Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Ayunda berusaha Ceria


__ADS_3

Adrian dan Winda sedang berbaring di atas tempat tidur setelah Azzam putra mereka itu tertidur pulas.


Winda menoleh ke arah sang suami. "Menurut my hubby, siapa kira-kira dalang yang telah menjebak Ayunda."


Adrian berdehem, rasanya berat dia untuk mengatakannya. "Orang yang menaruh dendam pada keluarga kita hanya keluarga bude di kampung halaman kami."


"Owh, keluarganya pakde my hubby yang sudah di penjara itu. Dia yang telah menyuruh seseorang menabrak mobil papa dan mama Alfian kan?"


"Iya, sayang. Tapi itu cuma perkiraan saja. Aku harus segera mengumpulkan bukti sebelum Yunda di tahan pihak berwajib."


"Jika butuh bantuanku katakan saja."


Adrian menatap sang istri dengan penuh arti.


"Kau memang istri yang sangat pengertian my hubby. Aku memang membutuhkan bantuanmu untung menenangkan sesuatu milikku yang sangat berharga."


Winda mendelik saat mendengar ucapan sang suami. Tanpa aba-aba Adrian sudah menyergap sang istri, hingga hasratnya yang sedari tadi di tahan akhirnya tertumpah.


"Terimakasih, sayang", ucap Adrian sembari memberi kecupan manis saat melihat wajah lelah sang istri.


 


Mentari pagi menyeruak masuk melalui celah jendela kamar Ayunda. Pagi ini Ayunda buru-buru masuk ke dalam kamar mandi berukuran kecil itu. Tidurnya yang kurang nyenyak membuatnya telat bangun.


Setelah beberapa menit menyelesaikan ritual mandinya. Dia pun bergegas memakai pakain kerja yang sudah dia siapkan di atas tempat tidur.


"Laptop, flasdisk dan..." dikte Ayunda sembari menggantung ucapannya mencoba mengingat apa yang belum masuk ke dalam tas laptopnya. "Sepertinya tidak ada lagi." Lalu dia melangkah keluar dari dalam kamar.


"Pagi semuanya...", sapa Ayunda dengan berjalan menghampiri meja makan dan menampilkan senyuman manisnya. Semua anggota keluarga menatap wajah ceria Ayunda.


"Pagi sayang. Ceria banget pagi ini", ujar sang bunda yang baru saja meletakkan sepiring kentang goreng kesukaan Adrian.


"Bunda kan selalu mengajarkan kami untuk tetap sabar dalam menghadapi semua masalah, biar hati menjadi tenang. Kalau udah tenang pasti ada rasa bahagia. Nah, ini yang Yunda praktekin selain berdoa."


Sang bunda tersenyum mendengar penuturan putri cantiknya itu. "Kamu benar nak. Sekarang beban pikiran bunda sedikit berkurang melihat sikap Yunda yang seperti ini."


"Yunda harus tetap berserah pada Allah dan jangan lupa istighfar."


"Ya, ayah", sahut Ayunda dengan sopan. Lalu mereka yang duduk di kursi meja makan sama-sama menikmati sarapan pagi buatan sang bunda yang tak pernah membosankan untuk di santap.


Setelah selesai menikmati sarapannya, Ayunda langsung berpamitan pada seluruh anggota keluarganya, karena dia ada meeting penting pagi ini.


 


Ayunda melajukan kendaraannya membelah keramaian jalanan kota yang memang ramai penduduknya. Netranya berulang kali melirik jam digital di dashboard mobil. Hampir saja lidahnya mengucapkan kata umpatan, karena kesal akan terlambat ke kantor.

__ADS_1


Netranya tidak sengaja melihat seseorang yang dia kenal sedang menyalip beberapa kendaraan, karena orang itu sedang menaiki sepeda motor. Dengan buru-buru dia membuka kaca mobilnya. "Denis!" teriak Ayunda memanggil pria yang tak jauh dari posisi mobilnya.


Pria yang merasa namanya di panggil itu pun menoleh. "Ada apa?" tanya dua orang pria hampir bersamaan.


"Maaf, Denis yang baju biru", ujar Ayunda dengan tersenyum kaku.


"Bu Yunda", sapa Denis saat melihat jelas wajah orang yang telah memanggilnya. "Ada apa, bu?"


"Apa kau punya SIM A?"


"Punya bu. Dan saya juga bisa mengendarai mobil", sahut Denis dengan percaya diri.


"Kebetulan kalau begitu. Aku mau kita bertukar tempat. Kau bawa mobil ini, aku bawa motormu."


