
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Adrian dan Ayunda sudah dalam perjalanan pulang, karena jam kerja telah usai. Beberapa menit di jalananan, Adrian terlihat menepikan kendaraannya di sebuah toko kue langganannya. Mereka ke luar bersama dari dalam mobil, lalu berjalan masuk ke dalam toko kue. Setelah selesai membayar dan membawa sekotak kue pesanannya, Adrian dan Ayunda kembali masuk ke dalam mobil, dan tak butuh waktu yang lama, mobil sudah berjalan kembali.
Ayunda menghubungi mas Tony untuk menanyakan keadaan di dalam apartemen. Sang pengawal itu pun menyampaikan semua informasi yang dibutuhkan Ayunda. Lalu Ayunda berterima kasih, atas semua hal yang di lakukan Tony, sebelum menutup sambungan telponnya.
"Apa semua masih berjalan sesuai rencana?" tanya Adrian.
"Ya, Kak", sahut Ayunda sambil tersenyum.
Adrian senang mendengarnya, dia kembali fokus menyetir, namun ke dua sudut bibirnya sudah tertarik sempurna membentuk lengkungan yang menambah ketampanannya. Ini kali pertama dia bisa merayakan ulang tahun sang bunda, setelah dua belas tahun berlalu.
***
"Bunda", panggil Ayunda saat dia sudah berada di dalam apartemen. Dia langsung berlari menuju dapur, tempat favorit sang bunda.
Sang bunda berjalan menghampiri putri imutnya itu, saat melihatnya berjalan menuju meja makan, "Mana kakakmu?" tanya sang bunda.
Ayunda memberikan ekspresi cemberut saat memandang sang bunda. "Bunda hanya sayang pada kak Adrian. Kalau gitu, Yunda balik ke kantor lagi deh", tuturnya dengan sengaja menggoda sang bunda.
"Eh, bukan gitu, Nak. Bunda sayang pada kalian berdua, hanya saja bunda tak melihat kakakmu, mana dia?" tutur sang bunda menjelaskan.
Lampu pun padam sebelum Ayunda menjawab sang bunda."Lho, mati lampu, ya? Yunda, Kamu di mana, Nak?" tanya sang bunda dengan sedikit berteriak, sambil merentangkan tangannya ke depan. Namun Ayunda tak dapat dijangkaunya.
Dengan langkah perlahan sang bunda mencoba mencari keberadaan Ayunda. "Yunda, Kau di mana? Kenapa diam saja, Nak?" tanya sang bunda yang mulai panik.
Tiba-tiba seberkas cahaya menyusup ke dalam ruangan di mana sang bunda berada. "Ada cahaya." Sang bunda bergumam.
__ADS_1
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun, Bunda...
Selamat ulang tahun
Lampu pun menyala di akhir lagu yang di nyanyikan Adrian dan Ayunda. Sang bunda yang sedari tadi diam, mulai meneteskan air mata. Dia menghamburkan diri memeluk ke dua anaknya itu.
"Bunda sayang kalian berdua", tutur sang bunda.
"Kami juga sayang Bunda", balas Adrian. "Ayo, tiup lilinnya, Bun", pinta Adrian.
Sang bunda langsung meniup lilin yang berjejer di cake. Setelah lilin padam, Adrian, Ayunda dan sang pengawal pun bertepuk tangan. Adrian dan Ayunda mencium pipi sang bunda, sambil mengucapkan selamat ulang tahun. Kue di tangan Ayunda, langsung di letakkan di atas meja, lalu sang bunda membaginya menjadi beberapa potongan. Potongan pertama diberikan pada Adrian, anak sulungnya itu. Potongan kedua di berikan pada Ayunda putri bungsunya itu. Dan potongan terakhir diberikan pada sang pengawal.
"Ini hadiah buat Bunda", ucap Ayunda sambil memberikan sebuah paper bag pada sang bunda.
"Ini dari Adrian, Bun", ucap Adrian memberikan paper bag yang lebih kecil dari Ayunda.
"Terima kasih, Nak. Bunda senang kalian masih mengingat hari ulang tahun bunda", sahut sang bunda sambil memeluk ke dua anaknya itu. "Kebahagiaan bunda adalah kalian berdua, tak ada yang lain", tuturnya sambil meneteskan air mata. Begitu pula dengan Adrian dan Ayunda, mereka juga ikut meneteskan air mata.
