Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Taman Hiburan


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Ferdo telah mengganti pakaian olah raganya dengan pakaian casual, karena hari ini dia telah membuat janji dengan Ayunda untuk mengajaknya ke suatu tempat.


Ceklek.


Ayunda ke luar dari dalam kamarnya dan menghampiri Ferdo yang sedari tadi menunggunya sambil duduk di sofa.


"Ayo, Kak", ajaknya saat sudah berpenampilan rapi.


Ferdo pun tersenyum bahagia saat melihat wanita imut nan cantik yang selalu mengusik hatinya itu, kini akan menjadi teman kencannya.


Tunggu dulu kencan? Emangnya Kami sudah jadian?


Ferdo bangkit dari sofa, lalu menghampiri Ayunda. "Ayo", balasnya masih dengan tersenyum.


"Bunda... Yunda dan Kak Alfian pamit, ya", seru Ayunda pada sang bunda yang baru saja datang dari arah dapur.


"Ya, Nak", balas sang bunda pada Ayunda, lalu sang bunda menoleh ke arah Ferdo. "Nak Alfian, pulangnya jangan larut malam, ya", pesan sang bunda pada pria yang memang sudah di sukainya sejak pertama kali mereka bertemu.


"Baik, Bunda", sahut Ferdo dengan ramah.


"Oke, kalian hati-hati di jalan, ya", ucap sang bunda dengan tersenyum ramah, setelah memberi izin pada Ferdo dan Ayunda.


***


Di apartement Winda.


Siska baru saja menghabiskan sepiring nasi goreng yang disiapkan Winda. Siska berdecak kagum, akan makanan yang telah memanjakan lidahnya.


"Enak banget. Kau beli di mana? Besok-besok aku mau beli lagi", tutur Siska sambil bersendawa.


Winda menggelengkan kepalanya. "Doyan atau laper, sih?" tanya Winda yang sedikit kesal, karena Siska bersendawa dengan entengnya.


"Dua-duanya", balas Siska dengan cengiran kuda.

__ADS_1


"Ya, sudah. Aku mau mandi dulu", ucap Winda sambil beranjak meninggalkan Siska.


Siska ikut beranjak dari kursi. "Winda... " panggil Siksa menghentikan langkah Winda. "Boleh pinjam ponselmu?" tanyanya, sambil berjalan menghampiri Winda.


"Hem, pakailah", balasnya dengan malas, lalu menyerahkan ponselnya.


"Tapi, aku tidak tahu sandinya", ucapnya kemudian saat ponsel Winda sudah berada di genggamannya, yang membuat Winda kembali berdecak kesal, karena sepupunya itu sungguh merepotkan.


"Sini", pintanya masih dengan kesal.


Siska menyerahkan kembali ponsel di tangannya. Lalu Winda langsung memasukkan sandinya. Setelah terbuka dia menyerahkan kembali pada Siska. "Ini", ucapnya masih dengan kesal.


"Terima kasih", ucap Siska setelah dia berhasil menggunakan ponsel Winda, yang di balas dengan deheman oleh Winda. Lalu Winda beranjak meninggalkan Siska menuju kamar tidurnya.


***


Ayunda merasa bahagia, karena untuk pertama kalinya berada di taman hiburan. Semenjak kepindahannya ke kota ini, dia tidak pernah sekalipun pergi ke tempat seperti itu, karena jika untuk biaya sekolah dan makan mereka saja ada, itu sudah lebih dari cukup.


"Wah, ini tempat yang menyenangkan!" seru Ayunda sedikit berteriak, namun tidak membuat Ferdo malu, karena dia sudah membatasi jumlah pengunjung.


"Kak Alfian, ayo kita ke sana!" seru Ayunda masih dengan wajah bahagianya. Ayunda bahkan menarik tangan Ferdo agar berjalan lebih cepat. Ferdo mengikuti langkah Ayunda dengan bahagia. Sorot matanya yang dia fokuskan pada genggaman tangan Ayunda, membuatnya terus tersenyum.


"Ayo, beli tiketnya Kak", ucap Ayunda dengan membalikkan badannya menghadap Ferdo. Namun Ferdo mengacuhkan ucapannya. Ayunda yang mengikuti arah tatapan Ferdo, buru-buru melepaskan genggamannya.


Ferdo pun berdecak kesal. "Kenapa di lepaskan?" tanyanya.


"Maaf, Kak. Tadi aku tidak sengaja melakukannya", balas Ayunda dengan tertunduk, yang membuat Ferdo semakin kesal.