Denis menatap Ayunda dengan mengernyitkan keningnya. "Apa ibu yakin?"


"Jangan sepele. Gini-gini, saya juga bisa bawa motor. Kamu tenang saja, motor kamu aman di tangan saya."


"Saya bukan kuatir dengan motornya bu. Tapi saya kuatir dengan bu Yunda."


Bunyi klakson kendaraan di belakang mereka, membuat Ayunda mengambil langsung kunci motor dari tangan Denis dan menggantinya dengan kunci mobil.


"Saya duluan ya", ucap Ayunda sembari berjalan membawa tas laptopnya. Lalu dia menyalakan motor milik Denis dan membawanya melewati kendaraan yang masih mengantri itu.


 


"Pagi pak Arif", sapa Ayunda pada satpam yang masih melongo melihat Ayunda datang menaiki sepeda motor.


"Pagi bu Yunda. Ibu kenapa naik motor?"


"Nanti deh saya cerita. Klien kita sudah datang?"


"Belum, bu."


Ayunda bernafas lega. Akhirnya dia bisa tiba sebelum klien penting itu datang. "Oke pak Arif. Saya ke atas dulu."


"Baik, bu", sahut pak Arif dengan sopan.


Ayunda melangkahkan kakinya meninggalkan pak Arif yang masih berdiri diposisinya.


 


Setelah hampir 3 jam lamanya Ayunda bersama dengan klien baru mereka itu melakukan meeting, akhirnya dicapai suatu kesepakatan.


"Terimakasih atas kepercayaan bapak pada perusahaan kami."

__ADS_1


"Sama-sama, bu. Semoga kerjasama kita berjalan dengan lancar."


"Amin."


Ayunda membawa tamunya keluar dari ruangan. "Jadi bapak langsung kembali ke Bali?"


"Iya bu. Lain kali kita bisa makan siang bersama."


"Baik pak", balas Ayunda dengan ramah.


Lalu Ayunda melihat kepergian kliennya itu. Setelah tidak tampak lagi oleh pandangan matanya, dia langsung berjalan menuju ruang kerjanya.


"Bu Yunda. Ada pria yang sedang mencari ibu di bawah", ucap sang sekretaris.


"Siapa?"


"Kalau pak Abian saya kenal bu, tapi kalau pria satunya lagi, katanya sih pernah datang ke kantor ini tapi namanya saya lupa."


"Alfian?"


"Ah, iya bu. Berarti ibu kenal dengan kedua pria itu. Ibu pilih yang mana?" goda sang sekretaris.


"Kamu jangan membuat masalah baru. Atau kamu mau saya suruh lembur malam ini?"


Sang sektetaris pun menciut. "Iya maaf bu. Saya cuma penasaran, karena kisah ibu mirip dengan drama ysng sering saya tonton."


"Ini bukan drama tapi kehidupan nyata saya. Tolong kamu atur bagaimana caranya mereka pergi dari sini, tapi tidak menyakiti keduanya."


"Bu Yunda, lebih baik saya di suruh kerja lembur aja deh. Dari pada di suriuh ngusir orang, berat rasanya bu", ucap sang sekretaris dengan memelas.


Ayunda mendengus kasar. Dia terpaksa meminta sang resepsionis yang menyuruh mereka pulang.


---


"Maaf bapak-bapak yang saya hormati", ucap sang resepsionis membuka perbincangannya dengan Alfian dan Abian. "Bu Yunda sedang sibuk saat ini. Jika ada yang mau disampaikan bisa tinggalkan pesan. Nanti saya yang akan sampaikan ke bu Yunda", ujarnya dengan ramah.


Alfian dan Abian saling berpandangan. Niat mereka ingin mengajak Ayunda keluar makan siang, mana mungkin mereka meninggalkan pesan.


Tiba-tiba ponsel Alfian berdering. "Reina", ucapnya saat melihat nama kontak di layar ponselnya. Lalu dia segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


Alfian sibuk dengan panggilan teleponnya, sedangkan Abian berusaha bernegosiasi dengan sang resepsionis.


Tak berselang lama Alfian pun berpamitan, karena ada urusan mendesak di kantornya. Sedangkan Abian masih belum beranjak dari sisi meja resepsionis.


"Maaf, pak. Saya sudah diingatkan untuk tidak menelpon bu Yunda kembali. Jika hal itu untuk kepentingan pribadi bapak, silakan langsung hubungi ke nomor pribadi bu Yunda", ucap sang resepsionis dengan tegas. Abian pun terdiam dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2