik.


"Wah, sahabatku sudah menjadi seorang motivator", ujar Ayunda dengan semangat.


Reina langsung membusungkan dadanya sambil menepuknya, "Reina gitu, lho!" sahutnya bangga.


Hahaha... tawa Ayunda pecah saat melihat sikap Reina yang tiba-tiba sombong. "Aku merasa iba dengan mas Tony", ucap Ayunda dengan berpura-pura sedih.


"Maksudnya apa, Ay?" tanya Reina penasaran.


"Coba bayangin, kalau mas Tony setiap hari mendengarkan kata-kata motivasi dari Kamu", sahut Ayunda.


"Ya, Bagus dong!" seru Reina.

__ADS_1


Ayunda menatap heran Reina sambil menggelengkan kepalanya, "semoga mas Tony tabah menghadapinya", ujar Ayunda yang membuat Reina terkekeh.


"Aku tak akan melakukan itu jika bersama mas Tony, Ay", sahut Reina dengan tersenyum. "O, ya, Kau sudah membuat laporan dari magang kemaren?" tanya Reina dengan wajah serius.


"Belum, nanti saja!" seru Ayunda sambil memandang sekeliling kampusnya. "Tidak ada yang berubah di sini", ucapnya saat menyusuri lorong kampus.


"Memangnya Kau ingin perubahan seperti apa?" tanya Reina yang juga ikut memperhatikan ke sekeliling kampus.


"Ya, barangkali di sana jadi ada ayunan atau taman bermain", ucapnya sambil menunjuk ke arah taman kampus.


"Hahaha... Kau aneh, Ay. Apa Kau pikir ini sekolah taman kanak-kanak", sahut Reina sambil tertawa. "Sudah jangan difikirkan lagi, lebih baik kita cepat masuk karena dosen kesayanganmu pasti sudah menunuggu!" seru Reina yang semakin mempercepat langkahnya, membuat Ayunda terseok-seok mengikuti langkah Reina yang berjalan menuju kelas mereka.


***


Di perusahaan Santoso Station seperti biasanya, kesibukan setiap karyawan tidak pernah ada hentinya. Bahkan wajah tampan dan cantik seringkali memperlihatkan kerutan di dahi mereka. Mereka harus meninggalkan sejenak semua masalah di rumah, untuk menyelesaikan masalah yang ada di kantor.


Saat ini seperti biasanya Ferdo mengadakan meeting dadakan. Setiap divisi di buat kelabakan olehnya. Ada yang mendesah kesal, bahkan ada yang menikmati kopinya, pasrah dengan keadaan. Selama meeting berlangsung dapat dipastikan divisi Marketing menjadi sasaran atas program baru yang tidak menunjukkan hasil signifikan.


Wajah-wajah menegangkan sangat terlihat jelas, ketika Ferdo berbicara memimpin rapat. Di akhir ucapannya, dia meminta pertanggung jawabannya pada semua divisi, serta menyerahkannya sebelum jam makan siang. Lalu Ferdo berjalan ke luar ruangan meeting dengan langkah lebar, tanpa senyum di wajahnya yang di ikuti oleh Adrian dari belakang.


Setelah Ferdo dan Adrian ke luar dari ruangan meeting, beberapa karyawan yang tinggal saling bergosip. Mereka membicarakan perubahan sikap yang tiba-tiba pada pimpinan mereka. Pada hal dalam dua bulan ini tidak pernah ada lagi meeting dadakan atau pun laporan yang seperti di mintanya tadi.


"Kenapa kalian masih di sini? Apa kalian tidak mendengar apa yang di minta pak Ferdo?" tanya Adrian yang tiba-tiba kembali masuk ke ruangan meeting.


"Maaf, Pak", sahut kepala divisi Marketing, lalu bergegas membereskan semua berkasnya yang ada di atas meja, di ikuti oleh karyawan lain yang masih berada di ruang meeting. Mereka langsung beranjak dari tempat duduk, dan berjalan ke luar ruangan meeting.


"Ingat! Sebelum jam makan siang!" seru Adrian mengingatkan kepala divisi, saat baru saja melewati ambang pintu.


"Ba- baik, Pak", balas sang kepala divisi dengan gugup. Lalu berpamitan pada Adrian sambil membawa berkas di tangannya.

__ADS_1


Ruang meeting telah kosong, setiap divisi sudah kembali ke meja kerja masing-masing. Tugas dari sang pimpinan, yang harus mereka kerjakan sebelum jam makan siang, seakan menjadi suatu ujian kelulusan. Setiap orang terlihat fokus di meja masing-masing, dengan jari jemari yang tak berhenti bergerak dan sorot mata yang berpindah dari monitor ke kertas di atas meja. Sungguh pemandangan yang sangat jarang terjadi.


To be continue...


__ADS_2