
Ayunda berjalan masuk ke dalam ruang 211 yang pintunya sedang terbuka lebar itu. Suara heels Ayunda yang beradu dengan lantai mengusik perhatian Alfian dan Siera yang berada di dalam ruangan itu hingga mereka menoleh hampir bersamaan.
"Honey..." panggil Alfian seraya bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri Ayunda.
Abian dan Siera terkesiap saat mendengar sebutan panggilan Alfian barusan.
"Bagaimana kabar Ara, han?"
"Sedikit membaik. Tadi malam trombositnya turun drastis. Aku panik, dan harus mencari beberapa kantung darah", sahut Alfian sembari menuntun Ayunda duduk. Abian pun mengikuti mereka.
"Ara sakit apa, han?"
"Demam berdarah, han", jawab Alfian lesu.
Ayunda terkesiap mendengar perkataan Alfian. "Kasihan Ara", ucapnya lirih. Lalu dia bangkit dari tempat duduknya dan berdiri tepat di sisi ranjang Ara. "Jadi sekarang, apa trombositnya sudah normal?"
"Sudah, han."
Siera yang sedari tadi duduk diam menatap sinis interaksi keduanya. "Aku cari makanan di bawah sebentar", ucapnya memotong perbincangan Ayunda dan Alfian.
"Oke", jawab Alfian.
"Apa honey sudah makan?" tanya Ayunda dengan lembut.
"Belum han."
"Kalau begitu aku belikan makanan di bawah sebentar."
"Oke, honey", balas Alfian dengan tersenyum.
Ayunda langsung beranjak dari posisinya, lalu dia berjalan ke luar ruangan meninggalkan Abian bersama dengan Alfian.
Setelah Ayunda bena-benar keluar dari ruangan itu. Alfian mulai menyapa Abian yang sedari tadi diam. "Ada meeting dengan Yunda, bro?"
"Bukan... Tadi kebetulan ada urusan di dekat kantor Yunda, jadi sekalian singgah."
"Owh, gitu. Tapi kenapa sekalian ke rumah sakit juga?" ledek Alfian yang membuat Abian mulai kesal.
"Keponakan Yunda sakit, jadi sekalian deh."
"Bro Abian ini rekan bisnis yang top deh. Jarang ada rekan bisnis yang sepeduli itu."
"Saya dan Yunda itu bukan hanya sekedar rekan bisnis. Kita adalah sahabat."
Alfian menautkan kedua alisnya. "Saya sebagai calon suaminya Ayunda tidak suka calon istri saya punya sahabat seorang laki-laki!" tukasnya.
__ADS_1
Abian terkesiap mendengarnya. "Jadi kalian akan menikah?"
"Menurut bro Abian?"
Abian tak mampu membalas ucapan Alfian. Dia langsung berpamitan dan meninggalkan ruangan itu dengan hati kecewa.
...---...
Di taman rumah sakit tampak orang-orang berkerumun, karena sesuatu sedang terjadi.
"Lepaskan Sherly", pinta Ayunda dengan lirih.
"Tidak akan! Kau pantas menghilang selamanya dari muka bumi ini!" seru Sherly dengan suara lantang.
Ayunda merasa kesakitan, karena sebilah pisau mengenai.kulit lehernya hingga mengeluarkan cairan merah itu.
Siera yang telah mengajak Ayunda ke taman dengan alasan ingin membicarakan sesuatu, hanya terdiam menyaksikan perbuatan Sherly.
"Siera... Tolong aku", pintanya dengan memelas, namun Siera seakan merasa dirinya beruntung. Niat sebenarnya adalah untuk meminta Ayunda menjauhi Alfian. Kini Ayunda menjadi tawanan Sherly.
"Aku akan memanggil Alfian", ujarnya berbohong seraya meninggalkan tempat itu.
"Jangan pergi!" pinta Ayunda dengan memohon.
"Jangan ribut! Ayo jalan!" desak Sherly dengan mendorong tubuh Ayunda ke depan.
Sherly seakan merasa puas saat mendengar teriakan Ayunda yang sedang kesakitan. Dia pun meremas rambut Ayunda, lalu menariknya dengan kuat. "Ini semua karena ulahmu sendiri! Jika saja kau benar-benar menjauhi Dafa, semua ini tak akan terjadi," ucapnya dengan emosi.
Bruk.
