
Alfian muncul dari balik pintu.
"Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk!" sergah Winda yang kesal karena Alfian telah membuatnya kaget.
"Bukankah itu adalah kebiasaanmu", ujar Alfian mengingatkan Winda. Dia tidak ingin disalahkan oleh sang kakek karena ketidaksopanannya.
"Ada apa kau kemari?" tanya sang kakek yang tidak ingin kedua cucunya itu semakin memperbesar masalah mereka.
Alfian langsung berjalan mendekati sang kakek. "Papanya Siska sudah di tangkap, kek!" seru Alfian yang membuat Winda merasa sedih. Meskipun dia tidak terlalu akrab dengan sang paman, tapi jika ada masalah yang menimpa pamannya itu dia tetap saja khawatir.
"Tapi apa kesalahannya, kek? Kenapa bapak mertua Alfian ditangkap?" Alfian terus bertanya saat sang kakek belum memberikan sebuah penjelasan padanya.
"Dia bukan mertuamu!" seru sang kakek dengan terbatuk, karena kerasnya suara sang kakek membuat kerongkongannya terasa sakit.
Alfian mengernyitkan keningnya. "Kenapa, kek?" tanyanya. Namun sang kakek tidak langsung menjawabnya, karena batuknya masih terus berlanjut.
Winda mengambil alih degan berdehem. "Karena pernikahan kalian itu tidak sah", sahut Winda yang membuat Alfian tersentak kaget.
"Tidak sah?"
"Iya", jawab Winda. "Penghulu yang menikahkan kalian itu penghulu gadungan, dan buku nikah kalian juga palsu", ujarnya kemudian.
Alfian mengusap kasar rambutnya. Di satu sisi dia senang karena pernikahannya itu tidak sah, tapi disisi lain dia merasa berdosa karena telah mempermainkan ikatan suci pernikahan.
Setelah batuk sang kakek mulai hilang, dia pun menceritakan permasalahan yang sebenarnya terjadi. Dimulai dari keterlibatan papanya Siska dalàm memanipulasi data keuangan perusahaan yang ada di Paris, bahkan kebohongan yang dilakukan oleh Siska atas perbuatan yang tidak pernah dilakukan Alfian sama sekali. Kini sang kakek sedang menyelidiki anak angkatnya yang sudah dia berikan kepercayaan mengelola perusahaannya di Paris. Sudah ada beberapa bukti yang sang kakek kumpulkan. Setelah semua bukti terkumpul barulah dia akan melaporkan putra angkatnya itu.
Alfian mengangguk-anggukkan kepala setelah sang kakek menceritakan semuanya dengan jelas. Namun tiba-tiba dia merasa sedih, karena mengetahui bahwa bayi cantik mungil itu bukanlah putri kandungnya. Padahal Alfian sudah memberinya nama Santoso dibelakang namanya.
"Apa kakek sudah boleh pergi?" tanya sang kakek sambil menatap kedua cucunya yang sedang termenung. Tanpa menunggu jawaban dari Alfian dan Winda, sang kakek bangkit dari sofa lalu berjalan menuju pintu dengan dituntun sang pengawal.
"Eh, kakek mau kemana?" tanya Winda dan Alfian hampir bersamaan.
__ADS_1
"Pulang", jawab kakek dengan singkat.
Alfian dan Winda pun langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu merekq berjalan menghampiri sang kakek.
"Ayo, kek. Biar Winda yang antar", ujar Winda sambil memegang lengan sang kakek. Alfian pun melakukan hal yang sama. Mereka berjalan keluar bersama-sama.
***
Di rumah sakit.
Semua alat pendukung pernafasan Siska masih terpasang ditubuhnya. Detak jantungnya normal terlihat pada monitor ICU.
Alfian dan Winda berdiri di tepi ranjang Siska saat baru saja mengantar sang kakek ke bandara. Winda menatap nanar saudara sepupunya yang sedang terbaring tak berdaya.
"Kenapa bisa jadi seperti ini?" ujar Winda yang tak menyangka hidup saudara sepupunya itu akan menjadi sangat kacau. "Sudah aku katakan berulangkali jangan terlalu obsesi pada Alfian.", ucapnya lirih sambil duduk di tepi ranjang Siska. "Ayo, bangunlah. Putri kecilmu sudah menunggu untuk kau gendong." Winda mengusap lembut wajah pucat Siska. "Ayo, peluk dia. Jangan biarkan dia menangis." Winda terus berbicara sambil menatap Siska. Bulir kristal yang sedari tadi membendung dipelupuk mata Winda, kini jatuh bebas membasahi pipinya.
