Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Lamaran Alfian


__ADS_3

Keluarga besar Dafa merasa sangat malu atas perbuatan tunangan anak mereka Dafa. Mereka merasa sudah di tipu mentah-mentah oleh sikap kepura-puraan Sherly.


"Maafkan mama, nak. Selama kamu hilang ingatan, mama malah membantunya agar kamu percaya kalau dia adalah kekasihmu."


Dafa tidak mengucapkan sepata kata pun. Dia masih bingung dengan dirinya sendiri. "Ma, Dafa mau istirahat dulu", ujarnya seraya membaringkan tubuhnya dan menarik selimut.


"Baiklah, sayang", balas sang mama dengan wajah sendu. Maafkan mama nak, telah salah memilih pasangan buatmu. Andai mama tidak melarangmu untuk menentukan pilihan sendiri, maka semua ini tidak akan terjadi, batinnya.


...---...


Keluarga Ayunda berjalan dengan terburu-buru menyusuri lorong rumah sakit yang tampak ramai itu. Setelah menonton berita yang telah disiarkan secara live itu, ayah dan bunda Ayunda bergegas pergi ke rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Yunda, nak?" tanya sang bunda dengan panik.


Alfian langsung menuntun sang bunda duduk di kursi. "Tenanglah dulu, bu. Saat ini Yunda masih di dalam. Tapi tadi dokter sudah sudah keluar dan menyampaikan kondisi Yunda, menurut dokter tidak ada masalah yang serius. Hanya luka di kulit luar saja."


Baru saja Alfian menyelesaikan ucapannya, sang perawat membuka pintu dan mendorong brankar Ayunda keluar.


"Yunda", teriak sang bunda seraya menghampiri brankar Ayunda.


"Maaf, bu. Pasien akan segera di bawa ke ruang rawat. Ibu bisa menjenguknya di kamar melati nomor 115", ujar sang perawat agar sang bunda tidak menghalangi jalannya brankar.


"Baik, sus", balas Adrian seraya meraih tangan sang bunda. "Bunda bisa bertemu dengan Yunda diruangannya nanti. Àyo, kita kesana bun", ajak Adrian seraya menggandeng tangan sang bunda. Lalu mereka berjalan bersama menuju ruang yang telah disebutkan oleh perawat itu.


"Ayo, pak", ajak Alfian dengan membantu ayah Ayunda mendorong kursi rodanya hingga mereka tiba di depan pintu kamar Ayunda di rawat.


"Yunda...", panggil sang ayah sembari menghampiri sisi ranjang Ayunda dengan raut wajah kuatir.


"A-ayah..." balas Ayunda dengan ucapan yang tersenggal-senggal.


"Sudah, nak. Kamu jangan bicara apapun", ujar sang ayah dengan wajah sendu. "Yang penting saat ini Yunda sehat dan selamat dari bahaya", lanjutnya.


Ayunda hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu senyumnya pun terbit kala dia mengedarkan pandangannya, seluruh keluarganya ada di sana. Semua keluarganya juga tersenyum sebagai balasan.

__ADS_1


"Ayah, bunda kuatir jika Yunda kita masih belum punya pasangan akan banyak wanita yang merasa tersaingi dan akhirnya menyakiti putri kita ini."


"Bunda benar", balas sang ayah dengan tegas.


"Kode keras nih, bro", ujar Adrian seraya melirik Alfian.


"Bapak dan ibu, mungkin momentnya saat ini tidak tepat. Tapi saya tak ingin menunda hal baik ini agar hal buruk tidak terjadi lagi pada Yunda", ujar Alfian dengan sedikit rasa gugup. Lalu Alfian mengucek kedua telapak tangannya, untuk menambah rasa percaya dirinya.


"Bismillahirrahmanirrahim... Bapak, ibu saya ingin meminang putri bapak dan ibu yang bernama Ayunda Milly Rendra. Cantik hatinya, elok rupanya, izinkan saya untuk mempersuntingnya menjadi istri yang akan mendapampingi saya sampai ajal menjemput."


Ayah dan bunda Ayunda saling memandang. Lalu mereka mengalihkan pandangan mereka ke arah Ayunda yang sedang terbaring dengan tersenyum bahagia.


"Sepertinya kita memang tidak punya alasan untuk menolak, bun", ujar sang ayah. "Baiklah, nak Alfian. Kami terima lamaran nak Alfian, harap segera berikan lamaran resmi dengan membawa walimu", lanjut sang kakek.


