
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Jam kerja telah usai, seperti biasanya Adrian selalu mendatangi ruang kerja Ayunda. Tak ketinggalan para wanita pengagum Adrian, sudah siap dengan cermin masing-masing untuk memperbaiki riasan mereka. Sedangkan Ayunda hanya tersenyum melihat para penggemar sang kakak.
"Ayo, Kak!" ajaknya pada sang kakak. Lalu mereka berjalan bersama menuju lift.
"Hai, Kak Winda." Ayunda menyapa Winda saat mereka akan sama-sama masuk ke dalam lift.
Winda tersenyum ramah pada Ayunda, "Ya, Ay", sahut Winda. Lalu dia melirik ke arah Adrian, namun Adrian hanya menatap ke depan, mengabaikan Winda yang terus memandangnya. Ayunda memperhatikan sikap sang kakak yang terkesan dingin pada Winda.
"Kak Winda, apakah Kakak sibuk akhir pekan ini?" tanya Ayunda.
"Ehm... gak ada yang begitu mendesak, sih. Memangnya ada apa, Ay?" tanya Winda.
Ayunda tersenyum mendengar ucapan Winda, "Berarti Kakak bisa datang ke rumah, dong", sahut Ayunda.
"Aku usahakan, ya", tutur Winda.
"Harus datang, Kak!" pinta Ayunda dengan sedikit memaksa. "Bunda ulang tahun, jadi Kakak harus datang ya", tuturnya dengan tersenyum.
"Baiklah, aku akan datang. Tapi, apakah aku bisa membawa teman?" tanya Winda.
Ehem...
Adrian berdehem, membuat Ayunda dan Winda menghentikan obrolan mereka, lalu beralih memandang ke arah Adrian.
Ting...
Lift terbuka tepat di basement. Adrian langsung berjalan ke luar mengabaikan Ayunda dan Winda.
"Ay, sepertinya Adrian tak suka jika aku membawa teman", bisiknya pada Ayunda, namun bisikannya itu masih dapat di dengar oleh Adrian.
Adrian menghentikan langkahnya, "Jangan suka membicarakan orang di belakangnya", seru Adrian tanpa menoleh. Kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju mobilnya di parkir.
Ayunda dan Winda saling memandang, ketika mendengar ucapan Adrian.
A few moments later.
Hahaha... suara tawa mereka pun pecah, memenuhi basement.
Tit...tit.
__ADS_1
Adrian membunyikan klakson mobilnya, saat mobil berhenti tepat di depan Ayunda dan Winda.
Ayunda mengucek kesal telinganya, "Kakak, kenapa harus membunyikan klakson?" tanyanya dengan wajah cemberut, namun tak ada jawaban sama sekali dari sang kakak. Lalu dia masuk ke dalam mobil, tanpa menunggu sang kakak memintanya masuk. "Kak Winda, jangan lupa datang akhir pekan ini, ya", pintanya sambil tersenyum saat sudah berada di dalam mobil.
"Oke, Ay", balas Winda, namun mobil yang di tumpangi Ayunda sudah melaju meninggalkan Winda, sebelum Ayunda berpamitan pada Winda. Ayunda terpaksa menjulurkan kepalanya ke luar jendela mobil, lalu melambaikan tangannya pada Winda. Winda pun membalas dengan melambaikan tangan juga.
Ayunda menatap kesal sang kakak, "Kenapa Kakak bersikap seperti itu pada kak Winda?" tanya Ayunda mengintimidasi.
Adrian menoleh sekilas, lalu kembali fokus menyetir, "emangnya aku bersikap seperti apa?" tanya Adrian santai.
Ayunda semakin kesal dengan pertanyaan sang kakak, dia tak ingin lagi membahas permasalahan itu. Ayunda memilih diam sambil memainkan ponsel di tangannya. Sang kakak kembali menoleh ke arah Ayunda, namun Ayunda tetap mengacuhkannya.
Adrian berusaha menghibur sang adik, bahkan terus mengajaknya berbicara yang sesekali diselingi dengan guyonan, namun Ayunda tetap mengabaikannya. Sampai mobil terparkir sempurna di basement apartemen milik Adrian, Ayunda masih tak membuka mulutnya.
"Aku nyerah, deh!" sahut Adrian.
Ayunda tetap tak menyahut pernyataan sang kakak, dia turun dari mobil, lalu melangkahkan kakinya menjauhi Adrian. Adrian terus mengejar Ayunda sampai di depan pintu apartemen Adrian.
"Cukup, Yunda!" seru Adrian, lalu dia menarik nafas berat. "Baiklah, akan aku katakan. Sebenarnya Winda pernah menyatakan cinta padaku", ucap Adrian dengan cepat.
"Benarkah?" tanya Ayunda dengan mata berbinar.
Adrian hanya membalas dengan anggukan.
