
Hari ini begitu nikmat bagi Ayunda, karena dapat melakukan kebaikan bersama seorang yang masih dia cintai sampai saat ini. Namun perasaannya itu tak ingin dia tunjukkan, karena jika suatu saat dia kembali kecewa, maka dia tidak akan merasakan sakit hati yang amat dalam.
"Adik ipar, kakak bisa titip Azzam sebentar", ujar Winda membuyarkan lamunan Ayunda.
"Sini kak", sahut Ayunda dengan riang sembari menjulurkan tangannya. Sesaat setelah Azzam berada dipangkuan Ayunda, tanpa aba-aba dia langsung mencium gemas pipi gembul Azzam hingga menimbulkan suara tawa Azzam yang sedang merasakan geli.
Suara tawa Azzam yang menggemaskan membuat Ayunda tak ingin menghentikan aksinya itu.
"Sudah dong tante, kan gak lucu kalau entar ada berita yang mengatakan bahwa seorang balita tak berhenti tertawa karena diciumi tantenya sendiri."
"Papa Azzam cemburu kan?" ledek Ayunda dengan tetap melanjutkan aksinya. Namun Adrian tak bereaksi. Sorot matanya menatap seorang pria yang belum dia kenal.
"Assalamualaikum...", ucap pria berbaju kasual yang sedang berdiri di ambang pintu, karena pintu rumah Adrian sudah terbuka lebar sedari tadi.
"Waalaikumsalam", ucap Adrian dan Ayunda bersamaan.
"Abian", ucap Ayunda dengan mulut menganga yang membuat Abian tersenyum bahagia, karena Ayunda memanggilnya tanpa sebutan pak. "Ada perlu apa bapak kemari?" lanjutnya yang membuat senyum di wajah Abian memudar.
"Apa saya boleh masuk?" tanya Abian dengan sopan.
"Oh, silakan masuk", sambut Ayunda dengan ramah. "Silakan duduk dulu", sambungnya. Lalu dia menyerahkan Azzam pada sang kakak dan berjalan menuju dapur.
"Tidak perlu repot-repot", ucap Abian dengan mengeraskan suarnya agar Ayunda mendengar.
Tanpa menyahut ucapan Abian, Ayunda datang membawa nampan berisi 2 cangkir kopi.
"Silakan di minum pak, dan ini untuk kakak", ucap Ayunda saat meletakkan cangkir satu persatu dihadapan Abian dan Adrian.
"Eh, ada tamu ya?" ucap Wnda saat baru saja masuk ke dalam rumah.
Abian menoleh ke sumber suara. "Winda..."
"Abian..." ucap mereka hampir bersamaan.
"Kalian saling kenal?" tanya Adrian.
"Iya, dia itu teman satu kampus mama sewaktu kuliah di luar negeri", jawab Winda seraya berjalan menghampiri Adrian.
"Owh... Teman kuliah."
"Tapi ngomong-ngomong ada tujuan apa Abian kemari?"
__ADS_1
"Dia rekan bisnisnya Ayunda sayang", sahut Adrian dengan menekan kata sayang dalam ucapanya, Winda pun terkekeh di dalam batinnya.
"Owh, kalau begitu kami tak ingin mengganggu. Ayo, kita ke kamar saja my hubby", ucap Winda sembari meraih Azzam dari gendongan sang suami. Adrian pun bangkit dari tempat duduknya, lalu dia mengikuti langkah sang istri berjalan masuk ke dalam kamar.
"Ayo, diminum pak", ucap Ayunda memecah keheningan di antara mereka.
"Owh, iya. Terimakasih." Abian menjulurkan tangannya meraih secangkir kopi di hadapannya. "Rumahnya adem ya", ujarnya setelah menyesap secangkir kopi buatan Ayunda itu.
"Hem, beberapa orang yang datang kemari juga berkata seperti itu pak."
"Tapi ini memang benaran adem, beda banget dengan tinggal di apartemen."
Ayunda menatap Abian dengan tersenyum. "Bapak kan bisa beli rumah yang seperti ini, bahkan yang lebih bagus dari ini."
"Saya pengen sih. Tapi sepi kalau tinggal sendiri."
"Keluarga bapak dimana?" tanya Ayunda sembari menatap intens Abian.
"Papa dan mama tinggal di luar negeri dan saya juga belum menikah."
"Kalau begjtu artinya bapak harus segera menikah!" saran Ayunda dengan nada gugup. Dia khawatir arah pembicaraan itu berbalik arah ke dirinya sendiri.