"Baik, pak", sahut Alfian dengan penuh semangat. Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi. "Siera", ucapnya bergumam. "Bapak, ibu, maaf saya angkat telepon sebentar", tutur Alfian sopan seraya menjauh.


Tak berselang lama Dafa.dan sang mama datang memasuki ruangan Ayunda.


"Maaf bapak dan ibu, jika kami lancang datang kemari. Tapi Dafa terus mendesak ingin bertemu dengan Ayunda, katanya."


Seluruh keluarga Ayunda saling menatap, lalu Adrian langsung menarik tangan sang istri agar keluar dari ruangan itu.


"Silakan bu", tutur sang bunda yang mengizinkan Dafa melihat Ayunda lebih dekat.


Mama Dafa bergegas mendorong kursi roda Dafa hingga berada di sisi ranjang Ayunda. "Hai, Ayunda selamat ya", ujar Dafa dengan tersenyum.


"Maaf tadi kami mencuri dengar lamaran pria tadi pada Ayunda", ucap mama Dafa menjelaskan. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman, karena sikap mereka yang kurang sopan.


"Tidak apa-apa, bu. Kami juga ingin membagi kebahagiaan kami pada orang lain."


"Ayunda, aku memang lupa ingatan. Tapi hatiku tidak bisa lupa pada siapa dia pernah berlabuh", ujar Dafa dengan nada sendu. "Saat mendengar lamaran itu, entah kenapa hatiku sangat sakit", lanjutnya dengan meneteskan air mata.


"Daff-faa... a-ku minta maa-af."

__ADS_1


"Sudah jangan diteruskan, nak. Nanti lukanya terbuka", pinta sang bunda dengan rasa khawatir.


"Benar kata ibu kamu nak, jangan dipaksakan. Kami mengerti keadaanmu", ujar mama Dafa dengan menghela nafas kasar. "Semua ini terjadi karena kesalahan tante. Jika saja tante tidak memaksa Dafa bersama dengan Sherly, mungkin Ayunda tidak akan terluka", lanjutnya dengan isak tangis.


"Sudahlah bu. Lupakan semua yang sudah terjadi. Jika di hati kita ada rasa dendam, maka hidup kita tidak akan tenang sebelum membalas dendam itu. Jadi lebih baik kita menjalin silaturahmi."


Mama Dafa mengusap kasar air mata yang membasahi pipinya. "Terimakasih buat pengertiannya bu. Kami janji tidak akan berbuat dengan sembarangan lagi."


"Dafa juga minta maaf, karena telah menuduh Ayunda yang sudah mencelekai Dafa, hingga polisi membawa Ayunda ke penjara."


"Sudah... Jangan mengingatnya lagi!" ucap sang ayah dengan tegas. "Sekarang ini kita harus membuka lembaran yang baru, agar Allah selalu memberikan rahmatnya."


"Sekali lagi kami mengucapkan terimakasih atas kebaikan bapak, ibu dan juga Ayunda. Kami tidak bisa berlama-lama di sini, karena Dafa masih dalam pemulihan. Jadi kami mohon pamit."


"Baik bu. Semoga Dafa cepat pulih ingatannya."


"Amin..." jawab mama Dafa dengan lantang. "Semoga Ayunda juga cepat pulih", ujar mama Dafa.


"Amin... Terimakasih doanya bu", sahut sang bunda.


"Sama-sama bu. Kami pamit dulu", balas mama Dafa seraya mendorong kursi roda Dafa keluar dari ruangan itu.


Sepeninggal Dafa dan mamanya Alfian kembali masuk.


"Pak, bu... Saya izin mau ke kamar Zahra. Kata pengasuhnya sedari tadi dia menangis mencari saya", ujarnya dengan sopan.


"Tidak perlu minta izin, harusnya kamu langsung pergi saja", balas sang ayah. Dia tahu kalau Zahra sedang terkena demam berdarah dan butuh perhatian dari Alfian.


Alfian langsung berjalan keluar dengan buru-buru.


Tak lama kemudian Adrian pun masuk ke dalam ruangan itu. "Ayah, bunda kami mau pulang lebih dulu. Kasihan Azzam masih kecil harus berada di rumah sakit selama ini."


"Iya, nak. Kalian pulanglah", balas sang ayah yang tak ingin terjadi sesuatu pada cucunya itu, hingga menyisakan mereka berdua yang akan menjaga putri kesayangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2