Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Kedatangan Siska


__ADS_3

Adrian mendengus kasar. "Maaf", ucapnya singkat namun perkataan itu telah membuat Conny kecewa.


"Kenapa? Apa kau sudah menemukan investor lain?" tanya Conny dengan menautkan kedua alisnya.


Adrian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. "Bukan investor tapi seseorang yang sangat berharga di dalam hidupku", sahut Adrian yang membuat Winda yang sedari tadi berdiri di luar tersipu malu.


"Masuklah!" pinta Adrian.


Winda tersentak kaget karena Adrian mengetahui kedatangannya. Dengan ragu dia meninggalkan persembunyiannya dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Conny mendelik saat melihat Adrian merangkul Winda.


"Kami akan segera bertunangan, jadi aku tidak mungkin mengikuti permintaan pamanmu", ucap Adrian yang membuat Conny murung. Sebenarnya pertemuan itu hanya akal-akalannya saja. Sumber dana yang akan diberikan sang paman pada Adrian sebagian besar adalah miliknya


Conny bangkit dari sofa dan dengan terburu-buru dia berlari meninggalkan Adrian dan Winda tanpa berpamitan.


Terkadang cinta membuat seseorang kehilangan akal sehat. Conny tidak salah telah mencintai Adrian, tapi dia melakukan hal yang salah untuk mendapatkan cinta Adrian.


"Ayo", ajak Adrian pada sang kekasih yang masih berdiri dengan muka cengo.


"Ehm, ayo", sahut Winda. Netranya menatap ke arah Conny yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.


***


Di dalam ruangan yang minim akan penerangan Dafa memutar sebuah video yang dia salin dari flashdisk Ayunda.


Matanya terbelalak saat melihat seseorang di ikat, lalu di siram air. "Siapa dia?" Dafa mencoba melihat dengan jelas video yang diambil dengan tidak simetris itu. "Mungkin seseorang menaruh kamera tersembunyi pada suatu benda dan benda itu jatuh", gumam Dafa. "Kenapa Yunda memiliki video ini?"


Banyak sekali pertanyaan di benak Dafa, namun dia takut untuk bertanya pada Ayunda. Karena dia akan ketahuan telah menyalin video tanpa seizin Ayunda. Dafa pun menutup video itu, lalu mengoffkan laptopnya.


***


Setelah beberapa bulan berlalu.


Siska yang sedang hamil besar datang ke kantor Alfian dengan muka di tekuk dan sedikit payah melangkahkan kakinya. 5 bulan lamanya Alfian tidak pernah mengunjunginya di Paris. Saat ini usia kandungannya sudah memasuki 7 bulan, namun Alfian seakan acuh padanya, semua panggilan telepon dari Siska dia abaikan. Padahal dia hanya ingin merayakan 7 bulanan kehamilannya.


Siska berhasil memegang handle pintu ruangan Alfian, namun Reina berusaha menahan tangan Siska yang akan membuka pintu ruangan Alfian. Siska yang memberontak membuatnya kehilangan keseimbangan. Bobot badannya tak bisa lagi ditahannya dan akhirnya dia terduduk di lantai.


"Aarg..." pekik Siska kesakitan.


Alfian ysng mendengar suara kegaduhan di luar ruangannya, langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Alfian saat tangan kirinya masih memegang handle pintu. Namun seketika Alfian mendelik saat melihat ada darah di lantai.


"Ayo kita ke rumah sakit." Alfian langsung mengangkat tubuh Siska dan berlari menuju pintu lift.


Reina dengan sigap meminta supir menyiapkan mobil dengan segera.


Siska pun tersenyum sambil menatap wajah tampan Alfian, meskipun sebelumnya dia merasakan sakit yang begitu hebat. Namun sikap manis Alfian padanya seakan mengalahkan semua rasa sakitnya. Bahkan Ini adalah kali pertama Alfian memangku tubuh Siska.


"Ayo cepat!" seru Alfian saat sang supir sudah menyambut mereka di lobi kantor. Dengan sigap sang supir membantu Alfian membaringkan Siska di dalam mobil.


Setelah 15 menit di perjalanan mereka tiba di rumah sakit. Perawat pun telah siap dengan brankar dorong. Mereka langsung membaringkan tubuh Siska di brankar itu. Alfian yang berdiri di sisi kanan brankar mengikuti hingga Siska di bawa ke dalam ruang IGD. Siska menatap lekat Alfian, pakaiannya yang penuh noda darah membuat Siska menyunggingkan senyumnya. Namun senyumannya itu semakin pudar saat pintu mulai tertutup, pandangannya mulai gelap hingga dia tidak sadarkan diri.


