
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Adrian sibuk dengan beberapa berkas di meja kerjanya. Dia mengusap kasar rambutnya, karena belum mendapatkan kerja sama dengan perusahaan periklanan yang sangat diinginkannya. "Jangan patah semangat! Besok, coba lagi dengan perusahaan yang lain!" ucapnya memberi semangat pada diri sendiri.
Krek.
Seseorang telah membuka pintu ruang kerjanya. "Kak Adrian... " panggil Ayunda dengan senyum manisnya, sambil berjalan menghampiri sang kakak. "Itu Kak Winda menelepon", tunjuk Ayunda dengan ekor matanya, saat dia berdiri di tepi meja kerja Adrian, tanpa sengaja melihat layar ponsel Adrian menyala, namun tanpa nada karena Adrian telah mengaturnya ke mode silent.
"Oh, iya. Sebentar ya, dek." Adrian mengangkat teleponnya sambil mengedipkan matanya. Ayunda langsung ke luar dari ruangan sang kakak, tak ingin mendengarkan perbincangan mereka.
*
Adrian menuruni anak tangga setelah menerima telepon dari sang kekasih. Ya, Adrian masih berhubungan baik dengan Winda. Berbeda dengan Ayunda yang menjauh dari Ferdo, meskipun Ferdo berkali-kali menghubunginya, namun tak sekalipun Ayunda memberi kesempatan padanya.
"Gimana kabar kak Winda, kak?" Ayunda bertanya masih dengan fokus pada layar laptopnya dan beberapa referensi buku di pangkuannya. Tugas akhir kampusnya yang harus siap dalam minggu ini, dia kerjakan dengan marathon.
"Baik... ehm, Ferdo juga baik", sahutnya yang membuat Ayunda menghentikan jari jemarinya yang sedari tadi bermain di keyboard, saat mendengar nama Ferdo. Netranya menatap sendu layar laptop, namun dengan tatapan kosong.
Adrian terdiam, saat melihat reaksi sang adik. Dengan cepat dia mengubah topik pembicaraan. "Bunda, besok persidangan ayah akan di mulai", ucap Adrian yang membuat sang bunda dan Ayunda menoleh hampir bersamaan ke arahnya.
"Apa hukumannya langsung di putuskan, jika belum ada bukti?" tanya sang bunda yang mulai merasa resah.
Adrian menggeleng, "harusnya sih tidak, Bun. Tapi ada bukti yang tercatat di perusahaan tempat ayah bekerja bahwa truk itu memang sedang di bawa oleh ayah di tanggal yang sama. Kecuali kita bisa membuktikan kalau ayah tidak membawa truk itu pada saat terjadinya kecelakaan."
Sang bunda mendesah gusar. "Berarti tidak ada jalan keluar, dong." Sang bunda berkata sambil menyandarkan tubuhnya, dengan wajah murung.
"Pasti ada jalan keluar, Bun. Adrian masih punya beberapa orang kepercayaan yang akan membantu. Meskipun mereka tidak di bayar mahal, namun mereka tetap mau melakukannya." Suara berat Adrian, mengusik Ayunda yang sedari sibuk dengan laptop di hadapannya.
Ayunda menutup layar laptopnya, karena mulai merasa terganggu, lalu memandang wajah putus asa sang bunda dan sang kakak bergantian. "Kenapa harus lesu, pasti kita akan temukan buktinya!" seru Ayunda mencoba menghibur. "Ehm, gimana kalau kita mulai dengan mencari istri dari teman ayah", usulnya.
Adrian tersenyum simpul sambil memandang Ayunda. "Kakak sudah mencarinya lebih dari 2 tahun, tapi dia hilang bak di telan bumi. Gak tau kemana perginya", ucapnya yang membuat Ayunda terbelalak.
__ADS_1
"Apa? 2 tahun, Kak?" tanya Ayunda sambil menggeleng. "Sehebat apa dia bersembunyi? Atau barangkali ada yang sudah menemukannya, sekaligus mencelakainya", ujarnya.
"Hus, jangan sembarangan ngomong, Nak!" seru sang bunda yang spontan menasehati Ayunda.
"Iya, maaf Bun", balasnya dengan sedikit memelas.
Ayunda terdiam sesaat, dia sedang memikirkan cara agar sang ayah segera bebas. Saat terfikirkan sesuatu, di raihnya ponsel yang masih terletak di atas meja, lalu dia mengirimkan pesan singkat pada seseorang.
"Bunda, Yunda ngantuk." Ayunda menguap sembari menutup mulutnya.
