Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Pengumuman PKL


__ADS_3

Hai Reader yang baik hati, selalu jaga kesehatan ya 😊


🌸🌸🌸


Ayunda berjalan masuk ke dalam cafe "Pagi Kak Reno..." sapanya sambil tersenyum saat melihat Reno membolak-balik berkas di tangannya.


"Pagi..." balas Reno dengan tersenyum.


Namun salah seorang teman kerja Ayunda menyalah artikan keramahannya, dia menganggap Ayunda sedang mencari perhatian lebih dengan tebar pesona pada Reno.


Ayunda melanjutkan lankahnya menuju ruang ganti, "Pagi Kak Rika", sapa Ayunda dengan ramah.


"Pagi", balasnya sinis.


Ayunda bingung dengan sikap aneh Rika, entah kenapa Rika selalu menunjukkan wajah sinis padanya. Namun Ayunda tetap memberikan senyum ramah saat berbicara dengan Rika.


Ayunda berjalan menunduk sambil menurunkan telapak tangannya, "Permisi, Kak", ucap Ayunda berjalan menuju ruang ganti.


Cih, aku akan membongkar sifat aslimu, batin Rika.


Ayunda sudah siap bekerja dengan menggunakan pakaian seragamnya. Ayunda berdiri di depan pintu masuk cafe sambil tersenyum ramah pada setiap pelanggan yang masuk. Namun ada mata yang tak berhenti memandangnya dengan hati yang dipenuhi kebencian.


***


Setelah jam kerja Ayunda selesai, dia bergegas mengganti pakaiannya. Lalu berjalan ke luar cafe menuju kampus setelah pamit pada sang pemilik cafe. Ayunda melangkahkan kakinya dengan hati-hati saat akan melewati bengkel pak Tupang, an*ing yang dilihatnya pagi itu masih berada di tempat yang sama. Tatapannya yang tajam seolah sedang melihat mangsa.


Ayunda berjalan perlahan, dengan pandangan lurus sambil mengencangkan doanya. "Dua langkah lagi", gumamnya.


"Akhirnya", ucap Ayunda saat sudah berhasil melewati bengkel pak Tupang.


Ayunda langsung mempercepat langkahnya menuju gerbang kampus.


***


Ayunda berjalan masuk ke dalam kelasnya, menghampiri Reina yang terlihat termenung.


"Kamu kenapa?" tanya Ayunda sambil mengkerutkan keningnya.


Reina memalingkan wajahnya menatap Ayunda, "Aku gugup", sahutnya.


Ayunda lagi-lagi mengernyitkan keningnya, dia bingung, kenapa Reina merasa gugup. Dia mengira kalau Reina sedang jatuh cinta pada seseorang dan sedang merasakan serangan panah-panah asmara.


"Aku belum siap berpidato di depan banyak orang", ucap Reina lirih.


"Ha.. ha.. aku telah salah menduga, aku pikir Kau sedang jatuh cinta", sahut Ayunda merasa malu dengan apa yang sudah di pikirkannya.


Reina memalingkan wajahnya ke depan, "Aku juga berfikir, Kau benar-benar memahamiku", ucapnya dengan cemberut.

__ADS_1


Ayunda langsung meraih tangannya, "Maaf... kalau aku belum bisa menjadi sahabat yang baik buatmu. Mulai saat ini, aku akan belajar memahami pikiranmu", tuturnya meyakinkan Reina.


Reina tertawa, "Ha.. ha.. bukan itu maksudku, Ay", sahutnya sambil menatap Ayunda.


Saat Reina menoleh ke depan, tiba-tiba raut wajahnya berubah, saat pak Diran, dosen yang sedang di hindarinya itu berjalan masuk ke dalam kelas. Doanya tidak terkabul, pak Diran tidak sedang ada keperluan apa pun, dia punya waktu yang banyak untuk mengajar hari itu.


Aduh, gimana ini, batin Reina.


Reina kurang fokus selama jam kuliah pak Diran berlangsung, . Dia berharap dosen PR itu melupakan tugas yang sudah di berikan padanya.


Lima belas menit sebelum jam kuliah selesai, Reina menarik nafas lega, karena jam kuliah akan segera berakhir.


Pak Diran berjalan ke depan mengakhiri materi yang baru saja di sampaikannya, kemudian menutup buku di tangannya sambil mengabsen wajah mereka satu per satu. Lalu pak Diran berbalik menghadap ke whiteboard, "Reina", panggilnya tiba-tiba tanpa memandang Reina.


"Ya, Pak", sahutnya santai.


"Maju ke depan..." pinta sang dosen.


