Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Ferdo Uring-uringan


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Setelah mengantar sang kakek ke bandara, Ferdo dan Adrian kembali ke mobil masing-masing. Selama di perjalanan Ferdo duduk di belakang bangku kemudi dengan menatap ke luar kaca jendela mobil. Pikiran dan perasaannya sedang kacau, karena sang kakek tidak menepati janjinya. Sama halnya dengan Adrian, matanya fokus menyetir tapi tidak dengan pikirannya. Dia masih memikirkan keanehan sikap sang kakek.


"Ada apa dengan kakek?" Adrian bergumam sambil membelokkan mobil saat berada di tikungan. "Apa ada yang mengancamnya?" Adrian masih bergumam. Lalu menepikan kendaraannya saat melihat Conny berdiri di trotoar jalan seorang diri.


Adrian menurunkan kaca jendela mobil, "mau ke mana?" tanya Adrian yang mendapat tatapan aneh dari Conny. "Apa Kau budeg?" tanya Adrian kembali dengan meledek Conny, karena Conny hanya diam mematung dengan menatap ke arah Adrian.


"Apa Kau benar-benar Adrian tetanggaku?" tanya Conny yang masih tak percaya dengan sikap manis Adrian.


Adrian langsung melajukan kendaraannya, karena kesal telah berbuat baik, tapi diacuhkan oleh Conny.


"Hei!" teriak Conny dengan rasa kesal, dia hanya bisa menatap mobil Adrian yang semakin menjauhinya. "Kenapa ada orang yang menyebalkan seperti dia?" ucapnya dengan menggerutu.


***


Setelah tiba di kantor Ferdo terlihat uring-uringan, bahkan ada beberapa acara baru yang terlambat tayang, karena belum mendapat persetujuannya. Tya sang sekretaris di buat kelabakan, karena harus mengatur ulang semua jadwal Ferdo.


"Ini, nih kalau punya bos yang punya temperamen gak stabil. Bawahannya pasti jadi sasaran kemarahannya", Tya bergumam sambil menggigit kertas di tanggannya dengan rasa kesal.


"Santoso Station tidak pernah memberi gaji yang rendah pada karyawan, sampai harus makan kertas!" seru Adrian tiba-tiba membuat Tya merasa gugup.


"Maaf, Pak. Sepertinya aku lagi numbuh gigi, jadi agak gatel", sahut Tya dengan cengiran kuda yang menampilkan gigi rapihnya.


"Ada-ada saja", ucap Adrian sambil berlalu meninggalkan Tya, lalu berjalan menuju ruangan Ferdo.


Ceklek.


Adrian membuka lebar pintu ruangan Ferdo, tanpa meminta izin masuk pada yang empunya.

__ADS_1


"Kena- ", ucapan Ferdo terputus saat tahu, Adrian yang masuk ke ruangannya.


Adrian berjalan menghampiri Ferdo, setelah menutup rapat pintu ruangan itu. "Aku tahu, Kau pasti masih kesal dengan keputusan kakek", ujarnya sambil duduk berhadapan dengan Ferdo. "Aku curiga, kakek menyembunyikan sesuatu", ucapnya dengan wajah serius.


Ferdo mengernyitkan keningnya, "maksudnya?" tanya Ferdo bingung.


"Kau itu cucu kakek sebenarnya gak, sih?" tanya Adrian dengan menatap kesal Ferdo. "Aku curiga kakek salah mengenali cucunya waktu itu!" ujar Adrian yang masih kesal pada Ferdo.


"Jangan berbelat-belit, katakan apa maksudnya!" sergah Ferdo dengan nada emosi.


"Apa Kau tidak merasakan, sikap kakek sungguh aneh?" tanya Adrian kembali yang di jawab dengan gelengan kepala oleh Ferdo. Adrian pun membuang nafas dengan kasar. "Kakek tidak mungkin memaksamu bertunangan dengan Siska, hanya karena ingin segera mendapat cicit", ucapnya yang membuat Ferdo diam dan mencoba memikirkannya.


"Kau benar", balas Ferdo dengan mengayunkan jari telunjuknya ke arah Adrian. "Kakek pasti bisa melihat dengan jelas bagaimana sikap Siska sebenarnya. Kakek tidak mungkin salah membuat keputusan", ujarnya sambil berdiri dan menghampiri Adrian. "Kau memang lebih memahami kakek dari pada aku", ucapnya kemudian yang sudah kembali tersenyum.


"Nah, ini baru Ferdo tampan yang aku kenal. Aku tidak mengenal orang sebelumnya yang tidak ada senyum di wajahnya.