Tony yang sedari tadi berdiri menyaksikan interaksi keluarga kecil itu, ikut terharu sambil mengusap air mata yang juga jatuh dari sudut matanya.
Ting... tong.
Bel berbunyi, mereka langsung melepas pelukannya. "Biar Yunda yang buka ya, Bun", seru Ayunda sambil berjalan menuju pintu dan mengusap lembut sisa air mata di pipinya.
"Kak Winda, Pak Ferdo, ayo silakan masuk", ucap Ayunda saat pintu sudah terbuka lebar.
__ADS_1
Ayunda menutup kembali pintu, saat Winda dan Ferdo sudah berada di dalam. Dia juga mempersilakan Ferdo dan Winda duduk di sofa, sebelum memanggil bunda dan kakaknya. Namun baru saja Ayunda berjalan beberapa langkah, bel pun berbunyi kembali. Ayunda bergegas membuka pintu. "Reina!" seru Ayunda dengan girang, saat pintu terbuka.
"Aku belum terlambat, kan?" tanya Reina sambil masuk ke dalam dan mengedarkan pandangannya mencari seseorang.
"Ehem..." Ayunda berdehem. "Siapa yang Kau cari?" tanya Ayunda sambil menaik turunkan alisnya.
"Siapa lagi? Pasti bundalah, mana bunda, Ay?" tanya Reina masih dengan celingak celinguk, mengabaikan Winda dan Ferdo yang sedari tadi memperhatikannya. "Eh, maaf Pak, Bu. A- aku tadi tak melihat kalian", ucapnya dengan cengiran kuda.
Ayunda tersinyum simpul, lalu berjalan menuju pantry. Baru saja Ayunda berjalan, sang bunda dan Adrian sudah datang menghampiri mereka di ruang tamu.
Ferdo dan Winda langsung berdiri, mereka langsung menghampiri sang bunda dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Reina juga tak mau ketinggalan, dia menghamburkan diri memeluk sang bunda dan mengucapkan selamat ulang tahun.
"Ini kado buat Bunda", tutur Reina sambil tersenyum. Lalu sorot matanya beralih, saat Tony datang menghampiri mereka.
Ayunda menyikut Reina yang termangu saat melihat Tony. "Kasian tu, bunda kok di anggurin", seru Ayunda pada Reina.
"Eh, maaf, Bun", tutur Reina dengan tersenyum canggung.
Hahaha... tawa sang bunda pun pecah, membuat semua di ruangan itu ikut tertawa.
Mereka menikmati pesta kecil yang diadakan oleh Adrian dan Ayunda. Ayunda sudah mempersiapkan dua buah mic, dan berbagai tembang kenangan kesukaan sang bunda. Ayunda ikut bernyanyi bersama sang bunda saat beberapa lagu di putar.
Reina tak ingin ketinggalan, dia merebut mic dari tangan Ayunda untuk ikut bernyanyi. Bahkan tanpa malu menarik tangan Tony, mengajaknya bernyanyi dan menari. Tony yang merasa malu langsung menolak ajakan Reina.
Setelah aksi saling tarik antara Reina dan Tony terjadi, yang berhasil dimenangkan oleh Reina. Dengan wajah lesu Tony duduk di sofa, tanpa rasa canggung. Dia jera, jika harus bernyanyi kembali dengan Reina. Ayunda pun punya ide, lalu dia menghampiri Winda. "Kak, sekarang giliran Kakak", seru Ayunda dengan menyeringai.
Winda langsung menolak karena merasa suaranya tidak enak di dengar. Ayunda tidak langsung menerima penolakan itu begitu saja, dia terus memberikan tekanan pada Winda, meskipun dia adalah atasannya di perusahaan. Akhirnya Ayunda berhasil membujuk Winda.
Ayunda dan Winda pun mulai bernyanyi bersama, sang bunda menghampiri Adrian dan memintanya ikut bernyanyi. Adrian langsung menolak permintaan sang bunda, dengan alasan tak ingin merusak pendengaran orang-orang yang mendengarnya bernyanyi. Namun sang bunda terus mendesaknya, sehingga Adrian tidak memiliki alasan lagi untuk menolak.
__ADS_1
Adrian meraih mic yang diberikan Ayunda, dengan gemetaran Adrian mendekatkan mic di genggamannya hanya beberapa centi dari bibirnya. Adrian seperti artis yang baru saja memulai debutnya. Semua mata memandangnya, menunggunya mulai bernyanyi.
Nungguin ya ππ