
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Ferdo dan Adrian sedang fokus mendengarkan rekaman suara pintu yang sedang di buka. Namun Tiba-tiba mereka terjingkat, saat suara ponsel Ferdo memenuhi ruangan itu.
"Kau membuat aku hampir terkena serangan jantung!" Adrian mengelus dadanya. Namun Ferdo mengabaikan perkataan Adrian, dia terlihat ragu untuk menggeser icon berwarna hijau itu.
"Apa nada deringmu itu sangat merdu di dengar, hah! Sampai-sampai Kau harus mendengarkannya hingga selesai", ledek Adrian yang merasa terganggu dengan bunyi ponsel Ferdo, namun Ferdo masih mengabaikan ucapan Adrian. "Apa itu dari Siska?" tebak Adrian, karena raut wajah Ferdo berubah saat melihat nama di layar ponselnya.
Ferdo pun menjawab dengan anggukan. "Apa aku harus menjawab panggilannya?" tanya Ferdo, yang meminta saran dari sahabatnya itu.
"Ya, angkat saja. Coba Kau tanyakan dia sedang di mana." Adrian memberi ide, untuk tahu sifat Siska sebenarnya.
"Hallo!" jawab Ferdo dengan nada datar.
"Hallo, sayang. Apa Kau sedang sibuk?" tanya Siska, yang di balas dengan berdehem oleh Ferdo.
"Oh, kalau begitu nanti malam saja kita ketemuan! Aku tidak mau ada penolakan. Oke, aku tunggu nanti malam ya, sayang. Tempatnya nanti aku infoin!" ucap Siska dari seberang telpon, tanpa memberi kesempatan Ferdo menjawab.
"Tapi - "
"Bye, sayang", ucap Siska memutus sambungan telpon, sebelum Ferdo menyelesaikan ucapannya.
"Sial! Apa dia pikir aku suaminya!" teriak Ferdo dengan mengusap kasar rambutnya.
"Cih, itu salahmu sendiri! Harusnya Kau bisa menahan diri untuk bicara dengan lembut padanya, agar dia mau mendengarkanmu!" sembur Adrian, lalu Adrian kembali mendengar rekaman yang di bawa Tony.
"Harusnya Kau membelaku! Bukannya membuatku tambah kesal!" ketusnya. Ferdo sudah tidak bersemangat untuk lanjut mendengarkan rekaman itu. Dia beranjak dari tempat duduknya, namun langkahnya tertahan karena masih penasaran dengan isi rekaman. "Apa ada yang mencurigakan dari rekaman itu?" tanya Ferdo pada Tony, yang sedari tadi tidak di anggap.
"Ya, ada satu percakapan antara Siska dengan seorang pria. Aku curiga itu bukanlah ayahnya. Karena panggilan sayangnya seperti ditujukan pada seorang kekasih", sahut Tony dengan wajah serius.
"Emang Kau bisa membedakannya?" ledek Ferdo.
"Kenapa tidak?" balas Tony yang malah bertanya balik.
"Bukannya Kau juga jomblo sama seperti dia", ujarnya dengan menunjuk Adrian.
"Kenapa Kau masih mengusikku! Cih, apa hebatnya bertunangan dengan orang yang tidak di cintai!" cerca Adrian.
Ferdo menatap tidak suka Adrian. Perkataannya benar, tapi itu bukanlah kemauannya sendiri. "Siapa yang sudah mendukungku untuk tetap bertunangan, hah?" Ferdo menyerang balik Adrian.
__ADS_1
"Ya, aku sih. Tapi itu bukan untuk dipamerkan!"
"Siapa yang memamerkannya? Aku saja tidak pernah suka dengan pertunangan itu!" sahut Ferdo.
"Kalau begitu jangan pernah menyinggungku! Anggap kita masih sama-sama jomblo!" seru Adrian dengan menatap Ferdo.
"Oke!" balas Ferdo singkat. Lalu mereka saling memberi tos tanda sepakat.
Tony memandang dengan tersenyum, karena ke dua bosnya akhirnya berdamai.
"Tony... apa Kau mendengar Siska menyebut nama pria itu?" tanya Ferdo kembali yang mulai penasaran.
"Sa - "
"Kau tidak cemburu, kan?" tanya Adrian memotong ucapan Tony.
"Tidak akan! balas Ferdo dengan tegas. "Adrian, tolong jangan bicara dulu! Biarkan Tony yang bicara sekarang!" seru Ferdo dengan serius. "Ayo, lanjut Ton!"
"Saya tidak mendengar nama pria itu di sebut, Pak. Tapi, dia menyebut nama sebuah hotel. Nama hotelnya Grand Subuh. Mungkin pria itu menginap di sana." tuturnya menerangkan.
