Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Harta Warisan


__ADS_3

Kehidupan sering kali tidak seindah yang kita bayangkan, namun bukan berarti kita harus menyerah begitu saja dengan keadaan.


Pagi ini Siera harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya harus menerima konsekuensi atas perbuatannya yang secara tidak langsung ikut terlibat dalam mencelakai Ayunda.


"Tidak, jangan tangkap saya pak!" seru Siera memohon.


"Tolong kerjasamanya, bu!" balas petugas berwajib itu dengan nada kesal.


"Pak, saya berani sumpah tidak melakukan apapun! Beneran deh pak!" ujarnya dengan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf v.


"Ibu ikut saja dulu untuk diperiksa. Bersalah atau tidaknya nanti diputuskan!"


"Bak, buk, bak, buk... Kapan aku menikah dengan bapakmu?" ucap Siera dengan tidak sopan. Namun sesaat kemudian dia terpaksa mengikuti petugas berwajib itu, karena mendapat tatapan membunuh dari pak polisi yang mulai jengah dengan sikap Siera.


"Semoga dia berubah dengan adanya kejadian ini", ujar Alfian yang menatap kepergian Siera bersama dengan petugas yang berwajib itu.


"Papa..." panggil Zahra dengan suara lemahnya.


"Eh, Ara udah bangun?"


"Udah pa", balas Zahra seraya menatap seseorang yang sudah di bawa jauh. "Tante itu kenapa di bawa sama pak polisi pa?" lanjutnya.


"Jangan dipikirin sayang. Ayo, Ara cuci muka dulu, habis itu kita sarapan", ujarnya seraya menunjuk sarapan Zahra yang terletak di atas laci rumah sakit.


Zahra mengangguk lemah. "Ara boleh makan yang lain pa?" pintanya dengan wajah memelas.


"Boleh, sayang. Tapi setelah Ara keluar dari rumah sakit, ya. Nanti papa belikan apapun yang Ara minta", balas Alfian seraya menatap wajah lesu Zahra.


"Ara gak jadi sarapan deh", ujarnya. Lalu dia berjalan menuju tempat tidur.


"Ara... Gak boleh gitu sayang. Kalau Ara gak sarapan, entar Ara lama sembuhnya. Ara mau di rumah sakit terus?"


Zahra menatap kesekeliling ruangannya. "Iya, deh. Ara makan", ujarnya dengan mengerucutkan bibir.


Alfian menghampiri putri kecilnya itu sembari mencubit gemas bibir Zahra. "Nah, gitu dong sayang. Tapi kita cuci muka dulu ya."


Zahra mengangguk pelan sebagai jawaban. Lalu dia turun dari atas ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


...---...

__ADS_1


Di tempat lain di ruangan Ayunda, tampak sang bunda sedang menyuapi putrinya yang sudah cukup umur untuk menikah itu dengan penuh kasih sayang.


"Bun-da... " protes Ayunda. Dia tidak terima sang bunda memperlakukan dirinya layaknya anak kecil.


"Jangan merengek! Kamu bukan anak kecil!"


Ayunda semakin kesal dengan ucapan sang bunda, yang dikatakan bukan anak kecil tapi diperlakukan seperti anak kecil. Namun tanpa dia sadari sepiring makanan telah habis tak bersisa disantapnya.


"Begini kan bagus", ujar sang bunda seraya bangkit dari tempat duduknya. Lalu sang bunda membereskan peralatan makan yang baru saja digunakan oleh Ayunda.


"Ta- "


Belum sempat Ayunda melanjutkan ucapannya, sang dokter bersama perawat masuk ke dalam ruangan.


"Pagi..."


"Pagi, dok", balas sang bunda dengan ramah.


"Bagaimana kabarnya pagi ini?" tanya sang dokter dengan tersenyum ranah.


"Alhamdullikah baik, dok. Hanya saja masih sulit untuk berbicara."


"Insya Allah, obatnya selalu di minum dengan teratur, dok."


"Bagus kalau begitu. Tensinya juga bagus. Kemungkinan besok sudah boleh pulang."


"Terimakasih, dok."


"Itu memang kewajiban saya bu. Saya senang pasien cepat sembuh", sahut sang dokter dengan tersenyum. Lalu sang dokter pamit untuk memeriksa pasien lainnya.


