
Malam berganti pagi dengan begitu cepat. Pagi ini weekend Ayunda disibukkan dengan membantu keluarganya menyiapkan pesanan yang membludak.
"Pesanan ini untuk acara apa, bun?" tanya Ayunda saat membantu memasukkan beberapa.kotak pesanan itu ke dalam bag besar.
"Bunda kurang tahu, karena yang terima pesanan pekerja di restoran."
"Jadi dia ambil keputusan sendiri?"
"Sebenarnya bunda pernah memberinya mandat. Untuk menerima pesanan apapun itu, asal.yang mesan kasi panjar 20%."
"Harusnya jangan 20% bun. Untuk menghindari penipuan", ucap Ayunda dengan serius saat sedang memasukkan kotak terakhir.
"Kamu jangan suka suudzon pada orang lain."
"Astaghfirullah... Iya Yunda minta maaf, bun", sahutnya menyesal.
"Iya, gak apa-apa. Yang penting Yunda langsung sadar", ujar sang bunda dengan lembut. Lalu sang bunda mengalihkan perhatiannya pada Adrian. "Papa Azzam, Apa jumlahnya sudah sesuai?" tanya sang bunda, karena tugas menghitung dia serahkan pada Adrian.
"Sudah bun. 1500 kotak semuanya."
"Oke, berarti tinggal di antar ke alamatnya."
"Iya, bun", sahut Adrian dengan penuh semangat. Karena ini adalah orderan pertama mereka yang berjumlah di atas seribu. Lalu Adrian bersama seorang pekerjanya pergi mengantar pesanan itu ke alamat yang mereka pegang.
"Kami pergi dulu, bun. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan ya."
"Ya, bunda", sahut Adrian saat mobil yang dia kemudikan sudah melaju.
"Yunda mau sarapan sebentar ya, bun", ucap Ayunda sembari menatap wajah lelah sang bunda.
"Iya, nak. Makan yang banyak."
"Bunda menyuruhku jadi gendut?" Ayunda menatap sang bunda dengan berpura-pura marah.
__ADS_1
"Maafkan bunda, nak. Bunda hanya kuatir Yunda menjadi lemah menghadapi masalahmu dengan Dafa. Barangkali dengan makan banyak tenaga Yunda akan bertambah kuat."
"Bunda..." panggil Ayunda dengan manja. Lalu dia menghamburkan dirinya memeluk erat sang bunda. "Semua akan baik-baik saja, bun." Elusan lembut sang bunda dikepalanya membuat Ayunda sedikit tenang.
Drrt. Drrt.
Ponsel Ayunda bergetar. Dengan perlahan dia melepas pelukannya, tangan kanannya meraih ponsel dari dalam saku celananya. "Kak Alfian", ucapnya bergumam. "Bun, Yunda angkat telepon sebentar ya",.ucapnya sembari menjauhi sang bunda.
"Assalamualaikum kak Alfian."
"Waalaikumsalam... Apa kakak mengganggumu?"
"Enggak juga. Tapi ada apa kakak nelpon?" tanya Ayunda yang berusaha menahan rasa gugupnya.
"Kakak cuma mau bilang kalau Dafa sudah sadar dari koma."
"Alhamdullilah. Jadi bagaimana keadaan Dafa sekarang kak?" tanya Ayunda yang mulai penasaran.
"Kakak gak tahu, tapi yang kakak dengar katanya Dafa sedang lupa ingatan."
Ayunda terduduk lesu saat mendengar penuturan Alfian. Dia mengira Dafa nantinya bisa bersaksi mengatakan kejadian yang sebenarnya. Namun ternyata ujiannya belum usai.
"Ya, kak", sahut Ayunda lirih.
"Jangan sedih, kakak menemukan sedikit titik terang", ucapnya dari seberang telepon. "Kakak menemukan sesuatu yang janggal, yakni waktu yang ditempuh wanita itu menuju lokasi kejadian dan apa tujuanya, kenapa dia bisa tiba-tiba datang ke lokasi itu? Nah, itu semua janggal kan?"
Ayunda terkesiap mendengar penuturan Alfian. "Iya, kakak benar. Kenapa Yunda gak kepikiran ya."
"Ada 1 hal lagi yang membuat kakak bingung. Kenapa Sherly hanya menonton bahkan sampai merekam? Harusnya setelah menabrakkan Dafa, otomatis wanita itu juga harus menghilangkan saksi dan barang bukti", ucap Alfian masih dari seberang telepon.