Ayunda senang mendengarnya, karena dia memang sangat menyukai Winda, bahkan sangat menginginkan Winda menjadi kakak iparnya. Kemudian Ayunda menatap Adrian dengan senyum penuh arti.
Ting... tong.
"Iya sebentar", seru Winda dari dalam saat seseorang memencet bel apartemennya.
Winda langsung membuka pintu, saat telah melihat siapa yang datang bertamu melalui lubang pintu apartemennya.
"Hai, Winda", sapa Siska sambil memeluknya.
"O, hai", balas Winda. "Ayo, masuk", pintanya dengan ramah. "Ternyata Kau benar-benar datang setelah meminta alamatku", tuturnya dengan senang.
Siska membalas dengan tersenyum, lalu melangkah masuk ke dalam apartemen Winda. Ini pertama kalinya dia melangkahkan kaki di apartemen Winda, sepanjang hidupnya. Siska langsung mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut ruangan. "Kamu sendirian?" tanya Siska.
"Ya", balas Winda dengan singkat. "Kamu mau minum apa?" tanya Winda.
"Aku punya lambung sangat buruk, jadi berikan air putih saja", sahut Siska.
Winda berjalan menuju pantry, yang diikuti Siska dari belakang. "Kenapa Kau mengikutiku, ayo duduklah di sana!" pinta Winda. Namun Siska bersikeras ingin melihat-lihat seluruh ruangan apartemen Winda.
__ADS_1
Winda tak ingin Siska menjadi marah, karena dia sedang berusaha menjalin hubungan yang baik dengan saudara sepupunya itu. Winda melayani Siska dengan sangat baik, bahkan mencoba mengikuti semua kemauan Siska.
Siska terus mendengarkan perkataan Winda, yang dia anggap sangat membosankan. Tapi harus tetap dilakoninya. Lalu Siska mencoba mengorek sedikit informasi tentang Ferdo.
"Win, Ferdo tinggal di mana?" tanyanya dengan santai.
"Oo, dia di apartemen sebelah", sahut Winda.
Siska kegirangan di dalam hatinya. Yes, yes, akhirnya aku tahu di mana Kau tinggal, batin Siska.
"Apakah Kau sering bermain ke tempatnya?" tanya Siska dengan semakin bersemangat.
"Ya, lumayan seringlah", sahut Winda.
"Bisakah kita ke tempatnya sekarang?" pintanya dengan memohon pada Winda.
"Aku sedang tidak ada keperluan, nanti menggangu dia", sahut Winda dengan santai.
Siska beranjak dari tempat duduknya, "ternyata Kau tidak benar-benar ingin lebih akrab denganku", ujar Siska.
"Aku atau Kau yang tak ingin kita lebih akrab?" tanya Winda dengan nada kesal.
"Eh, bukan begitu, Win. Aku pikir, karena aku sudah berada di sini, apa salahnya sekalian berkunjung ke rumah Ferdo", tuturnya dengan lembut.
Winda berfikir sejenak, "Baiklah, kita akan ke tempatnya", sahut Winda.
Winda bergegas mengganti pakaiannya, lalu berjalan ke luar bersama dengan Siska, menuju apartemen Ferdo.
Ting... tong.
Saat mendengar belnya berbunyi, Ferdo langsung menghampiri pintu dan melihat tamu yang sudah mengganggu waktu istirahatnya. Ferdo mengkerutkan keningnya saat melihat Siska datang bersama dengan Winda. "Kenapa dia ada di sini, apa Winda yang memberikan alamat apartemen ini", gumamnya.
Bel rumahnya terus berbunyi, namun Ferdo mengabaikannya. Winda yang sedari tadi memencet bel mulai kesal. Lalu dia meraih ponsel yang ada di sakunya, menscrollnya untuk mencari nama Ferdo. Setelah nama Ferdo ditemukannya, dia langsung menghubungi Ferdo.
Beberapa kali Winda menelpon, namun Ferdo tak mengangkatnya. "Apa dia sudah tidur?" gumamnya. Lalu dia mencoba menghubungi Ferdo kembali, namun hasilnya tetap sama.
"Sis, Ferdo tidak membukakan pintu dan juga tidak menjawab telponku. Aku pikir Ferdo pasti sudah tidur", tuturnya.
Siska mendengus kesal, karena kesempatan untuk bisa berduaan dengan Ferdo telah pupus.
"Kalau begitu, aku pulang saja", ujar Siska.
"Kenapa terburu-buru, kita kan bisa kembali ke apartemenku", seru Winda.
__ADS_1
"Ah, itu, aku teringat sesuatu yang harus aku selesaikan", sahut Siska. "Kalau begitu, aku permisi, ya", ucapnya, lalu dia melangkahkan kakinya dengan buru-burumenjauh dari Winda.
To be continue...