"Oke!" sahut Ferdo sambil memikirkan sesuatu. "Tony, tolong cari di akun media sosial Siska. Cari tahu setiap pria yang ada di dalam foto yang pernah dia posting!" pinta Ferdo dengan tegas.
"Baik, Pak", balas Tony dengan patuh.
"Bukankah kita sudah berdamai tadi?" tanya Ferdo dengan tatapan tajam.
"Iya, maaf... maaf... aku hanya bercanda." Adrian mengatupkan tangannya sambil tersenyum, yang di balas dengan deheman oleh Ferdo. Lalu Ferdo berpamitan sebelum beranjak ke luar dari ruangan Adrian.
Adrian meminta Tony membereskan semuanya, dia juga meminta Tony tetap menjalankan tugas mendengarkan rekaman dari penyadap yang ada di tas Siska. Tony yang mendengarkan arahan dari Adrian, menganggukkan kepalanya dengan patuh. Lalu Adrian beranjak ke luar ruangan.
***
Di dalam apartemen, Ayunda terlihat mondar-mandir sambil menunggu kedatangan sahabatnya Reina. Sudah lebih dari lima belas menit dari jam yang telah mereka sepakati, namun Reina tak kunjung tiba. Ayunda gelisah, karena Reina tidak mengangkat teleponnya.
"Reina ke mana, ya?" gumam Ayunda.
"Ada apa, Nak? Kenapa Kau gelisah?" tanya sang bunda yang baru saja selesai datang dari arah dapur.
"Oh, bukan apa-apa, Bun. Yunda lagi nunggu teman Yunda datang", sahut Ayunda sambil tersenyum ke arah sang bunda.
Sang bunda pun ikut tersenyum, "oke, kalau gitu bunda tinggal ya. Baju bunda bau ikan, nanti kamu terganggu", tutur sang bunda dengan menarik bajunya mendekat ke penciumannya.
__ADS_1
"Iya, Bun", balas Ayunda dengan tersenyum.
Ayunda kembali menghubungi Reina, namun hasilnya tetap sama. "Huft, kamu di mana sih, Reina", ucap Ayunda berputus asa. "Apa aku minta bantu Mas Tony aja, ya?" Ayunda mencoba berfikir. Lalu memutuskan menghubungi Tony.
Tut... tut.
"Hallo, Mas Tony." Ayunda langsung menyahut sapaan Tony, saat mendengar suaranya dari seberang telepon.
"Ada apa, Non?" tanya Tony masih dari seberang telepon.
"Hem, aku mau minta tolong Mas", ucap Ayunda. Tony pun berdeham menunjukkan dia masih mendengarkan ucapan Ayunda. "Bantu aku menghubungi Reina, Mas."
"Reina?" Tony bertanya dengan hati-hati.
"Iya, Mas. Dia tidak mengangkat teleponku", sahut Ayunda.
"Oke, tapi apa kalian sedang berantem?" Tony memastikan, agar Reina tidak salah paham.
"Hubungan kami baik-baik saja, Mas. Aku hanya khawatir, karena hari ini kami sudah membuat janji ketemu di sini jam 6, dan ini sudah lewat tiga puluh menit, tapi dia belum datang juga." Ayunda menjelaskan.
"Oke, akan aku coba", balas Tony, lalu mereka saling memutus sambungan telepon setelah Ayunda mengucapkan terima kasih.
Ayunda masih menunggu kedatangan Reina, dan menunggu kabar dari Tony.
Ting... tong.
"Akhirnya dia datang!" seru Ayunda yang langsung beranjak dari sofa, dan berjalan dengan cepat untuk membukakan pintu.
Ceklek.
"Kena- " ucapan Ayunda terputus karena yang datang bukanlah Reina melainkan sang kakak.
"Kenapa Yunda? Apa ada orang yang sedang Kau tunggu?" tanya Adrian saat melihat raut kecewa di wajah sang adik.
"Apa Kakak lupa membawa kunci lagi? Kenapa harus memencet bel?" Ayunda membalas sang kakak dengan bertanya balik.
"Pengen aja", jawab Adrian santai, namun tidak dengan reaksi Ayunda. "Jangan alihkan pertanyaan kakak. Siapa yang sedang Kau tunggu?" tanyanya kembali.
Drrtt... drrtt...
Baru saja Ayunda akan menjawab sang kakak, teleponnya berbunyi, dengan buru-buru Ayunda menggeser icon berwarna hijau itu.
__ADS_1
"Hallo, bagaiamana Mas?" tanya Ayunda dengan tidak sabar.
Lalu Ayunda mendengar penjelasan Tony dari seberang telepon, yang membuat Ayunda kembali lesu. Lalu mereka saling memutus sambungan telepon, setelah tidak ada lagi yang perlu mereka bahas.