
Alfian berjalan melangkah menuju tempat Adrian dan Winda berdiri.
"Selamat ulang tahun saudara sepupuku", ucap Alfian sambil menjulurkan tangannya.
"Terimakasih." Winda menyambut uluran tangan Alfian dengan menyalaminya.
"Kenapa kemaren tidak datang ke bandara?" tanya Adrian yang membuat Alfian terdiam sesaat.
"Ada keperluan mendadak", jawabnya sekenanya.
Ayah Adrian yang sedari tadi menatap tidak suka kedatangan Alfian, akhirnya melangkahkan kaki menghampirinya.
"Untuk apa kau datang kemari?" tanya sang ayah dengan nada tak ramah. Spontan mereka bertiga menoleh ke sumber suara.
"Kenapa, yah? Alfian kan sahabat Adrian, dia juga saudara sepupu Winda", sahut Adrian sambil menatap sang ayah.
Sang ayah terdiam sesaat sambil menatap Alfian dan Winda bergantian. "Winda menantu ayah, tapi dia tidak punya hubungan apapun dengan ayah", ujar sang ayah yang tidak suka dengan Alfian sejak dia memutuskan menikah dengan wanita lain.
"Ayah.. Ayo, kita duduk dulu", ajak Adrian sambil menuntun sang ayah menuju meja yang tidak ada pengunjung. Alfian dan Winda pun mengikuti mereka, lalu duduk di kursi kosong.
Adrian menatap ke arah sang ayah. "Begini ayah..." Adrian menyela ucapannya. "Ayah bisa bebas saat itu karena adanya barang bukti yang menyatakan ayah tidak bersalah." Sang ayah menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Adrian. "Tapi ayah tidak tahu siapa yang sudah memberikan barang bukti itu."
Sang ayah menoleh ke arah Alfian, seakan menebak arah ucapan Adrian.
"Ya, ayah. Alfian terpaksa melakukan pernikahan yang sudah di atur oleh kakek Alfian, untuk mendapatkan bukti yang dimiliki papanya Siska."
"Jadi seperti itu, nak?" tanya sang bunda yang mendengar ucapan Adrian.
"Iya, bunda. Jadi tolong jangan salahkan Alfian karena telah meninggalkan Yunda kita."
Sang ayah masih tetap diam. Dia belum bisa menerima Alfian sepenuhnya, apapun itu alasannya.
Adrian pun tak bisa memaksa agar sang ayah mau menerima Alfian kembali. Dia berharap sahabatnya itu dapat membuat ayahnya kembali percaya padanya.
__ADS_1
***
Di tempat persidangan. Kakek Alfian yang ditemani Alfian dan mamanya Winda menghadiri persidangan kasus pembunuhan kedua orang tua Alfian. Mereka duduk dengan wajah serius saat sebuah rekaman dipertontonkan. Alfian mengepalkan tangannya sambil menatap tajam ke arah paman angkatnya yang telah tega menghilangkan nyawa saudaranya sendiri demi sebuah harta warisan.
Sang kakek yang duduk disebelah Alfian menatap paman angkatnya itu dengan serius, guratan diwajah dan tangan yang terus meremas tongkat ditangannya menunjukkan betapa marahnya dia saat ini. Namun tiba-tiba sang kakek tertunduk lesu, tak kala menyadari dia telah berbuat tidak adil padanya. Ada raut penyesalan di wajah sang kakek, setelah mengetahui alasan sebenarnya putra angkatmya itu melakukan perbuatan jahat itu.
Setelah mendengarkan para saksi dan melihat bukti-bukti yang ada, akhirnya sang paman di tuntut penjara seumur hidup. Persidangan pun ditutup. Semua yang hadir dipersidangan keluar dengan wajah lesu, tanpa terkecuali kakek dan Alfian. Meskipun hukuman itu setimpal dengan perbuatan paman angkat Alfian, namun mereka merasa sedih karena hal itu terjadi.
Pamannya itu di bawa petugas yang berwajib dengan tangan yang diborgol. "Aku tidak menyesal telah melakukan itu pak Tua", ujarnya saat melewati kakek Alfian.
Sang kakek terkesiap mendengar penuturannya. "Aku minta maaf jika selama ini aku tidak adil padamu. Tapi apa yang kau lakukan tetap salah, jadi bertaubatlah!" seru sang kakek saat paman angkat Alfian di bawa keluar oleh para petugas.
