
Reina menghela nafas lega saat Alfian dapat menenangkan tamu dari negeri sakura itu.
Alfian berjalan menghampiri Reina sambil menatap wajah pucatnya. "Sepertinya kamu butuh kursus bahasa jepang!"
Reina membalas dengan tersenyum canggung. "Ha, iya ya pak", ujarnya ragu. Bagaimana tidak, sedangkan bahasa inggrisnya saja pas-pasan.
"Kamu cari tempat kursus yang buka untuk malam hari, saja", saran Alfian.
Hah... Ternyata pak Alfian serius, batin Reina.
"I- iya pak. Nanti saya cari", sahutnya. Yang penting cari aman aja dulu, batinnya.
"Oke, saya tunggu kabarnya dalam minggu ini."
"Apa!" pekik Reina yang mengira Alfian tidak akan memberikan batas waktu baginya.
"Kenapa? Gak sanggup?" tanya Alfian dengan tatapan serius.
"Sanggup, pak!" jawab Reina dengan cepat.
"Bagus kalau begitu", ucap Alfian sambil beranjak meninggalkan Reina yang duduk di balik meja kerjanya dengan rasa cemas. Dia pun membuka pintu ruangannya dan menutupnya setelah berada di dalam. Alfian melangkahkan kakinya berjalan menuju kursi kebesarannya. "Bagaimana kabar Zahra, ya", ucapnya bergumam saat bokongnya menempel di kursi.
Alfian merogoh saku celananya dan menarik keluar benda pipih berwarna hitam itu dari dalamnya. Setelah menyalakan benda pipih yang berada dalam genggamannya, Alfian langsung menscroll nama kontak yang akan dihubungi.
Tut. Tut.
Nada sambung terhubung, Alfian pun menunggu seseorang yang sedang dia hubungi mengangkat teleponnya. Namun orang tersebut tidak mengangkat telepon darinya meskipun dia mencobanya berulangkali. Dengan perasaan gusar, Alfian beralih menghubungi melalui resepsionis.
Sang resepsionis mengangkat telepon darinya.
"Hallo, selamat sore. Ada yang bisa.dibantu?" ucap sang resepsionis dengan ramah diseberang telepon.
"Sore sus. Bisa disambungkan dengan dokter Rizal", sahut Alfian berterus terang.
"Maaf ini dengan bapak siapa?" tanya sang resepsionis.
"Alfian."
"Baik pak Alfian. Mohon di tunggu sebentar", ujar sang resepsionis dengan menekan tombol menunggu, hingga Alfian hanya bisa mendengar nada tunggu.
Tak lama kemudian sang resepsionis menghentikan nada tunggu.
"Hallo pak Alfian." Tiba-tiba suara sang resepsionis kembali didengar Alfian.
"Ya, saya sus."
"Mohon maaf sebelumnya pak. Dokter Rizal sedang ada pasien emergency. Jadi beliau tidak bisa di ganggu untuk saat ini", ucap resepsionis masih dari seberang telepon.
"Oke, terimakasih sus."
"Baik, ada pesan atau butuh bantuan lainnya pak Alfian?" tanya sang resepsionis.
__ADS_1
"Tidak, terimakasih."
"Oke, terimakasih kembali pak", sahut sang resepsionis. Lalu telepon pun terputus.
Alfian menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, menatap kosong kesembarang arah.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Alfian. "Masuk", ucap Alfian seraya membenarkan posisi duduknya.
"Permisi pak", ujar Reina dengan sopan, lalu berjalan masuk menghampiri meja kerja Alfian.
"Ya, ada apa?"
Reina menjulurkan tangannya sambil menyodorkan berkas ke hadapan Alfian. "Ini dokumen untuk bahan meeting besok, pak", ujarnya.
Alfian langsung meraih dokumen itu. "Apa ini sudah lengkap?" tanyanya sambil membolak balik dokumen dalam map berwarna biru itu.
"Sudah, pak", sahut Reina dengan percaya diri.
"Bagus", ucap Alfian sambil meletakkan dokumen ditangannya di atas meja. "Ada lagi?"
"Tidak, pak. Saya permisi pulang lebih dulu, pak", sahut Reina berpamitan, karena jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"Oke", sahut Alfian singkat.
Sepeninggal Reina, Alfian kembali menyandarkan tubuhnya sambil memikirkan sesuatu yang sedari tadi membuatnya gelisah.
***
Langit mendung kota London seakan menemani hati sendu Ayunda yang sedang menatap ke luar jendela taxi online tumpangannya. Hampir 17 jam lamanya dia melakukan perjalanan, namun tak sedikit pun dia merasa tenang. Pikirannya berkecamuk atas sebuah fakta yang dia dengar dari sang kakak, yang menyatakan bahwa pernikahan Alfian tidaklah sah.
