
Beberapa hari kemudian...
Pagi ini di restoran bundo tampak seorang wanita sedang berlalu lalang di dekat pintu masuk.
"Siapa wanita itu?" tanya sang Bunda saat masih berada di dalam mobil.
Ibunya Winda yang ikut bersama dengan mereka berkomentar. "Bukankah itu saudara besan?" tanyanya balik.
"Maksud besan, Bi Arsih yang dari kampung halaman kami itu?"
"Saya kurang mengetahui namanya, tapi saya sedikit mengingat postur tubuhnya", jawabnya dengan serius.
"Ayo, kita keluar saja", ajak Adrian. Lalu mereka sama-sama keluar dari dalam mobil dan berjalan menghampiri wanita itu.
"Dia bukan Bi Arsih, Bun", ujar Adrian saat melihat jelas wanita itu.
"Kamu siapa? Dan untuk apa mondar-mandir di depan restoran?"
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak punya niat jahat. Saya hanya ingin mencari pekerjaan."
Bundanya Adrian menatap intens wanita yang ada dihadapannya. "Kamu mau bekerja sebagai apa?" tanya sang Bunda. Karena jika di lihat dari wajah wanita itu, usianya tidak jauh berbeda dengan Bundanya Adrian.
"Terserah Ibu. Saya akan berusaha melakukannya dengan baik", ucapnya memelas.
"Tapi kami tidak sedang membutuhkan karyawan di sini."
"Tolong saya, Bu. Berikan saya pekerjaan apapun. Hasil kerja saya pasti tidak akan mengecewakan Ibu."
"Kenapa Ibu tidak mencoba di tempat lain? Barangkali di tempat lain sedang membutuhkan karyawan", ujar Adrian yang ingin menyelidiki niat sebenarnya wanita itu.
"Saya sudah pergi ke beberapa restoran besar, tapi mereka mengusir saya. Saat ini saya sudah tidak kuat lagi kalau masih harus berjalan mencari tempat kerja yang lain."
"Saya bersimpati atas apa yang Ibu alami. Tapi kenana suami dan anak Ibu?" tanya Adrian.
Seketika raut wajah wanita itu berubah suram. 'Jika tidak ingin membantu tidak apa-apa, tidak perlu bertanya tentang hal pribadi saya", ucapnya dengan ketus.
Sang Bunda merasa iba mendengar perkataan wanita itu. "Maafkan putra saya, Bu. Dia hanya tidak ingin saya di tipu."
"Sudah saya katakan, saya tidak punya niat jahat. Jika tidak mau menolong, maka saya akan pergi ke tempat lain", imbuhnya dengan nada lirih.
"Saya menerima kamu", ujar sang Bunda dengan tersenyum.
"Bunda...!" seru Adrian. "Jangan sembarangan menerima orang. Lebih baik kita menguji dia terlebih dulu."
__ADS_1
"Benar apa kata Adrian. Saran saya lebih baik besan memberinya tugas membersihkan restoran dan mencuci piring terlebih dulu."
"Hal itu sudah saya pikirkan. Besan tenang saja", jawab sang Bunda. Ibunya Winda tersenyum puas mendengar penuturan besannya itu.
"Ayo, kita masuk", ajak sang Bunda pada mereka termasuk wanita yang baru diterima bekerja itu.
Mereka pun berjalan masuk ke dalam restoran.
...---...
Ayunda ditemani Alfian datang ke kantor tempat Ayunda bekerja.
"Akhirnya Bu Yunda menjatuhkan pilihan pada Pak Alfian. Meskipun saya di pihak oposisi, tapi saya tetap mendoakan Bu Yunda dan Pak Alfian menjadi keluarga yang samawa", ucap sang resepsionis saat menerima undangan dari Ayunda.
"Asal doanya tulus", ujar Ayunda dengan kedipan mata.
"Tulus banget Bu", sahutnya dengan tersenyum.
Lalu Ayunda melanjutkan membagi undangan pada seluruh karyawan yang berada di lantai berikutnya.
"Sudah dibagikan semua kan, honey. Sekarang kita pergi ke kantor calon suamimu ini", ujarnya dengan tidak sabar.
"Iya, honey. Kita kan sudah sepakat", balas Ayunda. Lalu mereka berjalan ke luar dari gedung tempat Ayunda bekerja. Setelah berada di dalam mobil Alfian langsung melajukan kendaraanya menuju perusahaan Santoso Station.
"Halo, Reina. Saya sedang menyetir, cepat kamu katakan to the point."