Alfian langsung memegang tangan sang kakek yang gemetar. "Ayo, kita pulang kek", ajak Alfian sambil menggandeng sang kakek dan menuntunnya jalan keluar.
Istri dan anak paman angkat Alfian memberi tatatapan tak suka pada mereka. "Kenapa kau tega menghukum suamiku, ayah mertua?" tanya istri dari sang paman.
"Kenapa paman tega membunuh papa dan mamaku, tante?" tanya Alfian dengan tatapan tajam.
Istri dari pamannya itu tertunduk lesu saat dia menyadari semua itu karena perbuatan suaminya sendiri. "Tapi kau bisa mengampuninya, tolong berikan dia hukuman yang ringan!" serunya.
***
Setelah dari ruang persidangan Alfian mendapat berita baik saat dihubungi oleh pihak rumah sakit. Siska yang selama ini koma sudah sadarkan diri. Bahkan Zahra pun sudah semakin membaik, hingga boleh di bawa pulang.
Alfian berlari menyusuri lorong rumah sakit. Dengan buru-buru dia menuju ruang inkubator. "Dimana Zahra, sus?" tanya Alfian saat tak melihat keberadaan Zahra.
"Sudah di bawa, pak", sahut sang suster.
"Dibawa kemana?" tanya Alfian kembali dengan rasa panik.
Sang suster tersenyum padanya. "Tenang pak, Zahra dibawa untuk disusui oleh ibunya", sahut sang suster sambil membereskan beberapa peralatan ditangannya.
"Oke sus. Terimakasih", ucap Alfian. Lalu dia beranjak dari ruang inkubator menuju ruangan Siska dirawat.
__ADS_1
***
Satu setengah tahun kemudian.
Ayunda dan Dafa sudah menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Bahkan mereka diterima di salah satu perusahaan ternama di kota itu
Hari ini adalah hari wisuda Ayunda, namun keluarganya tidak ada yang datang satu pun untuk melihatnya, karena sang kakak ipar sedang berjuang di ruang persalinan untuk melahirkan anak pertamanya.
Ayunda tidak merasa kecewa karena hal itu. Dia malah tidak sabar menanti kabar dari keluarganya tentang kelahiran dari keponakannya itu.
Setelah semua proses wisuda selesai dijalani Ayunda, dengan buru-buru Ayunda menghubungi keluarganya. Saat panggilan pertama tidak seorang pun yang menyahut. Ayunda kembali mencobanya sekali.lagi, namun hasilnya tetap sama. Dengan rasa was-was Ayunda mencoba menghubungi kembali.
"Assalamualaikum, nak", sahut suara bunda dari ujung telepon.
"Waalaikumsalam, bunda. Bagaimana proses persalinan kakak ipar, bunda?" tanya Ayunda dengan tidak sabar.
"Alhamdullilah, semua berjalan dengan lancar nak. Keponakanmu seorang laki-laki yang tampan dan sehat", ujar sang bunda dari seberang telepon.
"Bagaimana kabar kakak ipar, bun?"
"Alhamdullilah, kakak iparmu juga sehat. Sekarang si tampan sedang di azani kakakmu", sahut sang bunda.
"Selamat buat kakak ipar dan selamat datang buat cowok kecil yang tampan. Semoga menjadi anak yang saleh dan berbakti pada kedua orang tua. Tunggu kepulangan tante ya!" seru Ayunda dengan rasa bahagia.
Setelah perbincangan mereka selesai, mereka pun saling memutus sambungan telepon.
"Sepertinya kau bahagia sekali, Ay", ucap Dafa saat Ayunda baru saja menutup sambungan telepon.
Ayunda menoleh dengan tersenyum pada Dafa. "Kakak ipar baru saja melahirkan!" seru Ayunda dengan raut wajah bahagia.
"Wah, selamat kau sudah menjadi seorang tante", ujar Dafa dengan tersenyum.
"Terimakasih, Daf", ucap Ayunda masih dengan tersenyum. Dia masih terus membayangkan wajah imut keponakannya itu. Mirip siapa dia ya, tanyanya di dalam batin.
__ADS_1
"Ayo, kita foto disana", ajak Dafa pada Ayunda, hingga membuyarkan lamunannya. Namun langkah Dafa tiba-tiba terhenti.saat melihat sosok seorang wanita yang dikenalnya.