
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Semua mata memandang curiga saat Adrian menggandeng Ayunda ke luar dari dalam lift. Semakin Ayunda berusaha melepas tangan sang kakak, semakin Adrian mengeratkan genggamannya.
"Sekarang sudah jelas siapa Ayunda sebenarnya, pantes aja kak Nita dengan gampangnya di keluarkan. Cih, ternyata dia tak sepolos yang terlihat", bisik-bisik para karyawan yang memandang Ayunda sebagai wanita penggoda.
Adrian membalikkan badannya, menatap tajam para karyawan yang sedang bergosip ria. "Apa kalian tidak punya kerjaan!" sergahnya membuat para penggosip takut, lalu bergegas menuju ruangan masing-masing.
Ayunda menarik kembali tangan sang kakak, "mereka gak tau hubungan kita, Kak. Kalau saja mereka tau, mungkin mereka gak akan bergosip", tutur Ayunda lembut.
"Aku tak akan membiarkan siapa pun berbicara buruk tentangmu, aku akan segera membuat pengumuman!" ucapnya tegas.
Adrian mengantarkan Ayunda sampai di pintu ruangannya, lalu dia berjalan terburu-buru mendatangi ruangan lain. Setelah Adrian ke luar dari ruangan itu, sebuah pengumuman di sampaikan, status Ayunda di publikasikan ke seluruh karyawan.
Setiap karyawan yang mendengar pengumuman itu sontak kaget, para karyawan penggosip pun merasa takut karena telah berani membicarakannya dengan lantangnya.
Di ruangan yang berbeda, seorang pria menarik ke dua sudut bibirnya, saat pengumuman itu di dengarnya. Dia beranjak dari tempat duduknya, ingin mendatangi seseorang.
Ceklek...
Pintu terbuka sebelum Ferdo memegang handle pintu. Seorang wanita cantik muncul di hadapan Ferdo.
"Kejutan!" teriak wanita itu sambil tersenyum manis padanya. Lalu dia menghamburkan diri memeluk erat Ferdo. "Kenapa ekspresimu dingin sekali, apa Kau tidak merindukanku?" tanyanya dengan cemberut.
"O, hai Siska", ucapnya dengan nada datar sambil meringsut duduk di sofa.
"Penyambutan macam apa ini? Apakah aku bukan temanmu lagi?" tanyanya dengan kesal mengikuti Ferdo duduk di sofa.
Ferdo mengubah mimik wajahnya, "ehem, kapan Kau kembali dari Paris?" tanyanya basa basi sambil menyunggingkan sedikit senyuman.
Siska tersenyum lebar, "apa Kau merindukanku?" tanyanya kembali.
Ferdo tidak langsung menjawab, lalu dia mencubit kaku pipi Siska, "Aku curiga karena Kau tidak menemukan jodoh di sana, makanya Kau kembali!" ledeknya.
Siska menunjukkan sikap manja dengan memegang kedua tangan Ferdo, "jadi, Kau anggap aku ini wanita yang tidak laku, ya!" kesalnya.
Ceklek...
Adrian membuka pintu tanpa mengetuk. "Eh, maaf aku mengganggu", ucapnya sambil berbalik.
__ADS_1
"Adrian", panggil Siska saat Adrian membalikkan badannya.
Merasa di panggil, Adrian pun masuk kembali. "O, hai Siska. Kapan Kau kembali dari Paris?" tanya Adrian berpura-pura tersenyum.
"Pagi ini aku tiba di bandara, dari bandara aku langsung ke kantor Ferdo, ternyata dia tidak merindukanku", sahutnya dengan wajah sendu.
Adrian berjalan menghampiri Ferdo, "Dia selalu merindukanmu, kok", seru Adrian sambil mengedipkan matanya pada Ferdo.
Kau semakin mempersulit keadaan, batin Ferdo sambil menatap tajam Adrian.
"Aku sudah menduga, dia pasti hanya berpura-pura", seru Siska yang sudah tersenyum kembali. "Aku mau mengajak kalian makan siang", tuturnya dengan riang.
Adrian berdehem, "maaf, aku ada janji dengan seseorang", tuturnya sambil memandang ke arah Ferdo.
Dasar tidak setia kawan, batin Ferdo menggeram.
"Teman wanita?" tanya Siska curiga.
Adrian hanya membalas dengan anggukan.