"Hari ini ada meeting mendadak Pak. Kakek Pak Alfian sedang di kantor saat ini", jawab Reina dari seberang telepon.
"Owh, begitu. Kalau Kakek bertanya padamu, katakan saya sedang di jalan menuju ke sana."
"Baik, Pak", balas Reina masih dari ujung telepon. Lalu panggilan telepon itu berakhir.
Sesaat setelah selesai berbicara di telepon, Alfian langsung melirik Ayunda sekilas. "Honey, nanti kamu tunggu di dalam ruanganku saja", pinta Alfian yang tidak ingin Ayunda menunda rencana mereka hari ini.
"Honey, tidak perlu kuatir. Aku mengenal gedung itu dengan baik. Asal honey mengizinkanku untuk berkeliaran di gedung itu, maka aku tidak akan merasa bosan."
"Lakukan sesukamu", jawab Alfian dengan tersenyum.
"Terimakasih, honey", balas Ayunda dengan tersenyum pula.
...---...
Hanya butuh waktu 10 menit Alfian dan Ayunda sudah berada di lantai tempat ruang kerja Alfian.
__ADS_1
"Reina, di mana Kakek?" tanya Alfian saat berjalan sejajar dengan Ayunda.
"Ada di dalam, Pak", balas Reina, namun sorot Reina fokus pada Ayunda.
"Oke, kalau begitu saya masuk", ujarnya seraya menarik tangan Ayunda. Dia tidak ingin dua sahabat itu bergosip, hingga menimbulkan masalah dengan sang Kakek.
"Kenapa Yunda di bawa sih, Pak?" tanya Reina dengan wajah sendu. Pada hal dia ingin bergosip banyak tentang hubungan percintaannya dengan Tony yang tidak berjalan mulus.
"Karena diwajahmu tertulis, ayo bergosip", ujar Alfian yang membuat Ayunda terkekeh. Dia baru tahu jika di balik wajah serius Alfian, ternyata dia bisa juga bercanda.
"Sudah jangan ganggu Yunds. Kami masuk dulu", ucapnya kemudian.
"Hai, Kakek", sapa Alfian saat membuka pintu ruangannya sendiri.
"Bocah nakal", ucap sang Kakek dengan wajah serius.
"Kenapa, Kek? Emangnya Alfian sudah melakukan kesalahan apa?"
"Kenapa seluruh karyawan di sini belum ada yang tahu tentang hari pernikahanmu? Padahal itu tinggal beberapa hari saja lagi! Kakek sudah meminta beberapa divisi kumpul di ruang meeting. Ayo, kita ke sana sekarang!" titah sang Kakek dengan suara tegas.
Alfian melangkahkan kakinya mengikuti sang Kakek dibelakangnya. "Bawa juga calon istrimu", pinta sang Kakek saat melihat Ayunda tidak beranjak dari posisinya.
"Baik, Kek", balas Alfian seraya menghampiri Ayunda dan menggandeng mesra tangannya.
"Lepaskan honey, kita belum sah menjadi suami istri", bisik Ayunda.
"Jangan dilepaskan. Hari pernikahan kita hanya tinggal menghitung hari saja, kenapa tidak boleh mesra", balasnya dengan berdecak kesal.
Ayunda hanya membalas dengan tersenyum, dia tidak ingin merusak mood calon suaminya itu.
...---...
Setelah 2 jam lamanya berada di ruang rapat, akhirnya meeting dadakan itu di tutup oleh sang Kakek.
"Jika semua divisi sudah paham akan tugas masing-masing, maka segera laksanakan!" titah sang Kakek dengan tegas.
"Saya ingin pesta pernikahan cucu saya dilakukan dengan megah dan disiarkan secara langsung", ucapnya mengulangi perkataan yang telah dia sampaikan sebelumnya. "Saya tunggu progress pengaturan acara ini pada H minus 1", ucapnya kemudian, lalu sang Kakek berjalan menuju pintu keluar ruang rapat.
"Baik, Tuan", balas semua yang ada di dalam ruang rapat. Lalu mereka bernafas lega, setelah sang Kakek benar-benar keluar dari ruangan itu.
"Jangan terlalu tegang, jalankan seperti biasanya kalian melakukan pekerjaan", ucap Alfian dengan santai. "Kalau begitu kami juga pamit", lanjutnya. Lalu dia memberi Reina tugas untuk membagikan undangan pada seluruh divisi.
Alfian dan Ayunda berjalan keluar meninggalkan para karyawan yang sedang sibuk menerima undangan dari tangan Reina.
__ADS_1