
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Ayunda berjalan dengan langkah lebar sambil membawa nampan berisi makan siangnya, lalu menghampiri Reina yang sudah duduk di salah satu kursi kantin. "Reina", sapa Ayunda sambil duduk di sebelahnya.
Reina tersenyum lebar saat melihat Ayunda, "Ay, gimana kabar Mas Tony?" tanya Reina dengan semangat.
Ayunda hanya memandang Reina sekilas tanpa menjawabnya. Dengan santainya Ayunda melahap makan siang di hadadapannya, mengabaikan Reina yang terus memandangnya sambil menunggu jawaban dari Ayunda.
Reina mulai kesal karena Ayunda tak kunjung mengatakan sepatah kata, dia menggeser makanan di hadapan Ayunda agar tak bisa di jangkaunya. Benar saja, aksinya itu berhasil membuat Ayunda mengalihkan perhatiannya pada Reina. Reina tersenyum lebar saat Ayunda memandang ke arahnya.
"Kenapa Kau mengambil makananku?" tanya Ayunda kesal sambil mengunyah habis sisa makanan di mulutnya.
Reina semakin bahagia saat melihat reaksi Ayunda, "aku pikir Kau sudah tak bisa bicara!" ledek Reina. "Aku tadi bertanya padamu, tapi Kau tak menjawabnya!" balas Reina kesal.
"Huft... selera makanku jadi hilang", ujarnya sambil meneguk segelas air, lalu dia beranjak dari tempat duduknya.
Reina yang melihatnya langsung menarik tangan Ayunda, "maaf, aku tak bermaksud seperti itu", tutur Reina dengan wajah memelas.
Ayunda tersenyum simpul saat melihat wajah Reina. "Aku merasa iba melihatmu", tutur Ayunda.
"Maksudnya?" tanya Reina bingung.
Ayunda menarik nafas berat, "aku berat mengatakannya, kalau sebenarnya mas Tony sudah dijodohkan", tutur Ayunda yang membuat Reina terbelalak.
"Apa!" teriak Reina yang membuat para karyawan di kantin memandangnya dengan sinis.
"Sttttt, kenapa Kau berteriak", ucap Ayunda.
Reina kembali memegang tangan Ayunda, dan tak sabar meminta penjelasan pada Ayunda, "Kau bohong, kan?" tanya Reina dengan serius.
"Aku serius,,," ucap Ayunda menjeda ucapannya. "Aku serius bercandanya, hahaha..." tawa Ayunda pecah membuat Reina semakin kesal.
"Eh, jangan marah dong", bujuk Ayunda dengan memelas, namun Reina berbalik mengacuhkannya. "Please, Reina" rayunya kembali.
Reina menatap Ayunda dengan wajah kesal, dan berpura-pura akan beranjak. "Reina, please", Ayunda memohon dengan mengatupkan ke dua tangannya.
Reina membalikkan badannya sambil tersenyum simpul, "emangnya Kamu doang yang bisa ngerjain aku! hahaha..." seru Reina sambil tertawa.
Ayunda langung menghamburkan dirinya memeluk erat Reina, "Kau sahabatku, tak akan pernah aku membohongimu lagi", tuturnya dengan tulus.
__ADS_1
"Iya, Ay. Aku juga akan melakukan hal yang sama", sahut Reina sambil menepuk pelan punggung Ayunda.
Mereka saling melepas pelukannya, lalu tertawa bersama. Seseorang di kejauhan sedang melihat tawa Ayunda yang mengegelitik hatinya, membuatnya ikut tersenyum bahagia.
Tiba-tiba seorang laki-laki berjalan menghampiri Ayunda, "Ini ada titipan buat mba Yunda", tuturnya sambil memberi salad buah di dalam cup yang di beri pita. Ayunda mengernyitkan keningnya sambil menatap pria yang tak di kenalnya itu, "dari siapa?" tanya Ayunda sambil menerimanya dengan ragu.
Saat cup salad sudah berpindah tangan ke Ayunda, pria yang membawa titipan itu langsung kabur tanpa membalas pertanyaan Ayunda. "Hei, tunggu!" pinta Ayunda, namun pria itu semakin menjauh.
"Ehemm... " Reina berdehem dengan keras sambil melirik secarik kertas yang menempel di cup salad buah.
Ayunda mencoba melihat pengirimnya "Inisial A", sahut mereka bersamaan. Ayunda tersenyum sambil membayangkan wajah sang kakak.
"Kak Adrian?" tanya Reina penasaran, yang di balas dengan anggukan oleh Ayunda. Lalu Ayunda membuka cup salad buah dan menikmatinya sambil berbagi dengan Reina.
