
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Acara lomba telah usai, namun debaran jantung Ayunda masih berdegup kencang, kala mengingat besok akan berangkat bareng Alfian ke kampung halamannya. Sejak Ayunda mengetahui pria berinisial A yang pernah memberikan perhatian padanya saat magang di perusahaan Santoso Station, wajahnya selalu bersemu merah membayangkannya wajah Alfian.
"Mas, nanti singgah di supermarket, ya", pinta Ayunda dengan ramah.
Tony tersenyum sambil melirik ke arah spion. "Baik, Non", balasnya.
Tidak banyak obrolan di dalam mobil. Sorot mata Ayunda yang terus memandang ke luar kaca jendela, menyusuri jalanan yang masih terlihat ramai. Entah apa yang ada dalam pikirannya, sehingga ke dua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan. Senyum manis Ayunda terintip oleh mata kagum Tony melalui spion.
"Sudah sampai, Non." Tony berucap membuyarkan lamunan Ayunda.
"Oke Mas. Tunggu sebentar, ya", pintanya dengan tersenyum ramah, yang di balas dengan anggukan oleh Tony.
Ayunda turun dari mobil, lalu melangkahkan kakinya menuju supermarket. Tony yang melihat ke luar kaca mobil, kembali berdecak kagum akan keramahan dan sikap manis Ayunda, yang sedikit berbeda dengan Reina.
"Reina", Tony bergumam. "Kenapa aku membandingkannya dengan Reina", ucapnya sambil menggelengkan kepala. Lalu Tony mengunci otomatis pintu mobil dan memutar sebuah lagu, untuk mengusir rasa bosannya, karena dia tahu saat wanita berbelanja tidak akan pernah ada waktu yang cukup.
Suara sumbang Tony memenuhi kabin mobil yang memang kedap suara itu. Tony semakin berani menaikkan nada dengan suara lantangnya, saat lagu akam berakhir. Bahkan suara ketukan di kaca mobil, seakan menciptakan harmoni antara suara dan musik.
"Mas Tony!" teriak Ayunda dengan panik. Tony terperanjat saat melirik ke sisi kanannya, wajah Ayunda tiba-tiba muncul di luar kaca mobil. Tony bergegas membuka pintu mobil, dengan wajah memelas. Dia tidak menyangka Ayunda kembali secepat itu.
"Maaf, Non. Tadi saya pikir Non lama belanjanya, sama seperti - " Tony menggantung ucapannya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Ayunda pun tersenyum ke arah Tony, yang masih berdiri di sisi pintu. "Sama seperti Reina maksud Mas Tony", tebak Ayunda dengan mengedipkan matanya.
"Bu- bukan, Non", ucapnya gelagapan. "Tadi saya mau mengatakan, sama seperti wanita lainnya", sanggah Tony.
Ayunda menggelengkan kepalanya. "Ayo, kita pulang saja, Mas. Kalau kelamaan di sini, entar saya berubah pikiran... terus lanjut belanja, gimana?" ancam Ayunda.
"Gak deh, Non. Kita pulang saja, ya." Tony masuk ke dalam mobil dan bergegas duduk di bangku kemudi. Dia melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang sambil sesekali melirik Ayunda yang sedari tadi tersenyum ke luar kaca jendela mobil.
Sepertinya non Ayunda sangat bahagia karena dapat juara pertama, tebak Tony di dalam batinnya.
__ADS_1
***
"Assalamualaikum Bunda... " Ayunda mengucapkan salam saat sudah berada di dalam apartement milik sang kakak. Ayunda mengulanginya, namun sang bunda tidak juga menyahutnya.
"Bunda... ", panggilnya dengan mencari kesekeliling apartement. "Bunda ke mana, ya?" Ayunda bertanya-tanya, karena tak biasanya sang bunda tidak berada di dalam apartement.
Ceklek.
Pintu apartement terbuka mengalihkan perhatian Ayunda ke arah pintu masuk. Sang bunda muncul dari balik pintu di susul sang kakak.
"Bunda... " panggil Ayunda sambil menghampiri sang bunda. "Pantesan, Yunda cariin ke mana-mana. Hem, ternyata Bunda pergi shopping bareng Kak Adrian", ucap Ayunda sambil melirik tas belanjaan sang bunda.
"Bunda bukan shopping, Nak. Ini ole-ole yang akan kita bawa besok, buat tetangga lama kita di sana."