"Ya, tidak apa-apa", sahut Ferdo dengan nada datar. Lalu dia menghela nafas berat. "Kita tidak perlu membeli tiket, Kau bisa dengan puas bermain apa saja di tempat ini", ujarnya yang mulai tersenyum.


"Benarkah?" tanya Ayunda yang kembali menggenggam tangan Ferdo. Kemudian Ayunda berusaha melepaskannya kembali, saat melihat tatapan yang sama dari Ferdo.


"Jangan di lepaskan", ujar Ferdo. Lalu dia menggandeng tangan Ayunda dengan perasaan bahagia, dan membawanya berjalan menuju wahana yang telah di pilih Ayunda.


***


Di apartement Adrian, dia sedang berjalan mondar mandir saat baru saja menerima sebuah panggilan telepon dari orang suruhannya. Lalu sang bunda datang menghampirinya.

__ADS_1


"Kenapa, Nak?" tanya sang bunda yang membuat Adrian tersentak kaget. Dia bertanya-tanya di dalam batinnya, apakah sang bunda telah mendengar perbincangannya di telepon tadi.


"Oh, bukan apa-apa, Bun. Hanya urusan pekerjaan", balasnya dengan berbohong.


"Kamu yakin, Nak?" tanya sang bunda yang mebuat Adrian gelagapan.


"Ehm, iya Bun", balasnya.


"Oh, sekarang kamu bekerja dengan ayahmu?"


Deg.


Jantung Adrian berdebar, pertanyaan sang bunda mengisyaratkan bahwa sang bunda sudah mendengarkan semua pembicaraannya di telepon.


"Bu- bukan seperti itu, Bun", balas Adrian dengan terbata. "A- aku... " Adrian tak bisa melanjutkan ucapannya.


Sang bunda meraih tangan Adrian, lalu menepuk pelan punggung tangannya. "Bunda tidak pernah marah jika Kau masih berhubungan dengan ayahmu, Nak", ujar sang bunda dengan tersenyum. "Jadi, Kau tidak perlu takut. Dia tetap ayahmu sampai kapan pun", ucap Sang bunda.


"Bunda, maafkan Adrian yang telah menyembunyikan hal ini dari Bunda. Tapi bukan seperti yang bunda pikirkan", balas Adrian yang membuat sang bunda mengernyitkan keningnya. Lalu Adrian menghela nafas berat, sebelum melanjutkan ucapannya. "Ayah telah di fitnah, Bun. Ayah telah dijadikan pelaku atas apa yang tidak pernah dilakukan oleh ayah", ucapnya yang membuat sang bunda semakin bingung.


"Saat ini Adrian sedang mencari bukti, yang menunjukkan ayah tidak bersalah. Tapi belum ada bukti yang dapat membebaskan ayah dari tuduhan itu", ucapnya frustasi.


"Apa yang sudah dilakukan ayahmu?" tanya sang bunda dengan menatap serius Adrian.


"A- ayah di tuduh melakukan tabrak lari, Bun", balas Adrian.


"Tabrak lari?" tanya sang bunda tak percaya, yang di balas dengan anggukan oleh Adrian. "Sejak kapan ayahmu menaiki mobil? Kita tidak punya mobil", ucap sang bunda dengan mengernyitkan keningnya.


"Kata ayah, untuk mendapatkan tambahan uang saat akan mebangun rumah kita, ayah mengambil pekerjaan sampingan dengan bekerja membawa truk pasir", balas Adrian.


Sang bunda menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. "Berarti bunda sudah salah menilai", ucapnya dengan wajah murung. "Bunda telah menuduh ayah memiliki wanita lain, karena ayah selalu pulang larut malam. Bahkan ayah tidak pernah menjelaskan yang sebenarnya pada bunda." Air mata sang bunda jatuh dengan bebas, saat mengingat kembali kejadian dirinya bertengkar dengan sang suami saat mereka sedang berada di sawah.


"Bunda ingin bertemu dengan ayahmu. Bunda ingin menanyakan pada ayah, kenapa ayah minta cerai, jika memang tidak ada wanita lain!" seru sang bunda.


Adrian menganggukkan kepalanya. "Baik, Bun. Nanti Adrian kabari ayah", balasnya.


"Jangan, Nak! Biarkan bunda datang tanpa diketahui ayah", balasnya. Adrian pun mengikuti sesuai permintaan sang bunda. Lalu dia mengatur waktunya untuk melakukan perjalanan ke tempat sang ayah berada.

__ADS_1


__ADS_2