"Bunda keluar sebentar. Kamu gak apa-apa bunda tinggal sendiri kan, nak?" ujar sang bunda.


Ayunda hanya membalas sang bunda dengan anggukan dan mengulum senyum. Setelah itu sang bunda melangkah keluar dari ruangan Ayunda.


Tak berselang lama pintu ruangan Ayunda di buka kembali. "Ke-napa bu-bunda..."


Ucapan Ayunda terputus kala melihat seorang wanita yang sedang berjalan menghampirinya.


"Bb-bi Arsih", ucap Ayunda dengan rasa takut. "Aa-pa kabar, bi?" lanjutnya.

__ADS_1


"Cih, kau masih menanyakan kabarku setelah apa yang sudah kau lakukan pada putriku!"


"Mak-sud bibi apa?"


"Jangan berpura-pura hilang ingatan, setelah semua yang telah kau lakukan pada Salsa!"


Ayunda terdiam sesaat. Lehernya yang masih terasa sakit saat berbicara, membuat Ayunda kesulitan untuk menjelaskan pada bi Arsih.


"Kau sudah tidak bisa mengelak lagi. Keadaanmu saat ini pun tentulah karena hasil perbuatanmu sendiri."


"Saya rasa bi Arsih tidak ada kapoknya mencari masalah dengan keluarga kami", ujar Adrian yang datang tiba-tiba seraya mendorong kursi roda sang ayah.


Bu Arsih tersentak kaget saat melihat Adrian dan ayahnya. "Kalian semua akan mendapat ganjaran dari apa yang sudah kalian perbuat pada putriku!" teriak bi Arsih dengan suara lantang.


"Bi Arsih... Bi Arsih... Apa ibu benar-benar tidak tahu apa yang sudah di perbuat putri ibu?" tanya Adrian dengan tatapan tajam.


"Apa yang telah dilakukan oleh Salsa, itu semua bermula dari kalian!" tunjuk bi Arsih pada mereka bertiga dengan bergantian. "Kalian sudah menuduh ayahnya Salsa sebagai penjahat!" tukasnya.


"Kami tidak pernah menuduh paman. Tapi bukti yang telah menunjukkan paman bersalah."


"Kalian jangan berkilah! Semua itu karena kedua orang tuamu yang terlalu tamak ingin menguasai semua harta wariasan orang tua!"


"Saya tidak pernah melakukan apa yang bu Arsih tuduhkan barusan!" sahut sang ayah yang angkat bicara atas sesuatu yang menurutnya salah.


"Kalau begitu kenapa semua harta peninggalan keluarga tidak satupun diberikan pada kami. Sampai hari ini rumah itu masih atas nama kalian, dan kami hanya penumpang yang dikasihani."


"Jika kalian sangat menginginkan harta itu, maka ambillah. Saya tidak mau hanya karena harta banyak masalah yang akan terjadi."


"Untuk apa kau memberikannya? Apa itu bisa mengembalikan putriku yang malang?" teriak bi Arsih seraya menahan emosinya.


Suasana menjadi hening, tidak ada satupun yang mau menjawab pertanyaan dari bi Arsih, namun tiba-tiba sang bunda berjalan masuk.


"Aku hanya ingin kalian merasakan apa yang telah dirasakan oleh suami dan putriku", seringainya.


"Aku juga ingin menjaga keluargaku dari segala hal jahat yang bisa saja menyerang satu persatu anggota keluargaku", ujar sang bunda seraya membawa penjaga keamanan. Sebelumnya dia telah mendengar perdebatan keluarganya itu, lalu dia meminta bantuan pada petugas keamanan rumah sakit untuk membawa bi Arsih keluar.


"Cih, ini cara ibu menyambut saudara? Di mana sopan santun ibu?"


"Untuk apa bi Arsih berteriak seperti itu? Jangan salahkan kami jika petugas keamanan ini membawa bi Arsih keluar dari ruangan ini, karena perbuatan bi Arsih barusan telah mengganggu kenyamanan pasien."

__ADS_1


"Tolong kerjasamanya, bu. Saya tidak ingin menarik ibu keluar", ujarnya seraya menunjuk pintu keluar dengan jempolnya. Bi Arsih pun terpaksa mengikuti arahan petugas keamanan itu agar dirinya tidak dipermalukan.


__ADS_2