"Wah, ternyata kami kalah cepat darimu. Aku mau berkenalan dengan wanita yang kurang beruntung itu", sahutnya.
Adrian menatap tajam Siska, "dia adik kandungku, jadi jangan coba menghina atau merendahkannya!" seru Adrian. "Permisi", ucapnya berlalu meninggalkan ruangan Ferdo.
Siska mengernyitkan keningnya, mencoba mengingat kata mana yang telah membuat Adrian marah. Dia merasa tak ada satu kata pun yang salah dari ucapannya.
"Sebaiknya Kau pulang saja dulu, hari ini aku masih ada meeting selepas makan siang. Aku tak ingin terburu-buru saat makan siang", tuturnya lembut.
Siska menganggukkan kepalanya, "baiklah, tapi besok Kau harus mengosongkan jadwalmu!" pintanya dengan sedikit memaksa.
"Aku gak janji, tapi akan aku usahakan", balasnya.
"Oke, tapi nanti malam aku ke rumahmu", seru Siska sambil beranjak dari sofa. "Bye", pamitnya sambil meninggalkan ruangan Ferdo.
Ferdo hanya membalas dengan tersenyum.
***
Setelah Siska ke luar dari ruangan Ferdo, dia berjalan melewati beberapa ruangan. Sorot matanya di alihkannya pada sebuah ruangan.
Brukk...
__ADS_1
Siska bertabrakan dengan seseorang di sudut sebuah ruangan, yang membuat Siska hampir saja terjungkal.
"Ma- maaf, Bu", ucap Ayunda sambil tertunduk.
Siska sangat kesal pada Ayunda, jika saja dia benar-benar terjatuh, pasti orang-orang akan mentertawakannya, meskipun tidak langsung di hadapannya.
"Kau, di pecat!" teriaknya pada Ayunda.
Para karyawan yang mendengar berbisik-bisik, membicarakan nasib Ayunda. Mereka ingin melihat siapa yang lebih kuat.
"Saya minta maaf, Bu", Ayunda memohon. Namun Siska semakin menggeram.
"Ada apa ini?" tanya Winda yang kebetulan lewat. "Siska", ucapnya saat Siska membalikkan badannya.
"O, hai Winda", sapanya basa-basi, karena dia tidak terlalu akrab dengan saudara sepupunya itu. Mereka sepupuan, karena mamanya Winda adalah adik perempuan papanya Siska.
"Aku merindukanmu", ucapnya sambil memeluk Siska. "Kapan Kau tiba di sini?" tanyanya saat sudah melepas pelukannya.
"Pagi ini", jawabnya dengan datar.
Lalu Winda melihat Ayunda berdiri mematung dengan wajah gugup. "Ayunda sini", pintanya. "Kenalkan Siska, ini Ayunda adik kandung Adrian", tuturnya memperkenalkan Ayunda pada Siska.
Siska terbelalak tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan Winda. Padahal dia telah memecat Ayunda, dan gak mungkin harus menarik kembali ucapannya, mau di taruh di mana mukanya. "Apa Adrian yakin, ini adiknya?" tanya Siska.
"Ya, mereka juga sudah tinggal bersama", sahut Winda.
"Meskipun Kau adiknya Adrian, tapi Kau gak boleh sesuka hati. Kalau jalan perhatikan ke depan, jangan suka tebar-tebar pesona di sini", seru Siska agar imagenya tidak jatuh di mata para karyawan yang telah mendengarkannya memecat Ayunda.
Ayunda membalas dengan anggukan. Lalu berpamitan pada Winda dan Siska, karena tak ingin jam makan siangnya melebihi jam yang sudah di tentukan.
Mereka pun mengizinkan Ayunda berjalan lebih dulu.
"Kita sudah lama gak bertemu, aku mau mengajakmu makan siang", tutur Winda sambil tersenyum
Siska muak dengan perlakuan manis Winda, "Hmm... lain kali aja, ya. Aku buru-buru", tolaknya. Lalu dia beranjak setelah berpamitan pada Winda.
Winda masih setia mematung sambil memandang punggung Siska yang semakin menjauh. "Kapan kita bisa menjadi lebih akrab Siska?" gumamnya.
Winda pun melanjutkan langkahnya menuju kantin kantor, sambil memikirkan cara agar dia bisa lebih dekat lagi dengan Siska.
*
__ADS_1
*
Bersambung...