
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Siang ini Adrian dan yang lainnya tiba di bandara setelah melakukan perjalanan jauh dari Paris. Adrian dan Winda berjalan bersama dengan santai mengabaikan Ferdo yang sedari tadi murung, karena telah di buat seperti kambing congek oleh mereka. Dia menatap dengan kesal sepasang kekasih yang selalu menunjukkan kemesraan itu di hadapannya.
"Aku pulang duluan, ya", ucap Ferdo dengan santai saat dia melewati Adrian dan Winda. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti saat ada seseorang yang sedang berlari menghampirinya. Ferdo ingin segera kembali masuk ke dalam pesawat, untuk menghindari wanita itu. "Oh, no!" Ferdo terbelalak dan berusaha mencari tempat persembunyian.
"Dia sudah melihatmu", teriak Adrian sambil meledek Ferdo. "Puft, Kau tidak akan bisa kabur lagi!" seru Adrian masih dengan nada mengejek.
Ferdo yang tak punya tempat untuk bersembunyi akhirnya pasrah. Dia berbalik dan membuang pandangannya dengan asal sambil berdiri di tempatnya semula saat Siska memeluknya dari belakang. "Aku merindukanmu", ucap Siska masih dengan memeluk Ferdo.
"Lepaskan!" seru Ferdo dengan nada tak ramah. Namun Siska tak mau melepaskannya. "Lepaskan!" ucap Ferdo dengan menaikkan nada bicaranya.
Siska mencoba melunakkan hati Ferdo. "Apa Kau juga merindukanku?" tanya Siska dengan wajah tak tahu malu, saat melepas pelukannya.
Ferdo langsung berjalan dengan langkah lebar meninggalkan Siska, tanpa menjawab pertanyaan Siska yang memang tak ingin dijawabnya itu. Siska yang tak ingin di tinggal, langsung berlari mengejar Ferdo. Dia tetap mengikuti langkah Ferdo dengan berjalan di sisi kirinya.
"Aku telah memasak sesuatu untukmu", tutur Siska dengan nafas terengah-engah, karena tak dapat mengimbangi langkah Ferdo, yang membuatnya tertinggal di belakang Ferdo.
"Aww... " ringis Siska saat Ferdo berhenti mendadak di depannya. Wajah kesal Ferdo berubah ceria melihat kedatangan seorang wanita yang sedang bercengkrama bersama Adrian dan Winda.
Ferdo baru saja akan berjalan menghampiri Ayunda, namun langkahnya kembali terhenti, saat Siska menarik tangannya. "Lepaskan!" ucap Ferdo dengan ketus tanpa memandang Siska.
"Tidak akan! Kau tunanganku, jadi aku berhak memintamu berada di dekatku", ujar Siska dengan tetap memegang tangan Ferdo.
__ADS_1
Ferdo berdecak kesal, dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Siska, namun Siska semakin memegangnya dengan erat. Ferdo yang tak ingin orang melihatnya melakukan kekerasan terhadap wanita, akhirnya mengalah. Ferdo bergeming, namun sorot matanya menatap lekat pada Ayunda yang memeluk Winda dengan rasa haru. Senyum manis yang terpancar di wajah Ayunda seakan membuat Ferdo tersihir.
"Pantes saja", ucap Siska dengan nada tak suka.
Ferdo yang terus tersenyum saat menatap Ayunda telah membuat Siska jengah, karena telah mengabaikan ocehannya yang tiada hentinya.
"Ferdo", ucapnya dengan manja, membuat Ferdo bergidik ngeri. "Ehmm... " ucapnya kemudian masih dengan suara sok manja sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai.
Ferdo yang malu dengan sikap kekanakan Siska, akhirnya memandang ke arah Siska. "Ada apa?" tanyanya dengan nada datar.
"Aku tadi bertanya padamu. Kakek di mana? Kenapa tidak bareng?" Siska bertanya sambil melihat ke sekeliling, barangkali sang kakek ke toilet.
"Huft, cuma nanya itu doang?" tanya Ferdo dengan membuang nafas kasar. Siska pun mengangguk dengan cepat, yang tak sabar menunggu jawaban dari Ferdo. Dia ingin segera bertemu dengan sang kakek.
