
Happy Reading βΊ
πΈπΈπΈ
Ayunda melangkahkan kaki menuruni anak tangga dengan wajah riang.
"Pagi, Bunda. Pagi Kak", sapanya saat melihat sang bunda dan Adrian duduk di meja makan.
Sang bunda dan Adrian langsung menoleh ke arah Ayunda.
"Apa ini masih pagi?" Adrian bertanya dan melirik dengan menaikkan sebelah alisnya.
Merasa tak tersinggung dengan ucapan sang kakak, Ayunda membalas dengan tersenyum menampilkan deretan gigi rapihnya. "Ini masih pagi, Kak. Beneran deh!" balasnya dengan santai. "Ini masih jam 8, Kak", ucapnya saat dia kembali mendapat tatapan tajam dari sang kakak.
"Bunda... Adik Adrian ini belum siap untuk menikah. Katakan pada Bu Neneng di depan rumah kita, cari gadis lain, saja", ucapnya meledek Ayunda, karena telat bangun.
"Eh, siapa yang mau menikah?" tanya Ayunda yang hampir saja tersedak sebelum sepotong roti berhasil di telannya.
"Pokoknya Bunda harus tolak lamaran pria mana pun!" Adrian mempertegas ucapannya masih dengan meledek Ayunda.
Sang bunda hanya membalas dengan gelengan kepala, saat melihat kedua anaknya saling menatap tajam. "Sudah-sudah! Nanti bunda akan tolak lamaran dari siapa pun", balas sang bunda.
"Bunda... " rengeknya, karena sang bunda juga membela sang kakak.
"Apa Yunda sudah siap menikah, sekarang?" tanya sang bunda.
"Bukan seperti itu, Bun", ucap Ayunda masih dengan wajah memelasnya. "Tapi tolong jangan jodohkan Yunda ya, Bun. Yunda cari sendiri ya, please Bunda", ucapnya kemudian smabil memohon pada sang bunda.
Sang bunda menatap Ayunda dengan tersenyum me. "Ya, bunda tak akan menjodohkanmu. Tapi Yunda harus belajar dari sekarang, untuk jadi istri yang baik bagi suami nantinya."
"Siap, Bun!" balasnya dengan tegas.
"Jangan cuman siap doang, dek. Lakukan dong", seru Adrian yang masih ingin membuat sang adik kesal.
Ayunda benar-benar terpancing emosi akan sikap menjengkelkan sang kakak. "Bunda, tolong nikahkan kakak segera! Biar dia tahu gimana rasanya punya istri yang gak bisa masak, wek", ledeknya pada sang kakak dengan sikap seperti anak kecil. Meskipun dia mendapat tatapan tajam dari sang kakak.
Bunda kembali menggelengkan kepalanya. "Bunda bingung... seingat bunda anak bunda yang pertama sudah berusia 25 tahun dan yang kedua sebulan lagi akan berusia 22 tahun. Berarti dua bocah ini anak siapa?" Sang bunda menatap Adrian dan Ayunda bergantian sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuk di bibirnya seolah sedang berfikir.
Adrian dan Ayunda saling menatap. "Dia!" ucap mereka bersamaan dengan saling menunjuk.
__ADS_1
Sang bunda bergidik, lalu berdiri dari kursi meninggalkan kedua anaknya yang masih bengong. "Aku akan mencari anakku yang sebenarnya", ucapnya sambil berjalan.
"Ini semua karena kakak!" seru Ayunda dengan mendengus kesal.
"Makanya jangan jadi anak gadis yang suka telat bangun!" seru Adrian sambil beranjak. Karena dia akan ada pertemuan dengan calon rekan kerjanya. Setelah itu dia akan menghadiri sidang sang ayah Pukul 2 siang.
"Baru kali ini doang, Kak! Kenapa aku sudah dapat gelar pemalas, sih. Hiks... hiks... " tutur Ayunda, namun Adrian tidak lagi mendengarnya.
"Hiks... hiks... Kak Adrian jahat banget, adiknya di tinggal gitu saja!" Ayunda menggerutu sambil berpura-pura menangis. Lalu dia melanjutkan sarapan paginya yang sedari tadi tidak disentuhnya, seakan tidak terjadi apa-apa.
***
Siang ini Ayunda masuk ke sebuah cafe yang telah di pilih olehnya. Seorang pria duduk dengan santai di sebuah meja pesanannya, sambil memandang kedatangan Ayunda.
Ayunda mengedarkan pandangannya mencari meja kosong. Dia tidak tahu, jika Ferdo sudah membooking satu tempat buat mereka.
"Maaf, permisi mbak. Apa benar ini dengan mbak Ayunda?" tanya seorang pramusaji, saat melihat Ayunda celingak celinguk mencari tempat duduk yang kosong.