"Aku keluar sebentar", ucap Alfian saat ponselnya berbunyi. Lalu dia berjalan menuju pintu, meninggalkan Winda yang masih terisak-isak.
"Assamualaikum my hubby", sapa Adrian sambil berjalan perlahan menghampiri Winda.
"Waalaikumsalam my hubby", balas Winda dengan suara lirih sambil mengusap lembut sisa air mata dipipinya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Adrian saat sudah berdiri di sisi kanan Winda, lalu dia menatap Siska yang masih terbaring kaku.
"Masih sama", sahut Winda dengan mendongakkan kepalanya.
"Kamu sabar ya my hubby. Serahkan semua sama Allah", ujar Adrian lembut sambil menepuk pundak Winda.
***
Hari berganti hari terasa semakin cepat berlalu, namun Siska masih belum juga sadarkan diri. Winda menatap nanar langit langit kamarnya. Besok adalah hari yang sangat istimewa baginya. Hari pernikahannya dengan Adrian.
__ADS_1
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Winda. Dia pun langsung beranjak dari tempat tidur, lalu membuka pintu kamarnya. "Mama", ucapnya saat pintu sudah terbuka lebar.
"Mama gak bisa tidur", ucap sang mama yang baru datang 2 hari lalu. Setelah hari pernikahan Winda ditentukan, sang kakek pun mengizinkan mamanya Winda untuk menghadiri acara pernikahannya.
"Ayo, masuklah ma", ajak Winda sambil menggayut manja tangan sang mama, lalu menutup rapat pintu.
"Sudah lama kita tidak tidur bareng ya", ujar sang mama sambil berjalan bersama Winda menuju tempat tidur.
"Jadi ceritanya mama datang kesini hanya karena pengen tidur bareng aja", sahut Winda sambil berpura-pura cemberut.
Sang mama langsung mencubit hidung mancung Winda. "Kamu ini, ya", ucap sang mama dengan mata memerah. Dia mengira tidak akan bisa menghadiri pernikahan putri satu-satunya itu, karena peristiwa naas yang hampir saja membuat nyawanya melayang. Jika saja orang suruhan kakek Winda tidak segera menolongnya.
Winda dan sang mama sama-sama berbaring di ranjang. Mereka kembali mengenang kisah masa lalu, dikala merasakan bahagia bahkan susah hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Sang mama membujuk Winda yang masih ingin bercerita untuk segera tidur, agar wajahnya tetap segar esok hari.
***
Waktu menunjukkan pukul 4 subuh. Adrian baru saja mendapat telepon dari sang adik yang menyatakan bahwa dia sudah tiba di bandara Internasional. Kemudian Adrian menghubungi Alfian, dia meminta sahabatnya itu untuk menjemput Ayunda di bandara. Adrian merasa lega karena tak ada sedikit pun penolakan dari Alfian, sahabatnya itu langsung menyanggupinya.
Alfian bergegas keluar dari apartemennya, dengan menaiki lift dia menuju parkiran mobilnya. Disepanjang perjalanan menuju bandara, Alfian terus membayangkan reaksi Ayunda padanya. Dengan tersipu dia menatap spion dalam mobilnya. Wajah bangun tidurnya masih terlihat tampan meskipun tanpa dibasuh.
Alfian menyalakan radio di dalam mobil. Namun tidak ada siaran pun yang berhasil dia tangkap. Lalu dia beralih ke usb yang masih menempel. Lagu pertama sekali yang diputar seakan menggambarkan perasaan Alfian saat ini. Rasa rindu pada seseorang yang terhalang oleh jarak.
Tanpa terasa Alfian sudah berada diparkiran bandara. Dia langsung keluar dari dalam mobil sambil merapikan jaket jeans yang sedang dia kenakan. Lalu melangkahkan kakinya menuju tempat penumpang yang baru tiba.
"Hai, Yunda", sapa Alfian saat baru saja berdiri dihadapan Ayunda yang sedang duduk dikursi tunggu sambil memakai headset.
Ayunda terkesiap saat melihat Alfian berdiri dihadapannya. Dengan canggung dia bertanya pada Alfian. "Mau jemput seseorang, kak?" tanya Ayunda dengan sedikit gugup.
"Ya. Mau jemput kamu", sahut Alfian dengan tersenyum.
__ADS_1
"Oh, gitu", ucap Ayunda sambil menyimpan headset yang baru saja dia lepaskan. Lalu dia bangkit dari tempat duduknya. "Yuk, Dafa", ajaknya pada Dafa yang sedari tadi duduk disamping Ayunda, namun karena Alfian fokus pada Ayunda dia tidak memperhatikan keberadaan Dafa. Dengan sedikit perasaan kecewa Alfian berjalan di depan Ayunda dan Dafa.