***
Jam kerja telah usai, Adrian melangkahkan kakinya dengan semangat menuju ruangan kerja Ayunda. Saat Adrian berdiri di ambang pintu masuk, sorot mata para karyawan wanita tak berkedip memandang Adrian. Mereka memandang kagum akan ketampanannya.
"Ayo, Kak!" ajak Ayunda saat dia telah menyelesaikan semua tugasnya.
Ekor mata para karyawan wanita mengikuti gerakan Adrian. Sampai Adrian tak terlihat lagi, saat masuk ke dalam lift.
Karyawan wanita penggosip lainnya tak mau tinggal diam, "kalau di lihat mereka gak ada mirip-miripnya", sinisnya.
Karyawan wanita lainnya membenarkan ucapan rekan kerjanya itu, mereka pun semakin menambah bumbu gosip itu, sehingga semakin asyik untuk dibicarakan, bahkan sampai lupa waktu.
Ting...
Pintu lift terbuka lebar di basement, Ayunda dan Adrian melangkahkan kakinya ke luar dari dalam lift, lalu berjalan menuju kendaraan Adrian di parkirkan.
Setelah berada di dalam mobil, Adrian melajukan kendaraannya meninggalkan gedung Santoso Station.
***
"Bunda", panggil Ayunda saat sudah berada di dalam apartemen.
Sang bunda berjalan dari arah dapur menghampiri Ayunda dan Adrian, "Kalian sudah pulang, Nak. Ayo mandi dulu", seru sang bunda dengan penuh perhatian.
Adrian tertawa saat mendengar ucapan sang bunda, "Bun, kami bukan anak kecil lagi", sahutnya.
"Jika Kau bukan anak kecil lagi, kenapa Kau masih sendiri dan tinggal bersama orang tuamu? Harusnya Kau sudah punya seorang istri!" tutur sang bunda menasehati.
__ADS_1
Adrian terdiam, tak mampu menyahut ucapan sang bunda.
"Puft, aku merasa kasihan padamu, Kak", ujar Ayunda sambil tertawa kecil, lalu dia beranjak dari hadapan sang bunda tak ingin jadi sasaran selanjutnya. "Bun, Yunda mandi dulu ya", ucapnya sedikit berteriak saat sudah berada di depan pintu kamarnya.
Sang bunda menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah anak perempuannya itu.
***
Ferdo tak memalingkan pandangannya dari layar laptop di pangkuannya.
Tok... tok...
Seseorang mengetuk pintu, Ferdo pun menghentikan aktivitasnya mengizinkan orang yang telah mengetuk pintu untuk segera masuk.
"Hai, Fer", sapa Winda saat dia sudah berada di ruangan Ferdo. "Apa Kau sedang sibuk?" tanyanya saat duduk di sofa ruang kerja Ferdo.
Ferdo memandang ke arah Winda setelah menutup layar laptop, "apa yang ingin Kau bicarakan?" tanyanya sambil berpangku tangan.
"Ini tentang Siska", tutur Winda.
"Ehemm...", Ferdo berdehem melepas tumpuan tangannya.
"Aku tahu, Kau tidak menyukainya", tutur Winda. "Kami ini bersaudara, tapi kami tidak saling akrab", tuturnya melanjutkan.
Ferdo meletakkan laptop di pangkuannya ke atas meja."Jangan memaksakan dirimu untuk akrab dengannya."
"Iya, tapi- " ucapannya terputus saat Ferdo menatap tajam. "Aku hanya ingin, kami terlihat sebagai saudara bukan musuh", ujar Winda sambil tertunduk lesu.
"Tetaplah seperti itu, tapi jangan pernah melakukan apa pun yang dimintanya, dengan dalih agar kalian terlihat akrab", tutur Ferdo menasehati. "Kau orang baik, tentulah orang-orang di sekelilingmu juga orang baik", tutur Ferdo melanjutkan.
Winda mendelik, "Kenapa kedengarannya sedang memuji diri sendiri ya", seru Winda.
"Jadi Kau tidak mengakui, jika aku adalah orang yang baik?" tanya Ferdo sambil menaik turunkan alisnya.
"Cih, mana ada orang baik yang mengatakan dirinya sendiri baik", sahut Winda.
Hahaha... tawa Ferdo pecah memenuhi ruangan kerjanya. "Setidaknya Kau sudah melihat kebaikanku, walaupun hanya sedikit", tutur Ferdo sambil mengedipkan matanya.
"Aku curhat di tempat yang salah", ujar Winda. "Permisi", pamitnya pada Ferdo, meninggalkannya Ferdo seorang diri di ruang kerjanya.
Bersambung...
__ADS_1