"Nah, itu yang sedang saya usahakan."
"Sebenarnya maksud kedatangan saya kesini mau mengatakan hal yang sedang kita bahas ini", ucap Abian dengan menatap mata indah Ayunda, yang membuat Ayunda merasa canggung.
"Ma-maksud bapak?"
"Saya suka kamu!"
Deg.
Ayunda tersentak kaget mendengar ucapan Abian barusan. Dengan susah payah dia menelan salivanya. "Bapak jangan bercanda, ah", gurau Ayunda dengan tertawa kaku.
"Siapa yang bilang saya bercanda. Saya sangat serius suka sama Yunda", ujar Abian dengan memperjelas ucapanya.
"Maaf sebelumnya pak, kalau sikap saya selama ini telah membuat bapak salah mengartikan."
"Kamu gak salah. Ini murni perasaan saya sendiri. Kalau memang kamu belum siap untuk menerima saya. It's oke, akan saya tunggu sampai kamu benar-benar siap."
"Bukan seperti itu maksud saya pak!' balas Ayunda dengan sedikit bingung. "Perkataan saya di cafe tempo itu tidak serius. Saya hanya ingin membuat kak Alfian kecewa."
__ADS_1
"Jadi...?"
"Jadi, sebenarnya saya masih mencintai kak Alfian", sahut Ayunda dengan sedikit gugup. Dia khawatir keterusterangannya akan berdampak pada hubungan kerjasama mereka.
Abian tertunduk lesu. Untuk pertama kalinya seorang wanita tidak menerima pernyataan cintanya.
"Oke, kalau begitu saya pamit. Tidak ada lagi yang mau saya bicarakan", ucap Abian dengan lesu seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Tunggu dulu pak!" Ayunda bangkit dari tempat duduknya seraya menatap sendu wajah Abian. "Aku harap bapak bisa menerimanya dengan lapang dada. Karena masih banyak wanita di luar sana yang lebih baik dari saya, pak", lanjutnya.
Abian mendengus kasar. "Kamu jangan kuatir, ini bukanlah sesuatu yang akan membuatku frustasi hingga berbuat nekad."
Ayunda menghela nafas lega. "Syukurlah kalau bapak berfikir seperti itu."
"Apa saya boleh pulang?" tanya Abian dengan menunjuk pintu.
"Silakan, pak", sahut Ayunda dengan ramah. Lalu Ayunda mengantarkan Abian sampai ke depan teras rumahnya.
"Hati-hati di jalan pak!" seru Ayunda sembari melambaikan tangannya saat Abian baru saja melajukan kendaraannya meninggalkan halaman rumah Ayunda. Sesaat setelah mobil milik Abian tidak terlihat lagi oleh pandangan Ayunda, dia pun berjalan masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, Adrian keluar dari dalam kamar. "Sudah pulang si Abian?" tanya Adrian saat Ayunda baru saja menutup pintu.
"Kenapa kakak kayak gak suka gitu sama Abian?"
"Jelas-jelas dia ngejar Yunda, tapi masih saja tebar pesona dengan istri orang", ucap Adrian berdecak kesal.
Ayunda tertawa geli mendengar penuturan sang kakak. "Dia hanya tersenyum sama kakak ipar, itu juga karena kakak ipar kan teman kuliahnya."
"Intinya dia itu pria genit. Kakak gak setuju kamu sama dia!" ucap Adrian dengan tegas.
"Kakak ada-ada aja. Lagian siapa yang mau jadian sama Abian?"
"Bagus kalau begitu. Kalau bisa jangan pernah ajak dia kemari untuk alasan apapun."
Ayunda menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sebenarnya bukan Yunda yang kakak kuatirkan, tapi kakak ipar kan?" tebak Ayunda sembari menatap Adrian.
"Kakak ke kamar dulu", ujar Adrian sembari beranjak dari posisinya berdiri. Lalu dia bejalan menuju pintu kamarnya.
"Kakak ipar, ada yang cemburu!" teriak Ayunda dengan keras agar Winda mendengarnya.
"Hus, jangan teriak-teriak. Entar tetangga mikir kita pada berantem", ucap sang bunda memberi nasehat saat baru saja datang dari arah dapur.
__ADS_1
"Iya, bun", sahut Ayunda dengan cengiran kuda. Lalu dia buru-buru pergi ke kamarnya. "Yunda mandi dulu, bun!"
Sang bunda pun menggelengkan kepalanya. "Masih juga teriak."