Alfian yang masih menunggu di luar ruang IGD, tiada henti melafalkan bacaan doa. Dia duduk di kursi tunggu dengan tertunduk lesu. Tatapan sendunya yang kembali mengingat semua perlakuannya pada Siska. Sikap acuh bahkan dia tidak pernah menganggap Siska sebagai istrinya.


Seorang perawat tiba-tiba keluar dari ruang IGD.


"Keluarga pasien!" teriak sang perawat.


"Ya saya, bu", sahut Alfian.


"Pasien butuh darah dengan golongan darah O+", ujar sang perawat. "Tapi untuk golongan darah itu sedang kosong di bank darah kami."


"Baik, bu. Saya akan segera mencarinya", sahut Alfian yang langsung menghubungi seseorang. Tidak butuh waktu yang lama, dia sudah mendapatkan beberapa kantong golongan darah O+.


Setelah beberapa saat, sang perawat kembali ke luar dari ruang IGD. "Bagaimana pak. Apakah sudah ada?" tanya sang perawat.


"Sudah, bu. Ditinggu saja."


"Baiklah, pak." Sang perawat pun kembali masuk ke dalam ruang IGD.


Alfian berjalan dengan gusar menanti seseorang yang akan membawakan kantong darah.


***


Di kantor Santoso Station.


Reina duduk di balik meja kerjanya sambil memandang OB yang sedang membersihkan noda darah di lantai. Wajah pucatnya menunjukkan rasa takut yang besar atas kejadian yang secara langsung dia adalah pelakunya. Pikirannya mulai kacau, hingga tangannya pun gemetar saat memegang sesuatu.


"Sudah selesai, bu", ucap sang OB yang membuat Reina tersentak kaget.


"Heng, sudah ya", sahutnya gugup.

__ADS_1


"Sudah, bu. Saya permisi, bu", ujar sang OB sambil membawa semua perlengkapannya. Namun Reina hanya diam, dia menatap lantai yang sudah bersih itu. Dalam pandangannya noda darah masih ada di sana.


"Mas...", panggilnya pada sang OB.


"Iya, bu. Ada yang bisa dibantu?" sahut sang OB sambil menghentikan langkahnya.


"Itu belum bersih!" seru Reina sambil menunjuk je arah lantai.


Sang OB menautkan kedua alisnya saat tidak melihat sebercak noda pun di sana. "Mana, bu?" tanya sang OB bingung.


"I- itu", tunjuk Reina dengan gugup.


Sang OB menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu berjalan ke tempat yang di tunjuk oleh Reina. Sorot matanya menyusuri setiap sambungan lantai granit. "Tidak ada bu", ujar sang OB yang mulai gusar.


"Apa yang tidak ada?" tanya winda yang datang tiba-tiba.


Kemudian sang OB menjelaskannya pada Winda. Setelah Winda memahami persoalan sebenarnya, dia pun menyuruh sang OB kembali melanjutkan kerjanya.


"Sudah kamu pergi saja", ucap Winda.


"Baik, bu." Sang OB pun memungut kembali peralatannya, kemudian berjalan meninggalkan Reina dan Winda.


"Eh, mau kemana?" teriak Reina, namun sang OB tetap melanjutkan langkahnya.


"Reina..." panggil Winda yang mengalihkan perhatian Reina padanya.


"Ya, bu Winda."


"Coba tenangkan dirimu sebentar." ucap Winda saat melihat wajah pucat Reina. "Tarik nafas... Buang."


Reina pun mengikuti perkataan Winda. Dia mengulanginya sekali lagi.


"Bagaimana, sudah mulai tenang?" tanya Winda.


Namun tiba-tiba suara tangis Reina pecah. "Hua. Hua. Aku tidak sengaja melakkukannya, bu."


Winda memeluk tubuh Reina yang bergetar. "Sudah, coba tenanglah dulu", pinta Winda sambil mengusap lembut punggung Reina.


Reina yang masih terisak-isak, mencoba untuk menenangkan dirinya. "Bu Winda!" seru Reina yang kembali mewek.


"Ya", sahut Winda.

__ADS_1


"Aku akan dipenjara, hua...hua", suara tangis Reina kembali pecah.


Winda mendengus kasar melihat Reina yang sulit di ajak bicara dengan tenang. Sebenarnya dia sudah tahu kejadian yang dialami oleh Siska dari beberapa karyawan di kantor. Namun dia ingin memperjelas hal itu dengan bertanya pada Reina.


__ADS_2