Sang bunda menatap Ayunda dengan tersenyum. "Pergilah tidur, Nak. Bunda masih ada yang mau diobrolin dengan kakakmu", sahut sang bunda dengan lembut.
Ayunda beranjak, setelah menonaktifkan laptopnya serta memasukkannya kembali pada tempatnya. Kemudian dia berjalan dengan langkah gontai menuju kamar tidurnya yang berada di lantai 2.
"Ah, lelah sekali", gumamnya sambil menapaki anak tangga, namun ucapannya itu masih dapat di dengar oleh sang bunda dan Adrian.
"Yunda tidak terlihat seperti biasanya, Bun. Apa tugas kampusnya sudah membuatnya sangat lelah?" Adrian mengernyitkan keningnya, namun sorot matanya memandang punggung Ayunda yang semakin menjauh.
"Hem, Bunda juga memikirkan hal yang sama", sahut sang bunda. Ekor matanya juga mengikuti arah pandang Adrian, saat Ayunda sudah tak dapat lagi di jangkau oleh pandangannya.
***
Ferdo kembali meraih ponselnya. Hampir saja dia lupa untuk memesan tempat, bagi pertemuannya besok dengan sang kekasih.
Drrt... drrt.
Baru saja Ferdo memikirkannya. Ayunda sudah menghubunginya kembali. Ya, Ayunda telah meminta Ferdo untuk bertemu dengannya.
Ayunda menelepon Ferdo kembali, karena dia sudah berada di dalam kamarnya. Tadi dia hanya berkirim pesan, karena tak ingin sang bunda dan juga Adrian mengetahui pertemuannya dengan Ferdo.
"Assalamualaikum, Yunda", suara bariton Ferdo menyapa, saat dia baru saja menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Wa- alaikumsalam... " balas Ayunda dengan terbata. Sebenarnya dia ragu untuk kembali berkomunikasi dengan Ferdo, namun karena suatu hal dia harus melakukannya.
__ADS_1
"Apa kabar?" tanya Ferdo.
"Kabar baik, Kak! Kak Alfian gimana?"
"Baik juga", balas Ferdo.
Tiba-tiba keheningan tercipta di antara mereka, masih dengan saling menempelkan ponsel di telinga masing-masing. "Hem syukurlah kalau begitu", ucap Ayunda memecah keheningan. "Aku hanya ingin mengingatkan, Kakak. Besok Jangan lupa datang di tempat yang sudah Yunda beritahukan lewat chat, ya." Suara lembut Ayunda kembali di dengar Ferdo.
"Oke, aku pasti datang", sahut Ferdo dengan tersenyum, namun senyuman itu tak dapat di lihat oleh Ayunda.
"Oke, thanks Kak. Bye."
Ferdo pun membalas ucapan Ayunda, sebelum mereka saling memutus percakapan di telepon. Setelah itu dia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, masih dengan senyum yang terus mengembang. Malam ini dia pasti dapat tidur dengan nyenyak, setelah mendengar suara lembut Ayunda. Berbeda dengan malam sebelumnya saat dia sedang di rundung kesedihan, karena berhari-hari lamanya Ayunda mengabaikannya.
***
Sinar mentari pagi menyeruak dari balik jendela kamar Ayunda. Bias cahaya yang sedikit masuk telah menyilaukan matanya. Dia menutup dengan telapak tangannya, hendak menghalangi sinar yang sudah menyilaukan matanya itu.
"Sudah pagi", ucapnya dengan suara parau khas orang bangun tidur. Ingin rasanya dia melanjutkan tidurnya, namun tak ingin di cap sebagai gadis pemalas, dia bergegas bangkit sambil merenggangkan kedua tangannya ke atas. Tidurnya yang pulas, seakan memberi semangat baru di pagi hari yang indah ini.
Tok... tok.
"Yunda... " panggil sang bunda dari balik pintu kamar Ayunda.
"Ya, Bun... sebentar", sahutnya dari dalam kamar. Lalu berjalan menghampiri pintu.
Ceklek.
"Pagi Bunda", sapanya dengan cengiran kuda.
"Masya Allah... Anak gadis bunda baru bangun!" Sang bunda menatap dengan mata melotot.
"Bun, ngomongnya jangan kencang-kencang, dong. Entar tetangga dengar", sahut Ayunda dengan muka memelas.
__ADS_1
"Hem, Ya. Kalau gak mau tetangga dengar. Mandi, gih. Bau iler nyebar kemana-mana!" ucap sang bunda dengan sengaja menutup hidungnya.
"Iya, bunda sayang", balasnya dengan kembali tersenyum. Lalu bergegas masuk ke kamar mandi setelah sang bunda meninggalkan kamarnya.