"Sebanyak ini, Bun?" Ayunda meraih tas belanjaan dari tangan sang bunda, untuk melihat apa saja yang sudah di beli oleh sang bunda.
Sang bunda menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. "Sebagian bunda mau bagikan untuk anak-anak panti di sana."
Ayunda tersenyum lebar mendengar penuturan sang bunda. "Biar Yunda yang bagikan ya, Bun. Oh, ya, yang untuk anak panti yang mana, Bun?" tanya Ayunda dengan membuka tas belanjaan sang bunda.
"Siap, Kak!" sahut Ayunda.
"Bunda kalau lelah, istirahat saja dulu. Biar Yunda yang beresin itu semua", bujuk Adrian pada sang bunda, karena melihat wajah lelahnya.
"Bunda nemani Yunda sebentar. Setelah itu bunda pasti istirahat."
"Oke, Bun", balas Adrian dengan tersenyum, lalu masuk ke dalam kamar.
***
Ferdo berada di dalam kamar sambil rebahan di atas kasur king size miliknya. Entah sudah berapa lama dia memandang langit-langit kamarnya itu, dan entah berapa cicak yang sudah menyapanya. Bahkan posisinya masih tetap sama, sejak dia mulai berbaring di ranjang.
"Huft... kejadian itu tidak bisa kulupakan, dan tak akan pernah aku maafkan, siapa pun pelakunya!" Ferdo menarik nafas berat mengingat kenangan pahit, saat peristiwa naas yang menimpa ke dua orang tuanya terjadi di depan matanya sendiri. Guratan keras di wajahnya menunjukkan dendam yang tak bisa dihilangkannya.
"Aku pasti akan menemukan pelakunya", seringai Ferdo. Lalu dia meraih ponselnya di atas nakas, untuk melihat beberapa pesan dan panggilan telpon yang telah diabaikannya.
__ADS_1
Ferdo menscroll ponsel ditangannya, mengabaikan pesan dari Siska, bahkan puluhan panggilan tak terjawab darinya. Dia lebih tertarik pada satu pesan dari Adrian. Wajah murung Ferdo kembali ceria, saat satu nama terselip pada pesan yang di kirim oleh Adrian. Kemudian Ferdo mengirimkan pesan balasan padanya.
"Andai waktu bisa di putar kembali. Pasti mereka senang, saat bertemu dengan wanita pilihanku." Ferdo menarik nafas dalam, kemudian berjalan untuk membuka almari. Sebuah handuk berwarna pink, yang terlihat masih bersih dan terlipat rapi itu di raihnya. Ferdo kemudian memeluk dengan rasa rindu, "semoga aku bisa membuatmu bahagia", ucapnya dengan tersenyum.
***
Pagi yang ceria memberikan kehangatan di dalam apartement Adrian. Beberapa list nama tetangga mereka, yang baru saja diberikan oleh sang bunda, sudah seperti daftar belanjaan sang bunda.
"Bun, maafkan Yunda. Ini semua salah Yunda, karena meminta daftar nama-nama tetangga kita yang akan diberikan ole-ole."
"Kamu sih, dek. Aneh-aneh aja, pakai minta dibuatkan daftar segala." Adrian berjalan sambil membawa koper miliknya.
"Iya, Kak. Yunda ngaku salah, kok. Ini daftarnya sudah Yunda buang", ucap Ayunda dengan menyesal karena telah merepotkan sang bunda.
Ting... tong.
Ayunda bergegas membuka pintu, dia seolah sedang menunggu kedatangan seseorang. Adrian yang melihat tingkah sang adik pun menggelengkan kepala.
Ceklek.
Senyum Ayunda mengembang saat melihat pria dihadapannya. "Ayo, masuk Kak", ucapnya dengan tersenyum ramah.
Kak Alfian keren banget kalau pakai baju casual, batin Ayunda.
"Hai, bro", sapa Adrian sambil saling memberi tos. "Harusnya Kau gak perlu repot-repot naik ke mari."
"Hem, bosan nunggu di bawah", kilahnya.
"Oke, kalau gitu, ayo kita berangkat!" ajak Adrian. Lalu menarik travel bag miliknya dan sang bunda.
"Biar aku bantu", ucap Ferdo.
"Jangan bro! Itu ada Tony yang bantuin, kok", tunjuk Adrian, saat Tony baru saja masuk.
Mereka pun ke luar dari dalam apartemen menuju lift.
__ADS_1
Mohon dukungan like dan votenya gaess π