Hahaha... Ferdo dan Adrian tertawa bersama, menghilangkan ketegangan yang membuat Ferdo harus memarahi siapa saja yang masuk ke dalam ruangannya.


Pintu pun terbuka lebar, saat Ferdo mengizinkan seseorang yang mengetuk pintu untuk masuk. Winda muncul dari balik pintu dengan tersenyum bahagia.


"Ferdo", panggilnya sambil menghampirinya. "Aku dengar Kau akan segera bertunangan dengan Siska", ucap Winda yang masih tersenyum. "Selamat, ya!" Winda menjulurkan tangannya memberi selamat pada Ferdo. Namun Ferdo tak menyambut uluran tangan Winda. Dia diam tanpa mengucapkan sepatah kata pada Winda. Winda pun menarik kembali tangannya. "Apa Kau tidak setuju dengan pertunangan ini?" tanya Winda yang menatap Ferdo dengan serius.


Ferdo berjalan tanpa menjawab Winda, lalu duduk di sofa yang di ikuti oleh Winda. "Kau tahu bagaimana sikap sepupumu itu, kan?" tanya Ferdo tanpa memandang Winda. Winda langsung tertunduk, dia tahu bahwa sepupunya itu sangat manja dan sedikit menyebalkan.


"Tapi dia bukan orang yang jahat, Fer. Aku bisa pastikan itu", ujar Winda membela sepupunya.


"Semoga Kau tidak sama seperti dia", ucap Ferdo sambil berdiri, lalu kembali ke kursi kebesarannya. "Maaf, aku sedang sibuk. Apa ada yang harus aku tanda tangan?" tanya Ferdo yang sudah memegang sebuah pena di tangannya.


Winda berjalan menghampiri meja kerja Ferdo dengan banyak pertanyaan di dalam benaknya, dia pun baru tersadar, jika Adrian sedari tadi ada di ruangan Ferdo. "Ini, Pak", ucapnya dengan melirik Adrian sekilas, sambil menyerahkan berkas di tangannya pada Ferdo. Lalu dia berpamitan setelah semua berkasnya telah di sign oleh Ferdo.


***

__ADS_1


Di kampus Tri Karya, para mahasiswa berhambur dari dalam kelas, setelah mata kuliah 3 sks selesai.


"Hampir saja bokongku ini menjadi rata, karena harus duduk hampir 3 jam", ujar Reina yang berjalan mundur sambil memegang bokongnya.


"Ada-ada saja. Bukannya memang sudah gitu dari sononya!" seru Ayunda sambil menggelengkan kepalanya.


"Ssttttt... jangan kuat-kuat, nanti ada yang dengar", ujarnya dengan meletakkan ujung jari telunjuknya di bibir.


"Hahaha... Kau terlambat mengatakannya. Itu mas Tony sudah mendengar semua", sahut Ayunda sambil melewati Reina yang masih mematung sambil menutup matanya. Lalu Reina membalikkan badannya.


"Eh, Mas Tony. A- apa kabar?" tanya Reina dengan sedikit gagap mencoba mengalihkan perhatian Tony.


"Baik", balas Tony dengan nada datar. "Saya permisi ya, Non", ucapnya kemudian sambil meninggalkan Reina yang tidak dapat berbicara banyak pada Tony.


"Kenapa aku sial hari ini. Gagal deh berduaan bareng mas Tony", Reina bergumam dengan wajah sendu, lalu berjalan menuju gerbang kampus.


"Reina, aku duluan, ya", ucap Ayunda sambil melambaikan tangannya, yang di balas dengan tersenyum getir oleh Reina sambil melambaikan tangannya. Reina terus memandang Tony yang hanya melihat Reina sekilas tanpa tersenyum padanya.


"Baru saja mulai dekat, sudah kandas", gumamnya sambil berjalan menuju mobil jemputannya.


***


Di suatu tempat seorang wanita yang terlihat sangat bahagia, sedang mengatur sebuah acara. Dia telah memesan EO terkenal di kota itu, dengan menjanjikan bonus yang banyak, jika acara sukses dengan sempurna.


Wanita itu melenggok menghampiri seorang pria yang baru saja masuk dengan mengenakan setelan jas, dan tersenyum bahagia padanya. "Selamat buat acara pertunangannya", ucapnya sambil memeluk wanita itu.


"Terima kasih", ucap wanita itu dengan membalas pelukannya. "Kau harus datang", tuturnya mengingatkan teman prianya itu.


"Baiklah", balasnya dengan tersenyum menggoda.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2