"Yunda setuju dengan kakak. Terimakasih buat argumen-argumen kakak barusan. Sekarang Yunda semakin yakin, seseorang sudah menjebak Yunda."
"Baguslah kalau Yunda setuju dengan argumen kakak. Kedepannya Yunda harus ingat ada kakak yang akan selalu melindungimu."
"Baik kak", balas Ayunda dengan rasa bahagia.
__ADS_1
Perbincangan di telepon itu berlanjut hingga telinga Ayunda memanas. Namun sambungan telepon itu akhirnya diputus sesaat setelah Ayunda mendengar teriakan sang bunda. Dia menyimpan kembali ponselnya dan berjalan menghampiri sang bunda.
"Ada apa, bun. Kenapa bunda berteriak?" tanya Ayinda saat sudah berada dihadapan sang bunda.
"Tidak mungkin! Bagaimana ini?" ucap sang bunda dengan panik.
Ayunda yang semakin bingung, mencoba menenangkan sang bunda dengan menuntunnya untuk duduk. "Ada apa, bun. Coba bunda cerita ke Yunda", bujuk Ayunda.
"Kita di tipu, nak. Alamat yang diberikan itu palsu. Kata security komplek, tidak pernah ada alamat itu. Nomornya juga sudah tidak aktif lagi", ujar sang bunda dengan raut wajah kecewa.
Ayunda tertegun, kecurigaannya benar-benar terjadi. Lalu dia menatap sang bunda dan mencoba untuk menghiburnya. "Bunda, Yunda pikir ini adalah suatu teguran dari Allah buat kita. Kita diingatkan agar bersedekah. Bagaimana kalau semua makanan itu kita bagikan pada orang yang membutuhkan. Bunda tenang saja, nanti Yunda yang akan ganti semua kerugian bunda."
Sang bunda menatap haru atas perkataan putrinya itu. "Ternyata putri bunda semakin dewasa semakin bijaksana. Bunda sangat setuju dengan idemu, nak", sahut sang bunda dengan tersenyum bahagia. "Tapi untuk ganti rugi, Yunda tak perlu kuatir mengenai itu", sambungnya.
Dengan perasaan bahagia sang bunda langsung menghubungi putranya yang masih kebingungan mencari alamat itu. Dia meminta Adrian kembali dengan menyampaikan ide Ayunda padanya. Tanpa pikir panjang Adrian menyetujuinya, dia pun membawa kembali semua makanan dalam kemasan kotak itu ke restoran bundo.
---
Setelah rasa kuatir akan kasus penabrakan Dafa, hari ini keluarga Ayunda diberi teguran dengan kejadian penipuan. Meski merugi, namun sang bunda ikhlas membagikan semua makanan pada orang yang membutuhkan.
Alfian yang mendapat kabar itu pun datang ke restoran bundo. Niat baiknya untuk ikut mengurangi kerugian bunda Ayunda itu, di tolak mentah-mentah oleh sang bunda. Karena sang suami masih belum bisa menerima keberadaan Alfian.
Namun Alfian tidak mau menyerah, dia pun menunjukkan kepeduliannya dengan membantu keluarga Ayunda membagikan makanan dalam kemasan kotak itu.
Setelah seharian penuh mereka berkeliling, akhirnya semua makanan selesai dibagikan tanpa bersisa.
"Alhamdullilah, semuanya sudah habis bun. Semoga berkah", ucap Adrian dengan tersenyum.
"Amin..." jawab mereka hampir bersamaan.
Lalu sang bunda mengajak mereka makan bersama, karena sang bunda sudah memasak yang spesial buat mereka semua termasuk Alfian.
Namun siapa yang sangka kebahagiaan keluarga Ayunda adalah kebencian bagi seseorang yang menatap mereka dari kejauhan. Rencananya untuk menghancurkan bisnis sang bunda berakhir gagal. "Cih, sok baik! Apa kalian pikir dengan berbuat seperti itu, maka keluarga kalian akan semakin kaya? Jijik aku melihat kalian semua yang sok suci."
Seorang wanita muda yang baru saja menghina keluarga Ayunda itu melangkahkan kakinya meninggalkan halaman parkir dengan muka ditekuk. Entah rencana apa lagi dalam benaknya yang sedang dia pikirkan untuk menghancurkan keluarga Ayunda itu.
__ADS_1
---
Sedangkan di restoran bundo, tampak Alfian sedang buru-buru menyelesaikan makanan buatan sang bunda itu. Alfian terpaksa undur diri, karena Zahra tak berhenti merengek memintanya pulang, yang membuat sang pengasuh sedikit kewalahan.