"Kakek ada urusan penting, jadi dia tidak singgah ke kota ini", balas Ferdo sambil berlalu meninggalkan Siska yang lengah dengan genggamannya.
"Hai, Kak Alfian", sapa Ayunda dengan tersenyum manis, namun tidak dengan perasaannya saat ini. Ayunda merasa sedih karena terlambat mengetahui pria berinisial A itu. Jika saja dia mengetahuinya sebelum pertunangan Ferdo, maka Ayunda akan meminta Ferdo menolak perjodohan itu dan memulai suatu hubungan dengannya, karena dia juga menyukai Ferdo. Namun semuanya sudah terlambat, Ferdo telah bertunangan.
"Yunda bareng sama siapa ke sini?" tanya Ferdo dengan tersenyum bahagia.
"Sendiri, Kak", balas Ayunda yang juga tersenyum bahagia.
Siska memandang tidak suka keakraban Ferdo dan Ayunda. Dia langsung menjauhkan Ferdo dari sisi Ayunda, sehingga dia berada di tengah antara Ferdo dan Ayunda.
"Sayang, ayo kita pulang!" ajak Siska dengan nada manja yang kembali menggayut tangannya. Ferdo mulai gerah dengan sikap menjijikkan Siska. "Aku datang ke mari khusus untuk menjemputmu, sayang", ucapnya kemudian yang membuat Ferdo semakin muak.
__ADS_1
Ferdo terpaksa mengikuti keinginan Siska dengan pulang bersamanya, agar Ferdo tidak lagi mendengarkan suara sok manja Siska yang membuatnya semakin merinding. Ferdo berjalan bersama Siska menuju mobil Siska di parkir, setelah berpamitan pada Ayunda, Adrian dan Winda.
***
Adrian memegang ponsel di tangannya sambil berjalan mondar-mandir di ruang tamu apartementnya. Bahkan dia hampir saja menghempaskan ponsel di tangannya itu, kalau saja Ayunda tidak datang. Sebuah kabar dari orang kepercayaannya telah membuatnya merasa gusar. Dia panik, karena belum menemukan bukti yang dapat membebaskan sang ayah dari tuduhan yang akan memberatkannya.
"Kakak belum mandi?" tanya Ayunda yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya, sambil duduk di sofa. Adrian yang masih memikirkan masalah sang ayah, hanya diam tanpa menyahut Ayunda.
"Kak... " ucap Ayunda kembali dengan melambaikan tangannya tepat di wajah sang kakak.
"Ya, kenapa Yunda?" tanya Adrian.
"Kakak kenapa? Kok seperti bingung gitu", ucap Ayunda sambil memperhatikan raut wajah sang kakak yang kebingungan.
"Hem, bukan apa-apa, dek. Hanya ada beberapa masalah di kantor saja", sahut Adrian dengan berbohong. Adrian belum bisa menceritakan keberadaan sang ayah pada Ayunda maupun pada sang bunda. Dia masih ingin merahasiakannya sampai sang ayah terbukti tidak bersalah.
"Oh... " ucap Ayunda dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi kakak bisa mandi dulu, kan? Kerjaannya bisa diselesaikan setelah mandi", ujar Ayunda yang tidak paham masalah yang sedang di hadapi sang kakak.
"Iya", balas Adrian singkat sambil berjalan menuju kamarnya. Dia tak ingin berlama-lama di sana, agar Ayunda tidak curiga, dan terus bertanya padanya.
***
Ferdo berdiri di atas balkon kamarnya sambil menengadah ke langit. Pertemuannya dengan seseorang yang telah di tunggunya selama 12 tahun berakhir dengan menyedihkan. Dia tak percaya jika pelakunya adalah ayahnya Ayunda dan Adrian. Dua orang yang telah menjadi teman baiknya sejak kecil, meskipun pertemuan Ferdo dan Ayunda sangat singkat, namun Ferdo selalu mengingatnya. Bahkan Ferdo telah berjanji di dalam dirinya, jika suatu saat bertemu dengan Ayunda, maka dia akan menjadikan Ayunda sebagai istrinya.
__ADS_1
Ferdo masih menengadah ke atas, dia terus mencari dua bintang yang bersinar terang di langit. "Bintang, Kau di mana? Kenapa gak muncul juga?" tanya Ferdo yang sedang merindukan ke dua orang tuanya.