What? apa ini? batinnya. Reina melangkahkan kakinya dengan gugup, dia tak menduga bahwa sang dosen benar-benar mengingat tugas yang diberikan padanya meskipun sudah di menit terakhir jam kuliah akan berakhir.


"Sampaikan pidatomu dalam waktu sepuluh menit", pinta sang dosen.


Reina memulai pidatonya dengan terbata-bata, namun saat dia memandang Ayunda, dia mengingat perkataannya. Jika Kau gugup cobalah memandang ke satu arah atau satu orang yang jika Kau memandangnya Kau merasa tenang.


Reina terus memandang ke arah Ayunda, saat memandang Ayunda perasaannya mulai tenang, bahkan dia dapat berkata-kata dengan lancar layaknya seorang orator.


Semua mahasiswa bertepuk tangan saat Reina mengakhiri pidato singkatnya.


"Good job", puji Ayunda saat Reina duduk di sebelahnya.


Reina membalas dengan tersenyum lega.


***


Di dalam ruang rapat


Setelah Manager Marketing selesai melakukan presentasi, semuanya memberi applause atas ide kreatif yang mereka sampaikan.


"Segera proposal rincian acara dan biayanya kirim melalui sekretaris saya", ucap Ferdo saat memimpin rapat.


"Bagaimana dengan yang lain, apakah ada yang ingin di sampaikan?" tanyanya kemudian.


"Pak, beberapa karyawan ada yang sedang di luar kota dan kita tidak punya cukup waktu jika harus menunggu mereka kembali", ucap Manager Program.


Seseorang mengangkat tangannya, "Pak... apakah anak PKL dapat di libatkan dalam program ini?"


"Uji dulu kemampuannya, jika layak maka silakan mereka yang mengganti sementara."

__ADS_1


"Baik, Pak", sahut Manager Personalia.


"Oke... meeting ini berakhir, sikakan lanjutkan aktivitas kalian."


Mereka beranjak membereskan berkas masing-masing.


Saat Ferdo dan Adrian asistennya melangkah melewati beberapa orang, "Winda, ke ruangan saya sekarang!" pintanya, lalu melanjutkan langkahnya.


"Baik, Pak", sahutnya mengikuti langkah Ferdo dari belakang.


Ferdo masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Adrian dan Winda. Saat Ferdo sudah duduk di kursi kebesarannya, diikuti Adrian dan Winda duduk di hadapannya, Ferdo langsung pada inti permasalahan. Dia meminta Winda memberikan kandidat anak PKL dalam minggu ini, karena program itu akan di mulai dua minggu ke depan.


Winda menyanggupi permintaan Ferdo, karena dia sudah melakukan selangkah di depan.


***


Di kampus


"Ayunda, ayo kita lihat ada pengumuman apa di mading kampus", seru Reina sambil menarik tangan Ayunda.


"Pelan-pelan saja, itu pengumuman tak akan hilang, kita bisa membacanya nanti", sahut Ayunda dengan kesal, namun Reina berpura-pura tak mendengarkannya, dia tetap menarik tangan Ayunda menuju papan pengumuman.


"Permisi... permisi..." ucap Reina sedikit berteriak.


"Jangan teriak gitu dong, ini juga kita mau pergi", ucap seorang mahasiswi pada Reina.


"Ye... Siapa yang teriak, ini suaraku memang dari sononya seperti itu", balasnya.


Mahasiswi tersebut beranjak tanpa membalas ucapan Reina.


Reina dan Ayunda langsung fokus membaca pengumuman itu.


"Santoso Station", gumam Ayunda.


"Ayo, kita mencobanya", seru Reina pada Ayunda.


Ayunda membalas dengan anggukan kepala, dia tertarik untuk PKL di tempat itu, bukan karena honor yang akan di dapatkannya, tapi pengalaman bekerja di sebuah perusahaan besar.


Mereka langsung meninggalkan tempat itu menuju kantin kampus, sedari tadi penghuni perut Reina sahabatnya itu meronta-ronta.


Sesampainya di kantin Ayunda meminta tolong Reina mengantri dan memesankan semangkok bakso ditemani teh botol untuk dirinya.


Ayunda berjalan meninggalkan Reina untuk mencari bangku yang akan mereka tempati, saat dia mengedarkan pandangannya, tak sengaja sorot matanya menangkap sosok Dafa yang sedang duduk berdua dengan seorang wanita. Ayunda mengernyitkan keningnya menduga-duga wanita yang ada di hadapan Dafa, karena Ayunda tidak dapat melihat wajah wanita itu, dia hanya melihat punggungnya saja.


Lalu Ayunda mencari bangku lain, agar Reina tidak melihat keberadaan Dafa bersama seorang wanita.


*

__ADS_1


*


Happy Reading 😊


__ADS_2