Semakin Ayunda memikirkannya, maka semakin kuat keinginannya untuk kembali pada Alfian. Namun di satu sisi, dia tak ingin mengecewakan Dafa. Pria yang selalu menemani bahkan menjaganya dengan baik.
"Kenapa dari tadi murung?"tanya Dafa memecah keheningan di antara mereka.
"Ehm, bukan apa-apa. Hanya sedikit lelah saja", ujarnya sambil tersenyum.
"O... Kirain sedih karena memikirkan seseorang", tebak Dafa yang membuat Ayunda tersentak.
"Maksudnya?" tanya Ayunda sedikit gugup sambil menoleh ke arah Dafa.
"Kamu kan baru saja berjumpa dengan keluargamu, tapi sudah harus balik lagi ke London. Barangkali kamu sedih karena itu."
Ayunda terdiam sesaat, karena merasa makna perkataan Dafa sebelumnya bukanlah itu. "O, gitu ya", ujar Ayunda dengan tersenyum.canggung. "Tapi aku memang memikirkan mereka juga", ucapnya sambil menoleh ke luar kaca mobil.
"Kenapa kita jadi melow gini", ucap.Dafa untuk mengubah suasana. "Ayo, semangat. Tunjukkan pada keluarga kita, kesuksesan yang bisa kita dapat nanti", ujarnya sambil mengepalkan tangannya.
Ayunda menoleh dengan tersenyum pada Dafa. "Semangat!" balasnya.
***
__ADS_1
Siang ini di restoran bundo sedang ramai pengunjung yang mengenakan seragam.
"Ada acara apa?" tanya pengunjung lain yang tidak dalam satu tim.
"Ulang tahun atasan mereka", sahut seorang pelayan wanita saat baru saja meletakkan makanan pesanan orang tersebut.
"Oo, berarti kantor mereka kosong dong", ucapnya kemudian yang membuat pelayan wanita itu tersenyum.
"Pasti mereka sudah memperhitungkan hal itu", ujarnya.
"Bu Winda", panggil seorang yang mengenakan seragam padanya.
"Ya", sahut Winda sambil menghampirinya.
"Kenapa bu Winda yang harus jadi pelayan?" tanya seseorang yang telah memanggil Winda. "Biar saya aja yang gantikan tugas ibu", ujarnya menawarkan diri.
Winda menarik salah satu kursi yang kosong. "Boleh, asal kau juga yang membayar semua makanan ini", sahut Winda yang membuat orang tersebut tersedak saat mendengar perkataan Winda. "Sudah... Nikmati saja makanannya", ucap Winda dengan santai, lalu dia meninggalkan para bawahannya itu.
Pengunjung yang sempat dilayani Winda melongo saat mengetahui Winda adalah atasan pengunjung berseragam itu.
"My hubby", sapa Adrian sambil merangkul pinggang istrinya itu.
Winda mendongak menatap Adrian. "Ya, my hubby", sahut Winda dengan tersenyum.
"Apa kau suka dengan acara ulang tahunmu ini?" tanya Adrian.
Winda mengangguk dengan cepat. "Yes... Thank you, my hubby."
"Baguslah kau suka", ucap Adrian dengan mencium kening Winda.
Ehem... Ehem...
Seseorang berdehem saat melihat kemesraan Adrian dan Winda. "Amboi, pengantin baru. Lagi anget-angetnya!" seru orang tersebut sambiil tersenyum.
"Potong gaji!" ancam Winda pada orang yang tak lain adalah anak buahnya sendiri.
"Jangan bu Winda. Maaf, tadi cuma bercanda", ucapnya memohon.
Winda pun tertawa saat melihat ketakutan anak buahnya itu. "Makanya lain kali jangan usil", ujar Winda.
"Ya, bu. Tidak lagi!" sahut orang itu sambil mengangkat dua jarinya membentuk huruf v.
"Oke, kembali dan nikmatiah makanannya."
"Terimakasih,.bu", sahut orang tersebut, lalu beranjak meninggalkan Adrian dan Winda.
Adrian mencubit gemas hidung Winda. "Kamu tu, ya. Sudah mulai usil", ucap Adrian sambil tersenyum. Winda pun membalasnya dengan tersenyum.
"Alfian!" panggil Winda pada Alfian yang baru saja masuk ke dalam restoran. Suara lantang Winda saat memanggil Alfian berhasil menarik perhatian sang ayah, hingga sang ayah menoleh untuk melihatnya.
"Untuk apa dia kemari", ucap sang ayah bergumam.
__ADS_1