Tendangan tepat pada sisi kiri Sherly saat Sherly sedang lengah berhasil menjatuhkan senjata tajam ditangannya. Ayunda dan Sherly jatuh bersamaan. Hampir saja Sherly memungut kembali senjata tajam itu, namun Polisi tiba di tempat itu dan langsung menahan Sherly.
Abian, pria yang telah menendang Sherly tadi langsung bergegas menggotong tubuh Ayunda dan membawanya ke ruang IGD.
Emosi Siera semakin membara kala mengetahui Ayunda selamat dari ancaman Sherly. Dengan kesal dia melempar sembarang secangkir kopi panas ditangannya.
Aaaaa... Teriak seorang ibu yang kena tumpahan kopi panas Siera. "Dasar wanita gila!" teriak sang ibu seraya menarik kasar rambut Siera. Tak ingin di anggap lemah, Siera pun membalas dengan menarik kasar rambut wanita itu. Akhirnya mereka terjatuh ke lantai dan menjadi tontonan semua orang yang berada di kantin itu.
"Mana satpam rumah sakit ini?" teriak seorang pria.
Tiba-tiba satpam rumah sakit datang dan melerai perkelahian dua wanita itu. Lalu membawa mereka ke bagian keamanan.
...---...
Di depan pintu ruang IGD Abian menanti kabar Ayunda. Tiba-tiba perawat keluar.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Ayunda, sus?"
"Pasien wanita yang kena sandera tadi?" tanya sang perawat seraya melihat pakaian Abian penuh noda merah.
"Iya, sus", jawab Abian dengan cepat.
"Kondisinya sudah stabil. Memang tadi dia butuh 1 kantong darah, karena banyak darahnya yang keluar."
"Syukurlah dia tidak kenapa-napa. Apa dia sudah bisa di jenguk, sus?"
"Nanti, setelah dipindahkan ke ruang perawatan ya, pak", balas sang perawat dengan ramah.
"Baik, sus."
Tak berselang lama Alfian datang. "Bagaimana keadaannya?" tanya Alfian dengan panik.
"Jangan kuatir, kondisinya sudah mulai stabil."
"Syukurlah tidak sampai membahayakan Yunda."
"Bagaimana dengan Zahra? Siapa yang menjaganya di sana?"
"Kebetulan pengasuh Zahra datang. Makanya aku buru-buru datang ke sini."
"Owh iya, mumpung ingat ni bro. Aku cuma mau mengingatkanmu tentang wanita yang tadi ada bersamamu."
Spontan Alfian menoleh ke arah Abian. "Maksud bro Siera?"
Abian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Dia itu wanita yang sangat licik", ujarnya yang membuat Alfian mengkerutkan keningnya. "Di tempat kejadian Siera berkata pada Yunda akan meminta tolong padamu, namun aku melihat dan mendengar apa yang dia ucapkan."
"Apa yang dia katakan?" tanya Alfian dengan tidak sabar.
Abian melangkahkan kakinya berjalan menuju kursi tunggu. "Siera berbelok arah menuju kantin dan mengatakan seperti ini, biarkan Sherly yang melakukan tugasku, jadi aku tidak perlu repot meminta Ayunda menjauhi Alfian. Itu yang aku dengar", ucapnya saat berhasil duduk di kursi tunggu.
Alfian yang sedang duduk di samping Abian mulai resah. Dia pun mendengus kasar kala mengingat perbuatan saudara angkatnya itu. "Sebenarnya dia itu saudara angkatku, tapi dia meminta pada kakek agar aku mau menikahinya."
Abian menggelengkan kepalanya. "Meskipun dia saudara angkatmu, tapi setidaknya kalian punya ikatan saudara. Kenapa dia meminta hal aneh itu?"
"Dia terobsesi dengan kekayaan. Sejak paman di penjara semua kemewahan yang selama ini bisa dia nikmati perlahan hilang, makanya dia ingin menikahi pria kaya."
"Ternyata ada juga orang yang berfikiran seperti itu."
"Pasti ada. Dia salah satunya. Tapi kalau bro Abian berkenan untuk menjadikannya istri, saya orang pertama yang akan menyetujuinya."
Abian bergidik ngeri mendengar perkataan Alfian barusan. "Walau Yunda menolakku, tapi aku tidak sefrustasi itu untuk menerima sembarang wanita."
__ADS_1
Alfian pun tertawa melihat ekspresi Abian. "Dia gak menggigit lo, bro. Coba aja dulu, mana tahu kalian cocok", rayu Alfian yang membuat Abian semakin kesal. Dia langsung beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Alfian yang masih tertawa meledek.