"Ya, mas. Ada apa ya?" tanya Ayunda yang mulai penasaran, karena sang pramusaji mengenalnya.
"Di tunggu, di meja 8 yang ada di pojok", ucapnya sambil mengarahkan tangannya dengan ramah. Ekor mata Ayunda mengikuti arah tangan sang pramusaji.
Ayunda melangkahkan kakinya menghampiri meja, di mana Ferdo telah lebih dulu duduk di meja yang sudah di bookingnya itu, sambil menatap Ayunda dengan tersenyum manis.
"Hai, Kak", sapa Ayunda sambil menarik kursi kosong, kemudian duduk saling berhadapan dengan Ferdo.
"Hai, Yunda. Lama gak bertemu", sahutnya masih dengan tersenyum. Rasa rindunya seakan terobati saat menatap wajah imut Ayunda.
Ayunda duduk dengan salah tingkah, karena tatapan Ferdo tak berpaling darinya. Sendok yang tertata rapi di atas meja, jatuh begitu saja meskipun jauh dari jangkauannya."Ma- maaf, Kak", ucapnya dengan memungut sendok yang jatuh.
Ferdo terkekeh saat melihat Ayunda salah tingkah, namun semakin terlihat imut.
"Yunda mau makan apa?" tanya Ferdo agar Ayunda tidak merasa canggung. Dia menyodorkan menu makanan, namun tak melepaskan pandangannya pada Ayunda.
Ayunda meraih daftar menu makanan tanpa melihat ke arah Ferdo. Kemudian dia menghela nafas, untuk mengatur debaran jantungnya yang tidak beraturan.
"Aku pesan ini aja, Kak", tunjuknya pada satu menu.
"Oke... minumnya?" tanya Ferdo.
__ADS_1
"Orange Float aja", balasnya.
"Oke", sahut Ferdo singkat, lalu memberikan pesanannya pada sang pramusaji.
Setelah sang pramusaji beranjak dari sisi meja mereka, Ayunda berdehem sebelum mengutarakan niatnya bertemu dengan Ferdo.
"Ehm, Kak Alfian", ucapnya masih sedikit ragu.
"Yunda... pilihanmu untuk makan di sini memang tepat. Makanan di sini semuanya enak", ucapnya memotong perkataan Ayunda.
"Ehm, iya... tapi Kak... "
"Atau jangan-jangan Yunda sering datang kemari, ya?" tanyanya dengan tersenyum. "Oh, iya... bicara soal makanan, gimana kabar bunda? Bunda kan paling jago kalau soal masakan", ucapnya tanpa memberi kesempatan Ayunda menyela.
"Bunda dalam keadaan baik, Kak. Tapi ada sesuatu yang sedang membuatnya khawatir", sahut Ayunda dengan wajah serius, yang membuat Ferdo mengernyitkan keningnya. "Dan inilah tujuan Yunda bertemu Kak Alfian", ucapnya melanjutkan.
Ferdo menatap Ayunda dengan serius, sambil menunggu Ayunda melanjutkan ucapannya.
"Kak please bebasin ayah dari tuduhan itu. Ayah benar-benar tidak melakukannya", ucap Ayunda dengan mengatupkan kedua tangannya.
Ferdo terdiam sesaat, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu dia menghela nafas berat sebelum menjawab Ayunda.
"Yunda... jika Yunda berada di posisi kakak. Apa yang akan Yunda lakukan?" tanyanya dengan menatap serius Ayunda. Ayunda yang di tatap langsung tertunduk, sambil memikirkan jawaban yang akan diberikannya pada Ferdo.
Sesaat kemudian Ayunda kembali mendongak, dan menatap sendu Ferdo. "Aku pasti ingin pelakunya di hukum seberat-beratnya." Ayunda menghela nafas panjang saat menjeda ucapannya. "Tapi aku sangat yakin, bukan ayah pelakunya", seru Ayunda mencoba meyakinkan Ferdo.
"Kita harus membuktikannya", balas Ferdo.
"Apa? Ki- ta?" tanya Ayunda tak percaya.
"Ya... jika memang pelakunya bukan ayah Yunda. Pengadikan juga pasti akan memutuskannya tidak bersalah", sahut Ferdo dengan tersenyum.
Ayunda menganggukkan kepalanya saat paham akan ucapan Ferdo. "Tapi di mana kita akan mencari buktinya?" Ayunda sedikit ragu, karena belum ada titik terang keberadaan bukti yang di maksud Ferdo.
"Pasti ada!" sahutnya yang mencoba menenangkan Ayunda. "Ayo, kita makan dulu. Nanti kita pikirkan caranya", seru Ferdo saat makanan pesanan mereka baru saja terhidang di meja.
Kenapa aku tidak membicarakan hal ini dari kemaren ya? Setidaknya kak Alfian mau membantuku.
Bantu like dan votenya π Tengkyu
__ADS_1